
Dewa kembali tidak lama dengan membawa baskom berisi air hangat ditangannya.
Dewa kemudian menaiki tempat tidur, "Ayok barbaring adek biar kakak kompres perutnya."
Karna kondisi perutnya tidak sesakit seperti semalam sehingga tentu saja Nuri menolak saat Dewa akan mengompres perutnya, dia tentunya malu donk saat perutnya harus dilihat oleh Dewa, sehingga Nuri buru-buru menolak, "Ehh gak usah Dewa, biar aku sendiri saja yang mengompres perutku."
"Baiklah kalau itu yang adek inginkan." Dewa kemudian meletakkan baskom berisi air hangat itu disampingnya Nuri.
"Mmm, terus kamu ngapain masih disini Dewa." komen Nuri saat Dewa tidak beranjak dari tempatnya.
"Nungguin adeklah."
"Duhh, ngapain sieh disini segala, kan malu akunya."
"Mmm, kamu keluar saja deh Wa ya, aku tidak nyaman soalnya kalau kamu ada disini."
"Emang kenapa."
"Aku agak risih saja gitu kalau ada laki-laki yang melihat badan aku."
"Adek kok malu sieh, padahal kakak sudah lihat semuanya lho sampai yang terdalam." goda Dewa yang membuat Nuri jadi bersemu.
"Ihh apaan sieh, jangan goda aku deh."
"Udah deh, sini biar kakak saja ya yang ngompresin perutnya adek ya biar cepat."
"Gak usah biar aku saja." Nuri kukuh menolak.
"Adek jangan nolak niat baik orang donk, ayok sekarang lebih baik adek berbaring."
"Mmm, baiklah kalau begitu." ujar Nuri pada akhirnya, dia kemudian membaringkan tubuhnya supaya Dewa lebih mudah untuk mengompres perutnya.
Sedangkan Dewa mengangkat bajunya Nuri dan mulai menempelkan handuk itu diperut Nuri, dia melakukannya tanpa nafsu sedikitpun.
Perut Nuri terasa nyaman saat handuk yang sudah direndam dengan air hangat itu menempel dikulit perutnya sehingga dia sampai melupakan rasa malunya.
"Bagaimana adek, nyaman ya."
"Iya."
"Adek sebaiknya dirumah saja, jangan kuliah dulu."
"Iya, aku memang juga rencananya begitu."
"Adek hubungi Imel atau gak Juli, titip izin sama mereka."
"Iya, aku sudah mengechat mereka barusan."
20 menit kemudian.
"Sudah, aku sudah tidak apa-apa lagi kok sekarang." Nuri menghentikan Dewa yang sudah akan bersiap kembali menempelkan handuk tersebut diperutnya.
"Beneran sudah gak apa-apa nieh." Dewa memastikan.
"Iya."
Dewa menyingkirkan baskom dan juga handuk tersebut, Dewa meletakkannya dilantai.
"Adek mau sarapan sekarang gak, adek mau sarapan pakai apa, nasi goreng, roti atau apa, kalau adek mau nasi goreng, nanti kakak masakin ya." setelah mengompres perutnya Nuri, sekarang Dewa menawarkan sarapan pada istrinya tercinta.
Nuri memang ingin sieh makan nasi goreng, tapi Nuri rasanya tidak tega membiarkan Dewa memasak untuknya karna Dewa juga bisa dibilang masih belum sehat sepenuhnya.
"Gak usah, kamukan masih sakit, nanti kalau aku mau sarapan aku bikin sendiri." tolak Nuri halus.
"Aku sudah sehat lho adek." bantah Dewa.
"Kamu beneran sudah sehat ."
"Iya." jawab Dewa dengan penuh keyakinan.
"Jadi, adek mau makan apa biar nanti kakak masakin."
"Kalau kamu tidak keberatan, aku ingin makan nasi goreng buatan kamu saja."
"Baiklah adek, adek tunggu sebentar."
Perhatian Dewa yang begitu tulus membuat Nuri merasa terharu, Dewa tidak pernah sekalipun membentaknya meskipun Nuri seringnya menyebalkan dan membuat Dewa repot, laki-laki itu selalu lembut kepadanya.
