
"Wa." panggil Angel saat Dewa baru keluar dari kantornya saat dia akan pulang karna kebetulan jam pulang kantor juga sudah berakhir.
"Angel." gumam Dewa heran saat melihat Angel dilobi kantornya.
Dewa yang diikuti oleh Denis dibelakangnya otomatis berhenti saat melihat Angel yang berjalan mendekatinya, gadis itu tampak cantik dan tersenyum manis kepadanya.
"Wiihh, siapa tuh boss, cantik amet." bisik Denis pada Dewa.
"Dia sahabatku." jawab Dewa sesuai fakta.
"Wahh, boleh donk boss dikenalin sama saya." Denis menurunnaikkan alisnya.
"Kenalan aja sendiri."
"Elahh sik boss mah suka gitu, gak asyikk."
"Hai Dewa." sapa Angel begitu tiba didepan Dewa.
Bukannya menjawab sapaan Angel, Dewa malah bertanya, "Ngel, kamu ngapain kesini."
"Ketemu kamulah, habisnya kamu diajak ketemu bilangnya sibuk melulu."
"Hehe." Dewa nyengir, "Sorry Ngell, emang sekarang kantor lagi sibuk-sibuknya kok."
"Aku ngerti kok Wa."
Sementara Denis tidak mengalihkan perhatiannya sedikitpun pada Angel, asisten Dewa itu banar-benar terpukau dengan kecantikan Angel.
"Mmm, Wa, sekarang kamu ada waktu gak, ada sesuatu yang ingin aku katakan sama kamu."
"Kamu mau ngomong apa Ngel."
"Aku tidak bisa mengatakannya disini Wa."
Sebelum membalas kata-kata Angell, Dewa terlebih dulu mengangkat tangannya yang dilingkari oleh arloji berwarna hitam, "Mmm, baiklah, ayok kita tempat yang nyaman untuk berbicara." ajaknya yang diangguki oleh Angel.
Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari lobi kantor, saat tidak melihat Denis berada disampingnya, Dewa berhenti dan menoleh kebelakang, dia menemukan asistennya tersebut masih berdiri ditempatnya.
"Denis, kenapa kamu masih bengong disana, ayok antarkan kami."
__ADS_1
"Ahh iya baik pak Sadewa Argantara."
*****
Denis menghentikan mobil bossnya yang dia kendarai disebuah cafe, kebetulan sore menjelang magrib itu cafe itu sepi, hanya beberapa pengunjung yang ada dicafe tersebut.
Karna Angel ingin bicara berdua dengannya, Dewa meminta Denis untuk menunggunya, dimobil, "Den, kamu tunggu disini dulu oke."
"Baiklah boss."
"Wa, kita duduk disana saja ya." tunjuk Angel pada tempat duduk yang ada dipaling pojok, tempat tersebut dipilih Angel karna tidak ingin pembicaraannya didengar oleh orang lain.
Dewa hanya mengangguk, dia hanya mengikuti apa yang diinginkan oleh sahabatnya itu.
Karna tidak berniat makan, baik Dewa dan juga Angel hanya memesan minuman saja, Dewa memesan secangkir kopi, sedangkan Angel memesan jus alfukat.
"Angell, katanya kamu mau ngomong sesuatu." tegur Dewa saat Angel tidak kunjung membuka bibirnya.
Gadis itu sebenarnya masih gugup, dalam hati berfikir ulang, apakah dia akan mengutarakan perasaan yang sejak dulu dia pendam sekarang atau tidak, sebenarnya dia sangat malu dan gengsi, tapi, lama-lama, dia capek juga menunggu Dewa untuk mengutarakan perasaannya lebih dulu, oleh karna itu, dia berfikir untuk menyatakan perasaannya lebih dulu, toh gak ada salahnyakan seorang perempuan yang mengutarakan perasaanya duluan, perempuankan tidak harus menunggu.
"Ngell, Angelll." panggil Dewa karna Angel bukannya menjawab, gadis itu malah terlihat melamun.
"Ehh iya Wa."
"Mmm, iya Wa."
"Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan Ngell." Dewa memandang Angel penuh dengan rasa ingin tahu.
"Mmm, aku..." duhh Angel sumpah benar-benar gugup, mungkin ini pertamakalinya dan terakhirkalinya dia mengutarakan perasaanya.
"Aku.." Angel yang gugup merasakan tenggorokannya terasa kering, oleh karna itu dia meraih gelas jusnya untuk membuat tenggorakannya basah supaya dia bisa lancar mengatakan apa yang ingin dia sampaikan.
Meskipun bingung dengan sikap sahabatnya itu, tapi Dewa dengan sabar menunggu apa yang akan dikatakan oleh Angell, makanya dia tidak protes saat Angel bukannya menyelsaikan ucapannya malah menyeruput jusnya.
