SUAMIKU TERNYATA PRESDIR

SUAMIKU TERNYATA PRESDIR
INSIDEN DIKAMAR MANDI


__ADS_3

"Adek, kalau adek kedinginan, adek bisa peluk kakak kok." ujar Dewa saat motor mulai melaju.


Nuri diam tidak menanggapi, dia masih sangat kesal dengan Dewa.


"Apa adek mau mampir dulu gitu ke supermarket mau beli sesuatu sebelum kita pulang." 


Lagi-lagi Nuri hanya diam.


"Adek marah ya sama kakak."


Diam lagi, Nuri benar-benar bisa berakting dengan sangat baik menjadi patung.


"Ngomong donk adek, jangan diam kayak gini, kakakkan jadi bingung."


Nuri tetap konsisten dengan kebisuaannya, bibirnya seperti dilem dengan lem super sehingga, jangankan menjawab, terbuka sedikitpun saja tidak.


Dewa mendesah berat karna tidak berhasil membuat Nuri buka suara, sampai mereka tiba dirumah, Nuri langsung turun dan berjalan cepat meninggalkan Dewa.


"Adekkk." panggil Dewa namun Nuri tetap berjalan tanpa menoleh.


"Rasain tuh dicuekin, emang enak." desisnya saat sudah berada dikamarnya.


Dewa hanya menatap pintu yang tertutup dengan perasaan nelangsa, dia ingin mengajak Nuri bicara dan meminta maaf atas kesalahpahamannya, oleh karna itu dia berjalan ke arah pintu dan mengetuk pintu.


"Adek Nur, buka pintunya, kakak mau bicara." tidak ada sahutan.


Dewa kembali mencoba, "Adek, bisa keluar sebentar, kakak mau bicara."


Percuma saja, untuk saat ini Nuri benar-benar sudah seperti patung beneran.


"Baiklah kalau adek tidak mau keluar, kita bicaranya besok saja kalau begitu." Dewa akhirnya menyerah membujuk Nuri, dia hanya berharap, setelah tidur, suasana hati Nuri menjadi lebih baik dan bisa diajak untuk bicara.


****


Paginya, Dewa langsung berdiri dan tersenyum saat melihat istrinya itu keluar dari kamarnya.


"Ayok sarapan dulu adek." 


"Aku gak lapar."


"Meskipun begitu, makanlah walau sedikit, adek harus sarapan untuk memulai hari yang baru." Dewa masih berusaha membujuk.


"Aku gak mau, kenapa sieh maksa banget, aku langsung berangkat saja." entah kenapa dia terus emosi.


"Kalau gitu kakak antar ya."


"Gak usah, aku naik angkot saja." tandas Nuri langsung dengan langkah cepat berjalan keluar.


Meskipun begitu, Dewa meraih kunci motornya, dia berniat mengikuti Nuri diam-diam, dia hanya ingin memastikan kalau istrinya itu selamat sampai tujuan, benar-benar suami yang bertanggung jawab, sayangnya Nuri tidak bisa melihatnya.


Dewa menghentikan motornya agak jauh supaya tidak ketahuan oleh Nuri, setelah memastikan kalau wanita yang dia cintai sampai dengan selamat sampai tujuan, dia baru tenang, dia akan menjalankan motornya untuk kembali pulang saat melihat Nuri disamperin oleh laki-laki yang pernah bersamanya saat direstoran waktu itu, Dewa bisa melihat mereka terlihat akrab, bahkan Nuri bisa tersenyum lebar dan tertawa saat bersama dengan laki-laki itu, melihat hal tersebut, Dewa mengepalkan tangannya, ingin rasanya dia berjalan mendekati laki-laki itu dan menonjoknya, tapi berusaha dia tahan amarahnya dan positif thinking.


"Mereka cuma temenan doank, tidak lebih, jadi Dewa, kamu jangan terpancing emosi supaya hubunganmu dan istrimu tidak semakin bertambah ruet." Dewa berusaha untuk menenangkan dirinya.


Gebi dan laki-laki itu terlihat memasuki kampus bersama, setelah Gebi menghilang dari pandangannya, barulah Dewa juga pergi.


****


"Ehh Nur, kita dapat undangan tuh." beritahu Imel saat Nuri duduk disampingnya.


"Siapa yang nikah."


"Bukan undangan nikahan, tapi undangan ulang tahun."


"Siapa yang ngundang."


