
Saat mereka memasuki rumah, seorang wanita setengah baya datang dengan tergopoh-gopoh menghampiri Dewa dan Nuri.
"Selamat datang tuan muda."
Dewa tersenyum ke arah wanita tersebut, dan sik wanita yang merupakan salah satu ART dirumahnya Dewapun menoleh ke arah wanita disamping sang tuan, pandangan yang sarat akan pertanyaan.
"Bik Sum, perkenalkan, ini adalah Nuri, dia adalah istriku." Dewa memperkenalkan.
Sama seperti pak Udin, bik Sumipun kaget dan tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh tuannya itu.
"Istri tuan Dewa."
Dewa mengangguk untuk membenarkan, "Iya bik, gadis yang ada disampingku ini adalah istriku, nyonya dirumah ini." Dewa mempertegas.
"Beneran nona adalah istrinya tuan Dewa." bik Sumi bertanya pada Nuri untuk lebih meyakinkan dirinya.
"Iya." jawab Nuri seadanya.
"Tuan kapan nikahnya."
"Sudah lumayan lama bik, saya minta maaf karna merahasiakan pernikahan saya dari kalian, tapi saat saya dan istri saya akan melangsungkan resepsi pernikahan, saya pastikan semua penghuni rumah bakalan saya undang." janji Dewa yang membuat bik Sumi mengangguk pelan.
"Sudah dulu ya bik Sumi, izinkan saya membawa istri saya yang cantik ini menuju kamar dulu."
Nuri yang masih menyimpan rasa kesal dibenaknya tiba-tiba saja merasakan wajahnya memanas saat Dewa mengatakan tentang ingin membawanya ke kamar, Nuri jadi berfikir yang aneh-aneh coba.
"Baik tuan."
"Ayok sayang." Dewa meraih tangan Nuri dan menuntun istrinya ke kamarnya, ehh ralat, kamar mereka lebih tepatnya mulai saat ini karna Dewa berniat untuk mengajak Nuri untuk tinggal dirumah besarnya.
"Kita bicaranya diruang tamu saja, gak usah dikamar kakak." karna masih kesal, Nuri dengan kasar menepis tangan Dewa, wajah Nuri terlihat cembrut, dia tidak ingin diajak ke kamar demi menghindari hal yang tidak diinginkan terjadi nantinya.
"Kita bicaranya dikamar saja ya sayang agar tidak ada yang mendengar pembicaraan kita." Dewa membujuk dengan sabar.
Bik Sumi yang melihat ada gelagat adanya masalah antara pasangan pasutri itu dengan pelan mundur.
"Tidak mau, ngomong disini saja." kukuh Nuri.
Dewa yang mulai habis kesabarannyapun tanpa basa-basi mengangkat tubuh istrinya itu dan meletakkannya dibahunya persis seperti karung beras, Nuri tentu berontak dan memukul-mukul punggung Dewa saking kesalnya.
__ADS_1
"Turunin aku kak Dewa, turunin." memukul-mukul punggung Dewa dengan heboh.
"Tidak ada cara lain dek, kakak harus menggendong adek, kita bicaranya dikamar saja."
"Gak mau, pokoknya turunin aku, dasar brengsek pemaksa."
Dan tanpa menghiraukan setiap umpatan yang keluar dari bibir Nuri, Dewa terus melangkah menuju kamarnya yang terletak dilantai dua rumah besarnya, dan begitu sudah tiba didalam, barulah Dewa menurunkan sang istri, Nuri memberengut, dia benar-benar kesal maksimal deh pokoknya sama suaminya tersebut.
"Dekk." panggil Dewa lembut.
Namun yang dilakukan oleh Nuri adalah, dia membalikkan tubuhnya dengan punggung yang menghadap ke arah Dewa, hal itu dia lakukan supaya Dewa tahu betapa dongkolnya dirinya.
Dewa kemudian meraih pundak sang istri dan kembali membalikkan tubuh Nuri supaya menghadap ke arahnya.
"Apa sieh." ketus Nuri dengan bibir manyun.
Dewa yang gemas dengan tingkah sang istripun tidak tahan untuk tidak mengecup bibir sang istri, dan hal tersebut membuat Nuri meradang.
"Ishh apaan sieh kak Dewa ini." Nuri memukul dada sang suami, "Mengambil kesempatan dalam kesempitan deh."
Dewa malah terkekeh, "Habisnya adek menggemaskan sekali, kakakkan jadi tidak tahan untuk tidak nyium adek."
"Ya gak apa-apa donk mesum sama istri sendiri."
"Ishh, dasar menyebalkan."
"Adekkk." Dewa kini terlihat serius, dia meraih tangan Nuri dan menggenggamnya, matanya terpaku pada wajah sang istri yang menunduk, hal itu dilakukan oleh Nuri karna tatapan mata Dewa membuatnya lemah dan luluh.
