
"Keluarrr, aku tidak ingin melihatmu."
Dewa mendesah berat, "Ya Tuhan, sebenci itukah adek Nuri sama aku." batinnya.
Namun Dewa sudah bertekad bagaimanapun caranya dia harus membuat Nuri memaafkannya.
Dewa duduk dipinggir tempat tidur, "Adekk." Dewa memandang bola mata Nuri dengan lembut, dia ingin memberitahu lewat matanya kalau dia mencintai Nuri dan iya dia menyesal dengan apa yang telah dia lakukan, seharusnya dia menunggu Nuri siap, bukan malah mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Hati Nuri berdesir saat mata Dewa menatapnya dengan lembut, Nuri buru-buru membuang pandangannya, dia tidak ingin terbuai dengan pandangan Dewa.
"Kakak benar-benar minta maaf, kakak khilaf tidak bisa mengontrol diri kakak." entah sudah keberapa kalinya Dewa mengatakan hal tersebut, "Kakak benar-benar merasa bersalah dek."
Nuri terdiam, kalau diingat-ingat, Dewa tidak sepenuhnya salah, dia yang mancing-mancing dengan memeluk dan mencium Dewa dan itu karna pengaruh obat perangsang yang dimasukkan oleh Jundi diminumannya, namun Nuri hanya diam tidak menanggapi permintaan maaf yang dilontarkan oleh Dewa.
"Seharusnya kakak tidak mengikuti nafsu kakak, kakak seharusnya menunggu adek sampai adek benar-benar siap untuk melakukannya." jelasnya.
"Kakak benar-benar menyesal dek, tolong maafkan kakak."
Nuri masih setia dengan kebungkamannya, Dewa hanya bisa menghela nafas karna masih tidak ada respon dari Nuri sampai dia memilih untuk meletakkan buket bunga mawar yang dia belikan untuk Nuri didekat Nuri, dari dalam saku celana jeansnya Dewa mengeluarkan kotak beludru mungil berwarna merah marun yang dia letakkan disamping bunga tersebut, "Adek mungkin butuh waktu untuk memaafkan kakak, kalau adek tidak mau melihat wajah kakak, kakak akan pergi untuk sementara."
Tetap tidak ada respon, Dewa sudah seperti ngomong dengan batu saja, Dewa hanya bisa menghela berat sebelum memutuskan untuk keluar.
Begitu pintu tertutup, Nuri meraih bunga yang Dewa letakkan disampingnya, dia juga mengambil kotak beludru berwarna merah marun tersebut dan membukanya untuk mengetahui apa isinya.
Nuri terkejut begitu melihat isi dari kotak beludru tersebut, sebuah emas yang sangat cantik dengan liontin dengan inisial namanya yaitu N, Nuri mengeluarkan kalung itu dari kotak tersebut.
"Cantik banget, tapi darimana kak Dewa mendapatkan uang untuk membeli kalung ini, ini pasti kalung harganya sangat mahal." fikir Nuri.
Nuri kemudian melihat sebuah kartu ucapan yang terselip diantara bunga-bunga mawar yang ada ditangannya, Nuri menariknya dan membaca apa yang ditulis oleh Dewa.
Semoga adek suka dengan hadiah yang kakak belikan, kakak yakin, adek pasti sangat cantik saat mengenakan kalung itu.
Dewa
"Isss." diluar kesadarannya, Nuri tersenyum tipis meskipun dia mendesis, "Jadi dia nyogok gue gitu pakai kalung ini, dasar laki-laki." meskipun berkata begitu, tapi Nuri berlari ke arah cermin dimeja riasnya, dia memasang kalung tersebut dilehernya, kalung tersebut tampak sangat cantik dileher jenjanganya, Nuri tersenyum saat melihat pantulan dirinya didepan cermin dengan kalung pemberian Dewa melingkar dengan manis disana.
"Ini pasti mahal, kak Dewakan upahnya kecil, darimana coba dia mendapatkan uang untuk membelikan gue kalung mahal ini." Nuri kembali menanyakan hal tersebut sambil memegang liontin kalung pemberian Dewa.
Setelah puas memandangi dirinya didepan cermin, Nuri berjalan ke arah pintu, dia membuka pintu tersebut sedikit dan mengintip keluar, dia bisa melihat Dewa tengah duduk disofa sambil memainkan ponselnya, wajah Dewa terlihat lelah dan itu membuat Nuri merasa kasihan melihat suaminya itu.
