SUAMIKU TERNYATA PRESDIR

SUAMIKU TERNYATA PRESDIR
MENJENGUK NURI


__ADS_3

"Lho, kenapa malah bengong adek, ayok dimakan."


"Hmmm." Nuri mulai menyendokkan nasi goreng ke mulutnya, dan matanya langsung melebar saat nasi goreng tersebut berpindah ke dalam mulutnya.


"Mmmm, enak banget sumpah, ini elo belinya dimana."


Dewa tersenyum mendengar pujian dari Nuri, "Itu kakak yang masak adek."


"Apa." tentu saja Nuri tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dewa barusan, "Yang benar saja, gak percaya gue."


Dewa menjawab dengan sabar, "Nasi goreng itu emang beneran kakak yang masak adek."


"Kok bisa enak gini sieh, apa rahasianya, lo kasih apa ke nasi gorengnya."


"Kakakkan masaknya pakai perasaan adek, makanya bisa enak."


"Dihhh apaan sieh lo." dengus Nuri.


Dewa terkekeh melihat wajah Nuri yang terlihat menahan kesal karna gombalannya.


****


"Asslamualaikum, spada." Imel berteriak didepan pintu.


"Assalamulaikum, Nuri, ini kami, kami mau jengukin elo." Juli sedikit berteriak, meskipun begitu belum ada tanda-tandanya ada yang akan membukakan mereka pintu.


"Beneran ini rumahnya gak sieh Jul."


"Iya, alamat yang dikasih ibu sieh emang beneran ini rumahnya Mel."


"Tapi kok gak ada yang bukain pintu ya, apa jangan-jangan gak ada orang lagi."


"Nurikan katanya lagi sakit, jadi gak mungkinlah bisa kemana-mana."


"Ya siapa tahu gitu dia kerumah sakit."


"Ekhemm." terdengar suara deheman dari belakang dan itu membuat kedua gadis itu menoleh ke arah sumber suara.


"Juli dan Imelkan." imbuh Dewa mengenali sahabat-sahabat istrinya.


"Iya."


"Kalian cari adek Nuri."


"Iya kak, kami mau menjenguknya, katanya dia lagi sakit."


Juli dan Imel sudah tahu kalau Nuri sudah menikah, karna saat mereka ke rumah Nuri, ibu Nurjanah memberitahu mereka akan hal tersebut dan juga memberikan alamat tempat tinggal Nuri dan Dewa.


"Kakak habis darimana."


"Niehhh." Dewa mengangkat tangannya yang membawa plastik berisi sayur mayur, "Habis belanja."


"Masyaallah, kak Dewa suami idaman banget." puji Juli.

__ADS_1


"Iya, gue jadi pengen deh Jul punya suami seperti kak Dewa."


"Husss, apaan sieh lo, lokan udah punya suami."


"Tapikan suami gue gak bisa masak."


"Suami lo gak bisa masak juga gak apa-apa kali Mel, dengan kekayaannya dia bisa nyewa koki profesional."


Dewa hanya mesem-mesem dipuji oleh kedua remaja itu.


"Ohh iya, ayok masuk, adek Nurinya ada dikamar tengah istirahat dia." ajak Dewa mengintrupsi perdebatan antara Imel dan Juli.


"Iya kak." jawab Imel dan Juli kompakan mengikuti Dewa untuk masuk ke rumah sederhana yang saat ini ditinggali oleh Dewa dan Imel.


"Maaf ya kalau rumah kami sederhana." ucap Dewa merendah.


"Santai saja kak, meskipun sederhana, tapi rumah kakak bersih dan nyaman, jadi bikin betah."


"Terimakasih atas pujiannya."


"Oh iya, kalian sebaiknya masuk saja ya ke kamar temui adek Nur." Dewa menunjuk salah satu pintu.


"Oh iya kak."


Sementara Imel dan Juli berjalan ke kamar yang ditunjuk oleh Dewa, sedangkan Dewa menuju dapur untuk meletakkan belanjaannya.


Imel membuka pintu kamar dengan pelan, disana, ditempat tidur sederhana dia menemukan Nuri tengah terbaring dengan mata terpejam.


"Dia lagi tidur Jul."


"Ayok kita masuk dan kita kerjain dia."


Mereka berdua masuk dengan langkah pelan dan berniat untuk mengganggu tidurnya Nuri.


Imel yang iseng duduk disamping kepala Nuri dan memencet hidung Nuri.


Nuri yang saat ini tengah berada dialam mimpi dipaksa untuk bangun karna dia kesulitan untuk bernafas, begitu matanya terbuka, Nuri bisa melihat kalau yang menyebabkannya kesulitan bernafas adalah Imel, Nuri langsung mengarahkan tangannya untuk memukul Imel.