"Tatap mata kakak adek."
"Ogahhh."
Tanpa memperdulikan penolak Nuri, Dewa mengangkat dagu sang istri, dan mau tidak mau hal tersebut membuat mata Nuri bersitatap dengan mata Dewa, dan benar saja, begitu matanya bersitatap dengan matanya Dewa, langsung lemah deh tuh pertahanannya Nuri, gadis rasanya meleleh seperti karamel.
"Dekk." Dewa memulai, "Kakak minta maaf karna kakak telah membohongi adek, kakak tidak jujur dengan memberitahukan identitas kakak sama adek sejak awal, itu kakak lakukan demi untuk mendapatkan cinta sejati dek, selama ini, banyak wanita yang mengejar kakak karna kakak tampan dan kaya, dan kakak tidak mau dicintai karna ketampanan kakak apalagi kalau dicintai karna harta kakak, kakak ingin dicintai dengan tulus, oleh karna itu kakak harus berpura-pura menjadi laki-laki sederhana demi untuk mendapatkan cinta sejati, dan kakak sangat-sangat bersyukur dek karna kakak mendapatkannya, adek memberikan kakak cinta yang tulus, adek mau menerima kakak dengan segala kondisi kekurangan yang kakak sandang." jelas Dewa panjang lebar, "Tahu gak adek, kakak begitu sangat bahagia saat mengetahui kalau adek membalas cintanya kakak."
Nuri tersihir dengan setiap kata yang diucapkan oleh Dewa sehingga dia hanya diam membisu dan tidak bisa mengeluarkan kata sepatah katapun dari bibirnya, dia memang benar-benar sangat mencintai Dewa dan menerima Dewa dengan segala kekurangannya, bahkan dia menerima Dewa dengan suka rela dan tidak mempermasalahkan pekerjaan suaminya yang menurut cerita Dewa adalah hanyalah seorang buruh, dan ternyata yang sebenarnya adalah seorang CEO dari sebuah perusahaan ternama.
"Dekk, kakak benar-benar minta maaf, adek maukan menerima permintaan maaf dari kakak."
__ADS_1
Dan entah dorongan darimana sehingga Nuri refleks mengangguk, dia percaya sepenuhnya dengan suaminya itu, suami tampannya yang selalu sabar menghadapi tingkah kekanak-kanakannya, suami yang selalu mengalah dan menuruti semua keinginannya, dan saat Dewa berpura-pura miskin hanya untuk mendapatkan cinta sejati, kenapa dia harus begitu marah, bukankah Dewa melakukan hal tersebut dengan tujuan yang sangat mulia.
Dewa tersenyum lebar saat melihat anggukan dari kepala sang istri, anggukan yang berarti kalau istri yang begitu sangat dia cintai memaafkan dirinya, "Beneran adek memaafkan kakak."
Sekali lagi Nuri mengangguk, "Iya kak Dewa, aku memaafkan kak Dewa." Nuri memperjelas.
Semakin lebar deh tuh senyum yang tecetak dibibirnya Dewa, "Terimakasih adek, terimakasih." ujarnya dengan penuh syukur dan mengecup punggung tangan sang istri yang tersipu.
"Kakak benar-benar sangat mencintai adek." Dewa menarik tubuh Nuri dan memeluknya, Nuri juga membalas pelukan hangat sang suami.
"Aku juga sangat mencintai kakak." balas Nuri yang membuat Dewa semakin erat memeluk tubuh mungil Nuri.
"Tapi Angelll...."
Dewa mengurai pelukannya saat Nuri menyebut-nyebut tentang Angell, "Adekk, adek tidak perlu khawatir oke dengan Angell, Angell itu hanya sahabat kakak, yang bertahta dihati kakak adalah hanya adek seorang." Dewa kembali meraih tangan Nuri dan mengarahkannya pada area dimana jantungnya berada.
"Apa benar apa yang dikatakan oleh kakak."
"Iya sayang, apakah perlu kakak membelah dada kakak supaya adek percaya."
Nuri dengan cepat menggeleng, "Jangan."
"Kenapa jangan."
"Nanti kak Dewa mati, aku gak mau kalau kak Dewa mati, aku gak mau kehilangan kak Dewa karna aku sangat mencintai kak Dewa."
Tentu saja Dewa sangat senang mendengar curahan hati sang istri yang tidak ingin kehilangan dirinya, Dewa kembali meraih tubuh Nuri dan memeluknya, "Begitu juga dengan kakak adek, aku gak mau kehilangan adek."
Nuri mengangguk dalam pelukan Dewa.
"Mulai sekarang, adek maukan kalau kita tinggal disini."
"Dirumah besar ini."
"Iya adek, mau ya."
"Iya kak, aku mau."
"Terimakasih adek." senyum Dewa, dia begitu sangat bahagia karna kini permasalahannya dengan sang istri tercinta sudah kelar.
__ADS_1
****