SUAMIKU TERNYATA PRESDIR

SUAMIKU TERNYATA PRESDIR
NURI


__ADS_3

Paginya, Nuri tentu saja masih marah sama Dewa, karna dia masih beranggapan kalau suaminya itu selingkuh, sehingga saat dia melihat Dewa saat paginya, wajah Nuri terlihat masam.


Dewa yang tidak ingin terjadi kesalahpahaman diantara dirinya dan Nuri menjelaskan secara detail tentang kejadian semalam saat dia memenuhi undangan makan malam dari keluarganya Angell, dan Nuri yang mengikuti saran dari kedua sahabatnya mencoba untuk mendengarkan penjelasan Dewa, meskipun hatinya masih terasa begitu panas, Nuri mendengarkan tanpa menyela, dan diakhir cerita, barulah Nuri bereaksi.


"Jadi semalam kenapa pakaian kakak bau parfum wanita itu karna kakak dipeluk oleh Angell gitu, dan kakak nerima saja saat dia juga mencium leher kakak yang meninggalkan bekas lipstiknya." sewot Nuri dengan bibirnya yang cemberut.


"Bukan begitu adek, kakak sudah berusaha mendorong Angell, tapi Angell tuh meluknya kenceng banget sehingga sudah untuk dilepaskan, dan adapun dengan leher, saat dia menempelkan bibirnya dileher kakak, kakak langsung menghindar." Dewa membela diri.


"Alasan saja, bilang saja kakak kesenangankan."


"Astaga adek, kenapa sieh adek bisa berfikir begitu, kakak itu cuma cinta sama adek doank, tidak ada yang lain."


"Hmmm." masih cembrut.


"Adek." Dewa meraih tangan Nuri dan menggenggamnya, "Percayalah adek, kakak hanya mencitai adek."


Kata-kata lembut Dewa mulai meluluhkan pertahanan Nuri.


"Tapi benar ya kak, kalau kak Dewa sama sekali tidak tertarik sama Angell."


"Tentu saja tidak adek, kami murni hanya bersahabat saja, sedangkan perempuan yang kakak cintai adalah adek satu-satunya."


Perkatan Dewa sumpah membuat Nuri meleleh, dan dengan itu, permasalahan antara dirinya dan Dewa sudah kelar, semuanya kembali membaik seperti sedia kala.


*****


Gue duduk dengan gelisah seolah-olah ada paku ditempat duduknya, berulang kali dia memajukan pergelangan tangannya  ke depan matanya guna mengecek jam berapa sekarang. gue menyesal tadi menolak tawaran Dewa yang ingin mengantar gue, sekarang papa sudah berangkat, sedangkan orang yang gue tunggu tidak ada kabar beritanya, iya, Julilah yang berniat menjemput Nuri hari ini, tapi gadis itu belum tampak juga batang hidungnya sampai saat ini.


Dan kebetulan, semalam, Nuri dan Dewa menginap dirumah orang tuanya Nuri sehingga saat ini Nuri tengah menunggu kedatangan Juli dirumah orang tuanya.


Ibu yang masih dimeja makan tidak bisa tidak berkomentar melihat kegelisahan gue, “naik taksi aja Nur, Juli mungkin tidak masuk hari ini atau siapa tau motornya mogok atau gimana”


“tapikan seenggaknya dia bisa ngabarin akukan bu” catet gue sudah 10 kali menghubungi Juli tapi nomernya tetap saja tidak aktif.


Ibu masih positif tinking, “mungkin hpnya rusak atau baterinya matinya, makanya dia tidak sempat menghubungi kamu.” mata ibu beralih pada jam dinding diruang makan, “kamu naik taksi saja, lihat tuh sudah jam berapa” saran ibu.


Gue mendesah pasrah dan mengiyakan saran mama, kalau kalian ingin tau sekarang gue tengah menunggu Juli, karna memang hari ini cewek itu berniat untuk menjemput gue, tapi yah begitulah tuh anak selalu datang terlambat.


Begitu sudah berdiri dan berniat untuk mencari taksi, terdengar suara tin-tin klakson motor maticnya Juli dari luar. gue buru-buru menyongsong ibu dan mencium pipinya dan bergegas keluar karna gue punya misi meluapkan amarah gue.