"Wajar saja mbak Angell begitu cinta sama Dewa, laki-laki itu sangat baik, lembut dan perhatian, siapapun pasti bakalan luluh dengan perhatiannya, termasuk aku yang sepertinya sudah mulai luluh."
****
Seharian ini, pasangan pasutri tersebut hanya menghabiskan waktu mereka berdua dirumah, tidak ada kegiatan yang mereka lakukan, Dewa membaringkan tubuhnya disofa, dan kadang main game kalau dia bosan, sesekali dia ke kamar untuk melihat keadaan Nuri, dan gadis itu terlihat baik-baik saja dengan ponselnya yang sejak tadi dia mainkan.
"Syukurlah, sepertinya adek memang sudah tidak kesakitan lagi." batinnya saat melihat Nuri yang sudah terlihat baik-baik saja.
__ADS_1
"Ada apa." tanya Nuri saat melihat Dewa diambang pintu dan tengah memperhatikannya.
"Hmmm, gak ada adek, kakak hanya ingin memastikan kalau adek baik-baik saja."
"Aku sudah tidak apa-apa kok, jadi gak perlu khawatirin aku."
Dewa mengangguk.
"Adek, apa adek sudah sehat."
"Hmm, ya begitulah."
"Adek gak bosan dirumah terus seharian."
"Ya bosan juga sieh, tapi mau bagaimana lagi."
"Apa adek mau jalan-jalan." Dewa menawarkan.
"Kemana." tanya Nuri sepertinya tertarik dengan ajakan Dewa.
"Nonton bagaimana, adek mau tidak."
"Apa ini ajakan kencan." batin Nuri dalam hati, ada rasa senang mengetahui akan hal itu.
"Gimana adek, apa adek mau nonton sama kakak." Dewa kembali bertanya saat Nuri tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Boleh deh."
Dewa tersenyum saat Nuri mengiyakan ajakannya, "Oke deh, adek mending siap-siap gieh, kakak tungguin diluar"
"Iya."
Setelah meminta Nuri bersiap-siap, Dewa kembali menutup pintu dan keluar.
Dan saat pintu tertutup sempurna, didalam, Nuri jadi heboh sendiri, dia dengan cepat menuju lemari untuk mencari pakaian untuk dikenakan.
"Duhh, pakai yang mana ya." Nuri jadi repot sendiri memilih baju yang harus dia kenakan.
Saat sadar kalau dirinya berlebihan, Nuri refleks menghentikan aktifitasnya, "Ihh, kok aku jadi heboh kayak gini sieh, inikan cuma Dewa, Dewa gitu lho, aku gak perlu pakai pakaian cantik apalagi dandan yang cantik segala, emangnya dia siapa." lisannya, namun hatinya memerintahkannya untuk memakai pakaian terbaik yang dia miliki dan berdandan yang cantik, hatinya meminta supaya dia membuat Dewa pangling dengan penampilannya.
"Duhh, kok jadi gini sieh, antara hati dan akal gak sinkron kayak gini."
Dan pada akhirnya, yang menang adalah hati, Nuri lebih memilih untuk menuruti kata hatinya ketimbang akalnya, oleh karna itu, Nuri memilih baju terbaik versi dirinya dan mendandani wajahnya.
"Jangan menor-menor, yang natural saja." dia memperingatkan dirinya saat berada didepan cermin.
Karna hal itulah Dewa bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati pintu.
"Adekk." panggilnya sambil mengetuk pintu, "Apa semuanya baik-baik saja adek."
Dewa mendengar suara sahutan dari dalam, "Iya, tunggu sebentar."
"Ohh, kakak kirain adek kenapa-napa, lanjutkan saja dandannya dek, kakak setia kok menunggu sampai kapanpun." sekarang Dewa menduga kalau Nuri lama dikamar karna tengah dandan, dan Dewa tentunya tidak masalah dengan hal itu.
Didalam, Nuri yang tengah memulas maskara dibulu matanya merasa malu juga saat mendengar suara Dewa barusan, "Duhh, apa aku kelamaan kali ya makanya dia sampai ngetuk pintu gitu." oleh karna itu Nuri buru-buru menyelsaikan dandanannya.
