
“kamu apakan Nuri sampai seperti itu brengsek.” murka Dewa saat melihat kondisi istrinya yang terlihat tidak berdaya.
“Sekali lagi itu bukan urusanmu sialan.” Umat Jundi yang tidak megenali Dewa padahal mereka pernah bertemu sebelumnya.
“Itu menjadi urusanku karna gadis yang saat ini bersammu adalah istriku.”Dewa meradang.
“Hahaha” Jundi malah tertawa, dia fikir Dewa bercanda, “Istri, jangan ngaku-ngaku deh lo, Nuri itu masih singgle, belum menikah, lucu banget sieh lo.”
“Aku gak ngaku-ngaku sialan, dia beneran istriku, sekarang serahkan dia kepadaku.”
“Kalau gue gak mau, lo bisa apa.”
“Itu berarti lo minta dihajar.”
Dewa mendekat dan berniat memberi pelajaran pada laki-laki kurang ajar tersebut.
Jundi melepaskan tubuh Nuri yang lemas begitu saja dan itu membuat tubuh Nuri terjatuh dilantai parkiran paping blok yang keras dan itu berhasil membuat Nuri mengaduh kesakitan.
"Aduhh bokongku."
Dewa makin kesal saat melihat istrinya diperlakukan seperti itu, “Brengsek.”
Dewa melayangkan kepalan tangannya untuk menghantam wajah Jundi, Jundi yang tengah dalam pengaruh minuman keras telat menghindar sehingga pipinya harus mencium kepalan tangan yang dilayangkan oleh Dewa, tubuh Jundi oleng, laki- laki itu memegang pipinya yang terasa memanas.
“Setan lo.” Dengan penuh emosi Jundi melayangkan kakinya menendang area perut Dewa, dewa yang gesit berhasil menghindar, karna Jundi melayangkan seluruh tenaganya, sehingga membuat tubuhnya limbung, dan hal tersebut dimanfaatkan oleh Dewa untuk menendang tulang kering Jundi yang membuat laki-laki tersebut jatuh tersungkur dan mengaduh kesakitan.
Dewa tidak membiarkan Jundi memberi perlawanan, dia meraih kerah baju Jundi dan mencengkramnya dengan kuat, “Sekali lagi lo berani nyentuh istri gue, gue pastikan lo bakalan gue kirim ke UGD, paham lo.” Setelah memberi ancaman tersebut, Dewa menghampaskan tubuh Jundi kembali kelantai parkiran, merasa tidak akan menang melawan Dewa, Jundi akhirnya memilih untuk kabur, namun sebelum itu, dia sempat memberi ancaman kepada Dewa.
“Awas lo, akan gue balas lo perbuatan lo nanti.”
“Gue tidak sabar menunggu pembalasan lo.” tantang Dewa tidak takut sama sekali dengan ancaman Jundi.
Setelah Jundi pergi, Dewa berjalan mendekati Nuri yang ngoceh tidak jelas, namun semakin dekat, Dewa bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Nuri.
“Panas, tolong aku, aku tidak tahan.” Nuri membuka kancing pakaian yang dia kenakan, dengan secepat kilat Dewa mencegahnya.
“Astaga adek, apa yang kamu lakukan.”
“Kak Dewa.” Desis Nuri dengan suara manjanya, dia menyungingkan senyum menggodanya saat melihat Dewa.
Hati Dewa berdesir meihat hal tersebut, biar bagaimanapun dia adalah laki-laki dewasa yang tergoda saat melihat hal yang menggoda imannya, apalagi saat ini Nuri memeluk lehernya dan mengecup lehernya, Dewa yakin saat ini dilehernya terdapat stempel akibat perbuatan nakal Nuri tersebut.
“Apa yang diberikan oleh laki-laki sialan itu kepada istriku sampai seperti ini.” Geram Dewa mengepalkan tangannya.
Dewa menyesal karna telah melepaskan Jundi begitu saja, “Awas saja kalau sampai istriku kenapa-napa, akan aku cari kamu sampai ke ujung dunia sekalipun.”
“Kak Dewa, panas kak.” Nuri makin agresif, dia sekarang mencium wajah Dewa, hal itu sekarang membangkitkan sesuatu yang tertidur lelap dibawah sana.
"Sialan, dia terbangun lagi." umpat Dewa kesal.
“Dek, jangan seperti ini.”
__ADS_1
Dewa mulai mengangkat tubuh Nuri dan menggendongnya karna gadis itu tidak mampu untuk berdiri apalagi berjalan.
“Tolong aku kak, panas banget badanku.” Nuri terus merengek dalam gendogan Dewa.
“Iya adek, adek sabar ya.”
“Dimana sieh sik Deni itu, lama banget.” tadi Dewa menelpon Deni asistennya untuk menjemput mereka dibar.