"Nohh, sik Tania." Imel mengedikkan dagunya ke arah teman kelasnya bernama Tania yang saat ini tengah menyebarkan undangan ulang tahunnya kepada teman-teman kelasnya yang lain.


"Datang ya Nur." imbuh Juli.


"Ya kalau diundang kayak gini ya gak enaklah kalau gak datang."


"Oke fiks kalau gitu kita datang, ini adalah pesta pertama yang kita datangin saat menjadi mahasiswa."


"Pestanya pasti meriah dan seru, secara sik Tania anak orang kaya."


"Iya oleh karna itu kita kudu datang."


Gak lama, dosen memasuki ruang kelas sekaligus itu menghentikan kegaduhan dan membuat para mahasiswa tersebut pada berlarian duduk ditempatnya masing-masing.


****


Dewa sudah kembali seperti semula, dia rajin menghubungi Nuri dan mengechat istrinya itu meskipun dia dicuekin habis-habisan.


Dewa : Adek pulangnya jam berapa, kakak jemput ya.


"Lo gak perlu jemput gue, gue bisa pulang sendiri." batin Nuri saat membaca pesan yang dikirim oleh Dewa dan tidak berniat membalas.


"Ehh jadi gak nieh ke mall cari baju untuk acara nanti malam." 

__ADS_1


"Jadilah, lagiankan gue gak ada baju lagi buat dipakai."


"Ya udah kalau gitu, kita lebih baik langsung go sekarang." 


Dengan diantar oleh Hugo yang merupakan sopir pribadi Qianu yang selalu setia kemanapun mengantarkan istri tuannya, mereka bertiga meluncur menuju pusat perbelanjaan untuk mencari gaun yang akan mereka kenakan saat pesta ulang tahun Tania nanti.


Dan setelah memasuki setiap toko dan pada akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, kini mereka duduk disebuah restoran cepat saji untuk mengisi perut mereka yang mulai keroncongan.


"Kemarin malam kak Dewa ngechat gue lho." beritahu Juli saat mereka tengah menyantap makanannya.


"Kak Dewa suaminya Nuri." tanya Imel memastikan.


"Ya siapa lagi."


"Darimana dia dapat nomer lo."


"Katanya sieh dia ngambil diam-diam dari nomer kontak Nuri, dia melakukan itu supaya dia bisa menanyakan tentang Nuri saat nomer Nuri tidak bisa dihubungi."


"Gak sopan banget deh main ngutak-atik ponsel orang." jengkel Nuri.


"Diakan suami lo Nur, jadi gak apa-apalah dia membuka ponsel elo."


"Meskipun suami, tapikan itu privasi Mel."


"Dia ngapain hubungin elo Jul."


"Cuma mau nanyain apakah lo baik-baik saja."


"Ihhh sweet banget sieh dia, nanyain kabar dari teman kita bukannya itu manis bangetkan."


"Manis apaan sieh."


"Kak Dewa juga memberitahu gue, katanya dia mergokin elo bareng kak Jundi ya makan berdua ya, padahalkan elo izinnya mau buat tugas kelompok."


"Hmm, gue terpaksa berbohong, habisnya kalau gue jujur dia pasti gak akan ngasih izin kalau gue pergi sama kak Jundi, guekan ingin pergi cari buku sama kak Jundi."


"Menurut gue sieh Nur, lo harusnya jujur, kak Dewa itu bukan tipe laki-laki yang suka mengekang gitu deh."


"Mungkin dia bukan tipe laki-laki yang suka ngekang, tapi kalau tahu gue pergi sama kak Jundi dia pasti tidak akan ngizinin."


Imel nyahut, "Ya jelas gak akan bakalan ngizininlah Nur, sama kayak kita, kalau suami atau pacar kita bilang mau jalan sama teman ceweknya, ya jelas kita gak akan ngasihlah."


"Gue sieh gak apa-apa ya dia jalan sama teman ceweknya, gak pulang seharian juga gue gak peduli." wajar sieh Nuri bilang begitu, orang dia masih belum ada rasa sama Dewa.


"Lo masih belum ada rasa juga sama kak Dewa."


"Hmmm, kayaknya pernikahan gue gak bakalan bertahan lama deh."


"Ya gak apa-apa, orang gue gak cinta, siapa tahu jodoh gue yang selanjutnya adalah laki-laki yang gue cintai."


