
Rumah sederhana yang dia dan Nuri tempati masih terang benderang saat Dewa tiba, dengan kunci cadangan yang dia pegang Dewa membuka pintu.
Dewa tersenyum saat melihat istrinya berbaring dengan mata terpejam disofa, kemungkinan Nuri tengah menunggu kepulangannya, padahal dia sudah meminta supaya Nuri tidak perlu menunggunya, tapi ternyata gadis itu menunggunya juga, dan itu membuat Dewa senang sekaligus terharu.
"Adek." Dewa berusaha membangunkan Nuri dengan mengguncang lengan Nuri pelan.
Kelopak mata Nuri bergerak pelan, dan dua detik kemudian, matanya terbuka dan menemukan wajah suaminya yang tersenyum manis kepadanya.
"Hai adekk." sapa Dewa.
Nuri tersenyum, memang ya, melihat orang yang kita cintai mampu membuat kita bahagia dan tersenyum, "Sudah pulang kak."
"Iya adek, kakak sudah pulang."
Nuri mengendus endus, dia seperti mencium bau sesuatu yang harum.
"Kenapa adekk." heran Dewa saat melihat Nuri mengendus-ngendus.
Nuri bangkit dari posisi berbaringnya, dia kemudian mencium pakaian Dewa, dari sanalah sumber harum yang dia cium barusan, wangi dari parfum perempuan.
"Adek kenapa sieh sebenarnya." Dewa mengerutkan kening heran melihat kelakuan sang istri.
Tanpa menjawab pertanyaan Dewa, Nuri berkata, "Kenapa baju kak Dewa harum, seperti harum parfum perempuan, kak Dewa selingkuh ya." Nuri malah main tuduh lagi tanpa filter.
"Astaga, ini pasti gara-gara Angell meluk aku deh, makanya bau parfumnya sampai ketinggalan dibajuku, Nuri jadi salah pahamkan jadinya." batinnya saat mengingat Angell memeluknya.
"Tentu saja tidak adek, kakak itu sangat mencintai adek, jadi tidak mungkin untuk kakak selingkuh."
"Bohong, buktinya pakaian kakak harum parfum perempuan." sanggah Nuri.
"Astaga adekk, apa sieh yang adek fikirkan, ini parfum yang biasa aku kenakan sehari-hari lho." Dewa berbohong, dia tidak mungkinkan mengakui kalau tadi dia peluk oleh Angell, meskipun dia tidak balas memeluk sieh, dia bahkan mendorong Angell saat gadis itu memeluknya, tapi meskipun Dewa cerita yang sebenarnya, sudah pasti Nuri tidak peduli dan akan tetap marah, wanita memang sifatnya pencemburu, oleh karna itu Dewa lebih memilih berbohong saja supaya aman.
"Jangan bohong kak Dewa, ini bukan bau parfum yang kak Dewa pakai sehari-hari, ini jelas bau parfum perempuan."
"Kenapa adek gak percaya sieh sama kakak, dan menuduh kakak yang tidak-tidak lagi."
Dan mata Nuri tidak sengaja terarah pada leher Dewa dimana bekas lipstik Angell tersisa disana, melihat bekas lipstik itu membuat mata Nuri melebar, dia semakin mendekat untuk melihat lebih dekat, Dewa semakin tidak mengerti sekarang, apalagi melihat Nuri yang semakin dekat seolah-olah mau mencium lehernya.
Nuri mengarahkan dua jarinya kebekas lipstik tersebut dan mendekatkan bekas lipstik yang tertempel dijarinya didepan matanya, sumpah Nuri sakit hati banget saat melihat bekas lipstik dilehernya Dewa, dadanya terasa sesak.
"Ini apa." Nuri memperlihatkan bekas lipstik dijarinya pada Dewa.
Dewa reflek memegang lehernya yang tadi dipegang oleh Nuri, dan dijarinya juga kini tertempel bekas lipstik.
"Ini bekas bibir siapa kak Dewa." tanya Nuri menuntut.
"Itu..itu bukan seperti yang adek fikirkan, itu hanya.." Dewa tidak tahu harus menjelaskan apa, dia saja tidak tahu kenapa bekas lipstik itu tiba-tiba ada dilehernya.
"Tidak bisa menjawabkan kak." tandas Nuri.
"Itu bukan apa-apa kok adek, percaya sama kakak ya." Dewa berusaha meraih tangan Nuri, sayangnya tangan Dewa langsung ditepis begitu saja oleh Nuri.
"Jangan sentuh aku, aku tidak sudi disentuh oleh laki-laki brengsek kayak kamu." Nuri meradang, dan setelah mengatakan hal tersebut, Nuri setengah berlari berjalan ke arah kamar, dan dengan membantingnya Nuri menutup pintu.
Menyadari Nuri marah atas hal yang tidak pernah dia lakukan, Dewa bangkit dan menyusul Nuri, dia ingin mencoba memberikan penjelasan pada Nuri, namun sayangnya, saat dia mendorong kenop pintu, pintu itu tidak bisa terbuka.
"Akhh yaTuhan, kenapa sieh dia ngambek atas apa yang tidak pernah aku lakukan." keluh Dewa.
__ADS_1
Tok
Tok
"Adekk, buka pintunya dek."
"Dasar laki-laki buaya, tidur saja sana diluar." terdengar suara teriakan Nuri dari dalam, "Aku tidak sudi tidur sama laki-laki tukang selingkuh kayak kakak." teriak Nuri dibarengi dengan tangisan.
