
Nuri membantu Dewa untuk berbaring ditempat tidur, saat memapah tuhuh Dewa, Nuri bisa merasakan panas tubuh Dewa dari kulit mereka yang bersentuhan.
"Terimakasih adek, dan maafkan kakak juga karna telah merepotkan adek." Dewa merasa benci saat dirinya tidak berdaya begini, tidak bisa ngapa-ngapain dan selalu dibantu.
"Tidak masalah, sekarang istirahatlah supaya kamu cepat sembuh." pesan Nuri yang membuat Dewa mengangguk.
Nuri kemudian menarik selimut untuk menyelimuti Dewa sampai sebatas dada, Dewa merasa terharu karna diperhatikan begini, meskipun istrinya itu setelah hilang ingatan selalu jutek dan bawaannya kesal melulu, tapi saat dia sakit begini ternyata Nuri sangat baik dan perhatian kepadanya, dan Dewa sangat bersyukur akan hal itu.
"Dek, apa adek hari ini tidak kuliah." Dewa bertanya, suaranyapun terdengar lemah.
Nuri tentu saja ada kuliah hari ini, tapi dia berniat bolos karna tidak tega meninggalkan Dewa sendirian saat dalam keadaan sakit begini, dan Nuri tahu kalau Dewa itu orangnya tidak enakkan, kalau dia bilang dia ada kuliah hari ini, sudah pasti Dewa akan memaksanya untuk kuliah, oleh karna itu Nuri berbohong.
"Memang ada, tapi dosennya menginformasikan kalau hari ini beliau tidak bisa masuk karna beliau lagi sakit."
"Ohh."
"Sudahlah gak usah banyak bicara lagi, kamu sebaiknya istirahat agar obatnya cepat bereaksi supaya panasnya juga turun."
Dewa mengangguk, Nuri sudah melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar, namun dia menghentikan langkahnya saat Dewa kembali memanggilnya.
"Adekk."
"Ada apa." Nuri kembali berbalik menghadap Dewa.
"Boleh kakak minta tolong ambilkan ponsel kakak, kakak mau menghubungi teman kakak untuk ngasih tahu kalau kakak hari ini tidak bisa masuk kerja."
"Baiklah, tunggu sebentar."
5 detik kemudian, Nuri kembali dengan membawa ponsel yang diminta oleh Dewa.
"Nieh ponselnya."
"Terimakasih sekali lagi adek." kayaknya sejak tadi Dewa terus mengucapkan terimakasih mulu deh, sampai bosan Nuri mendengarnya.
"Bisa tidak stop bilang makasih terus, aku bosan dengarnya."
"Iya adek, kakak minta maaf."
Untuk membiarkan Dewa supaya bisa istirahat dengan tenang, Nuri kembali keluar, sedangkan Dewa mengechat Denis untuk mengabarkan kepada asistennya itu bahwa dia tidak bisa masuk hari ini.
Dewa : Denis, kamu handle perusahaan untuk hari ini, saya sakit, jadi tidak bisa masuk
Bukannya mendapatkan balasan, namun Dewa malah mendapatkan panggilan dari Denis, malas sebenarnya Dewa untuk menjawab, tapi dia harus menjawab karna memang ada beberapa hal yang harus dia intruksikan kepada Denis, sehingga dia menggeser simbol telpon berwarna hijau yang ada dilayar.
"Halo boss." terdengar suara Denis dari seberang.
"Halo Denis."
"Denis, untuk hari ini tolong kamu handle perusahaan dulu, saya tidak bisa masuk karna saya lagi sakit."
"Boss Dewa sakit, kok bisa."
"Iya begitulah, namanya juga manusia biasakan."
"Boss, apa saya perlu membawa boss ke rumah sakit, parah gak boss sakitnya."
"Tidak perlu berlebihan begitu Denis, saya cuma sakit biasa, cuma panas doank, ini juga sudah minum obat, sebentar lagi juga bakalan sembuh kalau istirahat."
"Oh, saya fikir boss perlu ke rumah sakit begitu."
"Kamu urus perusahaan ya Denis selama saya tidak masuk."
