SUAMIKU TERNYATA PRESDIR

SUAMIKU TERNYATA PRESDIR
TEMAN BARU


__ADS_3

"Wa, aku boleh minta tolong gak." tanya Angel begitu mereka menyelsaikan makan mereka.


"Apa."


"Kamu maukan nganterin aku ke mall."


"Nganterin kamu ke mall." ulang Dewa heran, "Kamu mau shoping Ngel, bukannya ini masih jam kantor."


"Hehhe, iya sieh." Angel nyengir, "Begitulah keuntungan menjadi seorang anak boss Wa, dapat toleransi waktu."


Dewa hanya menggeleng mendengar kata-kata Angel, Angel memang tidak cocok bekerja, gadis itu sejak kecil sudah terbiasa hidup mewah dan enak, apapun yang dia inginkan sudah pasti didapatkan, karna anak tunggal, Angel benar-benar dimanjakan oleh kedua orang tuanya, dia bekerja saat ini hanya sekedar formalitas saja supaya dia tidak kelihatan nganggur.


"Tadi aku sudah ngechat papa untuk minta izin, dan papa ngizinin."


"Enak ya jadi anak boss."


"Ya begitulah."


"Kamu mau shoping Ngel, shopingnya gak bisa setelah pulang kantor."


"Gak, siapa bilang aku ke mall untuk belanja, aku ingin bertemu dengan sahabat-sahabatku, sudah lama kami tidak pernah bertemu, istilahnya kami mau temu kangen gitu, dan kalau ada barang bagus dan klik dihatinya ya, kami akan belanja sieh sedikit."


"Dasar cewek, memang kalau pergi ke mall tidak afdol kalau gak belanja."


Angel nyengir menanggapi ledekan Dewa.


"Jadi, kamu mau nganterin akukan Wa." Angel memang tidak membawa mobil, dia diantar oleh sopir saat ke kantor, dan saat menemui Dewa untuk makan siang dia naik taksi.


"Baiklah, aku akan mengantarkan kamu.Ngel."


"Terimakasih Wa, kamu memang sahabat sejatiku."


*****


Dengan diantar oleh Hugo yang merupakan sopir pribadi Qianu suami Imel, Imel, Juli dan Nuri diturunkan didepan mall yang terdapat dipusat kota.


"Nona, nona mau dijemput jam berapa." tanya Hugo.


"Nanti saya telpon ya Hugo."


"Baik nona."


"Oh ya Hugo."


Hugo yang tadi akan menstater mobil menghentikan aktifitasnya.


"Tolong sampaikan sama kak Qianu ya kalau istrinya yang cantik dan imut ini sangat mencintai dan menyayanginya, love love deh buat kak Qianu."


"Hoekk." Juli langsung membuat gerakan orang muntah mendengar kata-kata sahabatnya itu, "Jijik deh gue."


"Hoekk." Nuri ikut-ikutan, "Benar-benar lebay lo."


"Dihh, kenapa lo ikut-ikutan sih Nurdin, lo sama sik Cahyo inikan sama-sama lebay bin alay."


"Guekan gak separah Imel kali panjulll."


"Ishh." desis Imel, "Syrik aja lo berdua."


"Sampaiin ya Hugo agar suamiku semangat bekerjanya."


"Pasti nona." jawab Hugo sebelum menjakankan mobilnya.


Dari jarak beberapa meter dari tempat mereka berdiri, Juli tidak sengaja mengarahkan pandangannya pada mobil yang baru berhenti, gak ada yang menarik seih dari mobil tersebut, tapi Juli masih menatap tuh mobil dan tidak mengalihkan perhatiannya dari mobil yang baru berhenti itu sampai seorang wanita cantik terlihat keluar dari sana, disusul dengan jendela mobil yang terbuka, yang membuat Juli bisa melihat dengan jelas siapa yang duduk dikursi pengemudi yang membuat mata Juli melebar.


"Ehh, bukannya itu kak Dewa ya" batinnya antara percaya atau tidak.


Juli bisa melihat laki-laki itu tengah tersenyum dan melambai pada gadis yang baru turun tersebut.


"Ehh Nur, itu kak Dewa bukan." jari telunjuk Juli terarah pada laki-laki itu.


Nuri menoleh ke arah yang ditunjuk oleh sahabatnya dan melihat laki-laki yang dimaksud oleh Juli, Imel juga ikutan menoleh dan membenarkan apa yang dikatakan oleh Juli.


"Benar Nur, itukan kak Dewa suami elo."