Lima menit kemudian, sebuah mobi hitam berhenti tepat didepan Dewa, pengendara mobil yang tidak lain adalah Deni membuka pintu dengan buru-buru, agak heran juga sieh melihat bossnya menggendong seorang wanita, tapi untuk saat ini dia tidak sempat untuk bertanya melihat kondisi sang boss yang terlihat kepayahan yang membawa beban berat.
Deni membuka pintu penumpang belakang untuk Dewa, “Masuk boss.”
Dewa mengomeli Deni terlebih dahulu sebelum membawa Nuri masuk,”Kemana saja sieh kamu Den, lama amat jemputnya."
“Sorry boss, macet, boss tahukan bagaimana kota kita tercinta ini.”
Dewa hanya mendengus mendengar alasan yang diberikan oleh Deni, alasan macet menjadi alasan yang sering digunakan oleh asistennya itu.
Dan saat semuanya sudah duduk dengan nyaman dimobil, Denis mulai menjalankan mobilnya keluar dari area bar.
Sementara Nuri masih saja terlihat gelisah dan memeluk Dewa, “Kak Dewaaaa...tolongin Nuri kak, Nuri sudah tidak tahan.” Nuri merengek manja.
“Iya sayang, sabar.” Dewa berusaha menenangkan Nuri dengan mengelus lembut rambut gadis yang dia cintai itu.
“Kita kemana nieh boss.” Deni didepan bertanya.
“Rumah.”
“Hmmm.”
Deni jadi heran sendiri, kenapa bossnya itu lebih memilih pulang ke rumah kecil dan sumpek tersebut daripada rumah besarnya yang mewah dan megah.
“Mohon maaf ya boss ya, bukannya mau mencampuri urusan boss nieh, kalau boleh tahu, siapa gadis yang saat ini tengah memeluk boss itu.”
“Istriku.” Jawab Dewa santai.
“Hah.” Tentu saja Deni tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh bossnya tersebut, “Boss elahh, jangan bercanda napa, orang nanyanya serius juga.” Tuhkan, Deni berfikir kalau Dewa cuma bercanda doank.
“Kamu fikir dalam hal beginian saya bercanda Den, saya serius, wanita ini adalah istri saya, istri yang saya nikahi sah secara agama.” jelas Dewa.
“Ehh, beneran ini boss Dewa sudah nikah, kapan boss, diam-diam wae, gak ngundang-ngundang.”
“Yang jelas panjang ceritanya, dan saya tidak mau berbagi cerita sama kamu.” Tandas Dewa, “ kamu lebih baik fokkus nyetirnya deh, jangan nanya-nanya lagi.”
"Baik boss."
Meskipun banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan oleh Denis, tapi karna berhubung bossnya tidak ingin ditanya-tanya lagi, terpaksa deh dia memendam rasa ingin tahunya itu dan lebih memilih fokus untuk menyetir daripada sang boss marah kepadanya.
20 menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Denis berhenti dirumah sederhana yang dia belikan untuk bosnya itu.
"Oke Deni, kamu sebaiknya balik gieh."
__ADS_1
"Boss." panggil Deni yang membuat Dewa kembali berbalik.
"Apalagi Den."
"Itu beneran istrinya bosskan, boss tidak bohongkan."
"Sekali lagi kamu bertanya Den, saya pecat kamu." ancam Dewa mulai jengkel dengan asistennya itu.
"Hehe, sorry sorry boss." kekeh Deni, "Kalau begitu bossku, saya pamit kalau begitu, selamat bersenang-senang bossku."
****
Dewa membaringkan tubuh Nuri ditempat tidur, Dewa tidak tahan, dia ingin segera jauh-jauh dari Nuri, takutnya dia khilaf dan hilang akal dan langsung menyerang Nuri, namun sayangnya, saat Dewa menarik tubuhnya saat membaringkan tubuh Nuri, Nuri malah menarik tubuh Dewa yang membuat Dewa menindih tubuh Nuri.
"Kakkk Dewa." djesah Nuri manja.
"Astaga, bagaimana ini." Dewa benar-benar terguncang, hatinya bimbang, hatinya bilang jangan, tapi fikirannya bilang lakukan, toh dia memiliki hak untuk menyentuh Nuri karna dia adalah suaminya yang sah.
Dan setelah mengalami perdebatan panjang, akhirnya fikirannyalah yang menang, dengan lembut Dewa mulai menyentuh bagian tubuh kekasih halalnya, dan malam ini menjadi malam pertama untuk mereka, Dewa benar-benar memperlakukan Nuri dengan lembut, Dewa ingin menciptakan kesan yang indah bagi Nuri pada pengalaman pertamanya.
