
Setelah kepergian Angell, Nuri kembali masuk ke kamarnya hanya untuk membereskan bekas makan yang dia bawakan barusan untuk Dewa.
Saat Nuri memasuki kamar, dia bisa melihat Dewa tengah duduk bersandar ditempat tidur, laki-laki itu tidak menyadari kehadiran Nuri karna saat ini dia tengah fokus dengan ponselnya.
Nuri sengaja menghentakkan langkahnya supaya Dewa menyadari kehadirannya, dan berhasil, Dewa mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang saat ini ada ditangannya, Dewa tersenyum begitu melihat sang istri, namun, Nuri yang kesal karna Dewa barusan berduaan dengan Angell membalas senyum Dewa dengan wajah masam, Dewa tidak berfikir kalau istrinya itu kesal hanya karna dia dan Angell barusan berduaan dikamar, Dewa berfikir Nuri berwajah masam karna memang setelah hilang ingatan istrinya itu memang sering jutek kepadanya.
"Terimakasih ya adek karna telah memperhatikan kakak sejak tadi pagi." ujar Dewa tulus.
"Kenapa berterimakasih kepadaku, berterimakasih sana sama mbak Angell, bukannya dia ya yang tadi nyuapin kamu, lahap banget ya makannya." Nuri berusaha membuat suaranya terdengar biasa-biasa saja, tapi tidak bisa, suara yang keluar terdengar ketus.
Dewa mengerutkan keningnya heran, padahal sejak tadi pagi saat mengetahui kalau dirinya sakit, Nuri selalu bersikap baik kepadanya, tapi sekarang wanita itu bersikap ketus tanpa alasan yang jelas.
"Adek kenapa, bawaannya ketus gitu, adek lagi pms ya."
"Ya gaklah." jawab Nuri cepat.
"Terus adek kenapa sieh, adek merasa kakak repotin ya karna kakak sakit, maafin kakak adek, kakak janji akan cepat sembuh."
Ya bukan karna itu sieh Nuri bersikap jutek begitu, tapi karna tidak ingin mengakui apa yang sebenarnya, dia tidak ingin Dewa beranggapan kalau dia cemburu sehingga dia membenarkan apa yang dikatakan oleh Dewa barusan, "Iya, kamu itu ngerepotin banget tahu gak, aku sudah bosan ngelayanin kamu terus sepanjang hari ini, aku itu capek tahu gak."
Dewa menunduk, jujur, sakit hati lho hatinya mendengar ucapan dari sang istri barusan, tapi dia tidak mau menampakkan sakit hatinya tersebut sehingga dia berkata, "Sekali lagi maafkan kakak ya adek, kakak janji akan cepat sembuh supaya tidak merepotkan adek lagi."
"Hmmm." gumam Nuri sebelum berlalu membawa piring dan gelas bekas sisa makanan yang dia bawakan untuk Dewa.
"Adek adek, kakak cinta banget sama adek, kakak rasanya mulai capek untuk meluluhkan hati adek yang tidak ada tanda-tandanya mencair." lisan Dewa begitu tubuh Nuri sudah tidak terlihat lagi.
****
Malamnya.
Karna Dewa lagi sakit dan butuh tempat tidur yang nyaman sehingga Nuri mengalah, dia memilih tidur disofa dan membiarkan Dewa yang tidur ditempat tidur.
Dan saat Nuri akan membaringkan tubuhnya disofa, dia mendengar suara notifikasi pesan yang masuk diponselnya yang dia letakkan dimeja, Nuri menjulurkan tangannya untuk meraih benda pipih multifungsi tersebut untuk mengetahui siapakah gerangan yang mengirim pesan kepadanya.
Dewa : Adek, adek dimana
Ternyata pesan tersebut dikirim oleh Dewa.
__ADS_1
Nuri : Ini aku ada diluar, emangnya ada dimana lagi
Dewa : Adek kenapa tidak masuk untuk tidur, adek tidak ngantukkah
Nuri : Ya ngantuklah, ini juga aku mau tidur
Dewa : Terus kenapa tidak masuk ke kamar adek kalau adek mengantuk
Nuri : Emangnya kalau didalam aku mau tidur dimana, bukannya kamu ya yang tidur ditempat tidur
Dewa : Kan tempat tidurnya luas adek, kita bisa berbagi tempat tidur lho
"Ishh, apa-apaan sieh dia itu, ngajak tidur berdua, dia fikir aku wanita apaan." Nuri berjengit, ya sebenarnya tidak ada yang salah dengan tidur satu ranjang Nuri, bukannya kalian adalah suami istri, jadi wajar-wajar saja kalau Dewa memintamu untuk tidur satu ranjang berdua.