“hati-hati sayang” teriak ibu


“ya bu”


Setibanya gue didepan tanpa ba-bi-bu gue langsung mengeluarkan magma yang sudah mengendap sejak tadi dan ingin gue dimuntahkan.


“kebiasaan banget sieh lo, datangnya ngaret, lo tau gak jam pertama bu dewi kalau telat bisa disetrap kita”


“sekarang bukan waktunya ngomel2 non, lo gak lihat jam berapa sekarang,”


“sial, pakai nyeramahin gue lagi, padahalkan lo yang datangnya ngaret” omel gue sambil menaiki motor Juli.


“pegangan yang kenceng” perintahnya


Gue sudah tau kalau begini sieh Juli bakalan mengeluarkan kemampuannya sebagi raja jalananan, Juli mah kelihatannya saja yang kalem, aslinya mah, tuh anak hobi banget kebut-kebutan.


Nyaris aja terlambat, untungnya motor Juli masuk satu detik sebelum bel berbunyi.selalu seperti ini setiap kali gue dijemput Juli,


Berbeda dengan Imel yang selalu menjemput gue kepagian, tuh anak kan rajin sholat shubuh berjamaah makanya tuh anak disiplin, tapi sedikit membuat gue repot sieh karna gue juga kudu bangun pagi untuk mengimbangi Imel. sedangkan Gebi tuh anak normal karna datang ngejemput diwaktu yang normal,artinya tidak terlalu pagi dan tidak terlalu siang.


*****


Sebuah motor matic keluaran terbaru berpacu ditengah jalan kota jakarta yang padat, matahari begitu terik menyengat, aku mengendarai motor yang aku pinjem dari Juli menyusuri  jalan raya dan aku berhenti disalah satu toko buku yang tidak terlalu besar,,tapi pengunjung ditoko itu buku cukup ramai,,aku baru pulang kuliah dan mengunakan jaket dibadanku,, turun dari motor,,aku melangkah kan kakiku memasuki toko, mendorong pintu masuk toko buku tersebut, aku datang ke toko buku sebagai refrensi tugas yang diberikan oleh dosenku.


"Assalamaulaikum rina sapaku.", si gadis yang bernama rina mendonggak ditengah kesibukannya melayani pembeli yang tengah membayar.


Rina adalah sahabatku saat masih SD sampai SMP dan saat SMA kami tidak masuk disekolah yang sama dan Rina sudah menikah dan sudah memiliki anak yang cantik dan lucu.


"Nuri." suara rina sahabatku terdengar ceria begitu melihat aku yang didepannya, "walaikummussalam." jawabnya masih memegang buku, "baru pulang dari kampus kamu Nur.",


"Iya." ku jawab, "wah-wah, lagi rame nieh, aku jadi gak enak ganggu."


"ah gak juga." tapi walaupun begitu rina kembali memencet tombol dimesin kasirnya.


"rin."


rina mendongak 


"aku lihat-lihat dulu yah."


"baiklah, entar aku temuin kamu yah." jari tangan rina terus menekan tombol2 mesin kasir

__ADS_1


"santai saja Rin." aku berbalik menuju rak-rak yang penuh buku,


"Nur.c


aku berbalik katika aku mendengar suara rina memanggilku


"ada buku baru baru dirak paling depan." rina menunjuk kearah rak yang mudah dijangkau keberadaannya oleh pengunjung, "coba deh kamu lihat2 dulu siapa tau ada yang kamu suka."


aku mengikuti arah yang ditunjuk oleh rina


"iya." kataku sambil tersenyum, aku kembali berbalik tapi aku masih sempat mendengar rina berkata, "95 mbak." kepada pelanggannya


setengah jam kemudian barulah rina bisa menemui aku, aku tengah membolak-balikkan sebuah buku tebal dengan judul merindu bulan purnama.


"ehmmmm." suara itu membuat aku menoleh dan menemukan rina berdiri disampingku.


"rindu sama siapa nieh ,kok gak pernah cerita kalau lagi sma seseorang." ,rina menggodaku.


"Ya rindu sama suamikulah Rin." ku jawab.


"Cie cei yang sudah menikah."