"Ntar juga lama-lama lo cinta sama kak Dewa Nur, kayak gue sama kak Qianu, cinta datang karna terbiasa."


"Gak akan." ujar Nuri penuh percaya diri.


"Jangan bilang begitu Nur, Tuhan itu maha membolak-balikkan hati, ntar lo malah cinta setengah mati lagi sama kak Dewa, lo gak belajar apa dari Juli yang sudah hampir gila saat ditinggalkan oleh kak Ari." Imel memberi contoh nyatanya.


Juli jadi malu sendiri saat Imel mengungkit-ngungkit masa lalunya, dimana dulu dia pernah terpuruk saat Ari kekasihnya saat itu meninggalkannya tanpa kabar berita.


"Bisa gak Mel, lo jangan ngungkit-ngungkit masa lalu."


"Inikan sebagai contoh saja Jul agar sahabat lo ini gak ngulangin kesalahan yang sama kayak lo waktu dulu."


Juli mendengus karna Imel ada saja untuk membalasnya.


"Sudahlah ah, jangan bahas kak Dewa lagi, mending pada habisin makanan lo tuh."


Tidak sengaja Juli menoleh ka arah luar lewat dinding kaca, dimana dia melihat seseorang berpakaian rapi berjalan didepan restoran.


"Kak Dewa." gumam Juli, "Itu bukannya kak Dewa ya Nur." Juli mengarahkan jari telunjuknya untuk memberitahu Nuri.


Nuri dan Imel memutar lehernya untuk melihat ke arah yang ditunjuk oleh Juli, meskipun sebenarnya Nuri tidak yakin sieh kalau suaminya itu ada dimall yang sama ditempat dimana dirinya berada saat ini.


Nuri dan Imel melihat sosok berjas rapi yang ditunjukk oleh Nuri, Nuri sampai menggosok matanya karna tidak mempercayai penglihatannya.


"Itu benaran kak Dewakan Nur." seru Imel dengan suaranya yang lumayan kenceng.


"Iya itu benaran kak Dewa, ngapain dia disini dan kenapa pakaiannya sangat rapi begitu, padahal pekerjaannyakan tidak jelas." bati Juli terus menatap laki-laki yang dia duga adalah suaminya sampai laki-laki itu menghilang dari pandangannya.


"Itu beneran kak Dewakan Nur." Juli meminta konfirmasi.


"Gue gak yakin sieh." jawab Nuri ragu.


"Gak yakin gimana, masak sebagai istrinya lo gak bisa ngenalin suami lo sendiri sieh, gue saja sangat hafal dengan wajah dan bentuk tubuh kak Dewa."


"Tapi kak Dewakan lagi kerja saat ini, dia juga bukan pekerja kantoran, jadi yang barusan tidak mungkin dialah, gue fikir sieh mungkin itu hanya orang yang sekedar mirip saja sama dia."


"Bisa jadi sieh."


Setelah mengisi perut dan kenyang, mereka kembali muter-muterin dimall, memang tidak berniat membeli apa-apa lagi sieh, hanya muter-muter doank, cewekkan memang begitu, suka banget lihat-lihat, mereka tidak akan pulang sampai betis mereka segede talas bogor.

__ADS_1


****


Meskipun masih kesal dengan Dewa, tapi malamnya saat makan malam, karna penasaran dengan laki-laki yang dilihatnya saat dimall tadi siang, Nuri memaksa dirinya untuk bertanya saking penasarannya.


"Tadi siang kakak dimana."


Dewa yang saat ini akan mengarahkan sendok ke bibirnya menghentikan pergerakan tangannya, dia senang sieh Nuri mulai berbicara padanya.


"Kakakkan kerja adek."


"Kerja ya, kakak tidak ke mall gitu dengan mengenakan stelan jas rapi."


Dewa terkekeh, "Adek-adek, ya mana mungkin kakak berada dimall pakai jas segala, adek salah lihat kali." bohongnya, padahal sieh itu memang benaran dia.


"Iya iya, mungkin akunya memang salah lihat."


"Adek pergi ke mall ya, sama siapa." keponya.


"Sama Juli dan Imell." jawabnya seadanya tanpa memberitahu niat mereka ke mall dan Dewapun tidak bertanya lagi, mereka kembali fokus menghabiskan makanan yang masih tersisa.


Saat selesai, Nuri yang berniat mencuci piring meraih piring kosong yang dipakai oleh Dewa,  disaat bersamaan, Dewa juga melakukan hal yang sama, sehingga tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan, Nuri buru-buru menarik tangannya.


