SUAMIKU TERNYATA PRESDIR

SUAMIKU TERNYATA PRESDIR
ADEK BEBAS JATUH CINTA KEPADA SIAPAPUN


__ADS_3

Dewa menghentikan motornya disebuah warung dipinggir jalan, Nuri fikir kalau suaminya itu mungkin ingin beli air mineral atau bensin.


"Tunggu sebentar ya adek." pesannya sebelum berjalan ke warung.


Gak lama kemudian, Dewa kembali dengan membawa masker ditangannya.


"Heh, dia beli masker ternyata, aku fikir mau beli air minum atau gak bensin."


"Itu masker untuk apa." Nuri bertanya.


"Untuk adeklah." Dewa menyerahkan masker yang ada ditangannya pada Nuri.


"Untuk apa." meskipun bingung, toh Nuri mengambil masker yang disodorkan oleh Dewa itu juga.


"Pakai adek, adek tidak tahu apa betapa kesalnya kakak sepanjang jalan harus menyaksikan mata laki-laki yang menatap adek dengan pandangan mupeng, kakak tidak suka istri kakak dijadikan sebagai tontonan begitu."


"Tapi aku malas pakai masker, susah bernafasnya."


"Pakai adek, adek tidak maukan kalau kakak tiba-tiba menghajar orang hanya karna gara-gara menatap kecantikan adek terus menerus."


Nuri mendengus, malas banget dia memakai masker sebenarnya, tapi apa boleh buat, Dewa memaksanya mengenakan masker tersebut.


"Siapa sieh yang lihatin aku, padahal gak ada." sungut Nuri.


"Jangan manyun gitu adek, kakak paling tidak bisa saat melihat wajah adek yang manyun begitu, kakak suka ingin nyium."


Karna ucapan Dewa itulah, Nuri jadi menormalkan bibirnya.


"Nahh, beginikan baru oke." komen Dewa saat masker yang tadi dibelinya menutupi sebagian wajah istrinya, hanya menyisakan area mata dan jidat doank.


"Sekarang ayok naik, kita lanjutkan perjalanan."


"Hmmm."


****


Mereka jalan-jalan keliling mall, setelah itu mereka nonton dan yang terakhir sebelum mereka memutuskan untuk pulang, mereka makan terlebih dahulu disalah satu restoran yang ada di mall tersebut.


Dan kebetulan, Angell juga bersama dengan Diana tengah berjalan-jalan, dua orang itu juga berniat untuk mengisi perut mereka, dan kebetulan banget pandangan pertama Diana terarah pada dua orang yang lagi makan yang memilih meja yang letaknya agak dipojok, dan salah satu dari kedua orang itu dikenal oleh Diana.


"Dewa." ucapnya tanpa suara.


"Angell." panggilnya karna dia berniat untuk memberitahu sahabatnya itu.


"Paan Di."


"Bukannya itu Dewa ya." telunjuk Diana mengarah pada sosok laki-laki yang memang benar adalah Dewa.


"Iya, itu memang beneran Dewa."


"Sama siapa dia itu Angell." dari jaraknya berdiri Diana memperhatikan gadis cantik yang saat ini tengah makan bersama dengan Dewa.


Nyesek deh tuh hatinya Angell saat melihat Dewa tengah makan bersama dengan Nuri, apalagi Dewa terlihat mesra begitu, Dewa terlihat menyuapi Nuri, dan Nuri menerima suapan tersebut dengan sebuah senyuman.


"Katanya mau bercerai, katanya mau bantuin aku untuk menyatukan aku dan Dewa, mana, ini sik dekil itu malah mesra-mesraan dengan Dewa." ingin rasanya Angell menangis, tapi karna ini tempat umum sehingga dia bisa manahan tangisnya.


"Ehh, mereka mesra banget, apa gadis itu ya Angell kekasihnya Dewa." Diana menoleh ke arah sahabatnya, dia bisa melihat kalau wajah Angell sudah merah padam menahan amarah dikarnakan rasa sakit hatinya saat melihat adegan mesra yang tepat berlangsung didepan matanya, ingin rasanya Angell menjambak rambut Nuri.


Angell mengangguk dan tidak melepas perhatiannya sedikipun pada dua orang itu.