"eh kamu sudah selsei layanin pembelinya." kataku menoleh sejenak dan  membolak-balikkan buku yang ditanganku kembali, dan sengaja mengabaikan kata rina .


"udah, kayaknya gak ada pembeli lagi tuh sepertinya." rina mngedarkaan pandangannya kesetiap penjuru toko yang bisa dijangakau oleh pandangannya, aku juga melakukan hal yang sama,,


"Iya udah sepi neih."


"kamu cari buku apa kok tumben mampir kesini.", pertanyaan rina mesih tidak mengalihkan perhatianku dari membolak-balik buku ditanganku seakan mempertimbangkan apakah aku akan membeli buku itu juga, aku Cuma mau cari buku buat jadi refrensi tugas kuliahku"


rina menunjuk rak buku yang berada paling pojok," bukannya buku-buku yang kamu butuhkan disana Nur."


aku mengangkat wajahku dari buku yang kubaca, "y audah nieh." ,aku menunujkan setumpuk buku yang kutaruh didekat buku yang tersusun rapi didekat rak buku yang kosong, aku menutup buka yang kupegang dan menumpukkannya bersama buku yang tersuusun disampingnya


rina melihat 4 tumpukan buku tebal termasuk buku yng baru saja ditumpuk bersama buku yang lainnya yang ditunjuk olehku


"jadi kamu sibuk banget yah sekarang." goda rina sekarang merapikan buku-buku yang agak berantakan dirak, tangannya yang terbiasa besentuhan dengan buku cekatan merapikannya


"yah begitulah rin orang kuliah pasti sibuk, banyak tugas soalnya, kayak kamu gak sibuk aja."


rina sudah akan membuka mulutnya untuk mengomentari kata-kataku, tapi aku mendahuluinya dengan menyebut namanya


"Rin." aku mengangkat buku tebal itu dan menekapnya dengan erat didadaku seakan buku itu adalah harta paling berharga buatku," aku mau bayar nieh."


"Mmm."


kami berjalan berbarengan menuju meja kasir, Rina duduk dibelakang mejanya sedangkan aku duduk berhadapan dengan rina yang sekarang tengah menghitung harga buku yang dibawanya kemaja kasir, aku maupun rina terdiam hanya suara mesin kasir yang terdengar diruangan itu sampai kemudian rina berkata,,


"Nur."


"hmmm"


rina terdiam sesaat, seolah mempertimbangkan pertanyaan yang akan dilontarkan ,"apa kamu gak kepikiran buat punya anak." kata rina akhirnya.


aku terdiam sesaat menatap jari-jari rina yang bergerak lincah dimesin kasirnya.karna gak ada sahutan,,sejenak rina menghentikan perhatiannya dari mesin kasir kepada aku yang hanya memandang jari-jarinya dan melanjutkan, "awas lho Nur, kalau kamu terlalu sibuk kapan waktunya kamu buat mikirin punya anak."


Masih gak ada sahutan, aku mengerutkan kening, seolah-olah kata rina itu adalah satu soal yang sulit untuk ku jawab, "Ya kalau aku sih." aku menjawab setelah beberapa detik kemudian "serahain aja semuanya sama yang diatas rin, kalau udah rizkinya pasti dikasih."


"Ea, tapi harus ada usaha kan, ngak bisa donk hanya pasrah dan berdoa tanpa ada usaha, atau." lanjut rina, ,gimana kalau kamu ikut program kehamilan.


Aku  mengibaskan tangan memaksakan senyumnya, "ah kamu rin, ada2 aja,,umurku kan gak tua2 amet, masih muda, masih punya kesempatan untuk punya anak nantinya."


"Aduh Nuri", rina sperti terlihat frustasi bicara denganku, "mau nunggu sampai umur berapa sieh, umurmu itu adalah umur yang ideal buat punya anak,,,kamu lihat donk aku begitu lulus SMA langsung nikah dan punya anak." 


"Ea,,ea." ,,aku akhirnya mangalah gak mau berdebat, karna aku merasa gak nyaman dengn topik mengenai anak, aku mengehela nafas berusaha untuk mencari topik lain,, "eh gimana dengan si kecil."


"ah aysiah, sehat Nur." mata rina berbinar begitu mendengar aku menanyakan putri kecilnya.


