
"Yang rajin belajarnya ya dek." pesan Dewa saat Nuri sudah turun dari boncengan motornya dan mengelus puncak kepala Nuri.
Dan Nuri hanya mengangguk patuh tanpa menepis tangan Dewa dari kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, kakak pergi dulu kalau gitu, adek masuk gieh sana."
"Iya kak."
Saat Dewa akan menjalankan motornya, Nuri teringat sesuatu dan hal itu membuatnya menahan Dewa.
"Kak Dewa tunggu."
Dewa yang sudah bersiap mengegas motornya menghentikan aktifitasnya.
"Kenapa dek."
Dari dalam tasnya Nuri mengeluarkan sebuah kotak yang ternyata adalah bekal makanan, Nuri menyodorkan kotak bekal yang memang sengaja dia persiapkan pada Dewa, "Ini aku buatin bekal makanan untuk kakak, aku harap kakak memakannya."
Dengan senyum mengembang Dewa mengambil kotak bekal yang diberikan oleh istrinya, "Terimakasih dek, kakak pasti akan memakannya."
Nuri mengangguk.
"Ya udah, sana adek masuk, nanti telat lagi."
"Baik kak."
"Ohh ya dek, nanti pulangnya kakak jemput ya."
"Mmm, iya jemput saja kalau kakak tidak keberatan."
"Tentu saja kakak tidak keberatan."
"Kakak jalan dulu kalau gitu dek." Nuri mengangguk, dia melambai melepas kepergian Dewa.
Setelah kepergian Dewa, Nuri berjalan memasuki kampus, dia berjalan dengan terburu-buru, tujuan utamanya bukan kelasnya tapi kelas yang biasa ditempati oleh kakak tingkat, dia ingin mencari Jundi dan memberikan laki-laki itu pelajaran karna telah berniat untuk melecehkannya, Nuri sebenarnya tidak menyangka kalau Jundi yang terlihat kalem itu memiliki hati yang busuk, dia menyesal karna sempat menyukai Jundi.
Saat tiba diambang pintu, Nuri melihat Jundi tengah tertawa dengan teman-teman kelasnya, dengan langkah lebar Nuri mendekat dengan wajah menahan emosi.
Salah satu teman Jundi yang melihat kedatangan Nuri mengedikkan dagunya kearah Nuri untuk memberitahukan kepada Jundi akan kedatangannya, dan Jundi menoleh, laki-laki itu masih bisa tersenyum palsu saat melihat Nuri.
"Hai Nur, kamu men…."
__ADS_1
Tanpa membiarkan Jundi menyelsaikan ucapannya, Nuri langsung mengangkat tasnya dan tanpa basa-basi langsung memukulkan tas yang berisi buku-buku tebal tersebut ke tubuh Jundi bertubi-tubi disertai dengan umpatan yang keluar dari bibirnya.
"Dasar laki-laki brengsek, bajingan."
Buk
Buk
Jundi mengangkat tangannya sebagai perisai untuk menangkal pukulan yang datang bertubi-tubi dari Nuri, sumpah badannya terasa sakit saat buku-buku tebal yang berada dalam tas Nuri menghantam tubuhnya.
"Rasakan itu laki-laki brengsek." Nuri meluapkan amarahnya kepada laki-laki itu.
Teman-teman kelas Jundi hanya diam menyaksikan adegan tersebut, mereka hanya sebagai penonton dan tidak mau ikut campur.
"Nur, apa-apaan sieh kamu, hentikan."
"Ini balasan buat laki-laki brengsek macam kamu, tega-teganya ya kamu memasukkan obat perangsang diminuman aku, dasar laki-laki tidak punya otak, salahku apa kepadamu."
Buk
Buk
Nuri semakin kuat memukulkan tasnya ditubuh Jundi.
Jundi yang sudah tidak tahan dan merasa dipermalukan oleh Nuri berhasil meraih tangan Nuri, dan itu otomatis membuat Nuri menghentikan aktifitasnya menggebuk Jundi.
Nuri berontak saat Jundi menahan tangannya, dia tidak sudi Jundi memegang tangannya.
"Lepasin gue sialan, jangan pegang gue dengan tangan kotor lo itu, dasar laki-laki brengsek." Nuri terus mengumpat.
