SUAMIKU TERNYATA PRESDIR

SUAMIKU TERNYATA PRESDIR
SARAN DARI DENI


__ADS_3

"Adekkk." Dewa mengetuk pintu kamar sebelum dia berangkat bekerja karna Nuri sama sekali belum keluar.


"Kakak mau berangkat kerja, adek gak kuliah emangnya."


Tidak ada respon dari Nuri, dia sepertinya benar-benar marah sama Dewa.


"Adekk, kakak benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi, kakak khilaf." Dewa kembali mengungkit masalah tadi pagi.


Dewa mendesah berat, dia merutuk dirinya yang benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya sampai membuat Nuri marah seperti ini, dia takut kalau Nuri membencinya.


"Adek, jangan seperti ini donk, jangan bikin kakak khawatir." Dewa masih berusaha membujuk Nuri.


"Pergi, aku tidak ingin melihat kamu, aku benci sama kamu." terdengar suara teriakan Nuri dari dalam.


Dewa terlihat mengehela nafas, "Baiklah, kakak akan pergi, adek baik-baik ya dirumah." pamitnya sebelum pergi.


*****


Dikantor, Dewa uring-uringan, dia marah-marah tidak jelas kepada bawahannya, moodnya buruk begini disebabkan oleh Nuri, Nuri menyesal karna telah tidur dengannya, padahal awalnya Dewa bahagia banget karna dia menjadi orang pertama untuk Nuri dan berharap menjadi yang terakhir, sayangnya ternyata Nuri tidak memiliki pemikiran yang sama seperti dirinya.


Deni masuk ke ruang bossnya dengan membawa berkas yang harus diperiksa dan ditandatangani oleh Dewa.


"Boss, boss kenapa sieh, bawaannya pengen marah terus, kayak wanita yang pms saja." tanya Deni mewakili rekan kerjanya yang kena amuk Dewa.


"Bukan urusanmu Den, urus saja pekerjaanmu dengan benar." tandas Dewa jutek.


"Ya Tuhan sik boss galak amet." respon Deni, dia bukannya takut dengan Dewa dia malah kembali berkata, "Boss kalau ada masalah bagi-bagi kenapa, jangan dipendam sendiri, nanti jadi penyakit lho."


Deni sudah lama bekerja sebagai asisten Dewa, sehingga bisa dibilang dia akrab dengan Dewa sehingga kadang diluar kantor mereka bersikap layaknya teman.


"Hmmm." Dewa terlihat mendesah berat, dia membenarkan apa yang dikatakan oleh Denis, "Den, menurutmu salah gak sieh kalau kita menyentuh istri sendiri."


Deni duduk begitu mendengar sang boss buka suara, dia siap menjadi pendengar yang baik bahkan ngasih solusi kalau dia bisa.


"Tentu saja tidak salah boss, itukan memang haknya seorang suami, kalau ada wanita yang marah saat disentuh oleh suaminya, wanita itu bisa berdosa lho." Deni menyampaikan apa yang dia ketahui.


"Emang kenapa boss, apa ada masalah dengan rumah tangga boss, apa istri boss tidak mau disentuh."


"Yahh begitulah." jawab Dewa jujur.

__ADS_1


"Heh, kok bisa begitu." heran Deni.


"Istriku tidak mencintaiku Den, jadi yahh, wajar saja kalau dia marah."


"Apa maksudnya ini boss, saya tidak mengerti, bagaimana bisa istri boss tidak mencintai boss, emang ada gitu perempuan yang bisa menolak boss Dewa yang tampan dan tajir ini."


Dewa kemudian menceritakan kisahnya yang menyebabkan dia bisa sampai menikah dengan Nuri, Deni hanya mendengarkan tanpa menyela cerita sang boss.


"Ohh jadi gara-gara cinta sejati ya sik boss nyuruh saya nyariin boss rumah gubuk." ujar Deni yang baru mengerti kenapa bossnya memintanya untuk mencarikanya rumah sederhana.


"Sepertinya aku salah, Nuri sepertinya tidak akan pernah mencintaiku." Dewa terlihat putus asa apalagi saat mendengar Nuri mengatakan kalau dia membencinya.


"Sabar boss, yang namanya cinta sejati itu butuh perjuangan untuk meraihnya, boss hanya kudu berusaha saja untuk meluluhkan hati pujaan hati sik boss, aku yakin istri boss itu seiring dengan berjalannya waktu akan mencintai boss."


