
Dewa dibuat kesal oleh tingkah sang istri, dia yang setengah mati khawatir karna takut terjadi apa-apa dengan Nuri, ehh begitu sampai dirumah malah sambutannya kayak gini.
Dan tanpa menjelaskan apa-apa, gadis itu malah main masuk saja lagi.
Dewa mengekor dibelakang, masih bertanya apa kesalahannya, "Dekk, apa sieh salah kakak."
Nuri masih tetap bungkam dan tidak menjawab pertanyaan Dewa.
Nuri masuk ke kamar mereka, Dewa dengan sabar mengikuti istrinya itu, Nuri membanting tubuhnya ditempat tidur dan tanpa peringatan menangis dengan suara keras.
"Huaaaaa huaaa."
Dewa tentu panik donk, dengan langkah lebar dia mendekati istrinya yang tengah menangis histeris, Dewa tidak mengerti kenapa Nuri tiba-tiba menangis.
Dewa mengambil tempat duduk disamping kepala istrinya dan berusaha untuk menenangkannya, "Adekk, katakan sama kakak adek itu kenapa hem." tanya Dewa sabar sambil mengelus rambut Nuri, "Apa adek sakit, mana yang sakit adek, kita kerumah sakit ya."
Nuri menepis tangan Dewa dengan kasar, "Jangan sentuh aku, dasar kamu laki-laki buaya." ketus Nuri.
Dewa makin bingung dengan sikap istrinya tersebut, Dewa mencoba mengingat-ingat kesalahan apa yang dia perbuat, tapi seingatnya tidak ada, padahal kemarin mereka masih baik-baik saja dan berkomunikasi dengan mesra lewat telpon.
"Apa sieh sebenarnya kesalahan kakak dek, adek ngomong yang jelas agar kakak bisa memperbaikinya."
"Jangan pura-pura bodoh sialan." jawab Nuri kasar.
"Kakak benar-benar tidak tahu kesalahan kakak apa."
Nuri mengangkat tubuhnya dan duduk, Nuri menghapus air matanya dengan kasar dan menatap Dewa, "Kakak bilang kakak itu setia, tapi buktinya apa, kakak malah selingkuh kan."
"Selingkuh apaan adek." Dewa makin dibuat bingung deh oleh Nuri, apalagi dia merasa memang tidak pernah selingkuh sama sekali, "Kakak itu gak pernah selingkuh."
"Bohong." Nuri berteriak, Nuri memang benar-benar gadis labil yang mengambil kesimpulan sendiri dan tidak bisa menyelsaikan masalah dengan kepala dingin, tapi untungnya dia punya suami yang super sabar seperti Dewa.
"Kakak gak bohong adek, sumpah."
"Udah bohong, pakai sumpah segala lagi, dasar laki-laki brengsek, aku benci sama kakak, semoga kakak kemakan sumpah kakak sendiri." Nuri sekarang menjerit histeris, tapi untung Sadewa Argantara punya kesabaran seluas samudra, kalau saja kesabarannya setipis tisu, bisa dipastikan dia akan meninggalkan Nuri begitu saja karna sikap Nuri benar-benar sangat menyebalkan.
"Oke adek, adek tenangkan diri adek dulu oke, jangan berteriak-teriak begitu, tidak enak didengar oleh tetangga, kita bisa menyelsaikan semuanya dengan bicara baik-baik oke." Dewa berusaha membujuk Nuri agar dia tahu duduk perkaranya kenapa bisa Nuri menganggapnya selingkuh, jujur sebenarnya Dewa tersinggung juga sieh dituduh selingkuh oleh istrinya sendiri, Dewa heran, dari mana istrinya itu mendapatkan kabar kalau dia selingkuh.
"Selsaikan baik-baik bagaimana, aku tidak mau memaafkan laki-laki tukang selingkuh seperti kakak, ceraikan saja aku agar kakak bisa senang-senang bersama dengan selingkuhan kakak itu." lha, ini makin nyolot dia.
"Astgafirullahh adekk, istigfar adek, jangan bilang cerai sembarangan, tidak boleh itu."
Nuri semakin deras mengeluarkan air matanya.
"Adek menuduh kakak selingkuh, padahal kakak sama sekali tidak pernah selingkuh, adek tahu darimana kalau kakak selingkuh."
