
Sebulan kemudian setelah tragedi penculikan Nuri yang dilakukan oleh Angell, kini semuanya berjalan dengan baik, Angell sieh sempat dipenjara, tapi kedua orang tua Angell memohon pada Dewa dan Nuri supaya anak gadis mereka dimaafkan, mereka memastikan kalau putri mereka tidak akan melakukan hal yang akan merugikan Dewa dan Nuri lagi.
Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Angell tentu saja tindak kejahatan berat, berniat menghilangkan nyawa seseorang apalagi terencana bisa dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, tapi karna Dewa sudah menganggap kedua orang tua Angell sebagai orang tuanya sehingga Dewa dan Nuri dengan berbesar hati menyelsaikan permasalahan tersebut dengan jalur damai, selain itu juga, untuk menjauhkan Angell dati Dewa dan Nuri, orang tua Angell berniat kembali ke Amerika, orang tua Angell berfikir kalau Amerika adalah tempat yang tepat untuk putri mereka.
Dan Dewa juga sempat mengantarkan keluarga Angell sampai bandara, walaupun Angell pernah ingin membunuh istrinya, tapi biar bagaimanapun, baginya, Angell, om Ihsan dan juga tante Tiara yang merupakan orang tua Angell tetaplah Dewa anggap sebagai keluarganya, dia dan Nuri sudah benar-benar memaafkan Angell atas apa yang terjadi.
Dan satu bulan setelah kejadian tersebut dan keluarga Angell juga kini sudah hidup tenang di Amerika, kini giliran Dewa dan Nuri yang merencanakan kebahagian mereka, Nuri sudah libur semester, dan seperti yang dijanjikan oleh Dewa, saat sang istri libur, dia akan mengajak istrinya untuk bulan madu keliling eropa, Dewa tidak sabar ingin mendapatkan momongan.
Dan malamnya setelah pasangan pasutri tersebut selesai mengapak barang-barang yang akan mereka bawa, Dewa memeluk istrinya yang saat ini tengah berdiri didepan lemari, memilih pakaian tidur yang akan dia kenakan, Dewa mengistirahatkan dagunya dipundak sang istri.
"Kak, aku mau ganti baju, bisa lepasin dulu gak tangannya."
Namun Dewa tidak mengindahkan kata-kata dari sang istri, dia malah berkata, "Baju dinasnya dibawakan sayang."
Mendengar pertanyaan dari suaminya membuat wajah Nuri seketika blushing, "Hmmm iya, sudah aku masukkan kok kak ke koper." jawab Nuri malu-malu.
"Bawa yang banyak, soalnya kita akan sering melakukannya, aku benar-benar ingin membuat kamu cepat hamil, aku ingin punya bayi supaya rumah kita rame." bisik Dewa tepat ditelinga Nuri.
Nuri jadi semakin blushing dibuatnya.
"Kamu maukan punya baby sayang."
Nuri mengangguk, meskipun dia tahu punya bayi tidak semudah kelihatannya, tapi dia juga ingin banget punya anak, bukankah setiap pasangan yang sudah menikah menginginkan seorang anak untuk semakin memperkukuh kehidupan rumah tangga yang sudah mereka bangun, selain cinta dan kasih sayang, anak memang salah satu perekat supaya kehidupan rumah tangga semakin harmonis.
Dewa membalikkan tubuh sang istri dan tanpa aba-aba Dewa mengangkat tubuh Nuri, "Sebaiknya kita melakukannya sekarang, lebih cepat lebih baik."
Nuri hanya mengangguk mengiyakan, Nuri sieh nurut saja apa kata Dewa asal membuat suaminya itu senang, apapun akan Nuri lakukan.
*****
__ADS_1
Pasangan pasutri tersebut melalui hari-hari bahagia dalam hidup mereka, mereka bertambah romantis saja saat pulang dari berbulan madu, sehingga suatu hari, saat Nuri tengah mengikuti perkuliahan, dia tiba-tiba pingsan didalam kelas, tentu saja hal tersebut membuat seisi kelas khawatir, dengan menggunakan mobil dosen yang saat itu mengajar, Nuri dilarikan ke rumah sakit, Juli dan Imel tentunya menemani sahabatnya.
Setengah jam kemudian, Dewa datang menyusul istrinya ke rumah sakit, dia begitu sangat khawatir dengan keadaan Nuri sampai dia menunda pertemuannya dengan rekan bisnisnya, padahal itu adalah rekan bisnisnya itu orang penting dan membawa keuntungan yang cukup besar untuk perusahaan, tapi Dewa tidak peduli, Nuri lebih penting untuknya daripada uang.