Nuri diam tidak menanggapi, dia bisa melihat kalau laki-laki yang mirip dengan suaminya itu melambai ke arah wanita cantik yang diantarnya sebelum tuh mobil benar-benar pergi.


"Itu beneran kak Dewakan Nur." Juli meminta konfirmasi.


"Siapa gadis cantik yang bersamanya itu, apa itu selingkuhannya."


"Jangan suudzon lo Mel, siapa tahu itu saudaranya kak Dewa." Juli mencoba berbaik sangka, "Kak Dewa punya saudara perempuankan Nur."


Setelah sejak tadi hanya terdiam, Nuri akhirnya buka suara, "Yang jelas itu bukan kak Dewa." tandas Nuri.


"Jelas-jelas itu kak Dewa."


"Bukan, suami gue adalah pria sederhana yang penghasilannya pas-pasan, bukannya laki-laki berjas dan mengendarai mobil." Nuri menandaskan praduga sahabat-sahabatnya.


"Tapi laki-laki tadi benar-benar sangat mirip banget lho Nur dengan kak Dewa."


"Iya mungkin saja hanya sekedar mirip doank, dimuka bumi inikan kita mirip dengan beberapa orang, yang jelas laki-laki yang tadi bukan kak Dewa."


"Ahh benar juga sieh."

__ADS_1


"Lebih baik kita masuk gieh sekarang daripada membahas hal yang gak penting kayak gini." Imel melingkarkan tangannya merangkul kedua sahabatnya dari kedua sisi dan membawa mereka masuk kedalam mall.


***


Ketiga gadis itu membeli beberapa make up, aksesoris, intinya untuk saat ini mereka membeli benda-benda yang bisa dijangkau oleh kantong mahasiswa seperti mereka, sempat mampir sieh ditoko tas, tapi mereka hanya sekedar lihat-lihat saja karna kondisi kantong mereka tidak memungkinkan untuk membeli, Imel mampu sieh membeli, tapi saat ini dia tengah tidak berminat untuk membeli tas, dan tadinya juga mereka berniat untuk nonton, tapi berhubung tidak ada film yang bagus menurut mereka, jadinya mereka membatalkan niat tersebut, dan kini mereka tengah duduk mengeliling meja disebuah restoran cepat saji, keliling mall selam dua jam lebih tentu saja membuat perut mereka kelaparan dan kaki pegal-pegal.


"Gue mau ke toilet dulu." Nuri berdiri dan berjalan menuju toilet.


Imel dan Juli hanya mengangguk melepas kepergian Nuri.


Saat membuka pintu toilet, dia melihat seorang wanita cantik yang tengah menelpon, wanita yang tidak lain adalah Angel itu langsung menoleh saat mendengar pintu terbuka, wanita anggun itu tersenyum tipis saat matanya bertemu dengan mata Nuri.


Tidak kenal memang, namun karna wanita itu tersenyum ramah kepadanya otomatis Nuri juga balas tersenyum.


"Ehh, bukannya dia gadis yang tadi antarkan oleh laki-laki yang mirip dengan kak Dewa itu ya, mungkin mereka pacaran kali ya." batin Nuri sebelum memasuki bilik toilet.


Dari dalam bilik toilet, Nuri bisa mendengar suara wanita tadi tengah bicara ditelpon.


"Apa kamu sudah sampai kantor Wa."


"......"


"Aku, belum, aku masih dimall nieh."


"......."


"Hahaha, ya maklumlah Wa, namanya juga cewek, kalau udah ngumpul-ngumpul apalagi setelah dua tahun tidak pernah bertemu itu sampai dua puluh empat jam tidak akan cukup untuk menceritakan apa yang telah kami alami."


"......"


"Iya iya, bentar lagi aku pulang kok."


"......."


"Naik taksi atau gak nanti diantar oleh Andra."


"....."


"Sahabat aku waktu SMA dulu."


"....."


"Iya iya, kamu gak perlu khawatir Wa, aku bisa menjamin Andra adalah laki-laki yang baik, super baik malah."


"......"


"Iya udah ya Wa, bye."


Nuri bisa mendengar gadis itu mengakhiri panggilannya.


Karna ingin mencuci tangannya, Nuri berjalan mendekati wastafel, Angel reflek menoleh saat Nuri berdiri disampingnya, Nuri juga melakukan hal yang sama, dan kembali Angel tersenyum kepada Nuri, yang dibalas dengan senyum tipis oleh Nuri.


"Busettt, sudah cantik, ramah banget lagi nieh cewek, senyumin gue mulu deh sejak pertama kali bertemu." Nuri membatin.