"Apa gue terlalu berlebihan ya, padahalkan apa yang terjadi malam itu bukan sepenuhnya kesalahan kak Dewa, lagian dia juga suami gue, dia punya hak untuk nyentuh gue, gue tidak seharusnya semarah ini sama dia." Nuri merasa menyesal.
Nuri kemudian membuka pintu dan berjalan ke arah Dewa, gadis itu ingin mengajak Dewa berbaikan.
****
Deni : Gimana boss, bini boss luluh gak dengan hadiah yang boss berikan
Dewa : Saranmu tidak mempan Den, adek Nuri masih marah sama aku, dia bahkan nyuekin aku habis-habisan
Deni : Astaga, kok sampai segitunya bini boss marahnya, satahu saya nieh ya boss, wanita kalau sudah dikasih hadiah itu bakalan senang, senyum dan meluk-meluk deh tuh dan bilang adek sayang abang.
Dewa : Bini saya berbeda Den, kayaknya dia tidak bisa disogok pakai hadiah-hadiah begitu.
Deni : Mungkin istri boss butuh liburan kali boss, udahlah boss, ajak istri boss itu liburan keliling eropa.
Dewa : Jangan ngasih saran yang aneh-aneh kamu Deni, bagaimana saya bisa ngajakin istri saya jalan-jalan keluar negeri segala kalau saat ini saya lagi pura-pura miskin, dia pasti bertanya-tanya dari mana saya mendapatkan uang.
Deni : Ahh boss Dewa ini memang ribet, pakai nyamar jadi orang miskin segala, kan repot jadinya kalau kayak gini
Dewa : Sayakan ingin mendapatkan cinta sejati Den, saya tidak ingin perempuan mencintai saya hanya karna harta yang saya miliki
Deni : Benar sieh yang boss lakukan, tapi susahkan kalau mau nyogok wanita yang kita sukai kalau kayak gini.
Dewa mengehentikan berbalas chat dan mendongak saat mendengar suara pintu kamar terbuka, dia melihat Nuri berjalan ke arahnya, dan tatapan mata Dewa nyempil ke leher Nuri, hatinya menghangat saat melihat kalung yang dia berikan melingkar dengan indah dileher istrinya, dia sangat berharap dengan dipakainya kalung tersebut sebagai pertanda kalau Nuri memaafkannya.
Nuri duduk diruang kosong disamping Dewa, dengan malu-malu dia menatap Dewa.
"Adek."
"Kak Dewa."
Mereka bicara disaat bersamaan.
"Adek duluan." kata Dewa mempersilahkan Nuri lebih dulu menyampaikan apa yang ingin dia katakan.
"Kak, maafkan aku karna telah berlebihan menyikapi hal yang terjadi semalam, aku tidak seharusnya menyalahkan kakak karna itu tidak sepenuhnya salah kakak."
Dewa tersenyum mendengar permintaan maaf dari bibir istrinya, "Tidak apa-apa adek, wajar saja kalau adek marah sama kakak, kakak yang salah tidak bisa mengontrol diri kak."
"Kita berdua salah kak."
__ADS_1
"Ahh iya benar."
Mereka kembali terdiam, agak canggung juga sieh rasanya, setelah beberapa saat, Nuri kembali buka suara.
"Kalungnya." Nuri memegang liontin kalung yang melingkar dilehernya, "Terimakasih kak."
"Adek suka."
Nuri mengangguk.
Dewa terlihat lega, "Syukurlah kalau adek menyukainya."
"Ternyata tokcer juga saran dari sik Deni itu." batin Dewa.
"Kak Dewa."
"Kenapa dek."
"Kalung ini pasti mahalkan harganya, kakak uang darimana untuk membeli kalung ini."
Dalam hati Dewa menjawab, "Harga kalung itu tidak seberapa dengan uang yang kakak miliki dek, tadinya kakak mau membelikan adek kalung berlian, tapi pasti adek curiga kalau kakak membelikan kalung mahal untuk adek sementara yang adek tahu kalau kakak adalah laki-laki dengan kehidupan yang sederhana, adek pasti berfikir yang aneh-aneh tentang kakak."
"Itu kakak beli dari hasil tabungan kakak dek, adek begitu cantik memakainya."
Nuri tersenyum malu dipuji cantik oleh Dewa, pipinya bersemu merah, jantungnya juga tiba-tiba berdebar.
"Kenapa lagi sieh jantungku ini, kenapa coba dia kembali berdebar hebat kayak waktu itu." Nuri reflek memegang area dimana jantungnya berada.