"Semalam kakak janji mau nelpon aku, aku nungguin kakak untuk nelpon selama berjam-jam, karna kakak tidak kunjung menghubungiku juga, aku kemudian menghubungi kakak duluan, dan ternyata, kakak tidak menelponku karna kakak lagi nelpon dengan selingkuhan kakak." jelas Nuri berapi-api.
Dewa menggeleng tidak habis fikir dengan Nuri, bisa-bisanya Nuri berfikiran kalau dia selingkuh hanya gara-gara semalam dia menelpon dengan Angel yang merupakan sahabatnya sendiri, "Adek itu salah paham." Dewa berusaha menjelaskan.
"Salah paham bagaimana."
"Semalam itu kakak ditelpon oleh sahabat kakak, dia cuma mau nanyain kabar kakak, selain itu juga, mama dan papanya nanyain kakak terus, makanya sahabat kakak itu menelpon, jadi adek, kakak menelpon semalam dengan sahabat kakak, bukan selingkuhan kakak." jelas Dewa gemas, bisa-bisanya dia dibilang selingkuh hanya gara-gara panggilan Nuri yang menunggu.
"Kakak pasti bohongkan." Nuri tidak percaya.
"Kakak tidak bohong adek, kalau adek tidak percaya, kakak akan menelpon sahabat kakak itu, biar adek bicara sama dia saja." Dewa mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Angel supaya Nuri percaya padanya.
Dari penjelasan Dewa yang terlihat meyakinkan, Nuri sebenarnya percaya kalau suaminya itu tidak berbohong, sehingga saat Dewa akan menghubungi Angel, Nuri mencegahnya, "Kak Dewa tidak perlu menelpon sahabat kakak itu, aku..." Nuri menghentikan kata-katanya, dia sebenarnya merasa malu karna telah menuduh Dewa yang bukan-bukan, "Aku percaya kok sama kakak."
"Tetap saja aku mau menelpon sahabat aku itu, biar dia mengkonfirmasi semuanya agar kamu tidak salah paham lagi."
"Aku bilang gak usah, aku sudah percaya kok sama kakak."
Namun Dewa tidak memperdulikan ucapan Nuri, dia tetap berniat menelpon Angel, dan saat sambungan sudah dijawab, saat Dewa sudah membuka bibirnya untuk mengucapkan 'halo' suara Angel lebih dulu terdengar, "Halo Wa, aku buru-buru nieh, ada meting soalnya dikantor, nanti lagi ya nelponnya." suara itu terdengar terburu-buru.
"Mmm, baiklah, selamat meting kalau gitu."
__ADS_1
Setelah memutus sambungan tersebut, Dewa kembali memusatkan perhatiannya sama Nuri, "Sahabatku itu lagi terburu-buru mau meting, jadi dia tidak bisa menjelaskan tentang hubungan kami kepada adek." ungkap Dewa dengan menyesal, Dewa tidak harus memberitahu Nuri, toh gadis itu sudah mendengar sendirikan karna tadi Dewa mengaktifkan pembesar suara.
"Kan aku sudah bilang, tanpa kakak telpon aku sudah percaya."
"Supaya lebih memastikan saja, supaya tidak ada kesalahpahaman lainnya nanti."
Mereka berdua kemudian terdiam yang membuat suasana dikamar itu hening, Nuri sumpah merasa bersalah banget, dia main ngamuk aja tanpa mau mendengarkan penjelasan Dewa terlebih dahulu, dia merasa menjadi wanita yang jahat karna menuduh suaminya seenak jidatnya.
Setelah beberapa saat dalam keheningan, Nuri terlebih dahulu buka suara, "Maafkan aku kak Dewa."
Dewa terdiam tidak merespon permintaan maaf dari istrinya itu.
Nuri menunduk, dia sedih karna berfikir kalau Dewa tidak mau memaafkannya, gadis itu kembali menitikkan air matanya, "Kalau kak Dewa tidak mau memaafkanku juga tidak apa-apa, aku ngerti kok, kak Dewa pasti kesal sama aku, kak Dewa pasti nyesal punya istri labil kayak aku, hiks hiks."
Dewa begitu sangat mencintai Nuri, meskipun gadis ini menuduhnya selingkuh, tapi dia tidak bisa marah sama istri kecilnya itu, saat melihat istrinya itu kembali menangis, dia meraih tubuh Nuri dan memeluk gadisnya itu, "Sssttt." Dewa mengelus rambut halus Nuri, "Jangan menangis adek, kakak paling tidak bisa melihat adek menangis."