"Baik boss, perintah akan saya laksanakan, dan semoga cepat sembuh boss."
"Terimakasih Denis, saya benar-benar mengandalkanmu."
"*Sip itu boss, boss lebih baik istirahat saja dan jangan memikirkan pekerjaan dulu."
"Baiklah*."
Setelah mengintruksikan ini itu kepada bawahannya itu, Dewa mematikan sambungan dan mulai memejamkan matanya, dia butuh istirahat supaya obat penurun panas yang tadi dia minum bereaksi.
****
Sementara itu Nuri juga tengah duduk disofa yang biasa suaminya tiduri, dia juga meminta kepada sahabatnya untuk nitip absen, oleh karna itu dia mengirim chat di wa group.
Nuri : Woee, gue nitip absen donk
Imel : Lo gak masuk Nur
Juli : Elo kenapa Nur, lo sakit ya
Nuri : Gue sieh sehat wal'afiat, tapi Dewa tuh yang sakit, gue harus nungguin diakan karna tidak mungkin untuk ninggalin dia sendrian dalam keadaan seperti ini, entar kalau dia butuh apa-apa gimana
Juli : Iya emang lo harus nemenin dia sieh sebagai istri yang sholehah
Nuri : Jangan lupa titip absen ya
Imel : Beres deh itu, seharian semuanya ke kita Nur
Nuri : Terimakasih
Setelah selesai berbalas pesan dengan sahabat-sahabatnya, Nuri membaringkan tubuhnya disofa dan memainkan ponselnya untuk bermain game karna untuk saat ini tidak ada yang bisa dia lakukan mengingat Dewa sedang tidur dikamarnya.
Setelah lelah bermain game, mata Nuri mulai redup sehingga lama-lama dia mulai terlelap dan gak lama kemudian, Nuri sudah benar-benar pergi menyambangi duni mimpi.
__ADS_1
Nuri terbangun saat hari sudah menjelang siang, dia ingat dia harus memasak dan Dewapun harus minum obat, oleh karna itu, Nuri mengangkat tubuhnya yang tengah terbaring dan terduduk untuk mengumpulkan nyawanya yang belum sepenuhnya terkumpul, Nuri meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karna berbaring disofa yang membuat tubuhnya menjadi tidak nyaman, dan sebelum benar-benar melakukan aktifitasnya, Nuri memeriksa ponselnya hanya untuk mengecek apakah ada yang mengechatnya, tapi ternyata tidak ada satupun chat yang mampir ponselnya sehingga dia kembali meletakkan ponselnya dimeja, sebelum melakukan aktifitasnya, terlebih dahulu dia mecepol rambutnya yang tergerai dan berjalan ke arah dapur dan mulai memasak untuk makan siang.
Setelah selesai beraktifitas didapur, Nuri berjalan ke kamar hanya untuk mengecek keadaan suaminya, saat dia mengintip dari pintu, dia bisa melihat kalau suaminya itu ternyata masih tertidur pulas.
"Dia masih tidur ternyata."
Nuri berjalan mendekat, dia ingin mengecek suhu tubuh Dewa, Nuri duduk disamping kepala Dewa dan mengarahkan telapak tangannya di kening Dewa, tidak sepanasa tadi pagi memang, tapi panasnya memang sudah agak menurun meskipun sedikit.
"Syukurlah panasnya sudah agak turun." leganya.
"Dewa nyenyak banget tidurnya, bangunin gak ya." Nuri terlihat bimbang, "Biarkan saja dulu deh dia tidur dulu, gak enak rasanya aku ngebangunin, takutnya nanti aku mengganggu tidurnya lagi." karna pemikirannya tersebut, Nuri tidak jadi membangunkan Dewa, Nuri berniat kembali ke dapur, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara deringan ponsel milik Dewa.
Karna takut suara itu mengganggu tidurnya Dewa sehingga Nuri berniat untuk menjawab panggilan tersebut hanya untuk memberitahukan pada sik penelpon kalau saat ini Dewa lagi tidur.