Melihat apa yang dilakukan oleh Nuri membuat Dewa bertanya, "Adek kenapa."
Nuri menggeleng, "Aku tidak kenapa-napa kak."
Mereka berdua kembali diam, Nuri kini jadi salting, untuk menutupinya Nuri berkata, "Mmm kak, kakak capek gak, apa kakak mau dibuatin kopi atau teh." selama jadi istinya Dewa, ini untuk pertamakalinya Nuri menawarkan diri membuatkan Dewa minum, tentunya itu membuat Dewa senang donk.
"Boleh deh kalau adek tidak keberatan."
"Kopi atau teh kak." tanya Nuri mengulangi pertanyaannya.
"Kopi saja."
Nuri mengangguk dan berlalu menuju dapur untuk membuatkan Dewa kopi.
"Ya Tuhan, kenapa aku jadi deg-degan begini ya, bismillah saja, semoga kak Dewa suka dengan kopi buatanku." ujarnya dan kembali berjalan.
Nuri meletakkan kopi buatannya didepan Dewa, "Ini kak kopinya."
"Terimakasih adek."
Dewa meraih cangkir tersebut dan menyeruput kopi buatan istrinya perlahan, Nuri dengan takut-takut menunggu reaksi suaminya.
"Enak dek kopi buatan adek."
Nuri yang sejak tadi menahan nafas begitu lega mendengar pujian dari suaminya.
"Bolehkah kalau kakak sering-sering minta dibuatin kopi oleh adek."
"Tentu saja kak." jawab Nuri senang.
"Manisnya." puji Dewa saat melihat senyum yang terkembang dibibir sang istri, ini untuk pertamakalinya Dewa melihat istrinya tersenyum tulus begitu padanya.
Jantung Nuri tambah berdebar mendengar pujian dari Dewa, "Tuhan, apa sieh yang sebenarnya terjadi denganku, kenapa aku senang banget saat mendengar kak Dewa memujiku." batinnya.
"Sering-sering tersenyum adek, senyum adek sangat manis, bahkan lebih manis dari kopi yang saat ini kakak minum."
"Apa sieh kak Dewa, gombal deh."
"Bukan gombal adek, tapi kenyataan."
"Tau ahhh." Nuri jadi malu sendiri.
Dewa hanya terkekeh melihat istrinya yang tampak malu-malu begitu.
****
"Kok aku jadi kangen sama kak Dewa sieh." desah Nuri yang gelisah dalam tidurnya, tiba-tiba saja dia begitu sangat merindukan Dewa, padahalkan Dewa ada diluar, tinggal suruh saja masuk kalau Nuri kangen, tapi begitulah Nuri, gengsi dia.
Karna tidak bisa tidur, Nuri meraih ponselnya, niatnya sieh ingin curhat gitu sama sahabat-sahabatnya tentang kegundahan hatinya.
Nuri : Kok gue jadi kangen ya sama kak Dewa.
Tulisnya dichat group.
__ADS_1
Nuri kembali meletakkan ponselnya disampingnya untuk menunggu balasan dari sahabatnya, entah itu Juli atau Imel yang ngebalas, siapa saja Nuri tidak peduli yang penting saat ini dia ingin punya teman curhat.
Dan beberapa detik kemudian, Nuri mendengar suara ponselnya berbunyi yang menandakan adanya pesan masuk.
Namun Nuri mengerutkan kening saat yang menjawab bukanlah salah satu dari sahabtnya, tapi itu merupakan chat dari Dewa.
"Kak Dewa, dia ngapain ngechat gue." Nuri mengerutkan kening heran kemudian menggerakkan jarinya untuk membuka pesan tersebut.
Dewa : Apa adek mengizinkan kakak untuk menemani adek
Mata Nuri membelalak saat mengetahui kalau dia salah kirim, pesan yang seharusnya dia kirim ke group chat malah dia kirim ke nomernya Dewa, sumpah dia malu pakai banget, ingin rasanya dia bersembunyi saja dilubang tikus, Nuri yakin dirumah ini ada lubang tikusnya.
"Astahfirulllah, kenapa gue bisa salah kirim begini sieh, sumpah malu bangetkan gue." Nuri menutup tubuhnya dengan selimut saking malunya.
"Ihhh malu banget gue, pasti kak Dewa ngetawain gue diluar, duhh rasanya gue gak punya muka untuk bertemu dengan kak Dewa."
