
Tanpa basa-basi, Dewa langsung turun saat Denis menghentikan mobilnya, dia sangat takut, takut kalau terjadi apa-apa sama Nuri, Denis berusaha mengejar sang boss yang larinya sangat kencang.
Suara langkah Dewa membuat Juli dan yang lainnya yang saat ini tengah menunggu dokter keluar dari kamar tempat Nuri ditangani menoleh kearah sumber suara.
"Dewa nak." panggil ibu Nurjanah ibu mertuanya.
Dewa mendekat dengan penuh harap semoga dia mendengar kabar baik dari sang istri, tapi Dewa rasanya sangsi melihat raut wajah orang-orang yang dekat Nuri.
"Bu, bagaimana kabarnya adek."
Ibu Nurjanah menggeleng, wanita yang telah melahirkan Nuri itu rasanya tidak sanggup untuk bicara, hanya air matanya yang jatuh berhamburan membentuk anak sungai dipipinya.
Babe Rojali yang sedikit bisa mengontrol perasaannya berusaha untuk menjelaskan pada Dewa, "Babe dan ibu juga belum tahu nak kondisi Nuri didalam, team dokter yang menanganinya belum keluar juga, disini kami hanya bisa berdoa pada Tuhan semoga Nuri diselamatkan oleh Tuhan."
Dewa mengangguk, benar kata ayah mertuanya, yang saat ini bisa dilakukan hanyalah berdoa demi keselamatan Nuri.
Denis menyusul kemudian, melihat wajah-wajah tegang tersebut dia yakin kalau istrinya bossnya dalam keadaan tidak baik-baik saja didalam sana.
"Ya Tuhan selamatlah istri hamba ya Tuhan, hanya kepadamulah tempat hamba berharap dan memohon pertolongan." doa itu tidak henti-hentinya dilafalkan oleh Dewa dalam hati.
Setengah jam yang terasa seperti 1 abad akhirnya ruangan dimana Nuri ditangani oleh beberapa team dokter terbuka juga, wajah dokter-dokter itu tampak kelelahan, namun terlihat ada kelegaan juga disana.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya." Dewa bertanya cepat begitu pintu ruangan itu terbuka.
"Anda suami korban tabrak lari itu."
Dewa mengangguk untuk mengkonfirmasi.
"Syukurlah korban telah berhasil melewati masa-masa kritisnya."
Serentak semua orang yang sejak tadi menunggu dengan wajah tegang dan cemas menghembuskan nafas lega saat mendengar apa yang dikatakan oleh sik dokter, "Be, putri kita selamat be." Ibu Nurjanah memeluk suaminya.
Imel dan Juli juga berpelukan satu sama lain, mereka begitu senang mendengar kalau sahabat mereka berhasil diselamatkan.
"Syukurnya juga, tidak ada organ vital korban yang terluka, hal tersebut akan mempercepat proses penyembuhan korban."
Untuk kedua kalinya, orang-orang yang mengkhawatirkan Nuri menghembuskan nafas lega.
"Apa kami bisa melihat kondisi korban dokter."
"Tentu saja, hanya saja korban masih belum sadarkan diri, untuk beberapa jam lagi."
"Tidak apa dokter, kami hanya ingin melihatnya saja."
"Silahkan kalau kalian ingin melihatnya." dokter tersebut mempersilahkan.
****
Saat ini Dewa tengah menggenggam tangan istrinya, laki-laki sejak memasuki ruang dimana Nuri berada tidak pernah mau meninggalkan istrinya, dia bilang, dia ingin menjadi orang pertama yang dilihat oleh Nuri saat Nuri nantinya terbangun.
"Heii adek bangunlah, betah banget kamu tertidur, kakak kangen lho sama adek, apa adek tidak kangen sama kakak." sejak tadi Dewa terus saja mengajak Nuri berkomunikasi meskipun Nuri tidak bisa mendengarkannya.
"Padahalkan kakak menyelsaikan pekerjaan kakak hanya untuk segera bertemu dengan adek dan memberikan kejutan untuk adek, ehh tahunya, adeklah yang membuat kakak terkejut, kejutan yang benar-benar membuat kakak terkejut, saking terkejutnya, rasanya nyawa kakak diambil paksa oleh malaikat maut."
"Rasanya kakak tidak sanggup saat melihat adek penuh luka seperti ini, ingin rasanya kakak yang menggantikan posisi adek kalau bisa." Dewa bermonolog sendiri, tangannya mengelus tangan Nuri yang terasa dingin ditelapak tangannya.