"Mbak Angell ternyata yang menelpon." gumamnya saat melihat nama yang tertera dilayar ponsel, kemarin-kemarin Nuri memang ngebet untuk membantu Angell kembali dengan Dewa, tapi kok sekarang perasaannya agak gimana gitu saat melihat nama Angell, ada sedikit rasa tidak suka saat melihat gadis itu menelpon suaminya.
"Apa yang terjadi denganku sieh, kenapa aku jadi tidak suka begini saat Angell menelpon Dewa." batinnya, "Akukan tidak suka sama Dewa, dan aku gak apa-apa kalau Angell bisa bersama dengan Dewa, tapi kok jadi kayak gini sieh sekarang, apa sieh yang sebenarnya terjadi denganku." Nuri jadi bingung sendiri dengan dirinya sendiri.
Sebelum menjawab panggilan tersebut, Nuri berjalan keluar supaya Dewa tidak terganggu dengan percakapannya dengan Angell, dan begitu berada diluar, Nuri menggeser telpon berwarna hijau untuk menjawab panggilan tersebut.
"Halo Wa, kamu..."
"Ini Nuri mbak."
Saat mendengar suara Nuri yang menjawab, Angell langsung menghentikan ucapannya, mungkin ada rasa kesal saat mengetahui kalau yang menjawab adalah Nuri.
Karna tidak ada respon dari Angell, Nuri kemudian memanggil Angell.
"Mbak Angell, mbak masih ada disanakan."
"Hmm, iya adek, ini mbak disini kok."
"Dewanya lagi tidur, makanya aku yang menjawab telponnya." Nuri memberitahu.
"Emangnya Dewanya tidak kerja dek."
"Dewanya lagi sakit, makanya dia tidak kerja."
"Apa, Dewa sakit."
Nuri bisa mendengar kalau Angell cemas mendengar akan hal tersebut.
"Iya, sejak tadi pagi, badannya panas."
"Kenapa gak dibawa ke dokter dek."
"Ehh, aku sudah kasih Dewa minum obat penurun panas kok mbak."
"Meskipun begitu adek, bawa Dewa ke rumah sakit donk, kalau cuma obat doank mana mempan, apalagi cuma obat yang dibeli diwarung."
Agak kesal juga sieh Nuri mendengar kata-kata Angell barusan, "Iya, nanti aku ajakin dia pergi ke dokter."
"Mbak Angell mau kemari."
"Iya."
"Ohh, baiklah." seharusnya Nuri senang donk Angell datang kerumah mereka dan membawa Dewa ke rumah sakit, diakan gak perlu repot-repot lagi, tapi kok dia rasanya gak rela gitu ya, lagi-lagi perasaannya yang seperti ini membuatnya jadi kesal dengan dirinya sendiri.
"Aku akan datang sekarang." putus Angell.
"Baik." hanya itu yang diucapkan oleh Nuri sebelum mereka mengakhiri panggilannya.
****
Nuri akan membawakan makan siang untuk Dewa saat dia mendengar suara mobil yang berhenti didepan rumahnya, Nuri yakin kalau itu adalah suara mobil Angell.
Nuri yang akan pergi kekamar mengurungkan niatnya dan meletakkan nampan yang ada ditangannya diatas meja sebelum dia keluar untuk menyambut kedatangan Angell.
Saat membuka pintu, Nuri bisa melihat Angell berjalan ke arahnya, dan seperti biasa, Angell selalu terlihat cantik disetiap kesempatan, termasuk juga siang ini, ini untuk pertamakalinya Nuri kesal dengan kecantikan sempurna yang dimiliki oleh Angell.
"Sebel deh, kok ada sieh wanita secantik itu." dan lagi-lagi Nuri kesal sendiri dengan dirinya yang seperti ini, padahalkan kemarin-kemarin dia suka dengan Angell, dia suka karna Angell tidak hanya cantik, tapi juga ramah, tapi sekarang, mendadak rasa tidak suka itu muncul dibenaknya tanpa bisa dia cegah.
Meskipun hatinya kesal, tapi wajahnya harus menampakkan hal yang sebaliknya, dia berusaha untuk mengulas senyum dibibirnya untuk menyambut kedatangan Angell.