Nuri menolak mentah-mentah permintaan Dewa tersebut.
Nuri : Kamu tidur saja diranjang, buat dirimu nyaman, aku tidurnya disofa saja
Dewa : Tidur disofa tidak nyaman lho adek, ayok mending adek masuk dan tidur ditempat tidur, kakak berjanji tidak akan ngapa-ngapain adek
Dewa : Ya sudahlah kalau adek tidak mau
Pasrah Dewa pada akhirnya, padahal malam ini dia sangat ingin tidur bersama dengan istrinya, disaat tengah sakit begini, dia ingin dipeluk oleh sang istri, mungkin saja dengan pelukan dari orang yang disayang bisa mempercepat proses penyembuhannya, namun apa yang bisa dia perbuat kalau Nurinya tidak mau.
Namun ternyata Tuhan mengabulkan harapan Dewa karna tiba-tiba saja lampu mati yang menyebabkan keadaan menjadi gelap gulita, dan Dewa sieh tidak masalah dengan mati lampu, tapi Nuri yang takut, wanita itu takut dengan kegelapan, sehingga, berbarengan dengan mati lampu tersebut dibarengi dengan sebuah teriakan nyaring dari luar.
"Akhhhhhh."
Dewa reflek khawatir mendengar suara teriakan istrinya tersebut.
"Adekkk." dengan menggunakan senter diponselnya Dewa turun dari tempat tidur dan berlari keluar.
Dan saat Dewa membuka pintu, sesuatu yang keras menabraknya, Dewa bisa mendengar suara mengaduh yang asalnya dari bawah.
"Awhhhh."
"Adek." Dewa menyorotkan sinar hp ke arah istrinya yang duduk tergeletak dilantai akibat dari tabrakan barusan.
__ADS_1
"Astaga adekkk." Dewa membantu Nuri untuk berdiri dengan mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Nuri.
"Adek ngapain hemm." tanya Dewa.
"Ya masuklah, aku takut soalnya mati lampu."
Dewa tersenyum senang mendengar jawaban Nuri, namun karna suasana gelap dan hanya senter dari ponsel Dewa yang jadi penerangan sehingga Nuri tidak bisa melihat senyum yang tercetak dibibirnya Dewa.
"Tuhan mendengar doaku ternyata." batinnya penuh syukur.
"Ya udah yuk dek masuk." ajak Dewa, dia mempersilahkan Nuri untuk masuk duluan sedangkan dia menerangi dari belakang.
Nuri langsung naik ketempat tidur, dia mengambil guling dan menjadikan itu sebagai pematas, "Ingat ya, ini adalah sebagai pembatas, dan kamu tidak beleh melewatinya."
"Kenapa harus ada pembatas-pembatas segala sieh adek, kita itu suami istri lho, jadi kalau mau ngapa-ngapain ya gak apa-apa."
"Ishhh, siapa juga sieh yang mau ngapa-ngapain sama kamu, membayangkan saja ogah." tandas Nuri.
"Hmm, sekarang saja adek bilang begitu, padahal kakak sudah melihat semua bagian tubuhnya adek lho, tidak hanya sekedar melihat doank, bahkan kakak pernah merasa..."
"Stop stop." lengking Nuri tidak ingin mendengar kelanjutan kata-kata Dewa, "Jangan teruskan, aku tidak mau dengar."
"Hmmm." desah Dewa kecewa, dia benar-benar sangat berharap kalau ingatan istrinya itu kembali supaya mereka bisa kembali seperti dulu lagi.
"Aku mau tidur, aku ngantuk, jadi Dewa, aku harap kamu tidur juga dan jangan macam-macam."
"Iya adek, itu kalau kakak tidak khilaf." balasnya dengan suara kecil yang bisa didengar oleh Nuri meskipun Nuri tidak terlalu jelas mendengar apa yang diucapkan oleh Dewa.
"Apa kamu bilang."
"Iya adek ayok tidur, kakak janji tidak akan ngapa-ngapain adek."
"Hmmm." Nuri menjatuhkan tubuhnya ditempat tidur sederhana itu, disusul kemudian Dewa juga berbaring disebelahnya tapi dibatasi oleh bantal.
"Huhh, kenapa harus ada batas-batas kayak gini sieh, kayak jerman saja yang pernah dipisahkan oleh tembok berlin."
****
__ADS_1