"Bangunlah adekku tersayang, kakak sangat merindukanmu, kalau adek bangun, kakak akan menuruti semua permintaan adek." janji Dewa sembari mengarahkan tangan Nuri ke bibirnya.
Tiba-tiba Dewa merasakan tangan Nuri yang ada digenggamannya bergerak, awalnya gerakannya lemah, namun Dewa bisa merasakannya, dan kemudian, gerakan itu semakin intens dan kuat.
"Adek." gumam Dewa sumringah, dia beralih menatap wajah Nuri, kelopak mata Nuri terlihat bergerak, gak lama, mata itu perlahan terbuka, mengerjap-ngerjap karna harus beradaptasi dengan cahaya terang diruangan tersebut, Dewa tampak tersenyum saat melihat tersebut.
"Adek Nuri, adek sudah bangun."
Nuri menoleh lemah ke arah Dewa, gadis itu mencoba untuk membuka bibirnya, namun tidak ada suara yang keluar karna kondisinya masih sangat lemah.
"Adek jangan bicara dulu oke, kakak panggil dokter dulu biar adek diperiksa oleh dokter."
Dewa memencet tombol yang ada disamping tempat tidur istrinya, setelah melakukan hal itu, Dewa kembali memfokuskan perhatiannya untuk Nuri, wajah laki-laki itu terlihat sumringah dan bahagia, dia tidak henti-hentinya mengucapkan rasa syukurnya kepada Tuhan.
"Syukurlah ya Tuhan, engkau mendengarkan doa hambamu ini, syurkurlah."
"Tunggu sebentar ya adek, dokter sebentar lagi akan datang untuk memeriksa keadaan adek."
__ADS_1
Gak lama, pintu terbuka, seorang dokter yang ditemani oleh seorang perawat memasuki ruangan.
"Permisi ya pak, saya harus memeriksa pasien dulu." kata dokter sopan.
"Ohh iya, silahkan dokter." Dewa memberi ruang kepada dokter untuk melakukan pemeriksaan kepada istrinya.
Setelah beberapa menit berlalu, dokter kembali berbalik, dokter setengah baya itu tersenyum kepada Dewa.
"Bagaimana dokter."
"Syukurlah pak, semuanya normal kok, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ibu Nuri mungkin perlu dirawat entah semingggu, dua minggu atau mungkin lebih untuk proses pemulihannya."
Dewa tersenyum lega mendengar penjelasan dari dokter, dia mengangguk, "Syukurlah, terimakasih Tuhan, ini semua berkat kasih sayangmu." Dewa begitu sangat bersyukur, "Terimakasih dokter karna telah membantu istri saya."
"Tidak perlu berterimakasih pak Dewa, ini memang sudah tugas saya."
Dewa mengangguk.
Dan setelah melakukan tugasnya, dokter dan perawat itu keluar, membiarkan Dewa dan Nuri didalam berdua.
Dewa kembali mengambil tempat duduk disamping sang istri, dia meraih tangan Nuri dan menggenggamnya, Dewa tidak henti-hentinya tersenyum, dia begitu sangat merindukan wanita yang sangat dia cintai yang kini tengah terbaring dibankar rumah sakit dengan kepala diperban, kemarin kepala Nuri terbentur dengan sangat keras yang menyebabkan kepalanya mengeluarkan banyak darah.
"Dek, kakak telpon ibu dan babe dulu ya, mereka pasti sangat senang mengetahui kalau adek sudah sadar, oh iya, Juli dan Imel juga akan kakak kasih tahu, kemarin mereka begitu sangat mengkhawatirkan adek sampai gak mau pulang dari sini, katanya dia ingin menunggu sampai adek sadar, tapi karna kasihan, kakak paksa mereka untuk pulang." cloteh Dewa.
Disini, Nuri hanya menatap Dewa dengan tatapan bingung, seolah-olah pandangan matanya itu bertanya siapakah gerangan laki-laki yang saat ini ada dihadapannya.
"Kamu siapa." tanyanya dengan suara kecil namun Dewa masih bisa mendengar suara Nuri, namun karna difikirnya istrinya itu belum sepenuhnya pulih sehingga dia tidak memperdulikan pertanyaan Nuri barusan.
"Tunggu ya dek, kakak telpon mereka dulu."