"Habisnya kakak tidak mau memaafkan aku."
"Siapa bilang."
"Itu tadi buktinya kakak diam."
"Diam bukan berarti tidak memaafkan adek."
"Jadi..."
"Iya, kakak tentu saja memaafkan adek, mana bisa kakak marah sama adek."
"Beneran."
"Hmmm."
"Kok hmm doank sieh."
"Iya adekku tersayang, adekku tercinta, kakak memaafkan adek."
Dewa mengurai pelukannya dan menangkup wajah Nuri, dengan jempol tangannya Dewa menghapus sisa air mata Nuri, "Jangan menangis lagi adek." Dewa kemudian mencium kening Nuri, Nuri memejamkan matanya saat merasakan hangatnya bibir lembut suaminya menempel dikeningnya, ciuman itu turun ke kedua mata Nuri, kemudian hidung, kedua pipi Nuri bergantian, barulah yang terakhir bibir, hanya menempelkan saja, tidak lebih kok, Dewa takut kebablasan karna dia harus cepat kembali untuk menyelsaikan pekerjaannya yang dia tinggalkan.
Nuri membuka matanya saat tidak merasakan bibir suaminya lagi, begitu dia membuka mata, matanya langsung bersitatap dengan mata teduh milik suaminya, mata yang selalu memandangnya dengan pandangan penuh cinta dan kasih, bodohnya Nuri yang main tuduh saja hanya karna panggilannya menunggu semalam.
Dewa tersenyum, Nuri balas tersenyum, Nuri dan Dewa benar-benar saling mencintai satu sama lain, itu sangat jelas terlihat dari pancaran mata mereka masing-masing.
Dewa meraih tangan kanan Nuri dan menggenggamnya dengan lembut, "Jangan pernah meragukan cinta kakak sama adek, kakak tidak mungkin berpaling dari adek, karna adek telah mengambil hati ini sejak pertama kali kakak melihat adek." Dewa kemudian mengarahkan tangan Nuri menyentuh area dimana hatinya berada.
Duhh, hati wanita mana sieh yang tidak klepek-klepek saat mendengar kata-kata manis dari laki-laki yang kita cintai, begitu juga dengan Nuri, Nuri rasanya meleleh, tapi untungnya saat ini mereka tengah duduk.
"Jangan tinggalkan aku kak."
"Tidak akan."
"Janji."
"Kakak janji, biarpun bidadari dari kahyangan yang datang langsung menggoda kakak, kakak tidak akan mau sama mereka, karna kakak sudah cinta setengah idup sama adek."
Nuri tersenyum lebar mendengar ucapan Dewa, dia kemudian melemparkan tubuhnya memeluk Dewa, "Aku benar-benar mencintai kakak."
"Kakak lebih mencintai adek."
****
"Maafkan aku ya kak, gara-gara aku kakak harus kembali ke Jakarta dan meninggalkan pekerjaan kakak." Nuri memeluk Dewa dari belakang, Nuri merasa bersalah, karna gara-gara dia Dewa bela-belain pulang dari luar kota hanya untuk memastikan apakah dia baik-baik saja, dia merasa kalau dirinha kekanak-kanakan.
Dewa memutar tubuhnya menghadap ke arah istrinya itu, Dewa mengelus pipi Nuri, kulit hitam manis Nuri begitu lembut dikulit tangannya, "Jangan merasa bersalah adek, bagi kakak, adek yang terpenting, kakak akan melakukan apapun demi adek."
Meskipun Dewa mengatakan tidak apa-apa, tetap saja Nuri tidak bisa menghilangkan rasa bersalah yang dia rasakan.
"Kak Dewa, aku antar ya sampai bandara."
__ADS_1
"Gak perlu adek, adek mending dirumah saja oke."
Nuri mengangguk dengan tidak rela, sebenarnya dia berat melepas kepergian Dewa karna dia masih begitu kangen.
Melihat wajah sang istri yang murung, Dewa mencoba untuk menghiburnya, "Heii, jangan sedih gitu donk adek, senyum donk agar kakak tenang perginya."
Nuri mengusahakan untuk tersenyum, meskipun yang keluar adakah sebuah senyuman kaku, "Sabar ya adek, kakakkan perginya cuma tiga hari."
"Hmmm, baik-baik disana kak Dewa, aku akan senantiasa menunggu kedatangan kakak."
Dewa tersenyum, dia paling suka saat Nuri bersikap manja kayak gini, "Pasti adek."