Nuri memang memiliki paket make up lengkap, tapi sangat jarang dia gunakan, palingan yang dia gunakan sehari-hari atau saat pergi kuliah adalah sunscreen, dan pelembab bibir, sudah itu doank, dan sekarang semua peralatan make upnya yang sudah lama bermeditasi dilaci meja riasnya akhirnya berfungsi, meskipun jarang make upan, tapi Nuri tidak buta-buta banget tentang dunia permake upan, dia tahu yang namanya foundation, conceler, masakara, blus on dan saudara-saudaranya yang lainnya, dan Nuri bisa kok merias wajahnya meskipun tidak sebagus hasil make up artis, tapi cukup baguslah kalau dibawa untuk kencan.
Dan sekarang step terakhir adalah, Nuri menyapukan lipstik berwarna merah cabe dibibirnya, tidak tanggung-tanggung, Nuri memulaskan tuh lipstik dengan sangat tebal, sehingga dia kaget sendiri saat melihat bibirnya.
"Astaga, kenapa bisa jadi seperti ini, aku persis kayak tante-tante girang yang doyan sama berondong." Nuri mengambil tisu dan menghapus lipstik tersebut dari bibirnya.
"Kayaknya warna merah tidak terlalu cocok deh untuk anak seusiaku."
Nuri memiliki beberapa lipstik, dia tidak pernah memakainya karna yang sering dia pakai dibibirnya adalah pelembab bibir, ini untuk pertamakalinya wanita itu memakai lipstik, gak pernah dipakai, tapi dia memiliki beberapa lipstik, gimana ceritanya tuh, ini tidak terlepas dari Imel yang saat mereka jalan-jalan sudah pasti menghadiahinya dan juga Juli dengan alat-alat make up, yang paling doyan diantara mereka make upan adalah Imel, sedangkan dia dan Juli sieh gak terlalu, gak akan pakai make up kalau gak ada acara khusus, dan seperti sekarang ini, karna diajak jalan-jalan oleh Dewa sehingga Nuri pol-polan mendandani dirinya.
"Aku pakai warna yang pink saja deh, itu sepertinya lebih cocok untuk aku gunakan."
Akhirnya pilihan Nuri jatuh pada lipstik berwarna pink, dan setelah melihat hasilnya dicermin, Nuri benar-benar puas dengan hasil karya seni yang dia lukis diwajahnya.
"Wahh cantiknya gue, gue tidak pernah menyangka akan secantik ini kalau gue pakai make up, kalau gue pakai make up setiap hari ke kampus, Imel pasti deh tuh kalah saing." Nuri jadi terkikik sendiri.
"Ehh, kok aku malah membayangkan yang tidak-tidak begini sieh, Dewa pasti sudah lama menungguku." Nuri mengambil tas mungilnya dan segera melangkah keluar, saat pintu terbuka dia melihat Dewa duduk disofa.
"Dewa." panggil Nuri yang membuat Dewa otomatis menoleh ke arahnya.
Dan reflek saja, mungkin karna takjub atau bagaimana sehingga bibir Dewa terbuka, "Masyaallah dek, cantik sekali." puji Dewa.
Mendapat pujian dari Dewa membuat Nuri blushing, diapun tersenyum malu-malu, "Duhh, kok aku jadi grogi gini sieh dipuji cantik kayak gini." batin Nuri.
"Dewa, mmm..." tuhkan, Nuri jadi salting dah jadinya saat Dewa tidak berkedip menatapnya, "Dewa." panggil Nuri lagi barulah Dewa tersadar dan kembali ke alam nyata.
"Ehh iya adek."
"Kamu kok malah bengong seih."
__ADS_1
"Bukannya kakak bengong adek, kakak hanya takjub dengan kecantikan adek, adek benar-benar cantik sumpah, kakak sampai tidak bisa berkedip dan mengalihkan perhatian kakak sama adek."
"Ishh gombal." lisannya, padahal mah hatinya deg-degan parah, kayak gendrang yang ditabuh saat mau perang.
"Gak gombal adek, itu murni dari lubuk hati kakak yang paling dalam."
"Stop deh ngegombalnya."
"Adek, kita batalkan saja ya acara jalan-jalan dan nontonnya."
Tentu saja Nuri kesal setengah idup saat mendengar pembatalan tersebut, dia sudah capek-capek dandan sampai menghabiskan waktu sampai setengah jam lebih, dia juga mengenakan pakaian terbaiknya, ehh malah setelah dia sudah siap, Dewa malah membatalkan acara jalan-jalannya, padahal Dewa sendiri lho yang ngajak.
