
Dewa menghentikan langkahnya disebuah pintu apartmen yang merupakan kamar dari temannya Angell, laki-laki itu memencet bell.
Gak lama kemudian, pintu apartmen terbuka yang menampakkan sosok Diana.
"Dewa." batin Diana, meskipun sudah cukup lama dia tidak bertemu, tapi Diana masih ingat wajah Dewa, yang Diana ingat, Dewa dulu memanglah tampan, dan sekarang setelah beranjak dewasa, Dewa semakin tampan dengan rahang yang kokoh, "Ini beneran Dewakan, laki-laki yang membuat Angell patah hati dan mabuk sampai hampir pingsan." Diana memperhatikan Dewa dari ujung rambut sampai ujung kepala, laki-laki itu masih mengenakan stelan kerjanya, dan dia nampak semakin gagah dan berkharisma saat mengenakan jas yang melekat sempurna ditubuhnya yang atletis dan tinggi semampai, "Aku gak heran sieh kalau sik Angell cinta mati sama cowok setampan ini, aku saja rasanya meleot, hmm, secantik apa ya kira-kira pacarnya Dewa sampai Angel yang kecantikannya paripurnapun ditolak sama dia."
"Haii, apa ini benar apartmennya Diana." Dewa bertanya karna melihat Diana yang sejak tadi fokus memperhatikannya.
Diana langsung menghentikan aktifitas menilainya dan menjawab pertanyaan Dewa, "Iya benar."
"Apa kamu Diana temannya Angell."
"Iya benar, aku Diana sahabatnya Angell." Diana membenarkan, meskipun dulu mereka satu sekolah, tapi mereka tidak saling mengenal, Diana sieh kenal, hanya sebatas kenal dan tidak pernah ngobrol, jadi wajarlah kalau Dewa tidak mengenal Diana.
"Aku Dewa, sahabatnya Angell." Dewa memperkenalkan dirinya.
"Iya aku tahu."
"Maksudnya."
"Ya aku tahu kamu sahabatnya Angell karna Angell ngasih tahu aku."
"Ohh."
"Angellnya adakan, apa aku boleh bertemu dengannya."
"Ada, ayok silahkan masuk dulu Wa."
Dewa mengikuti Diana masuk ke apartmen.
"Duduk dulu Wa, aku panggilin Angell dulu."
__ADS_1
Dewa mengangguk, dia menjatuhkan bokong disofa empuk yang ada diruang tamu apartmen Diana.
*****
"Ngell." tegur Diana saat dia masuk dikamar yang ditempati oleh Angel, Diana masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu, dan alhasil, Diana memergoki sahabatnya itu menangis tanpa suara.
Angell langsung menghapus air matanya begitu melihat kedatangan sahabatnya, agak malu juga sieh dia karna kpergok menangis.
"Dia menangis lagi, kasihan sekali Angell." batin Diana melihat sahabatnya.
"Kenapa Di." Angel bertanya, gadis itu berusaha untuk tersenyum hanya untuk mengelabui sahabatnya.
Diana tahu masa-masa ini adalah Angel tengah bersedih, fikirnya mungkin dengan menangis itu bisa membuat perasaan Angel menjadi lebih baik sehingga dia membahas tentang Angell yang menangis.
"Ada Dewa tuh diruang tamu." beritahu Diana.
"Hah." kaget dan sekaligus tidak percaya karna Dewa nyamperin dia ke apartmen Diana.
"Dewa, maksud kamu Dewa yang...."
"Dia ngapain disini Di." padahal Angell tahu Dewa kesini tentu saja untuk mencarinya, tapi masih saja gadis itu bertanya, ya namanya juga wanita, memang paling hobi menanyakan pertanyaan yang sudah mereka tahu jawabannya.
"Ya nyari kamulah Ngell, gak mungkinkan nyari aku."
"Hmmm."
"Sudah gieh temuin dia."
"Aku gak mau ketemu sama dia Di, bilang saja sama dia kalau aku pergi."
"Mana bisa donk Angellku sayang, aku tuh sudah bilang kamu itu ada."
__ADS_1
"Ya udah, bilang saja kalau aku tidur."
"Mana dia percaya Angell, mana ada orang tidur sore-sore begini."
"Tapi aku belum siap ketemu sama Dewa Di, aku malu ketemu sama dia."
"Ngapain malu sieh Ngell, nyatain perasaan itu bukan suatu dosa kok, jadi temuin dia geih meskipun sebentar, kasihan dia udah capek-capek kesini." Diana berusaha untuk membujuk Angell.
"Aku harus ngomong apa kalau aku ketemu sama dia."
"Hai Dewa, apa kabar, apa harimu menyenangkan, bilang saja begitu." ujar Diana menanggapi ucapan Angell.
"Masak aku harus bilang begitu seih."
"Terus kamu mau bilang apa, masak kamu harus bilang, 'Terimakasih Dewa karna tidak menerima cintaku'."
"Ngaco ya kamu Di."
"Habisnya perkara mau ngomong apa perasaan ribet amet deh lo, udah sana mending temuin Dewanya, gak mungkin lo menganggap Dewa seperti orang asingkan setelah dia menolak perasaan elo."
"Hmmm, baiklah, aku akan menemuinya."
Dengan perasaan berat Angell menarik tubuhnya untuk berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
"Angell, pintu keluarnya bukan disana, tapi disana." Diana menunjuk pintu keluar.
"Siapa bilang aku mau keluar kamar, orang aku mau kekamar mandi."
"Hah, kok kamu malah ke kamar mandi sieh bukannya menemui Imel diluar."
"Ya gak mungkin donk Diana aku bertemu dengan Dewa dengan wajag amburadul begini, bisa-bisanya nanti Dewa mentertawakan aku karna aku tidak bisa mengenyahkan perasaan cintaku kepadanya, minimalnya aku cucu muka dululah agar mataku tidak terlalu sembab begini."
__ADS_1
"Ahh iya benar juga sieh kamu Ngell."
*****