"Alhamdulilah gumamku,dalam hati aku bersykur karna rina sepertinya melupakan topik tentang anak , "dia pasti lucu sekali sekarang yah


"ea dia tamabah gemesin, makanya kapan-kalan main kerumah donk."


"insaallah ri,, nanti kapan-kapan,kalau aku gak sibuk kuliah."


"bener yah." ,rina menekankan suaranya


"Iya."


aku  melihat arloji dipergelangan tangan kiriku, "rin, kayaknya sebentar lagi masuk waktu zuhur." rina juga melakukan hal yang sama melihat arlojinya mengecek jarum jam.


"Nur gimana kalau kita pergi ke masjid dekat sini, setelah itu kita makan siang bareng" ,rina mengusulkan,

__ADS_1


"boleh ,asal..." aku sengaja menggantung suaraku dan tersenyum misterius.


"Asal apa." kata rina sekarang memasukkan buku yang akan kubeli pada kantong plastik berwarna putih dengan hati-hati


"Dikasih diskon." aku nyengir karna aku cuma bercanda.


"Kamu mah yah." rina geleng kepala-kepala, tapi akhirnya dia memberikan potongan harga pada buku-buku yang akan kuibeli


aku yang hanya bercanda mengucapkan hal itu, membayar buku yang lebih murah dengan mengucapkan banyak terima kasih dan sebagai gantinya, rina menagih janjinya supaya aku harus dateng kerumahnya


*****


Dan sekarang Nuri dan Rina lebih sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama, seperti saat ini yang mereka lakukan apalagi Dewa saat ini tengah berada diluar kota.


Nuri keluar dari sebuah toko buku yang menjual alat-alat tulis yang berada disalah satu mall yang dia kunjungi, kebetulan rina menemaninya karna tokonya tutup, sepanjang jalan Nuri tidak habis-habjsnya bercanda dengan sikecil aysiah, sementara rina fokus nyetir, sesekali dia hanya tersenyum melihat keakraban sahabat dan anaknya itu. selama seminggu ini memang Nuri galau karna kehilangan buku hariannya yang entah dimana,,dia memeriksa seluruh bagian sudut kamarnya tapi gak menemukan buku berwarna pink itu,,padahalkan buku itu baru setengah terisi, bukan nya dia menyayangkan jumlah lembar yang tersisa tapi dia khawatir orang yang menemukan buku itu akan melihat semua apa yang ditulis padahal itukan masalah pribadinya yang tidak ingin diketahui oleh orang lain selain dirinya,,tapi setelah satu minggu keberadaan buku itu belum menemmukan titik terang akhirnya dia berniat membeli buku diary baru yang dengan seneng hati ditemani rina yang bosen dirumah karna suaminya lagi luar kota juga, walaupun dia berharap mungkin buku hariannya akan kembali diam-diam,satu minggu tanpa curhat pada buku hariannya membuat hatinya gelisah,


"ada lagi gak Nur.",,,tanya rina begitu mereka keluar dari toko buku yang berada dipusat perbelanjaan


Nur melihat buku harian yang terbungkus dikantung plastik dan menggeleng ",ndak ada rin",


"kalau begitu temeni aku yuk ketoko yang menjual perlengkapan bayi."


"ayuokkk."


mereka berjalan menuju tempat toko yang menjual alat perlengkapan bayi, si kecil aysiah tiada hentinya menggumam gak jelas, sehingga banyak orang yang berbelanja ditoko itu gemes dengan kelakuan gadis mungil itu, Nuri melihat sepatu bayi mungil terpajang disalah satu rak sepatu bayi, dia mengambil sepatu mungil itu dan memperhatikannya lebih dekat,,sesuatu berkelebat dalam bayangannya,,


"sayang." ,suara cowok mencium pipinya dari belakang,,


maryam tersenyum,"baru pulang kak." tanya Nuri,,


"ea, aku capek banget tapi begitu melihat kamu dan putri kecilku yang lucu ini rasa lelah ku menghilang." katnya sambil menghempaskan drinya didekat Nuri


sementara bayi kecil digendongan Nuri menggapai kearah Dewa, Dewa tidak tahan dan mengambil bayi kecil itu dari gendongan Nuri,,Nuir tersenyum bahagia melihat Dewa menggondong bayi mereka yang sedang mulai tumbuh,,Dewa menjulingkan matanya sehingga sikecil tertawa,,Nuri sendiri tersenyum melihat kelakuan Dewa,,dia berdiri dan merangkul bahu suaminya yang sangat dicintainya,,Dewa mencium keningnya,,dan mengatakan terimakasih,,


"Nuri, nur." ,,rina menggoyangkan bahu Nuri


"eh iya,,kenapa kak."


