
"Assalamulaikum, babe, ibu, anakmu pulang." teriak Nuri mengetuk pintu rumah orang tuanya.
Seperti yang dikatakan oleh Dewa yang memintanya untuk tinggal dirumah orang tuanya untuk sementara saat dia pergi, jadi sepulang jalan-jalan bersama dengan teman-temannya, Nuri langsung pulang ke rumah orang tuanya.
"Walaikumusslam." suara ibunya terdengar menjawab salamnya dari dalam.
"Nur." ucap ibu Nurjanah saat melihat anak gadisnya berdiri didepan pintu, sudah satu mingguan mereka tidak pernah bertemu sehingga membuat ibu Nurjanah kangen sama putrinya tersebut.
"Ibu." Nuri meraih tangan ibunya dan mengarahkan punggung tangan wanita yang telah melahirkannya itu kejidatnya.
"Ayok masuk Nuri, babemu ada didalam."
Nuri mengikuti ibunya dibelakang, diruang tengah, Nuri melihat ayahnya tengah asyik menonton tv.
"Asslamualaikum babe." Nuri mendekati ayahhnya itu dan mencium tangannya juga.
"Walaikumusslam." jawab sang babe acuh tak acuh dan masih tidak mau menatap Nuri, dia masih marah soal kejadian malam itu, malam dimana putrinya dipergok oleh warga berduaan dikamar dan berakhir dengan dinikahkan, itukan membuat nama baiknya jadi jelek, belum lagi gunjingan tetangga sana-sini bikin kuping panas, jadi wajar saja babe Rojali masih marah sama Nuri sampai sekarang.
"Be, Nur ke kamar dulu ya." pamit Nuri meskipun dia yakin kalau babenya tidak akan merespon kata-katanya.
Dan benar saja, memang babenya cuek bebek dan tidak mengindahkan anak perempuannya itu.
Nuri merasa sedih melihat perlakuan babenya, "Babe sepertinya masih marah denganku." desahnya sedih.
Setibanya dikamar yang dulu dia tempati saat belum menikah dengan Dewa, Nuri menghempaskan tubuhnya ditempat tidur, meskipun tidak yang menempati kamar itu sekarang, tapi kamarnya tetap terawat dan bersih, dan Nuri berterimakasih kepada ibunya yang selalu memastikan kebersihan kamarnya.
"Nyamannya." guman Nuri, "Memang ya, tempat pulang ternyaman adalah rumah."
Puas menikmati kenyamanan tempat tidurnya yang selama satu minggu ini kosong, Nuri meraih tasnya untuk mencari tasnya hanya sekedar untuk mengecek apakah ada pesan yang masuk, dan ternyata tidak ada, hal itu membuat Nuri agak kecewa, bukan karna kecewa tidak ada yang mengechatnya, hanya saja dia berharap kalau Dewa membalas pesannya yang tadi pagi.
"Dihh, sok sibuk sieh manusia satu itu, masak sekedar ngebalas pesan saja tidak bisa, dasar laki-laki menyebalkan, membuat orang mengkhawatirkannysa saja."
****
Dua hari kemudian, Dewa tidak pernah menghubungi Nuri selama itu, padahalkan kemarin-kemarin, Dewa selalu saja menerornya dengan chat yang kadang sering mengatakan rindu hampir tiap hari kepadanya.
"Apa sieh yang sebenarnya dilakukan oleh laki-laki itu, masak cuma ngasih kabar lewat chat saja gak bisa, apa dia benar-benar sibuk saat ini atau dia tidak mau diganggu untuk saat ini." Nuri jadi kesal sendiri dicuekin.
Perempuan memang sulit ditebak, dikasih perhatian cuek, dicuekin malah kesal sendiri.
"Astagaa Nur, apa yang kamu lakukan hah." ibu Nurjanah kaget melihat ikan yang gosong dipenggorengan karna sik anak sibuk melamun.