Angel memperhatikan penampilannya sesaat, dan setelah merasa semuanya sempurna, Angel bergegas keluar dari toilet, begitu juga dengan Nuri, namun saat dia akan berbalik, dia menemukan lipstik dimeja kramik tersebut.


"Ini pasti punya cewek yang tadi." ujarnya sembari meraih benda tersebut, Nuri berniat mengembalikannya kepada pemiliknya, oleh karna itu Nuri berlari supaya wanita yang tadi bersamanya itu bisa dia kejar.


Nuri menoleh ke kiri dan kanan, disana, di arah barat dia melihat punggung wanita itu semakin menjauh, Nuri menggerakkan kakinya untuk mengejar.


"Mbakk, tunggu mbak."


"Mbakkk, tungggu."


Mbak adalah panggilan umum, Angel tahu, mungkin bukan dirinya yang dipanggil, tapi meskipun begitu, Angel berbalik juga saat mendengar suara panggilan tersebut, dia bisa melihat gadis yang tadi toilet tengah melambai ke arahnya.


"Apa gadis itu memanggilku." Angel tidak jadi melanjutkan langkah kakinya dan menunggu gadis itu menghampirinya.


Nafas Nuri kembang kempis, dia berusaha mengontrol nafasnya yang panjang pendek sembari memegang perutnya, dia kelelahan berlari mengejar Angel.


"Mmm, ada apa ya." Angel bertanya.


"Ini." Nuri memperlihatkan lipstik yang ada ditangannya kepada Angel, "Aku hanya mau mengembalikan ini sama mbak."


Terharu juga sieh Angel melihat apa yang dilakukan oleh gadis kecil ini, rela mengejarnya hanya untuk mengembalikan lipstiknya, Angel yakin kalau gadis ini adalah gadis yang baik, pemikiran itu membuat Angel ingin menjadikan gadis yang baru dikenalnya sebagai teman.


Angel mengambil lipstiknya dari tangan Nuri, "Terimakasih ya dek."


Nuri mengangguk, "Sama-sama kak."


"Oh ya, perkenalkan, aku Angel." Angel memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangannya.


"Ohh, Angel toh namanya, namanya sesuai dengan wajahnya, benar-benar Angel deh." Nuri memuji dalam hati.


"Aku Nuri mbak." Nuri membalas uluran tangan gadis yang dia ketahui namanya adalah Angel.


"Senang berkenalan denganmu Nuri."


"Aku juga mbak."


"Ohh ya, boleh gak mbak meminta nomermu, tidak apa-apakan kalau mbak ingin berteman dengan kamu Nuri." Angel menyampaikan niat yang terbersit dihatinya.


"Ehh, kok gadis secantik mbak Angel mau ya berteman denganku." heran Nuri.

__ADS_1


"Ohh tentu saja boleh mbak." Nuri menyebut sederet angka yang dicatat oleh Angel diponselnya dan begitu juga sebaliknya.


"Nahh, Nuri, bolehkan kalau mbak menghubungi kamu kapan-kapan."


"Tentu saja boleh mbak."


"Baiklah kalau begitu Nuri, mbak pergi dulu, mbak sudah ditunggu oleh teman-temannya mbak."


"Baik mbak."


Kedua wanita itu saling melambaikan tangan satu sama lain sebelum berpisah.


"Benar-benar gadis kecil yang baik, orang tuanya pasti mendidik anaknya dengan baik." Angel.


"Benar-benar wanita yang sempurna." batin Nuri.


*****


Nuri menolak saat Imel berniat mengantarkannya pulang ke rumah karna Dewa sudah berjanji untuk menjemputnya, tadi saat Nuri menelpon, Dewa bilang dia tengah dalam perjalanan untuk menjemputnyanya.


Setelah 15 menit menunggu, Dewa menghentikan motornya didekat Nuri, Nuri tersenyum begitu melihat suaminya, hatinya selalu saja berbunga-bunga saat melihat Dewa, meskipun yang Nuri ketahui kalau suaminya hanya sebagai buruh serabutan dengan penghasilan kecil, tapi Nuri tidak peduli akan hal itu, yang penting suaminya bertanggung jawab dan hasil kerjanya halal dan yang paling penting adalah selalu memperlakukannya dengan baik dan lembut.


"Maaf ya adek kakak lama."


"Gak apa-apa kok kak." setelah memasang helm dikepalanya, Nuri duduk diboncengan motor suaminya, kalau dulu dia selalu ogah-ogahan saat diantar oleh Dewa, sekarang malah dia ingin Dewa mengantar jemputnya kuliah setiap hari.