"Kabarin ya kalau kakak sudah sampai."
"Tentu saja, itu adalah hal pertama yang akan kakak lakukan."
Nuri kemudian memeluk tubuh suaminya untuk terakhir kalinya sebelum laki-laki yang sangat dia cintai itu pergi kembali, tidak terasa, air matanya kembali luruh membasahi pipinya, entahlah, akhir-akhir ini, Nuri memang agak cengeng, dikit-dikit nangis, ya mungkin saja pengaruh cinta kali ya.
Karna akan berangkat, Dewa mengurai pelukannya dan melihat mata istrinya basah lagi, Dewa menghapus air mata tersebut, "Jangan nangis lagi donk adek, kakak jadi tidak tenang kalau gini ninggalin adek."
"Maafin aku kak, aku janji tidak akan nangis lagi." janjinya berusaha lebih keras menahan air matanya supaya tidak tumpah lagi.
"Jangan nangis ya adek, dua hari itu tidak lama lho."
Nuri mengangguk.
Dan sebelum pergi, Dewa memeluk istrinya dengan hangat, dan yang terakhir, Dewa mencium kening Nuri, "Baik-baik dirumah adek, kalau adek merasa kesepian, adek sebaiknya nginep dirumah ibu dan babe."
"Iya kak, kakak gak usah khawatirin aku."
Dewa mengangguk.
*****
"Dewaaa."
Dewa menoleh saat mendengar suara Angel memanggilnya, Dewa memang memberitahukan pada Angel kalau dia kembali ke Jakarta karna ada urusan mendesak yang harus dia kerjakan, dan setelah urusannya selesai, Dewa akan kembali untuk menyelsaikan pekerjaannya, dan ternyata urusan mendesak yang dimaksud adalah karna dia khawatir dengan Nuri, tapi tentu saja Dewa tidak memberitahukan akan hal itu kepada Angel.
Dewa bisa melihat kalau gadis itu berlari ke arahnya, Angel langsung menubrukkan tubuhnya saat sudah berada didekat laki-laki yang selama ini dia cintai.
"Wa, kangen." gumamnya yang bisa didengar dengan sangat jelas oleh Dewa.
"Astaga Angel, apa sieh yang kamu lakukan, malu tahu dilihat banyak orang." Dewa berusaha mendorong tubuh Angel, namun ternyata Angel memeluk Dewa dengan erat.
"Ngel, jangan kayak gink donk." Dewa masih berusaha membujuk Angel untuk melepaskan pelukannya.
"Sebentar saja Wa, aku benar-benar kangen sama kamu."
Dewa tidak berfikir macam-macam dengan tingkah Angel tersebut, fikirnya Dewa, sikap Angel yang seperti itu merupakan sikap karna Angel begitu menyayanginya sebagai seorang sahabat, Dewa sedikitpun tidak pernah berfikir kalau Angel mencintainya.
Padahal Angel menampakkan rasa sukanya dengan begitu terang dan jelas, memang dasar Dewanya saja yang tidak peka.
Dan pada akhirnya, Dewa membiarkan Angel memeluknya untuk sesaat, setelah merasa kangennya telah terobati, Angel kemudian mengurai pelukannya.
"Sekarang aku tenang untuk melepasmu Wa." ujarnya, "Kapan kamu akan balik lagi."
"Mungkin lusa."
"Kabarin aku kalau kamu sudah sampai ya Wa."
Dewa hanya mengangguk untuk menanggapi kata-kata Angel, dan sebelum benar-benar pergi, Dewa berkata, "Ngel, aku berangkat ya, sampaiin salam aku sama om dan tante."
"Iya, aku akan menyampaikan salammu sama mama dan papa."
Setelah itu Dewa langsung berbalik meninggalkan Angel, Dewa terus berjalan tanpa menoleh kebelakang, sedangkan Angel sangat berharap kalau Dewa menoleh hanya sekedar untuk melambaikan tangan, tapi Angel harus berusaha untuk menghibur dirinya saat Dewa tidak juga kunjung berbalik.
"Dewa lagi buru-buru Angel, jadinya dia tidak sempat berbalik dan melambaikan tangan kepadamu." ujarnya pada dirinya sendiri, meskipun begitu, Angel tetap melambaikan tangannya untuk melepas kepergian Dewa, "Selamat jalan Dewa, aku akan selalu menunggumu."
__ADS_1
*****