Kini gadis itu terlelap sambil memeluk tubuh Dewa, wajah gadis itu terlihat damai dalam tidurnya, Dewa tersenyum puas setelah menuntaskan hasratnya, "Terimakasih sayang, tidurlah yang nyenyak." Dewa mencium kening istrinya mesra, "Aku mencintaimu."
Paginya, Nuri terbangun, dia merasakan tubuhnya teras remuk, dia juga merasakan dibagian area selangkangannya terasa perih, "Awhh, apa yang terjadi." gumamnya tidak ingat apa yang telah terjadi semalam, Nuri mencoba untuk bergerak, sayangnya dia kesusahan untuk bergerak karna ada sebuah tangan yang melingkar dipinggangnya, Nuri menoleh ke samping dan betapa kagetnya Nuri saat melihat Dewa tidur satu ranjang dengannya, yang membuatnya bertambah kaget lagi adalah, dia dan laki-laki itu sama-sama polos tanpa sehelai benangpun menempel ditubuh mereka dibalik selimut yang masih membungkus tubuh mereka.
"Akhhhh." Nuri berteriak yang membuat Dewa yang masih berada dialam mimpi terbangun dan terkejut mendengar teriakan Nuri.
"Ada apa adek, apa yang terjadi." panik Dewa.
Bukannya menjawab pertanyaan Dewa, Nuri malah mengambil bantal dan memukulkannya ditubuh Dewa sekeras yang dia bisa, "Dasar laki-laki brengsek, bajingan, apa yang telah kamu lakukan kepadaku hah." amuk Nuri, kini gadis itu mulai menangis.
"Tenang dulu adek." Dewa berusaha untuk menenangkan Nuri yang sepertinya shock setelah menyadari apa yang mereka lakukan semalam.
"Gue benci sama lo, benci, keluar lo." Nuri menjerit histeris.
Dewa berusaha untuk menahan tangan Nuri yang terus menerus memukulkan bantal kebadannya, dan dia berhasil menahan tangan itu yang membuat Nuri berhenti meronta-ronta untuk sementara.
"Dekk, maafkan kakak kalau kakak salah, kakak khilaf, kakak tidak bisa mengontrol diri kakak, tapi ini bukanlah sepenuhnya kesalahan kakak, coba adek ingat-ingat apa yang terjadi semalam." Dewa tahu dalam hal ini dia salah, tapi dia tidak sepenuhnya salah karna biar bagaimanapun dia tetaplah laki-laki normal yang tidak tahan kalau mendapatkan godaan, apalagi kalau wanita yang menggodanya adalah wanita yang dicintai dan berstatus sebagai istrinya sendiri.
Nuri mencoba mengingat-ingat kejadian semalam, kilasan peristiwa semalam mulai terlintas dibayangannya, dia mulai ingat apa yang terjadi, Jundi memberinya minuman, dan tidak lama setelah meneguk minuman tersebut, Nuri jadi bertingkah aneh, dia jadi haus sentuhan dan belaian, bahkan dia ingat saat dirinya memohon kepada Dewa untuk menyentuhnya, tapi disini Nuri sepenuhnya menyalahkan Dewa atas apa yang terjadi, dia begitukan karna pengaruh obat yang dimasukkan oleh Jundi di minuman yang diberikan kepadanya, dan seharusnya Dewa yang tidak dalam pengaruh apapun bisa mengontrol dirinya.
"Gue gak mau melihat wajah lo, keluar lo dari sini." usir Nuri sesenggukan, dia menangisi dirinya yang sudah kehilangan mahkota berharga yang seharusnya dia persembahkan nantinya untuk laki-laki yang dia cintai dan mencintainya, bukan kepada Dewa yang tidak pernah dia cintai.
Dewa menarik nafas lelah, padahal dia fikir, setelah melakukan hal tersebut bisa membuat Nuri lebih menerimanya, tapi ternyata dia salah, "Baiklah, kakak akan keluar dek, tenangkanlah diri adek dulu." ujarnya penuh kelembutan, "Kalau adek butuh apa-apa, bilang saja sama kakak, jangan sungkan." pesannya sebelum keluar.
Dewa keluar dari balik selimut dengan tubuh polosnya, Nuri otomatis memekik dan menutup matanya.
Dewa hanya terkekeh dalam hati, "Padahal dia sudah lihat semuanya." Dewa memungut pakaiannya yang berserakan dilantai dan membawa pakaiannya keluar.
Begitu Dewa sudah keluar dan menutup pintu kamarnya, Nuri menangis sesenggukan, dia menangisi dirinya yang merasa hina karna telah dengan gampangnya menyerahkan sesuatu yang seharusnya menjadi milik laki-laki yang kelak menjadi suaminya, Nuri melupakan fakta kalau Dewa juga adalah suaminya, bukankah laki-laki itu juga sangat berhak atas tubuhnya.
****
__ADS_1