Diana mengerti kalau sahabatnya tengah sakit hati, oleh karna itu, dia mengajak Angell untuk mencari tempat makan lain saja, "Ngell, sebaiknya kita cari tempat makan lain saja yuk." Diana meraih pergelangan tangan Angell untuk membawanya keluar dari restoran tersebut, tapi sayangnya, Angell tidak mau beranjak dari tempatnya, dia bahkan melepas tangan Diana dari pergelangan tangannya.


"Kita makan disini Di, dan kita akan bergabung dengan Dewa dan istrinya."


"Heh, istri, maksudnya Dewa sudah menikah gitu dengan gadis itu."


Angell mengangguk.


"Ahh gila, sakit banget deh pastinya hati Angell, ternyata laki-laki yang dia cintai dan dia harapkan selama bertahun-tahun kini sudah menikah dengan wanita lain, Angell tidak punya kesempatan untuk memiliki Dewa." batin Diana, dia merasa kasihan dengan Angell.


"Di, ayok kita bergabung dengan pasangan romantis itu." dan dengan langkah pasti Angell berjalan mendekati meja yang ditempati oleh Dewa dan Nuri.


"Angell, astaga heii, yang benar saja sieh kamu." Diana berteriak memanggil Angell, bergabung dengan Dewa dan Nuri sudah pasti akan membuat Angell sakit hati, tapi sayangnya, sahabatnya itu tidak mengindahkan dirinya dan terus melangkah mendekati Dewa, dan mau tidak mau, Diana pada akhirnya ikut menyusul Angell, tentunya dia tidak akan meninggalkan Angell sendiri.


"Hai Dewa." sapa Angell, saat ini yang paling sulit dia lakukan adalah tersenyum, dan dia sangat berusaha tersenyum untuk menutupi rasa cemburunya, Angell kemudian beralih mengalihkan perhatiannya sama Nuri, "Hai adek, lagi pada makan nieh ceritanya."


Baik Dewa dan juga Nuri tentunya tidak menyangka akan bertemu dengan Angell disini.

__ADS_1


"Angell, kamu disini toh rupanya."


Angell tersenyum menanggapi ucapan Dewa.


"Iya Wa, aku bersama dengan Diana, tuh dia orangnya." Angell menunjuk ke arah kedatangan sahabatnya yang mendekatinya.


Dewa dan juga Nuri otomatis menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Angell, Diana tampak tersenyum ramah saat matanya bersitatap dengan Dewa dan juga Nuri, dia sieh tidak membalas senyuman Diana, tapi Nuri membalas senyuman Diana.


"Gak nyangka ya Wa kalau kita ketemu disini." kata Diana begitu dia sudah tiba.


"Iya, ini adalah sebuah kebetulan."


"Kalian mau makan juga ya." Dewa bertanya.


"Iya." jawab Angell, "Kami boleh gabung gak sama kamu Wa, agar kita bisa ngobrol-ngobrol gitu."


"Tentu saja boleh, ayok Angell, Diana kalian duduk dikursi yang ada." Dewa mempersilahkan.


Sementara itu Nuri, sejak memergoki Angell dan Dewa berpelukan waktu itu, sejak itulah dia jadi mulai tidak suka dengan Angell, tambah tidak suka lagi karna Angell, wanita yang mencintai suaminya itu sangat cantik, pinter dan berasal dari keluarga terhormat dan kaya lagi, jika dibandingkan dengan dirinya, jelas Nuri tidak ada apa-apanya, perumpamaannya seperti langit dan bumi, sangat jauh deh, Nuri jadi insecure sendiri deh saat membandingkan dirinya dengan Angell, Angell memiliki banyak kelebihan, sedangkan dirinya tidak memiliki kelebihan apapun, disini Nuri selalu melupakan fakta kalau, meskipun dia selalu berfikir kalau dia tidak memiliki kelebihan apa-apa, tapi Dewa mencintainya, Dewa memilihnya dirinya ketimbang Angell yang sempurna secara fisik.


"Oh ya Diana, ini Nuri, istriku." Dewa memperkenalkan Nuri dengan bangga kepada Diana.


Diana yang tidak punya masalah dengan Nuri tersenyum tulus saat matanya bersitatap dengan istrinya Dewa itu.


