
"Ehh lo tahu gak kalau suami gue dicintai oleh wanita cantik." beritahu Nuri saat dia tengah berada dikantin bersama dengan kedua sahabat-sahabatnya.
"Ehh siapa emangnya yang suka sama kak Dewa, kok lo biasa aja sieh, gak marah atau gimana gitu." sahut Nuri.
"Mbak Angel."
"Angell, wanita yang lo ceritakan waktu itu bukan, yang lo bilang gadis cantik yang mau jadi teman lo itu." sambung Imel.
"Emang gue pernah bercerita tentang mbak Angel."
"Ya pernahlah, sebelum elo mengalami kecelakaan dan hilang ingatan."
"Jadi wanita itu suka sama suami lo Nur, kok bisa sieh."
Nuri kemudian menceritakan kepada kedua sahabatnya tentang persahabatan antara suaminya dan juga Angell.
"Friendzone nieh ceritanya." ujar Juli.
"Terus terus gimana." Imel kepo.
"Ya Dewa bilang sieh gak suka sama Angell, dia itu murni hanya nganggap mbak Angell sebagai sahabatnya doank, dia bilang, dia itu cintanya sama gue doank."
"Wiehh, beruntungnya ya elo Nurr, begitu sangat dicintai sama kak Dewa." Juli baper.
"Tapi gue gak suka anjirr, guekan gak cinta sama kak Dewa, malahan gue ingin kak Dewa dan mbak Angell bersama."
"Lo sinting emang ya Nur, kok bisa-bisanya lo ngomong gitu."
"Habisnya gimana donk, guekan beneran gak cinta sama Dewa."
"Nanti kalau beneran diambil sama sik Angell itu baru tahu rasa lho ya Nurr, nangis kejer deh lu."
"Gak bakalanlah, orang gue gak cinta."
"Lihat saja ntar, lo kayak sik panjull ini, bilangnya gak bakalan cinta sama kak Ari, ehh tahunya, pas kak Ari pergi, dia nangis kejer tuh selama 7 hari tujuh malam."
"Elahh, bisa gak lo Mell gak usah ungkit-ungkit masa lalu gue, yang pentingkan sekarang gue sama Ari udah bahagia."
"Ya gak ada salahnyakan Nur diungkit, tuh sebagai contoh untuk sik Nurdin itu."
"Kalau gue yah intinya tidak akan cinta sama Dewa dan tentu gue pasti bakalan senang kalau Dewa sama mbak Angell, guekan bisa bebas, gak ada yang ngekang."
"Perasaan kak Dewa tidak pernah ngekang lho, kak Dewa itu orangnya baik deh, selalu membiarkan elo melakukan apapun yang elo inginkan."
"Ya maksud gue, kalau gue cerai dan gak punya suami, gue bebas melakukan apapun yang gue inginkan."
"Perasaan ya lo dari kemarin ngebet banget deh pengen pisah."
"Ya habisnya sieh gue masih muda, ingin melakukan banyak hal dimasa muda gue."
__ADS_1
"Guekan juga udah nikah Nur, gue juga bisa melakukan banyak hal dimasa muda gue kayak gini."
"Ya tapi gue sama elo itu berbeda ya Mell, lo mencintai suami elo, kalau gue gak cinta sama Dewa, gue rasanya tersiksa gitu satu rumah sama dia."
"Pelan-pelanlah Nur, ntar juga lo bakalan jatuh cinta lagi sama kak Dewa." sahut Juli.
"Rasanya gue tetap sama pendirian gue, gue tetap ingin bercerai dengan Dewa." sepertinya Nuri memang mantap berpisah dengan Dewa.
"Terserah lo dah Nur, hidup-hidup lo, kalau gimana-gimana, lo sendiri yang bakalan menanggung akibatnya." seru Juli yang mulai kesal karna ternyata sahabatnya itu tidak mau mendengarkan nasehatnya.
*****
"Angelll, kamu akhir-akhir ini mama lihat selalu melamun nak, ada apa, cerita sama mama, kamu ada masalah ya." tanya mama Murni suatu sore saat melihat putrinya hanya duduk termenung ditaman belakang rumah besar mereka.
"Mama." gumam Angell saat melihat mamanya kini duduk dikursi yang ada disampingnya.
"Angell gak apa-apa kok ma." bohong Angell, dia tidak mungkin bercerita sama mamanya kalau saat ini dia tengah patah hati berat karna mengetahui kalau laki-laki yang dia cintai ternyata telah menikah.
"Beneran kamu tidak apa-apa." lisan mama Murni tidak percaya, pasalnya antara wajah dan juga ucapan benar-benar tidak sinkron, "Tapi kenapa wajah kamu selalu murung nak, dan kamu juga sering mama lihat melamun."