Ketiga gadis yang saat ini tengah berada disebuah ruangan rumah sakit sontak menoleh ke arah pintu saat mendengar pintu terbuka yang memampangkan tubuh tegap Dewa dengan wajah khawatir.
"Sayang." dengan langkah lebar Dewa berjalan mendekati Nuri yang tengah duduk bersandar dibankar rumah sakit.
"Kak Dewa."
Dewa langsung memeluk Nuri, dia begitu sangat khawatir saat Juli menghubunginya dan mengabarkan kalau Nuri pingsan saat dikelas, dan tanpa berfikir Dewa langsung pergi ke rumah sakit.
Juli dan Imel tersenyum melihat hal tersebut, mereka ikut bahagia mengetahui kalau Dewa benar-benar mencintai sahabat mereka.
"Apa yang terjadi hemm, perasaan tadi pagi kamu baik-baik saja."
"Capek dan lemas ya." ulang Dewa, kata-kata Nuri barusan tentu saja membuatnya merasa bersalah karna dialah yang membuat Nuri kecapean tiap malam, saking inginnya memilki keturunan sehingga dia tidak memperdulikan kesehatan istrinya, "Maafkan aku sayang, aku janji mulai saat ini kalau aku akan melakukannya cukup hanya satu kali saja."
Juli dan Imel saling melempar pandangan satu sama lain, mereka kok jadi malu sendiri, mereka berfikir berada ditempat yang salah saat ini.
"Kak Dewa apaan sieh, malu tahu sama Juli dan Imel."
Dewa terkekeh, "Ngapain malu sieh sayang, toh mereka sudah pada dewasa, apalagi Imel juga sudah menikahkan."
"Hmm, meskipun begitu, jangan ceplas-ceplos begitu kak." rengek Nuri manja.
"Iya iya, gak lagi kok."
"Jadi, apa katanya dokter, apa tidak ada penyakit yang seriuskan." tanya Dewa.
__ADS_1
Nuri menggeleng, "Kata dokter ini hal biasa."
"Biasa gimana maksudnya." Dewa mengerutkan kening tidak mengerti.
"Yahh kecapean dan lemah disaat hamil muda begini biasa."
"Ohh." gumam Dewa belum menyadari sepenuhnya apa yang dikatakan oleh Nuri, "Hah, hamil, maksudnya." Dewa menatap perut Nuri yang rata, dia melanjutkan ucapannya dengan tidak percaya, "Adek hamil begitu."
Nuri mengangguk antusias, "Iya kak Dewa, aku hamil kak, akhirnya apa yang kita harapkan dikabulkan oleh Allah." senyum Nuri mengembang.
Mata Dewa bahkan sampai berkaca-kaca mendengar berita bahagia tersebut, dia sangat-sangat bersyukur karna Tuhan mengabulkan keinginannya, tangan Dewa terangkat untuk memegang perut istrinya yang masih rata, dia masih belum mempercayai kalau dia dalam sana sedang tumbuh benihnya.
Juli dan Imel juga tentunya ikut bahagia mendengar kabar bahagia tersebut, namun sadar kalau mereka harus pergi dan membiarkan pasangan pasutri itu untuk merayakan kebahagian yang saat ini tengah mereka rasakan berdua, oleh karna itu, Juli dan Imel dengan pelan keluar supaya kepergian mereka tidak disadari oleh Nuri dan juga Dewa, dan berhasil, kini mereka sudah berada diluar.
"Kita sebaiknya pulang Mell, biarkan mereka merayakan kebahagian mereka."
Imel mengangguk, kedua gadis itu berjalan menyusuri koridor rumah sakit.
Dan kembali kedalam ruangan yang kini hanya menyisakan Nuri dan Dewa.
"Benar dia ada didalam, kenapa dia tidak bergerak." tanya Dewa dengan polosnya, dan pertanyaan Dewa itu berhasil membuat Nuri terkekeh.
"Dia masih sangat kecil kak, jadi mana mungkin bisa bergerak, kata dokter, usia kandunganku sudah memasuki usia 4 minggu." jelas Nuri yang membuat Dewa mengangguk.
"Terimakasih sayang karna kamu telah mengandung anakku, aku berjanji akan menjaga kalian berdua." janji Dewa, Nuri hanya mengangguk, dia sangat mempercayai sang suami, Nuri yakin, dengan kehamilannya saat ini Dewa akan semakin menyayangi dirinya.
Pasangan pasutri itu kemudian saling berpelukan satu sama lain, pelukan itu sekaligus untuk memberitahukan betapa mereka saling mencintai dan menyayangi satu sama lain, dan tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka lagi, apalagi dengan kehadiran sik bayi yang akan semakin memperkokoh cinta mereka.
END
__ADS_1