Dewa agak sedikit menjauh dari Nuri, dia kemudian mulai menelpon untuk memberitahukan kalau Nuri sudah sadar, orang yang Dewa telpon terlebih dahulu adalah ibu, baru kemudian Juli, dia meminta Juli untuk sekalian memberitahu Imel karna Dewa tidak memiliki nomer Imel.
Baik ibu dan Juli terdengar begitu senang saat mendengar kabar kalau Nuri telah sadar, mereka berjanji untuk segera datang ke rumah sakit.
****
Setelah menelpon Juli dan juga ibu mertuanya, Dewa kembali duduk disamping Nuri, laki-laki itu kembali meraih tangan Nuri dan menggenggamnya, Dewa memberitahu, "Ibu dan Juli sebentar lagi akan datang adek, mereka sangat senang saat mengetahui kalau adek sudah sadar."
Nuri hanya menatap Dewa dengan tatapan bingung, tatapan Nuri tersebut membuat Dewa bertanya, "Adek kenapa mandang kakak kayak gitu, ada sesuatu ya diwajah kakak." dengan tangannya yang bebas Dewa mengelap wajahnya untuk menghilang sesuatu yang mungkin membuat Nuri menatapnya dengan pandangan bingung seperti itu.
"Ini aku dek, Sadewa Argantara, suami adek."
"Suamiku." ulang Nuri.
Dewa mulai merasakan ada sesuatu yang salah, perasaannya tiba-tiba saja menjadi tidak enak, namun untuk saat ini, Dewa berusaha untuk menepis perasaan tersebut, "Adekk Nuri, gak lucu ahh, jangan ngajak kakak bercanda lho." Dewa terkekeh, difikirnya Nuri bercanda kali.
"Nuri, siapa Nuri."
"Adekkk, sudah kakak bilang jangan bercanda ahh, gak lucu."
"Aku…aku benar-benar tidak ingat apa-apa."
"Dekk, adek itu baru sadar lho, masak mau ngajak kakak bercanda."
Nuri seperti berusaha mengingat tentang dirinya, sayangnya, kepalanya tidak bisa digunakan untuk berfikir keras, Nuri tiba-tiba memegang kepalanya yang tiba-tiba diserang oleh rasa sakit yang hebat, "Kepalaku."
"Kenapa adek." Dewa terlihat mulai cemas.
"Kepalaku sakit sekali rasanya."
Dewa segera memencet tombol yang ada disamping tempat tidur Nuri untuk kedua kalinya untuk memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Nuri yang tiba-tiba kesakitan tanpa sebab.
Dokter yang barusan masuk ke kamar Nuri yang ditemani oleh perawat yang sama kembali memasuki ruangan dimana Nuri dirawat, melihat Nuri yang tengah kesakitan begitu, dokter yang bernama Jalal itu meminta Dewa untuk menunggu diluar supaya dia bisa menangani Imel.
"Tapi istrinya saya tidak kenapa-napakan dok, dia baik-baik sajakan dok."
"Saya akan berusaha untuk menangani ibu Nuri pak, tapi mohon bapak tunggu diluar saja."
Meskipun khawatir, tapi Dewa pada akhirnya menuruti kata-kata dokter Jalal.
Saat Dewa tengah menunggu diluar, terlihat Juli dan Imel datang bersamaan.
"Kak Dewa, kenapa kakak diluar." Imel bertanya saat melihat Dewa duduk dikursi besi yang ada diluar ruangan Imel dirawat.
__ADS_1
"Adek tengah ditangani oleh dokter didalam."
"Hah, ada apalagi ini kak."
"Adek tiba-tiba sakit kepala, dan sekarang dokter tengah menanganinya."
Juli dan Imel mengangguk paham.
Setelah kedatangan Juli dan Imel, kini kedua orang tua Nuri yang datang, sama seperti Juli yang heran saat melihat Dewa duduk diluar, kedua orang Nuri juga heran saat melihat suami dan kedua sahabat putrinya berada diluar.
"Lho, kenapa ini pada berada diluar." ibu Nurjanah menyuarakan apa yang saat ini dia fikirkan.
"Nuri lagi periksa oleh dokter bu."
"Lho, bukannya tadi kamu bilang tadi dokter sudah melakukan pemeriksaan terhadap Nuri begitu dia bangun."
"Adek tiba-tiba saja sakit kepala bu."
Terdengar suara pintu terbuka yang kemudian disusul dengan keluarnya dokter Jalal.
"Bisa saya bicara berdua dengan suaminya ibu Nuri."
Dewa mengangguk, "Baiklah pak."