"Astagfirullah." Nuri buru-buru mematikan kompor, gara-gara mikirin Dewa dia jadi tidak konsen masaknya.
"Astagfirullah Nur Nur." mama Putri menggeleng, "Apa sieh yang di ada difikiranmu itu, kok bisa kamu masak sambil melamun."
"Maafkan Nuri ibu."
"Apa kamu sakit."
Nuri menggeleng.
"Apa kamu ada masalah."
Nuri kembali menggeleng.
"Terus ada apa."
"Tidak apa-apa bu, hanya saja…Nuri kayak kecapean saja." bohongnya.
__ADS_1
"Ya udah, sana kamu lebih baik istirahat dikamar saja gieh."
"Baik ibu." patuh Nuri, mungkin memang yang dia butuhkan saat ini memang adalah tidur untuk merefres otak dan fikirannya yang dipenuhi oleh Dewa, dia tidak tahu kenapa dia kefikiran sama Dewa terus, Nuri tidak mencintainya, hanya saja mungkin karna dia sudah terbiasa bersama dengan Dewa sehingga membuatnya kefikiran.
"Daripada gue mikirin sik Dewa, lebih baik gue tidur aja." gumamnya menghampaskan tubuhnya ditempat tidur.
***
08xx : Selamat malam adek.
Juli mendapatkan chat dari nomer asing saat dia tengah belajar.
"Siapa sieh." desis Juli kembali menaruh ponselnya, karna berfikir itu hanya orang iseng yang berniat mengganggunya.
08xx : Adek, mohon maaf kalau mengganggu, tapi apakah kakak boleh bertanya.
"Siapa sieh ini sebenarnya, mengganggu saja."
Juli masih tidak membalas pesan tersebut.
08xx : Adek sudah tidur ya.
Sudah tiga kali nomer tersebut mengirim pesan membuat Juli jadi penasaran siapa sebenarnya orang yang mengechatnya sampai beberapa kali sehingga dia tergerak untuk membalas.
Juli : Ini siapa ya
08xx : Ini Dewa dek, suaminya adek Nuri, mohon maaf ya adek kalau kakak mengganggu
"Ooo." bibir Juli membulat, "Kak Dewa."
Juli : Tidak mengganggu kok kak, maaf ya tadi aku fikir bukan kak Dewa makanya tidak aku balas, aku fikir orang iseng.
Juli : Ada apa ya kak.
Dewa : Tidak apa-apa dek, kakak hanya ingin bertanya tentang adek Nuri, apa dia baik-baik saja.
Juli mengerutkan kening membaca pesan yang dikirim oleh Dewa tersebut, "Kalau mau tahu kabar Nuri, kenapa menghubungiku, kenapa tidak langsung telpon Nuri saja." batinnya, "Apa mereka lagi bertengkar kali ya."
Juli : Dia baik kak.
Dewa : Syukurlah.
Juli : Mohon maaf kak, apa kak Dewa lagi ada masalah ya sama Nuri sampai kakak menanyakan tentang kabarnya ke aku.
Juli menyuarakan keheranannya lewat balasan yang dia kirim.
Dewa : Kakak hanya agak kesal sama adek Nuri, dia membohongi kakak, katanya dia mau ngerjain tugas, dan tahunya kakak malah memergokinya makan bersama laki-laki lain disebuah restoran.
"Jangan-jangan sama Jundi lagi." tebak Juli.
Juli tidak ingin Dewa dan Nuri marahan kayak gini sehingga dia mengarang cerita bohong untuk membuat mereka baikan.
Juli : ohh itu ya, Nuri memang mengerjakan tugas kelompok dirumahku bersama cowok yang saat itu bersamanya, dan kebetulan mereka satu arah makanya pulang bareng, mungkin karna lapar makanya mereka berhenti untuk makan dulu, jadi kak Dewa jangan salah paham ya.
"Semoga saja kak Dewa percaya dengan cerita karanganku." harap Nuri.