"Maaf dek."


"Tidak apa-apa kak, aku hanya ingin mencuci piring."


"Baiklah."


Nuri menumpuk piring dan mangkuk menjadi satu dan membawanya kedapur untuk dicuci.


Dewa tersenyum menatap punggung Nuri, sedikit tidaknya hubungan mereka sekarang agak sedikit membaik meskipun belum membaik seutuhnya.


****


Akhhhhh


Tolongggg


Dewa yang saat ini tengah menikmati kopinya terkaget saat mendengar suara teriakan Nuri dari arah kamar mandi.


"Adek Nuriii." dia reflek berlari untuk melihat apa yang terjadi, dia terlihat khawatir, dia berharap tidak terjadi apa-apa dengan Nuri.


Dewa membuka kamar mandi dengan kasar, dan diatas bak kamar mandi, dia melihat istrinya berjongkok disana hanya berbalut handuk sehingga mengekpos beberapa bagian tubuhnya, Dewa menelan ludahnya menyaksikan pemandangan indah tersebut, biar bagaimanapun, dia adalah laki-laki normal yang akan tergoda saat melihat komelekan tubuh wanita, apalagi wanita yang dia cintai, ingin rasanya dia meraih tubuh Nuri dan menggendongnya untuk membawanya ke kamar, tapi bentakan Nuri menyadarkannya dari dunia khayalnya.


"Kak Dewa, apa yang kak Dewa lakukan, usir kecoak itu cepat." Nuri menunjuk kecoak yang ada dilantai dengan geli.


Dewa bersyukur, karna gara-gara kecoak tersebut dia bisa melihat sebagian tubuh istrinya yang sebelumnya tidak pernah dia lihat.


"Kak Dewa, kok malah bengong sieh, bunuh kecoak itu, aku jijik."


"Iya iya, tunggu sebentar, kakak ambil sesuatu dulu."


"Cepatan kak."


Dewa mengambil obat serangga dan menyemprotkan benda cair tersebut ketubuh sik kecoak yang malang, sehingga pelan tapi pasti, kecoak itu mulai tidak sadarkan diri dan pada akhirnya mati.


"Sudah mati adek, sekarang turunlah."


"Buang dulu bangkai kecoaknya kak, aku jijik."


Dewa menyiramkan air dan bangkai keceok itu mengalir kepembuangan, "Nahh, sekarang ayok turun."


"Hmmm."


Dengan pelan Nuri turun dari bak mandi yang tidak terlalu tinggi. 


Saat dia akan berjalan, lantai kamar mandi yang licin karna tadi disiram membuatnya terpleset, Dewa yang melihat Nuri akan terjatuh dengan sigap menangkap tubuh Nuri, dan kini posisi mereka saling berdempetan satu sama lain tanpa adanya jarak dengan mata saling terpaut satu sama lain.


Nuri merasakan jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya apalagi saat matanya bersitatap dengan mata teduh Dewa, "Jantung gue, apa yang terjadi dengan jantung gue, kenapa detakannya sangat cepat dan tidak beraturan begini." batinnya.


"Gadis ini benar-benar begitu sangat cantik dengan kulitnya yang hitam manis." puji Dewa.


Mereka tetap pada posisi seperti itu untuk beberapa saat, sampai Nuri yang lebih dulu menarik tubuhnya menjauh, mereka berdua jadi salah tingkah.


"Aku…."


"Maaf…"


Mereka bicara bersaman.


"Aku kekamar dulu kak, aku mau siap-siap mau kuliah." 


Dewa mengangguk.


Begitu tiba dikamarnya, Nuri dengan cepat menutup pintu dan bersandar dipintu sembari memegang area dimana jantungnya berada.


"Apa yang terjadi dengan gue, kenapa jantung gue tidak normal seperti ini, dan mata itu, kenapa mata kak Dewa begitu teduh dan membuat gue merasa tenang saat menatapnya." Nuri bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang apa yang terjadi pada dirinya.


Sementara itu Dewa, dia menatap pintu kamar yang tertutup, bibirnya mengukir senyum saat mengingat apa yang terjadi barusan, itu untuk pertama kalinya dia memeluk tubuh istrinya, sehingga Dewa mengatakan, kecoak membawa berkah.

__ADS_1


****


__ADS_2