"Wa, berjanji ya sama aku, setelah aku mengatakannya, kamu tidak akan marah sama aku apalagi membenciku." pinta Angel saat kembali meletakkan gelas minumannya.
"Memangnya apa yang akan kamu katakan sieh Angell."
"Janji dulu kamu tidak akan marah atau membenciku."
__ADS_1
"Angel Angel." Dewa menggeleng, tidak habis fikir dengan sahabatnya itu, "Aku gak mungkin donk marah sama kamu."
"Beneran."
"Iya."
"Janji Wa."
"Iya janji."
Sebelum mengatakan perasaannya, Angel menarik nafas panjang, dia kemudian menatap Dewa dengan tatapan lembut, Dewa bahkan merinding saat tatapannya bertemu dengan tatapan Angell.
"Wa, aku menyukaimu, oh tidak." Dewa meralat kata-katanya barusan, "Aku bukannya menyukaimu, tapi lebih tepatnya adalah aku mencintaimu." ucap Angell dengan sangat jelas, kata-katanya terdengar mantap, padahal jauh dilubuk hatinya dia sangatlah gugup, selian itu juga, rasa gugup itu kemudian berganti dengan rasa deg-degan karna menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Dewa.
Dewa tentu saja kaget mendengar pengakuan sahabatnya itu, dia tidak pernah menduga, apa yang dikatakan oleh sahabatnya adalah sebuah pernyataan cinta Angell kepadanya, sehingga yang Dewa lakukan beberapa saat hanya menatap Angell dengan tatapan tidak percaya.
"Wa." panggil Angel karna sahabatnya itu bukannya menjawab pertanyaannya malah menatapnya dengan bengong, padahalkan Angel saat ini tengah deg-degan parah.
"Kamu pasti bercandakan Angel, itu gak lucu tahu gak, kitakan sahabatan, ya gak mungkinlah kamu mencintaiku, ada-ada saja kamu ini." Dewa terkekeh.
"Wa." Angel kini meraih tangan Dewa yang tergeletak pasrah dimeja, "Aku gak bercanda Wa, aku serius, aku benar-benar mencintaimu sejak dulu, selama ini aku mati-matian memendam perasaanku sama kamu."
Dewa hanya membiarkan Angel menggenggam tangannya, hal itu dia lakukan karna menghargai Angel sebagai sahabatnya, Dewa benar-benar tidak pernah menyangka kalau Angel mencintainya, sejak dulu lagi, tapi sayangnya, Dewa tidak bisa membalas perasaan Angel karna dia sudah bersama dengan Nuri, gadis yang sangat dia cintai, meskipun gadis itu saat ini masih tidak bisa mengingatnya karna lupa ingatan yang dialaminya.
Meskipun rasanya tidak tega untuk menolak pernyataan cinta dari sahabatnya tersebut, apalagi wajah Angel yang sepertinya benar-benar mengharapkan cintanya, tapi toh Dewa harus mengatakan hal yang sebenarnyakan kepada Angel.
"Ngel." Dewa dengan pelan melepaskan tangan Angel dari tangannya.
Melihat apa yang dilakukan oleh Dewa membuat perasaan Angel merasa tidak enak, apalagi dia bisa melihat raut wajah Dewa yang memandangnya dengan rasa bersalah.
"Apa, kenapa ini, kenapa Dewa menatapku seperti ini, tatapan kasihan dan rasa bersalah, apa dugaanku salah selama ini, apa Dewa sebenarnya tidak mencintaiku." selain rasa malu yang saat ini dirasakan oleh Angel, rasa sakit juga tiba-tiba hinggap dihatinya sehingga membuat dadanya terasa sesak, "Sakit banget rasanya hatiku."
Dewa terlihat menarik nafas panjang, sumpah rasanya dia benar-benar tidak tega menyakiti Angel, makanya, dengan suara sepelan mungkin dia berkata, "Maafkan aku Angel, aku tidak bisa menerima cinta kamu."
Angel rasanya ingin menangis tersedu-sedu, dia benar-benar merasa sakit hati, laki-laki yang merupakan cinta pertamanya dan selama ini dia cintai selama bertahun-tahun ternyata menolak pernyataan cintanya, dunia Angel seolah runtuh saat mendengar kata-kata Dewa, selama ini dia hanya mencintai Dewa dan tidak pernah membuka hatinya untuk laki-laki lain.
"Tapi....tapi kenapa." suara Angel terdengar bergetar menanyakan kenapa Dewa menolak perasaannya, "Aku fikir..aku fikir selama ini kamu..."
"Karna aku mencintai wanita lain Ngell." potong Dewa sebelum Angel menyelsaikan ucapannya.
__ADS_1
Angel seolah tidak mempercayai akan hal tersebut, karna selama ini dia tidak pernah melihat Dewa dekat dengan wanita manapun, dan sahabatnya itu bahkan tidak pernah bercerita kepadanya.
****