
Sekarang, setiap akan bertemu dengan Dewa, Nuri selalu merasa antusias dan berbunga-bunga, Nuri sudah tidak mempermasalahkan lagi pekerjaan suaminya, intinya, selagi itu halal ngapain harus malu, fikirnya.
Oleh karna itu, saat perkuliahan berakhir, Nuri langsung mengirim pesan pada Dewa.
Nuri : Kak jadi jemput gak
Gak perlu menunggu lama karna balasan Dewa datang dengan cepat.
Dewa : Ini kakak sudah nungguin adek didepan kampus
"Apa, astaga, kak Dewa sudah didepan, bagaimana ini." Nuri jadi heboh sendiri dah, pasalnyakan dia belum touch up, kalau dulu dia tidak peduli dengan penampilan saat bertemu dengan Dewa, sekarang rasanya dia malu bertemu dengan Dewa dengan wajah kucel, apalagi saat pulang kuliah dimana wajah kusem dan berminyak, hal itu membuat Nuri dengan cepat mengeluarkan tas make upnya yang dia bawa, ini untuk pertamakalinya dia mambawanya.
"Lo kenapa sieh Nur heboh banget dah." heran Imel saat melihat sahabatnya itu grasak grusuk.
"Gue mau touch up, kak Dewa udah nungguin gue itu diluar." beritahunya.
"Padahal kemarin-kemarin, mau wajah lo berminyak kek, kucel kek, lo gak peduli tuh." sahut Juli saat mendengar kata-kata Nuri barusan.
"Iya itukan kemarin saat gue belum cinta sama kak Dewa, sekarangkan gue udah jatuh cinta sama kak Dewa, jadi gue harus tampil cantik donk saat bertemu dengan dia."
"Elahh, lo satu rumah juga, kak Dewakan bisa lihat wajah lo tanpa make upkan."
"Pada diem bisa gak sieh, ganggu gue yang lagi konsentrasi aja deh lo."
"Diem napa Mell, ocehan lo bikin Nuri gak fokus tuh nembokin wajahnya." Juli meledek.
Dewa : Adek, adek lagi dimana sekarang.
Dewa kembali mengirim pesan karna pesannya tidak dibalas oleh Nuri, gimana mau dibalas kalau Nuri sibuk mempercantik diri demi mau bertemu dengannya.
Nuri : Iya kak tunggu bentar
Dewa : Jangankan sebentar, 1000 tahun lagi kakak masih sanggup lho nungguin adek
Membaca pesan balasan dari suaminya itu membuat Nuri jadi senyum-senyum sendiri.
"Dihh yang lagi jatuh cinta, kerjaannya senyum mulu perasaan."
"Jatuh cinta itu bikin bahagia Mel." balas Nuri.
Setelah selesai touch up, Nuri buru-buru pergi, "Gue duluan ya, byee." pamitnya sembari melambaikan tangannya.
"Lo gak kencan Jul dengan kak Ari." Imel bertanya pada Juli.
"Gak, lo tahukan pacar gue kayak gimana, mana pernah dia ngajak gue kencan, dia mah suka datang langsung ke rumah gue."
__ADS_1
"Lo sendiri." Juli balik nanya.
"Ya kencanlah, tapi kencannya dikamar, tapi nanti pas doi pulang kerja."
"Dihh, mesum lo."
"Ya gak apa-apa donk, udah halal ini, makanya lo cepetan nikah dengan hari, agar bisa ngurung diri dikamar kapanpun lo mau, enak lho nikah Jul."
"Ntar ajalah, gue mau wisuda dulu, cari kerja dulu, membahagiakan orang tua gue dulu, baru deh setelah itu gue nikah."
"Masih lama itu, keburu kiamat datang, gak bisa deh lo nikmatin surga dunia."
"Jangan bahas-bahas masalah kiamat napa sieh, ngeri dah."
"Hehe, sorry."
"Udah ahh mending kita balik."
****
Nuri melihat Dewa duduk diatas motornya bututnya, mungkin karna tampan beneran atau karna lagi jatuh cinta sehingga Imel melihat Dewa itu terlihat keren gitu.
"Ahh suami gue." desahnya dengan jantung deg-degan, "Cakep amet dah dia." pujinya senyum-senyum sendiri.