"Halo mbak." sapanya saat Angell sudah berada didekatnya.
"Halo adekk."
Dua wanita tersebut saling berpelukan satu sama lain dan cupika-cupiki.
"Dewa dimana." Angell bertanya.
"Ada didalam mbak, ayok masuk." Nuri mengajak Angell untuk masuk dan membawanya ke kamar dimana saat ini Dewa tengah terbaring, namun saat ini Dewa sudah membuka matanya, dan agak terkejut juga sieh dia saat melihat sahabatnya tiba-tiba masuk ke kamarnya.
"Lho Angell." herannya saat melihat Angell berjalan ke arahnya.
"Hai Wa, katanya kamu sakit, makanya aku datang untuk melihat keadaan kamu." beritahu Angell dan duduk dipinggir tempat tidur.
"Cuma panas doank kok Ngell, bukan sesuatu yang patut dikhawatirkan."
"Ini pasti karna kamu hujan-hujanan semalam ya setelah mengantarkan aku dan Diana ke apartmen."
"Iya."
Nuri yang saat ini juga berniat masuk ke kamar untuk membawakan Dewa makan siang berhenti sejenak didepan pintu, tiba-tiba perasaannya agak tidak rela melihat Dewa dan Angell yang terlihat akrab begitu.
__ADS_1
"Ini sebenarnya apa sieh yang terjadi, kok jadi begini sieh, aku seharusnya tidak apa-apa melihat mereka mengobrol begitu, toh aku juga berniat bercerai dengan Dewakan, dan akupun dengan senang hati untuk membantu mbak Angell dan Dewa bersatu." Angel jadi kesal sama perasaannya.
Dan setelah beberapa saat berdiri hanya untuk menghilangkan rasa tidak suka yang tiba-tiba muncul, Nuri kemudian berjalan masuk dan berusaha untuk tersenyum.
"Sudah waktunya makan siang dan minum obat." serunya ceria berjalan mendekati kedua orang itu.
"Sini dek, biar aku yang nyuapin Dewa." kata Angell saat melihat Nuri membawa makan siang untuk Dewa.
"Ahh iya." Nuri dengan berat hati menyerahkan nampan tersebut pada Angell.
"Ini mbak."
"Wa, aku suapin ya."
"Gak usah Angell, aku makan sendiri saja, aku masih kuat kok." tolak Dewa.
Dan saat mendengar penolakan dari Dewa itu membuat Nuri merasa senang, dia cuma berharap Angell tahu diri saat ditolak begitu, sayangnya harapan Nuri tidak terkabul karna Angell tetap kukuh ingin menyuapi Dewa.
"Bisa gimana sieh Wa, orang kamu lemah begitu, sudahlah kamu tidak usah banyak protes begitu, biar aku yang nyuapin kamu Wa."
"Ihh, maksa banget seih mbak Angell ini, padahalkan Dewanya bilang dia tidak mau." Nuri jadi bete sendiri dah tuh, "Dewa, jangan mau disuapin oleh mbak Angell, tolak donk Wa." Nuri berharap Dewa menolak lagi, tapi lagi-lagi harapannya itu tidak terkabul karna Dewa dengan pasrah berkata.
"Baiklah kalau tidak merepotkan kamu Ngell."
"Tentu saja tidak merepotkan Wa."
"Nyebelin banget sieh sik Dewa itu."
"Mmm, aku sebaiknya keluar ya." karna tidak mau dikamar itu karna Nuri tiba-tiba saja merasakan sesak dihatinya sehingga dia memilih untuk hengkang.
Angell mengangguk, dengan senang hati donk dia melihat Angell keluar karna tidak ada yang akan mengganggunya, sedangkan dia tidak merespon.
Dan sebelum benar-benar keluar dari kamar tersebut, Nuri menoleh kebekakang, dan melihat saat Dewa membuka bibirnya untuk menerima suapan dari sendok yang disodorkan oleh Angell.
"Sialan sialan sialan." rutuknya berulangkali dalam hati, "Kenapa hatiku jadi sakit begini sieh melihat mbak Angell nyuapin Dewa kayak gitu, benar-benar sangat menyebalkan." Nuri memegang area dimana hatinya berada, "Sakit." rintihnya sebelum benar-benar keluar.