"Hai, aku Diana, temannya Angell dan Teman sewaktu SMAnya Dewa." Diana memperkenalkan dirinya secara resmi.


"Hai kak, salam kenal, aku Nuri."


Mengakhiri perkenalan mereka, dua wanita itu saling tersenyum satu sama lain.


"Kalian sebaiknya pesan makanan gieh." ujar Dewa, Angell mengangguk dan melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan.


*****


Saat dalam perjalanan pulang, supaya tidak membosankan, pasangan pasutri itu ngobrol, dimulai dari Nuri yang terlebih dahulu buka suara.


"Mbak Angell itu cantik ya, cantik banget sieh, hampir gak ada cacat celanya." pujinya dilisan, padahal mah hatinya sakit saat dirinya harus memuji wanita yang mencintai suaminya itu.


"Iya, Angell memang cantik." Dewa menimpali.


"Banyak laki-laki yang mendekati Angell, tapi ditolak sama dia."


"Kenapa."


"Aku gak tahu adekk."


"Apa mungkin karna dia cintanya hanya sama kamu saja ya."


"Ya gak itu adek, mungkin saja Angell belum nemu yang klik gitu dihatinya."


"Tapi kayaknya mbak Angell itu cinta banget sama kamu."


"Kalau Angell memang cinta banget sama aku kenapa, adek cemburu ya." goda Dewa, dan Dewa sieh berharap Nuri itu cemburu.


"Ishh ya gaklah." jawab Nuri cepat.


"Padahal kakak sangat berharap lho kalau adek menjawab adek itu cemburu, cemburu itukan tanda cinta, kalau adek gak cemburu, itu berarti adek gak cinta donk sama kakak."


"Memang aku gak cinta kok." Nuri menjawab cepat.


Dewa mendesah berat mendengar jawaban Nuri, "Adek-adek, adek kok sulit banget untuk ditaklukkan."


"Ehh, kok dia diam sieh, apa dia marah gak ya saat aku bilang kalau aku gak cinta sama dia." Nuri merasa bersalah sendiri, tapi tidak mungkin jugakan kalau dia mengklarifikasi kata-katanya barusan.


Dan memang sejak kata-kata Nuri barusan, Dewa jadi malas untuk ngomong.


"Mmm, Dewa, kamu marah ya." tanya Nuri takut-takut.


"Marah sama siapa."


"Sama akulah."


"Ngapain kakak marah sama adek." bilangnya ngapain marah, tapi suaranya itu lho gak bisa bohong, ketus.


"Fix ini mah sik Dewa ini marah, aku harus gimana donk, kok aku jadi takut gini kalau dia marah sama aku."


"Maafkan aku." akhirnya kata-kata itu yang dikeluarkan oleh Nuri.

__ADS_1


"Untuk."


"Ya karna aku bilang karna aku tidak mencintai kamu."


"Gak perlu minta maaf adek, semua orang berhak untuk memilih dengan siapa dia jatuh cinta, dan dalam hal ini, kalau adek tidak cinta sama kakak, itu juga adalah haknya adek, kakak tidak memilki hak untuk memaksa adek untuk jatuh cinta sama kakak, adek bebas mau jatuh cinta kepada siapapun adek mau."


Kok rasanya Nuri agak gimana gitu saat mendengar kata-kata Dewa barusan, kata Dewa barusan seolah-olah mengatakan kalau Nuri bebas memilih laki-laki yang dia cintai, tapi kok Nuri merasa sedih kalau benar itu maksud perkataan Dewa barusan.


"Maksud kamu apa Wa."


"Maksud kakak sudah sangat jelaskan, kalau adek tidak mencintai kakak dan tidak bahagia dengan kakak, silahkan saja adek bisa bersama dengan laki-laki yang adek cintai."


Kalau kemarin-kemarin, Nuri pasti dengan senang hati mendengar kata-kata Dewa itu, tapi kok sekarang dia sedih saat mendengar Dewa melepaskannya begitu saja, tidak seperti kemarin-kemarin Dewa selalu menahannya saat dia bilang kalau dia tidak mencintai laki-laki itu.


"Terus kamu sama mbak Angell begitu."