"Sudah adek."


"Iya kak." jawab Nuri sembari melingkarkan tangannya diperut suaminya, hal itu selalu membuatnya merasa aman.


Sepanjang dalam perjalanan menuju rumah mereka, Nuri bercerita banyak hal tentang kesehariannya selama dikampus kepada Dewa, Dewa dengan sabar mendengarkan dan kadang menimpali, Nuri juga bercerita tentang Angel, tadinya Dewa berfikir kalau Angel yang dimaksud oleh istrinya itu adalah Angel sahabatnya apalagi dia juga sempat mengantarkan Angel ke mall yang sama dengan Nuri.


"Apa Angel yang dimaksud oleh Nuri adalah Angel sahabatku ya, ahh tapi gak mungkin, yang namanya Angelkan banyak dikota ini." batinnya.


"Dekk."


"Hmm."


"Ibu tadi nelpon kakak, katanya kita disuruh ke rumah, kita tidak pernah ke rumah ibu dan babe lho dek jengukin mereka."


"Nuri juga ingin sieh kak ke rumahnya ibu, tapi besok-besok saja ya kalau Nuri libur kuliah, sekarangkan aku lagi banyak tugas."


"Terserah adek sajalah."


"Kak Dewa."


"Kenapa adek."


"Kak Dewa tahu gak, tadi itukan ya, aku melihat laki-laki yang mirip banget dengan kakak, sama kayak waktu itu, mirip banget tahu gak, bahkan Juli dan Imel itu nyangka tuh cowok adalah kakak, tapi aku bilang saja itu bukan kakak, kakakkan gak mungkin pakai jas dan mengendarai mobil."


"Apa Nuri lihat aku kali ya saat nganterin Angel."


Dewa berusaha untuk ngeles, "Yang pasti itu bukan kakaklah dek, adek tahukan pekerjaan kakak apa."


"Iya kak, aku juga bilang sama Imel dan Juli kalau laki-laki itu bukan kakak, itu hanya sekedar mirip saja sama kakak."


"Syukurlah kalau Nuri tidak curiga itu adalah aku." batin Dewa lega, "Kakak pasti akan memberitahukan identitas kakak dek, hanya saja ini belum saatnya, maafkan kakak ya dek karna selama ini telah membohongi adek, semoga saja adek tidak marah nantinya kalau tahu tentang kebenarannya."


*****


Selama beberapa hari ini, Nuri dan Angel rutin saling bertukar pesan satu sama lain, seperti yang ditawarkan oleh Angel yang meminta mereka untuk berteman, mereka kini benar-benar berteman, menurut Nuri, Angel adalah wanita yang baik dan dewasa, sehingga Nuri sudah menganggap Angel sebagai kakak perempuan yang tidak pernah dimiliki, Angel juga begitu, Angel yang terlahir sebagai anak tunggal sangat senang berbagi cerita dengan Nuri tentang banyak hal, dia seperti memiliki saudara perempuan yang tidak pernah dia miliki, padahal mereka baru sekali bertemu, tapi mereka sudah seperti kenal bertahun-tahun lamanya.


Angel : Kapan-kapan kita ketemu ya dek


Nuri : Iya mbak


Nuri mengakhiri chatnya dengan Angel setelah janji untuk bertemu.


"Lo rajin amet deh chatan sama kakak baru lho itu." komen Juli saat Nuri meletakkan ponselnya dan mulai menikmati makanannya.


Nuri bercerita kepada kedua sahabatnya kalau dia saat ini punya teman baru bernama Angel.


Nuri menelan makanan yang dikunyahnya sebelum menjawab, "Habisnya orangnya asyik seih, betah gue chat lama-lama sama dia."


"Emang apa aja yang lo omongin sama sik itu...siapa namanya Nur." Imel lupa.


"Mbak Angel."


"Ya sik Angel itu."


"Ya banyaklah, intinya kak Angel itu asyik deh."


"Asyikan mana daripada kita."


"Yang jelas kalian itu berbedalah, lo berdua dan juga Gebi udah gue anggap seperti saudara sendiri, sedangkan kak Angel ya teman doank."


"Duhh manisnya, ingin nangis gue."


"Dihh lebay lo Mel."


Nuri kembali mendengar suara notifikasi pesan masuk diponselnya yang membuatnya menghentikan aktifitas makannya untuk melihat siapa gerangan yang mengechatnya.


"Ahh suami gue." ujarnya kegirangan saat melihat nama Dewa.

__ADS_1


****


__ADS_2