"Kak,,siapa kak tanya rina bingung." yang sekarang berdiri didepannya takut kalau sahabatnya lupa ingatan karna memanggilnya kak bukannya rina


Nuri tersenyum malu ternyata dia tadi menghayal terlalu jauh,


kamu ngelamun yah,,,rina tersenyum misterius


melihat senyum rina yang lain dari biasanya,,membuat nuri tau rina akan mengintrogasinya,,karna rina temennya yang satu itu seperti seorang detektif,,mudah penasarn


"kok kamu mandangnya gitu sieh rin." sekarang Nuri pura2 sibuk memilih-mmilih sepatu bayi hanya supaya bebas dari pandangan rina,,tapi dugaannya bener2 salah karna rina akhirnya betanya juga,, 


rina menyipitkn matanya,,dan mengoyang jari telunjuknya didepan maryam,,,hayo,,al itu siapa,,


rina bagus nieh kayaknya cocok banget deh dipakai aysiah,,dia menunjukkan  sepatu berwarna biru yang bergambar doraemon kedapan wajah rina hanya untuk mencoba mengalihkan perhatian rina


aduh non,,jangan mengalihkan pembicaraan deh,,tatap rina,,sejak kapan seih namaku berubah jadi al


aduh,,rin,kamu kayaknya salah denger deh,,aku bilang rin kok tadi bukan kak,,entar aku beliin pengorek kuping yah keluar dari sini


rina gemes juga dengan Nuri,,pakai ngeles lagi,,aku dengan jelas dengar tadi kamu manggil nama al,,


Nurj memang seneng bersahabat dengan rina tapi terkadang rina selalu jeli memperhtikan setiap kata yang dikeluarkan oleh Nuri,,


gggg,,Nuir gak tau harus ngomong apa,,dan telpon ditas rina berdering menyelamatkan Nuri untuk sementara untuk menjawab pertanyaan rina. untuk pertama kalinya Nuri bersyukur rina menerima telpon


siapa sieh rin,,


rina mengangkat bahu,,gak tau,,nomer gak dikenal,,


sesaat nuei menyangka rina akan mengabaikan panggilan dari nomer yang gak dikenal itu tapi rina pada akhirnya menggeser layar ponselnya,,dan mengucapkan halo,,bram,,percakapan terakhir yang didengar Nuri adalah rina menyebut nama bram dan menjauh mencari privasi,,Nuri gak ingin tahu sahabatnya itu nelpon dengan siapa,,sambil tetap menggendong aysiah,,dia terus melihat pakaian bayi yang lucu2,,aysiah kecil terus mengapai boneka2 lucu,,Nuri meraih boneka panda kecil dan mendekatkan pada aysiah,,ayisah gadis kecil itu bahagi dia memuku-mukul kepala boneka itu,,beberapa saat,,rina menghampirinya dengan wajah cerah,,,Nuri memperhatikan perubahan wajah temennya itu,,,


suami mu yang telpon,,


rina menggeleng masih tersenyum,,coba tebak siapa,,rina  membuat Nuri penasaran saja,,Nuri menggeleng,,


bram,,,


bram ulang Nuri,,siapa bram,,,tanyaya pengen tahu,,


bram temen ku waktu sama,,


oh,,,kata Nuri terus kenapa sampai seneng gitu ditelpon bram,,apa kamu suka dia,,,


ih sembrangan aja kamu,,,bram itu, rina menjelaskan, adalah temen gue waktu sma dan pas kita lulus, dia kuliah diluar ngeri dia baru pulang seminggu yang lalu dari inggris dan ngajak temen2nya termasuk gue ngumpul,,rina menjelaskan panjang lebar,,tapi Nuri mengira gak ada yang istimewa,,

__ADS_1


****


__ADS_2