"Aku tidak akan bersama Angell, aku tidak akan bersama siapa-siapa, kemungkinan aku akan menghabiskan waktu sendiri sampai tua atau bahkan sampai maut menjemput."


Ingin nangis rasanya Nuri mendengar kata-kata Dewa, laki-laki itu ternyata hanya mencintainya, dia bahkan tidak ingin bersama dengan wanita lain selain dirinya.


"Maafkan aku Dewa karna kata-kataku barusan menyakitimu." Nuri hanya meminta maaf dalam hati saja tanpa melisankannya.


****


"Ehh tahu gak, anak kampus kita tanding basket lho dengan anak kampus sebelah." Imel memberikan informasi tersebut kepada kedua sahabatnya saat dalam perjalanan menuju kelas.


"Maksud lo memberitahu kami, lo mau ngajak kami nonton gitu Mell." tebak Juli.


"Yoi, pulang kuliah cabut yuk ke kampus sebelah." karna pertandingannya memang diadakan digor kampus sebelah yang menjadi lawan dari kampus yang saat ini tempat Nuri cs menuntut ilmu.


"Gue sieh oke-oke saja, malas soalnya langsung pulang, gak ada yang dikerjain dirumah."


"Nuri pasti ikut donk." Imel memandang Nuri penuh harap, kan kalau datang bertiga pasti seru, itu yang ada difikiran Imel saat mengajak ketiga sahabatnya untuk menonton pertandingan persahabatan tersebut.


"Iya deh gue juga ikutan."


"Oke, begitu perkuliahan berakhir, kita langsung go, gua yakin sieh, banyak anak-anak lainnya yang juga pada nonton."


****


Dan begitu perkuliahan berakhir, seperti yang telah direncanakan, mereka akan pergi nonton pertandingan basket, oleh karna itu, Imell telah meminta Hugo untuk mengantarkan mereka.


Dan kini, mereka sudah duduk ditempat pertandingan bersama dengan yang lainnya, mereka duduk tentunya bersama dengan suporter dari kampus mereka.


"Udah lama banget ya gak nonton pertandingan basket kayak gini, terakhir nonton itu pas masih SMA." kata Juli saat pertandingan tengah berlangsung seru.


"Iya, gue kok jadi kangen ya saat masa-masa masih SMA, sering banget nonton pertandingan basket kayak gini dan bersorak untuk mendukung team basket sekolah kita." Imel menimpali.


Sedangkan Nuri hanya diam, dia fokus menonton pertandingan yang tengah berlangsung dilapangan.


Pertandingan basket berlangsung seru sekaligus tegang dilapangan, kedua team basket sama kuat, team basket kampus Nuri memang memimpin, tapi skornya sangatlah tipis dengan skor team lawan, skornya hanya unggul 2 point saja.


Saat pertandingan basket tengah seru-serunya, bola basket itu melambung tinggi dan mengarah ke arah kursi penonton, semua penonton bersorak kaget dan bugggg, bola orange tersebut tepat mengenai kepalanya Nuri.


"Nurrr." pekik Juli dan Imel berbarengan saat melihat sahabat mereka kena lemparan bola basket tersebut.


Seketika itu Nuri yang terkena lemparan bola tersebut merasa pusing, pandangannya berkunang-kunang sehingga tidak lama kemudian, Nuri ambruk, untungnya Juli dengan sigap menahan tubuh sahabatnya itu sehingga tidak jatuh.


"Ya Tuhan, Nuriii." pekik Imel sangat cemas saat melihat tubuh sahabatnya itu pingsan.


"Mell, kita harus bawa Nuri ke rumah sakit ini."


"Ahh iya benar."


"Heii lo pada, kenapa pada ngelihatin sieh, bantuin kek elahhh." ujar Imel pada penonton laki-laki yang ada disekitaran mereka.


Dan dengan dibantu oleh salah satu cowok yang membopong tubuh Nuri dan membawanya ke mobilnya Imel.


Hugo panik dah tuh saat melihat sahabat nona majikannya yang gendong menuju mobil.


"Nona Imel, apa yang terjadi dengan nona Nuri, kenapa pingsan begitu."


"Nuri ketimpuk bola basket om Hugo, lebih baik om Hugo bawa kami ke rumah sakit sekarang."


"Baik nona."


*****

__ADS_1


__ADS_2