Dewa : Gitu ya, terimakasih ya dek atas informasinya, kakak memang sempat berfikir macam-macam.
Juli : Iya kak sama-sama.
__ADS_1
"Aku harap hubungan mereka membaik, dan semoga saja Nuri bisa mencintai kak Dewa, karna kalau dilihat-lihat, kak Dewa orangnya baik dan penyayang."
Karna tidak ingin memikirkan tentang rumah tangga orang lebih jauh, Juli kembali melanjutkan belajarnya.
****
Nuri sieh rencananya mau tidur sebentar, eh tahunya keterusan, dia baru bangun saat mendengar suara ketukan dipintu kamarnya.
"Nur, bangun Nur."
Nuri mengucek-ngucek matanya, "Iya bu."
"Nak Dewa datang untuk menjemputmu."
Mata Nuri langsung on saat mendengar nama itu disebut, apalagi katanya laki-laki itu saat ini ada dirumah orang tuanya, "Dewa, dia sudah pulang."
"Ayok cepatan nak, dia sudah menunggumu itu."
"Iya bu."
"Kenapa sieh pulang gak ngabarin dulu, dasar menyebalkan." rutuk Nuri.
Setelah mengikat rambutnya dan mengganti pakaiannya, Nuri keluar untuk menemui Dewa, dia melihat punggung Dewa duduk membelakanginya diruang tamu, laki-laki itu tengah berbicara dengan babenya.
"Ekhemm." Nuri berdehem untuk memberitahu akan kedatangannya.
Dewa berbalik, kemarin saat pergi ke Bali, dia masih kesal dengan istrinya tersebut, tapi sekarang, dia begitu kangen dengan istri labilnya, makanya dia mengusahakan untuk mengerjakan pekerjaannya dengan cepat supaya bisa cepat pulang dan bisa bertemu dengan Nuri, dia merasa bersalah dengan Nuri karna salah pamah atas insiden direstoran waktu itu, tapi bukan sepenuhnya salah Dewa juga mengingat Nuri tidak menjelaskan apa-apa malah mengatakan hal yang membuatnya sakit hati.
Dewa berdiri, sebenarnya ingin rasanya dia memeluk Nuri tapi ditahannya mengingat ada bapak mertuanya.
"Adek."
"Hmmm." Nuri tidak menyembunyikan kekesalannya.
"Nur, jangan seperti itu donk kamu, masak suaminya datang wajahnya cembrut kayak gitu." tegur babe Rojali.
Karna mendapat teguran dari sang ayah, Nuri memaksakan untuk tersenyum, ya itu hanya karna didepan babenya saja sieh.
Nuri duduk agak berjauhan dengan Dewa.
"Kamu itu ya Nur, sebagai istri harus bisa menyenangkan hati suami, enak kalau dipandang, menyambut suami dengan senyuman saat pulang bekerja, jangan asam mukanya kayak cuka begitu doank." ceramah babe Rojali.
"Iya be, inikan Nur udah senyum."
"Tidak apa-apa be, bagi saya, mau adek Nuri tersenyum kek, manyun kek, wajah asam kek, adek Nur tetap cantik kok dimata saya."
"Isshh dasar gombal." desis Nuri dalam hati.
"Tuh kamu dengar Nur, suami kamu benar-benar mencintai kamu." timbrung ibu Aminah yang baru datang dan bergabung dengan membawa kopi untuk Dewa dan babe Rojali.
"Laki-laki itu kalau sudah cinta, akan melihat wanitanya tetap terlihat cantik meskipun dalam kondisi apapun." ibu Aminah melanjutkan.
"Hmmm." hanya itu respon Nuri.
"Kalian sebaiknya menginap dirumah saja malam ini." saran babe Rojali.
"Kami pulang saja be, besok-besok deh kami nginap disini." tolak Dewa.
"Baiklah kalau itu yang kalian inginkan."
__ADS_1
****