"Tapi dia bilang dia membenciku setelah kami melakukan apa yang memang seharusnya kami lakukan sebagai suami istri."


"Boss bilang istri boss masih perawankan, itu mungkin dia kaget saja karna melakukannya pertamakalianya."


Dewa tampak memijit kepalnya yang tiba-tiba terasa pening.


"Mending saat pulang, boss beliin istri boss bunga atau hadiah gitu, wanita biasanya akan luluh jika diperlakukan dengan romantis begitu." Deni memberikan saran.


"Kamu kok tahu banyak tentang hal yang beginian Den."


"Hmmm, sepertinya ide kamu boleh juga deh, kira-kira menurut kamu, hadiah apa yang harus aku berikan untuk Nuri."


"Kalau aku boleh kasih saran ya boss, kasih saja kalung."


"Kalung ya."


Dewa mempertimbangkan untuk melaksanakan saran yang diberikan oleh Denis, dia berharap suasana hati Nuri menjadi membaik.


****


Nuri tidak masuk kuliah, dia memilih mendekam seharian dikamar meratapi dirinya.


"Ini gara-gara sik Jundi brengsek itu, kalau dia tidak memasukkan pil perangsang diminuman yang dia berikan, gue tidak akan seperti ini."


"Awas saja kalau gue bertemu dengannya, akan gue kasih dia pelajaran."

__ADS_1


Juli : Heh, kenapa gak masuk lo


Imel : Lo sampai dengan selamatkan semalam Nur


Itu chat dari kedua sahabatnya yang khawatir dengannya, karna tidak ingin membuat sahabatnya khawatir, Nuri membalas.


Nuri : Gue baik-baik saja, lo berdua gak perlu khawatirin gue


Juli : Syukurlah


Imel : syukurlah


Imel : Semalam jadi lo naik taksi online


Nuri : Gue dijemput kak Dewa


Jujur Nuri


Juli : Terus, kenapa lo gak masuk sekarang Nur


Nuri : Kepala gue agak pusing, makanya gue mutusin untuk tidak masuk dulu, titip absen ya


Imel : Beres kalau itu, lo tenang saja


Juli : Oke Nur, lo sebaiknya istirahat gieh agar cepat sembuh dan besok bisa masuk kuliah


Nuri : Oke


Nuri sieh inginnya berbaring saja seharian dikamar, sayangnya panggilan alam membuatnya terpaksa harus keluar dari peraduannya, saat dia turun dari tempat tidur, dia merasakan selangkangannya teras perih.


"Awhhh, sakit banget." keluhnya.


Nuri berjalan pelan menuju kamar mandi untuk menuntaskan hajatnyanya, dan begitu keluar dari kamar mandi, dia menoleh ke arah meja makan yang tertutup tudung saji, tiba-tiba saja dia merasa lapar dan berharap dia menemukan makanan dibawah tudung saji tersebut, dan ada, disana ada sepiring nasih goreng lengkap dengan telur ceplok diatasnya, Nuri menelan liurnya, melihat nasi goreng itu semakin membuatnya semakin lapar, dia duduk dikursi dan melahap nasi goreng yang merupakan buatan Dewa.


Setelah perutnya kenyang, Nuri kembali ke kamarnya, dia ingin pulang ke rumah orang tuanya, tapi saat dia pulang, dia harus beralasan apa karna sudah pasti orang tuanya bertanya kenapa dia pulang, dia tidak mungkin menjawab kalau dia marah sama Dewa karna Dewa menyentuhnya, bisa-bisa dia dimarahin oleh ibu dan babenya, sehingga akhirnya Nuri memilih mengurung diri dikamar saja sambil bermain ponsel seharian.


Sore harinya, Nuri mendengar suara pintu dibuka, dia cuek karna yakin kalau itu adalah Dewa, namun dia tidak bisa cuek saat melihat pintu kamarnya didorong dari luar yang memampangkan tubuh tegap Dewa yang berdiri diambang pintu.


"Kamu." tunjuk Nuri emosi, "Siapa yang mengizinkan kamu masu ke kamarku."

__ADS_1


Namun Dewa tidak peduli, dia tetap masuk dengan membawa buket bunga yang indah ditanganya mengikuti saran yang diberikan oleh Deni asistennya.


****


__ADS_2