"Adekk."
Nuri mendengar suara Dewa memanggilnya dari luar kamar.
"Gimana nieh, kak Dewa nyamperin gue lagi."
"Adek Nur, adek belum tidurkan, apa boleh kakak masuk."
"Gue pura-pura tidur saja deh, gak usah bergerak." putusnya saking malunya dia untuk bertemu dengan Dewa.
Saat Nuri memejamkan matanya pura-pura tidur, Nuri mendengar suara kriutt dari pintu kamarnya yang terbuka, Nuri sieh berharapnya saat Dewa mengetahui kalau dirinya tengah tidur, Dewa akan kembali menutup pintu dan membiarkannya tidur dengan tenang, tapi ternyata Nuri salah, dia bisa merasakan sesosok tubuh menaiki tempat tidurnya, dan Nuri yakin kalau itu adalah Dewa, dan sampai saat ini Nuri masih bisa pura-pura tidur.
"Sudah tidur rupanya, tadi bilangnya rindu, kakak fikir adek mau ditemenin."
Dewa mendekat dan mengecup kening Nuri, "Tidur yang nyenyak adek, mimpi indah." ucapnya sebelum kembali keluar.
Saat mendengar suara pintu tertutup, Nuri yang sejak tadi pura-pura tidur membuka matanya, dia memegang keningnya yang tadi dicium oleh Dewa, kehangatan dan kelembutan bibir milik Dewa masih terasa dikeningnya dan itu membuat Nuri jadi berbunga-bunga.
****
Paginya Nuri bangun pagi-pagi sekali, entah ada angin apa, dia ingin memasak dan membuatkan sarapan untuk suaminya, dan lagi-lagi ini untuk pertamakalinya dia memasak karna sebelumnya Dewalah yang sering memasak, suara berisik dari wajan yang beradu dengan sutil membuat Dewa membuka matanya.
"Siapa yang masak, masak iya adek Nuri." tanyanya.
Dewa berdiri dan melangkah menuju dapur untuk mencaritahu, dan dia melihat istrinya itu membelakanginya dan tengah sibuk mengaduk-ngaduk masakan yang tengah dia buat, Dewa tersenyum melihat hal tersebut, baginya tidak ada hal yang lebih indah daripada melihat istri yang memasak untuk suami.
"Selamat pagi adek." sapa Dewa tepat ditelinga Nuri.
Suara Dewa tersebut membuat Nuri berjengit kaget, dia bahkan sampai mengelus dadanya, "Kak Dewa." protesnya, "Kenapa sieh pagi-pagi ngagetin aku saja."
Dewa terkekeh, "Maafkan kakak adek, kakak tidak bermaksud ngagetin adek."
"Hmmm." Nuri jadi malu sendiri saat ingat kejadian tadi malam, dia hanya berharap Dewa tidak mengungkit hal tersebut.
Nuri kembali mengaduk-aduk nasi goreng diwajan, makanan simple yang gampang dibuat dan disukai oleh sejuta umat.
"Hmmm, aromanya harum banget, pasti nasi goreng buatan adek enak."
"Hmmm."
"Kakak sudah tidak sabar untuk nyicipin."
"Kak Dewa sebaiknya sana mandi, begitu kakak selesai mandi, nasi gorengnya sudah siap."
"Oke, kalau gitu kakak mandi dulu."
Dan benar saja, saat Dewa keluar dari kamar mandi, nasi goreng yang dimasak oleh Nuri sudah terhidang dimeja.
Dewa duduk disamping Nuri, "Terimakasih adek karna telah masak untuk kakak."
Nuri mengangguk, dalam hati berkata, "Ya Tuhan, suamiku senang banget saat aku masakin, dan selama ini aku selalu nyuekin dia." Nuri jadi menyesal saat ingat kemarin-kemarin saat dia tidak memperlakukan Dewa dengan baik.
"Ayok kak makan, kalau gak enak kakak jangan marah ya."
"Kakak yakin masakan adek pasti enak." Dewa kemudian mengarahkan sendok ke mulutnya, "Hmmm, tuhkan benar dek, masakan adek enak."
Sama seperti kopi buatannya dipuji, Nuri juga tersenyum puas saat masakannya dipuji oleh suaminya, itu semakin memacunya untuk memasak.
"Adek kuliahkan hari ini." tanya Dewa disela-sela kunyahannya yang diangguki oleh Nuri.
"Kakak antar ya."
Nuri kembali mengangguk.
****
__ADS_1