"Hahaha." Imel dan Juli yang berhasil mengisengi Nuri tertawa puas saat melihat wajah bete sahabat mereka itu.


"Sialan, iseng banget sieh Mel." rutuk Nuri, dia bangun dan duduk.


"Sorry Nur." kekeh Imel.


Nuri hanya manyun, dia masih kesal dengan ulah Imel yang membangunkannya dengan cara paksa seperti tadi.


"Lo pada ngapain sieh kesini, ganggu gue saja tahu gak."


"Ngapain elo bilang, ya kita jengukin elolah Nurdin, gak bersykur banget sieh lo dijengukin." jawab Juli.


"Iya, katanya lo sakit, sakit apaan, lo kelihatan sehat wal'afiat begini, atau lo bohong ya, elo sebenarnya gak sakitkan, lo hanya ingin bolos saja pada mata kuliah pak Abidin."


"Ya gue benaran sakitlah dodol." Nuri menyingkap selimut yang menutupi kakinya, "Tuh lo lihat."

__ADS_1


"Ohh my god, kaki lo kenapa, kayak daging sapi mentah begitu." Imel bergidik ngeri saat melihat kaki Nuri yang berwarna kemerahan.


"Kaki gue semalam ketumpahan kuah panas dari mi instan."


"Duhh kasihan, makanya lain kali lo hati-hati donk." nasehat Juli.


"Itu kaki lo udah diobatinkan Nur."


"Hmm, tadi pagi udah gue oles pakai salep yang diberikan oleh dokter."


"Semoga lo cepat sembuh deh."


"Hmmm."


"Ehh, lo berduakan jengukin gue, mana buah tangannya." kata Nuri karna kedua sahabatnya itu terlihat tidak membawa apa-apa hanya membawa diri mereka sendiri.


"Tadinya kami bawain lo kue Nur, tapi saat kita ke rumah elo, tuh kue diembat sama babe, ya jadinya donk kami gak bawa apa-apa kemari."


Juli baru ingat sesuatu, "Ehh Nurdinnn, kenapa lo gak memberitahu kami kalau lo menikah dengan kak Dewa."


Nuri akan menjawab, tapi Imel lebih dulu nyerocos, "Iya, jahat banget sieh lo, nikah gak ngundang-ngundang, sahabat macam apa lo, setengah idup lo selalu ngelak kalau kak Dewa itu bukan pacar lo, eh tahunya elo malah nikah sama dia."


"Terus lo pas nikah apa namanya." Nuri mengembalikan kata-kata Imel, "Lokan juga nikah diam-diam gak ngundang-ngundang."


"Hehe." Imel cengengesan, "Itukan gue nikahnya mendadak Nur, gak direncanain." Imel membela diri.


"Gue juga gitu, gue dipaksa nikah sama warga kampung karna difikirnya gue dan Dewa berbuat yang iya iya hanya karna Dewa berada dikamar gue saat dia ngenbantuin saat gue kpeleset."


"Jadi, lo digrebek gitu berduaan dikamar."


"Hmm, ya begitulah, tapi kami gak berbuat yang aneh-aneh seperti yang difikirkan oleh orang-orang kampung, Dewa hanya bantuin gue mijitin kaki gue yang terkilir."


"Dihhh, memalukan lo ya Nur, nikah karna digrebek warga."


Nuri memukul lengan Imel gemas, "Tapi gue gak ngelakuin apa-apa sama Dewa, jangan ngatain gue seolah-olah gue wanita gak benar deh."


"Iya iya sorry."


"Terus lo gimana sekarang sama kak Dewa."


"Ya gak gimana-gimana sieh, hanya status doank sebagai suami istri, tapi gue gak cinta sama dia."


"Ini beneran lo gak cinta sama kak Dewa."


"Beneranlah, diakan bukan tipe gue."


"Masak sieh lo gak cinta sama kak Dewa, kak Dewa itu sudah orangnya tampan, baik, ramah, pinter masak lagi, benar-benar suami able banget tahu gak, benar gak Jul."


"Iya, menurut gue, lo beruntung lo Mel dapetin kak Dewa."


"Ini lo pada ngomong apaan sieh, kalau segitu ngebetnya lo sama dia, ambil deh, gue ikhlas."


"Dihh songong lo ya, masak suami sendiri dikasih cuma-cuma, coba saja kalau gue gak cinta mati sama suami gue, udah gue embatlah suami lo itu."

__ADS_1


"Dasar saraf lo Mel."


****


__ADS_2