Karna tidak ingin terus dipermalukan didepan teman-temannya, Jundi menarik Nuri keluar untuk menjauh dari teman-temannya, sedangkan Nuri terus saja berontak karna merasa jijik disentuh oleh Jundi.
"Lepasin gue sialan, gue bisa jalan sendiri."
Jundi tidak mengindahkan protes Nuri, laki-laki itu terus menarik Nuri sampai pada koridor yang sepi barulah dia melepaskan Nuri.
"Bisa tidak kamu jangan mempermalukan aku didepan teman-temanku." bentaknya meluapkan emosinya.
"Ohh, kamu malu toh rupanya, seharusnya kamu berfikir seribu kali sebelum memasukkan obat perangsang itu diminuman yang kamu berikan kepadaku sialan, otakmu itu benar-benar kotor ternyata, otak sama wajah benar-benar tidak sinkro."
Bukk
__ADS_1
Nuri kembali memukul Jundi dengan tasnya, rasanya dia belum puas menyalurkan amarahnya kepada laki-laki yang kini berada dihadapannya itu.
"Oke oke, aku minta maaf, aku akui malam itu aku khilaf." laki-laki selalu saja mengkambinghitamkan kata khilaf untuk tidak mengakui dosa yang mereka perbuat secara sadar, "Aku suka banget sama kamu Nur, dan kamu susah banget untuk ngedapetin kamu, makanya aku berniat mendapatkan kamu dengan cara itu."
"Bajingan." kali ini Nuri tidak lagi memukulkan tasnya pada tubuh Jundi, tapi dengan kakinya dia menendang ************ laki-laki itu yang membuat Jundi mengaduh kesakitan sambil memegang masa depannya.
Nuri tersenyum puas saat melihat Jundi kelihatan kesakitan.
"Rasain lo, dasar otak ************." umpatnya sebelum berlalu dan meninggalkan Jundi yang mengerang kesakitan.
****
"Kalung baru nieh, kenalan donk." goda Juli saat Imel duduk disampingnya, dan kebetulan arah mata Juli tertuju pada leher Nuri begitu gadis itu memasuki kelas, Juli benar-benar tidak memperhatikan wajah Nuri yang terlihat bete.
"Apaan sieh Jul, norak deh."
"Dibeliin suami ya pasti."
Nuri tidak mengiyakan, dia hanya diam tidak menanggapi pertanyaaan Juli, dia masih berusaha menenangkan amarahnya gara-gara Jundi.
"Apaan tuh apaan tuh." heboh Imel yang baru balik dari toilet.
"Nuri Mel, dia dibeliin kalung baru sama paksunya." Juli melapor.
Mata Imel langsung turun ke arah leher Nuri, dia bisa melihat dengan jelas sebuah kalung emas dengan liontin dengan huruf N yang merupakan inisial dari nama Nuri.
Imel mencoba melihat kalung itu dari dekat dan mengangkatnya sedikit dari leher Nuri supaya bisa melihat liontinnya dengan jelas, "Bagus banget Nur, dalam rangka apaan kak Dewa memberikan elo kalung, setahu gue ulang tahun lo masih 5 bulan lagi deh."
Jawaban Nuri dalam hati, "Ini adalah ucapan permintaan maaf kak Dewa sama gue karna dia telah khilaf." dan jawabnya dilisan adalah, "Suami ngasih hadiah ya gak perlu nunggu ulang tahun dululah Mel, kayak lo gak pernah dikasih hadiah saja sama suami lo."
"Ahh iya benar juga sieh lo Nur."
"Kalung lo bagus Nur, nanti saat suami gue balik kerja, gue minta dibeliin kalung kayak lo deh, tapi yang inisialnya I."
"Dihhh, lo itu ya Mel kalau udah lihat sesuatu langsung deh ingin beli."
"Ya biaran, suami guekan orang kaya, jadi gue bebas mau beli apapun yang gue mau, makanya, lo nanti kalau nikah Jul, jangan cari gantengnya doanl, cari yang banyak duit."
"Terimakasih atas saran lo Me, tapi gue rasanya tidak mungkin berpaling dari kak Ari."
"Ahh iya benar juga, lokan sudah ada kak Ari ya, gue juga kalau jadi lo gak mungkin bisa berpaling dari laki-laki tampan abad ini."
__ADS_1
"Idihhh lebay emang lo Mel."
****