"Kok gitu sieh." Nuri jadi merengut.
"Habisnya adek itu cantik banget, kakak takut nanti saat dijalan banyak laki-laki yang terpesona dengan kecantikan adek."
Setengah mati Nuri menahan senyumnya, "Benar-benar gombal dia itu."
"Kamu berlebihan Dewa, aku tidak secantik itu sampai jadi pusat perhatian segala."
"Kakak tidak berlebihan adek, adek itu cantik banget lho, adek sieh memang udah cantik alami dan jarang dandan, tapi sekalinya dandan beuhhh, meledak."
"Lebay." gumamnya, "Jadi pergi gak nieh."
"Jadi seih, tapi adek pakai masker ya."
"Ishh gak mau." jelas saja Nuri menolak, kalau pada akhirnya disuruh pakai masker, ya sejak awal mending dia tidak pakai make up saja, "Padahal aku udah capek-capek dandan untuk membuatnya terkesan, ehh, ujung-ujungnya malah disuruh pakai masker."
"Ya sudah deh kalau adek gak mau, kakak bisa apa." desah Dewa kelihatan pasrah, "Ayok kalau gitu kita berangkat."
"Hmmm, iya."
Saat tiba diluar, Nuri berjalan ke arah motor milik suaminya yang terparkir, sedangkan Dewa berjalan menjauh.
"Heii, bukannya motornya disini."
"Kita naik taksi saja ya dek, kakak tidak tega lho rasanya melihat adek kalau harus panas-panasan kalau pakai motor." ujarnya penuh perhatian.
"Tapi aku gak mau, aku maunya kamu boncengin aku pakai motor."
"Tapi adek..."
"Gak mau pokoknya, maunya pakai motor."
"Baiklah baiklah." ujar Dewa mengalah.
Dewa kembali dan berjalan ke arah motornya, dan Nuri sudah berdiri disamping tuh motor.
Dewa kemudian memasangkan helm ke kepalanya Nuri, "Pakai helm ya dek demi keselamatan."
"Hmmm." Nurii benar-benar luluh dengan perhatian Dewa, meskipun perhatian sederhana, tapi itu benar-benar mengena dihati Nuri, "Bisa jatuh cinta aku kalau perlakuannya semanis ini setiap waktu, duhh, bagaimana ini, padahalkan aku berniat cerai sama dia."
"Nahh, sudah beres, ayok adek naik."
Nuri patuh dan duduk dibelakang.
"Pegangan ya adek."
"Hmmm." kali ini Nuri nurut, biasanyakan dia tidak pernah mau saat Dewa menyuruhnya untuk pegangan dipinggangnya.
Didepan Dewa tersenyum saat mengetahui kalau istrinya kini sudah mulai melunak kepadanya, senyum Dewa tersebut dilihat oleh Nuri lewat kaca spion, dan itu membuatnya berkomentar seperti ini, "Heii, kok senyum-senyum sendiri sieh, kayak orang gila."
"Kakak senyum karna bahagia adek."
"Bahagia." ulang Nuri, "Bahagia karna apa, dapat uang satu milyar."
"Bukan karna uang adek, tapi kakak bahagia ya karna adeklah."
"Aku, kok bisa aku membuat kamu bahagia."
"Ya bisalah, adekkan belahan jiwa kakak."
Jujur, Nuri tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat Dewa mengatakan hal tersebut, tiba-tiba hatinya dipenuhi oleh taman bunga yang bermekaran indah.
"Ishh apa sieh yang sebenarnya terjadi denganku, kenapa seih aku selalu baper dengan kata-kata yang dilontarkan oleh sik Dewa ini."
"Kita berangkat sekarang adek."
"Iya."
"Oke, pegangan yang erat ya adek."
Nuri menuruti, dari belakang sekarang dia memeluk perut Dewa, lagi itu membuat bibir Dewa melengkung sempurna, "Akhh bahagianya kalau begini terus."
"Katanya mau jalan, kenapa tidak kunjung jalan juga."
__ADS_1
"Ahhh iya adek." Dewa menstater motornya dan menjalankannya.
*****