Saat Nuri kembali melangkahkan kakinya untuk menemui Dewa, Nuri melihat ada dua perempuan yang menghampiri Dewa, melihat hal tersebut, Nuri reflek menghentikan kakinya dan untuk sesaat memperhatikan apa yang dilakukan oleh dua gadis tersebut.
Nuri bisa melihat dua gadis itu berbicara dengan Dewa dan beberapa detik kemudian mereka terlihat tertawa-tawa, Nuri juga bisa melihat kalau Dewa juga mengulum senyum, hal tersebut membuat Nuri kesal, dia mengepalkan tangannya dengan mata menyala memandang Dewa.
"Isshh, dasar gadis,-gadis ganjen, ngapain sieh dia dekatin suami gue, kak Dewa juga, kayak kesenengan gitu deh diajak ngobrol sama dua gadis-gadis itu, dia gak ingat istri apa."
Nuri sudah tidak tahan, dia menghentakkan kakinya dan berjalan mendekat denga wajah ditekuk karna cemburu.
Dewa tersenyum saat melihat istrinya datang menghampiri, "Itu istri saya datang." Dewa memberitahu gadis-gadis yang ternyata mendekatinya untuk mengajaknya kenalan.
Dua gadis itu menoleh kebelakang melihat Nuri yang tengah berjalan ke arah mereka.
"Ya udah kalau gitu kak Dewa kami pamit dulu." kata salah satu satu gadis tersebut yang dijawab dengan anggukan oleh Dewa.
"Hai dek." sapa Dewa begitu Nuri sudah ada didekatnya.
Bukannya menjawab sapaan Dewa, Nuri malah berkata dengan ketus, "Senang ya ngobrol dengan dua gadis cantik." bibir Nuri manyun.
Dewa kok malah senang ya melihat Nuri yang terlihat ketus begitu, dari gelagat Nuri, Dewa tahu kalau istrinya itu cemburu, dan cemburu artinya tanda cinta, "Adek cemburu ya."
"Ishhh, siapa juga yang cemburu, jangan kepedaan ya jadi orang." cewekkan selalu begitu, mana ada yang mau ngaku.
__ADS_1
"Hmm, kalau adek gak cemburu, itu kenapa wajahnya cembrut gitu dek, itu juga bibirnya manyun gitu, bikin kakak gemes ingin nyium."
"Dasar mesum." Nuri langsung menormalkan bentuk bibirnya.
Dewa terkekeh melihat tingkah sang istri yang menurutnya menggemaskan.
"Ayok naik dek."
Nuri malah diam ditempat.
Dewa turun dari motornya dan mendekati Nuri, laki-laki itu mengelus puncak kepala istrinya dengan sayang, "Adek tidak usah khawatir, apalagi cemburu." Dewa kemudian meraih tangan Nuri dan membawanya ke dadanya, "Hati kakak hanya untuk adek seorang."
Sumpah Nuri baper, dorongan untuk tersenyum itu besar, tapi dia berusaha untuk menahannya, "Bohong."
"Kalau adek gak percaya belahlah dada kakak."
"Kalau dibelah kakak bisa mati."
"Ya gak apa-apa kakak mati asal adek percaya kalau kakak benar-benar mencintai adek."
"Apa sieh kak, kalau kakak mati nanti aku jadi janda, janda kembang, terus banyak yang mau sama aku."
"Ya udah deh, aku gak mau mati deh kalau gitu, aku gak mau adek bersama dengan laki-laki lain."
"Ihhh, kok kita malah bahas masalah gak penting gini sieh."
"Adek yang duluan."
"Lebih baik kita pulang sekarang kak."
"Iya makanya ayok naik."
Setelah Nuri duduk dengan nyaman, barulah Dewa menjalankan motornya, Nuri memeluk Dewa dari belakang.
"Dek, bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu, adek mau gak." ini untuk pertamakalinya Dewa mengajak Nuri jalan-jalan.
Nuri dengan antusias menjawab, "Boleh kak, emang kita mau jalan kemana."
"Terserah kemana maunya adek."
"Ke mall saja ya."
"Oke, otw." Dewa menjalankan motornya ketempat yang diinginkan oleh istrinya.
****<
__ADS_1