****
Sambil nyuapin Dewa, Angell mengajak Dewa ngobrol.
"Wa, aku heran deh sama kamu."
"Heran kenapa sieh Ngell."
"Kamu itukan kaya Wa, ceo dan punya rumah besar, kenapa sieh kamu tinggal dirumah sederhana kayak gini, terus rumah kamu itu gimana Wa, masak kamu anggurin sieh gak ditempatin." Angell menyuarakan keheranannya itu.
"Ohh itu." gumam Dewa, dia tidak ingin mengtakan alasannya yang sebenarnya sehingga dia memilih untuk berbohong, "Ingin merasakan bagaimana rasanya hidup sederhana saja sieh Ngell, hehe."
"Kamu ada-ada saja deh Wa, disaat orang banyak yang ingin kaya, kamu malah sebaliknya, heran deh aku."
"Sudah kamu tidak perlu heran Angell, yang terpenting adalah, aku itu nyaman hidup seperti ini."
"Hmm, suka-suka kamulah Wa."
"Wa, setelah ini, kita ke rumah sakit ya."
"Gak usah Angell, aku istirahat saja, lagiankan ada obat juga yang dibelikan oleh adek Nur."
"Tapi kalau cuma obat doank mana mempan donk Wa, apalagi cuma obat yang dibeli diwarung kayak gini."
"Kata siapa gak mempan, buktinya panasku tubuhku sudah agak mendingan setelah mengkonsumsi obat tersebut."
"Tetap saja Dewa, kita seharusnya ke rumah sakit agar kamu itu sembuh total."
"Gak perlu Angell, pergi ke rumah sakit juga tidak menjamin kesembuhankan."
"Ya sudahlah Wa kalau kamu tidak mau, aku memaksamukan karna aku khawatir." akhirnya Angell capek juga membujuk Dewa untuk pergi ke rumah sakit karna ternyata laki-laki itu kukuh tidak mau.
*****
Nuri berulangkali melirik ke arah pintu yang terbuka, dia kepo dengan apa yang dibicarakan oleh Angell dan Dewa, kadang juga Nuri mendengar suara tawa Angell dari dalam kamar dan itu semakin membuat tingkat kekepoannya meningkat.
"Apa sieh yang sebegitu lucunya sampai membuat mbak Angell sampai ngakak begitu."
Untuk menghilangkan kekepoannya, Nuri memainkan ponselnya supaya fikirannya bisa teralih, sayangnya ponselnya tidak bisa mengalihkan perhatiannya sedikitpun pada Dewa dan Angell.
"Kok mbak Angell lama banget sieh, gak berniat pulang apa dia, sudah lama lho dia ada didalam."
Nuri jadi tidak tenang, ingin masuk, tapi mau ngapain, bisa-bisa dia jadi kambing congek tuh diantara Angell dan Dewa sehingga dia mengurungkan niatnya tersebut.
Setengah jam kemudian, Nuri melihat Angell pada akhirnya keluar juga, " Akhirnya dia keluar juga." desahnya saat melihat gadis tersebut.
Nuri berdiri saat Angell terlihat berjalan ke arahnya.
"Aku balik dulu ya adek."
"Ehh, mbak Angell sudah mau balik ya, cepat amet mbak." ujarnya dilisan, padahal dalam hati mah, dia ingin cepat-cepat mengusir Angell pergi dari rumahnya.
"Iya, Dewa juga lagi istirahat lagi tuh, besok aku kesini lagi." informasi Angell.
"Ehh, dia mau kesini lagi, mau ngapain sieh." itu bukan sesuatu hal yang bagus untuk Nuri karna dia tidak menginginkan kehadiran Angell dirumahnya.
"Ya udah udah ya adek, mbak pergi dulu kalau begitu."
"Hati-hati ya mbak Angell."
__ADS_1
Angell mengangguk sebelum keluar dari rumah sederhana yang saat ini ditempati oleh Nuri dan Dewa.
****