"Dokter, anak saya baik-baik sajakan dokter."
Dokter Jalal tersenyum tipis untuk menanggapi pertanyaan ibu Nurjanah, "Tentu saja bu, kalian boleh masuk sekarang untuk melihat kondisi ibu Nuri, dia sekarang sudah agak tenang karna saya telah memberikannya obata pereda rasa sakit." informasi dokter Jalal.
"Terimakasih dokter."
"Tapi..."
Saat semuanya akan masuk, dokter Jalal menahana mereka, "Cukup satu orang saja yang masuk untuk hari ini, yang lainnya menunggu saja diluar, takutnya saat ini kalau ramai begini itu bisa menggangu ibu Nuri."
"Bu, sebaiknya ibu saja yang masuk." ucap babe Rojali yang diangguki oleh ibu Nurjanah yang mendorong pintu masuk.
"Ayok pak Dewa, bapak ikut keruangan saya."
Dewa mengangguk dan mengikuti dokter Dewa dari belakang.
****
"Apa." kaget, tidak menyangka, shock atau apalah lagi namanya yang saat ini tengah dirasakan oleh Dewa saat mendengar penjelasan dari dokter yang mengatakan kalau Nuri tengah mengalami amnesia karna benturan yang sangat kuat dikepalanya.
"Tapi Nuri bisa sembuhkan dokter, dia bisa ingat kembalikan dokter." cecar Dewa.
"Banyak kasus-kasus hilang ingatan yang juga dialami oleh beberapa pasien yang saya tangani, dan setahu saya, semua pasien itu sembuh meskipun butuh waktu bertahun-tahun untuk sembuh, dan saya harap kasusnya seperti ibu Nuri juga bisa sembuh seperti pasien yang dulu, intinya pak Dewa, bapak harus optimis dan berdoa sama Tuhan semoga mengembalikan ingatan istri bapak." dokter Jalal menguatkan Dewa.
Dewa hanya mengangguk pasrah mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Jalal.
"Saran ya saya pak Dewa, nanti kalau ibu Nuri sudah bisa pulang dan secara fisik sudah sembuh secara fisik, seringlah-seringlah ajak dia kemana dulu sering kalian datangi, tidak hanya anda saja, bekerjasamalah dengan keluarganya dan teman-temannya, pasti ibu Nuri memiliki banyak kenangan bersama keluarganya dan juga teman-temannya."
Dewa mengangguk lemah, Dewa benar-benar sedih mengetahui kenyataan ini, istrinya hilang ingatan dan tidak bisa mengingat siapa dirinya, entah bagaimana nanti dia akan menjelaskan tentang siapa dirinya kepada Nuri, Nuri sudah pasti menganggap dirinya seperti orang asing sekarang.
Dewa terlihat tidak bersemangat saat keluar dari ruangan dokter Jalal, dia berjalan dengan gontai kembali ke ruangannya Nuri.
Dewa mendongak saat mendengar suara langkah mendekatinya, ternyata itu adalah ibu mertuanya, Dewa yakin kalau ibu mertuanya itu pasti akan bertanya kenapa Nuri tidak mengenalinya.
"Dewa, apa yang terjadi nak, kenapa Nuri tidak mengenali ibu dan yang lainnya."
Ternyata benar dugaan Dewa.
"Sebaiknya kita duduk dulu bu, Dewa akan menjelaskanya sama ibu." Dewa menuntun ibu mertuanya menuju kursi besi yang ada diluar ruangan Nuri, disana sudah menunggu ayah mertuanya, Juli dan juga Imel, mereka pastinya ingin mendengar penjelasan Dewa mengenai apa yang terjadi dengan Nuri yang tiba-tiba tidak ingat sama sekali dengan mereka.
Dan Dewa mengulangi apa yang dikatakan oleh dokter Jalal, semua orang menarik nafas panjang, mereka tidak menyangka Nuri bisa mengalami hal yang biasanya sering terjadi disinetron-sinetron indosiar.
"Jadi semuanya, saya minta bantuannya supaya ingatan adek bisa kembali lagi."
"Tentu saja kak, saya dan Juli akan melakukan apapun supaya ingatan Nuri segera kembali."
"Kamu tenang saja nak Dewa, ibu dan babe akan membantu kamu nak supaya ingatan Nuri segera pulih."
Dewa mengangguk, dia sangat senang karna banyak orang yang masih peduli dengan dirinya dan istrinya.
__ADS_1
****