"Hmm, beneran ma, Angell tidak kenapa-napa, Angell hanya kefikiran masalah pekerjaan yang menumpuk saja." Angell berdusta, dia gak mau dirong-rong terus sama mamanya.
"Apa kamu ingin mama ngomong sama papamu supaya jangan memberikan pekerjaan yang banyak untukmu."
"Ehh jangan donk ma, diperusahan papakan Angell tetap hanya seorang karyawan papa, jadi meskipun aku adalah putrinya papa, ya gak boleh diperlakukan spesial juga."
Angell terkekeh mendengar kata-kata mamanya, "Ahh mama ini ada-ada saja, lagiankan Angell kerja untuk nyari pengalaman mama, toh pada akhirnya juga Angellkan yang akan mengambil alih perusahaan milik papa."
"Hmm, ya terserah kamulah Angell."
"Ohh ya Ngell, kok Dewa tidak pernah main ke rumah lagi ya."
Saat mamanya menyebut-nyebut tentang Dewa membuat dada Angell kembali sesak, "Sibuk dia ma."
"Kapan-kapan undang dia kemari ya Ngell untuk makan malam bersama."
"Suruh papa saja yang ngundang ma."
"Ya kamu donk yang ngasih tahu sayang, kamukan sahabatnya."
"Ya udah deh ma, nanti Angell kasih tahu dia, tapi kayaknya dia gak bakalan bisa ma, soalnya Dewa sibuk banget orangnya."
"Sesibuk-sibuknya dia, gak mungkinkan kerjanya sampai 24 jam."
"Hmm, baiklah ma, ntar Angell kasih tahu Dewa kalau mama mengundangnya untuk makan malam." ujar Angell pada akhirnya karna mamanya terus memintanya untuk mengajak Dewa untuk makan malam.
****
"Ishhh, ngapain sieh dia jemput gue, guekan bisa pulang sendiri." desis Nuri dalam hati saat melihat Dewa menunggunya didepan kamupus dengan motor bututnya yang dulu sering dia gunakan untuk menjemput Nuri.
__ADS_1
"Kak Dewa tuh Nur." tunjuk Imel.
Dewa kini melambaikan tangannya ke arah istrinya untuk menarik perhatian Nuri.
"Iya gue lihat."
"Kak Dewa manis banget ya Nur, dia masih nyempatin jemput elo padahal dia sibuk bekerja."
"Kalau gue jadi elo, gue pasti bakalan bersyukur banget kalau punya suami kayak kak Dewa Nur."
"Kalau lo sebegitu ngebetnya sama dia, ambil saja."
"Kalau gue gak punya suami, gue pasti dengan sangat senang hati mengambil kak Dewa dari lo." seru Imel yang membuat Nuri bungkam.
"Itu kak Dewa manggil-manggil lo sejak tadi, ayok gieh samperin." Juli menarik pergelangan tangan Nuri dan membawanya mendekati Dewa, sebenarnya kalau bisa, Nuri ingin kabur saja, tapi karna berhubung Dewa sudah melihatnya, jadi dia tidak mungkin melakukan hal itu.
"Hai adek." sapa Dewa begitu ketiga gadis remaja itu sudah ada didekat mereka.
"Hai kak Dewa." balas Juli dan Imel kompak, sedangkan Nuri hanya diam.
"Mau jemput istri tercinta nieh ceritanya kak Dewa." goda Imel.
"Ya begitulah dek." jawab Dewa menatap Nuri, yang ditatap malah membuang muka, hal itu membuat Dewa berusaha untuk memberi penguatan pada dirinya sendiri, "Sabar Dewa, menaklukkan hati Nuri memang butuh perjuangan sama seperti dulu." batinnya.
"Adek berdua pulangnya sama siapa."
"Kalau aku nanti dijemput sama sopir kak, kalau Juli nanti dijemput sama pacarnya yaitu kak Ari."
Dewa mengangguk.
"Kalau aku dan adek Nur duluan balik gak apa-apakan dek."
"Ohh tentu saja gak apa-apa kak."
"Ayok adek kita balik."
"Seharusnya kamu gak usah ngejemput aku, aku bisa pulang sendiri." Nuri menyuarakan isi hatinya.
"Sebagai seorang suami ya wajarkan kalau kakak menjemput adek."
"Udah sana naik gieh, syukur-syukur kak Dewa mau menjemput elo." timpal Imel.
"Hmmm." dengan terpaksa Nuri duduk diboncengan motor Dewa.
"Kami duluan ya dek, mari." pamit Dewa kepada kedua sahabat istrinya.
"Iya kak, hati-hati dijalan." Imel dan Juli melambaikan tangannya untuk melepas kepergian sahabat mereka.
****
__ADS_1