"Astaga adek, apa sieh yang adek fikirkan, kakak tidak selingkuh adek."
"Tidak selingkuh dengkulmu, buktinya, pakaian kakak bau parfum perempuan, dileher kakak juga ada bekas ciuman perempuan, mau ngelak bagaimana lagi."
"Itu bukan yang seperti adek fikirkan dek." Dewa berusaha untuk menjelaskan, "Adek buka pintunya dulu ya adek, biar kakak bisa menjelaskan."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, kakak itu selingkuh, semua laki-laki sama, tukang selingkuh, brengsek, buaya darat, mati saja sana." umpat Nuri.
"Ya Tuhan, adek kok tega sieh ngata-ngatain kakak, kakak tidak seperti itu adek, kakak itu setia sama adek, dan kakak hanya mencintai adek." Dewa dengan sabar membujuk Nuri.
"Pembohong, kakak benar-benar pembohong, aku benci sama kakak, tidur saja diluar, aku tidak mau tidur dengan laki-laki pembohong kayak kakak."
Dewa hanya bisa mendesah pasrah, dia ingin menjelaskan semuanya, sayangnya Nuri yang tengah dikuasai oleh emosi tidak mau mendengarkannya dan malah mengata-ngatainya.
"Baiklah adek, tenangkanlah diri adek dulu, besok kalau adek sudah tenang kita bisa bicara baik-baik."
Tidak ada sahutan.
Dewa kemudian melangkahkan kakinya menuju sofa, malam ini terpaksa dia harus tidur disana lagi.
"Padahal aku ingin memeluk adek." Dewa menghembuskan nafas lelah.
****
"Dasar brengsek, semua laki-laki sama saja, tidak ada yang bisa dipercaya, lihat wanita bening dikit langsung matanya ijo, dasar menyebalkan." rutuknya.
Nuri memegang area dadanya yang terasa sesak, "Sakit hati kenapa rasanya sesakit ini sieh, nyesek."
Nuri mengambil ponselnya hanya untuk sekedar curhat sama kedua sahabatnya melalui chat.
Nuri : Obat sakit hati apa ya
Juli : Elo belum tidur dijam segini Nur
Sik Juli, emang agak lain dia, orang bertanya obat sakit hati apa, dia malah bertanya apakah belum tidur lagi, kalau ngechat berarti itu belum tidur panjull.
Imel : Kalau dia ngechat, berarti itu belum tidur donk panjull
Imel mewakili suara hati pembaca.
Juli : Maksud gue Cahyo, kenapa sik Nuri belum tidur dijam segini, ini udah hampir jam 12 malam lho.
Nahh, yang jelas donk kalau mau nanya.
Imel : Lo sendiri kenapa belum tidur
Juli : Lo juga kenapa belum tidur
Etdahh, dasar pada labil, malah yang dibahas kenapa belum tidur, gimana Nuri tidak kesal coba.
__ADS_1
Nuri : Sialan lo berdua, kenapa lo malah pada sibuk ngebahas tentang belum tidur, fokus doank sama pertanyaan gue.
Imel : Hehe, sorry Nur, iklan
Juli : Lo fikir TV pakai iklan segala
Imel : Jadi, lo lagi sakit hati Nur ceritanya
Juli : Emang kak Dewa selingkuh, kayaknya itu sangat mustahil terjadi, kak Dewa terlihat begitu sangat mencintai elo
Nuri : Emang sik brengsek itu selingkuh, gedek banget deh gue
Juli : Ehh, masak sieh
Imel : Masak kak Dewa selingkuh sieh, yang benar saja lo Nur
Nuri : Dihh, ngapain seih gue bohong, tahu tidak, dia bilangnya telat pulang karna dia diundang makan malam sama temannya, ehh tahunya pas pulang bajunya bau parfum perempuan, dan lo tahu tidak, parahnya lagi, lehernya dikecup oleh selingkuhannya itu sehingga meninggalkan bekas lipstik sik wanita selingkuhannya tersebut, gimana gue gak marah coba.
Curhat Nuri panjang pendek.
Juli : Masak kak Dewa seperti itu sieh, kok gue gak percaya ya
Imel : kak Dewa kelihatan kalem banget ya orangnya, gue saja gak percaya kalau kak Dewa selingkuh
Nuri : Kelihatan kalem belum tentu tidak selingkuh, emangnya, semua laki-laki didunia ini sama saja
Imel : Emang babe juga kayak gitu ya Nur
Nuri : Ya kecuali babe guelah
Juli : Terus kak Dewanya gimana Nur, gue yakin sieh ada penjelasan dari semua ini
Nuri : Apanya yang perlu dijelaskan sieh Jul, buktinya sudah sangat jelas begitu
Imel : Terus rencana lo apa sekarang
Nuri : Gue ingin cerai
Juli : Astagfirullah Nur, lo itu ya, sedikit-dikit bawaanya pengen cerai mulu, ya lo omongin dululah semuanya baik-baik dengan kak Dewa, masalah lo tidak langsung kelar dengan bercerai.
Nuri : Habisnya gimana, gue gedek banget sama dia
Juli : Elo mending bicara baik-baik dululah sama kak Dewa, siapa tahu ini cuma salah paham doank, gue takutnya kalau elo buru-buru ngambil keputusan, elonya ntar malah nyesel lagi
Nasehat Juli bijak.
Imel : Bener kata Juli Nur, ajak kak Dewa bicara baik-baik dulu, jangan emosian kayak gini donk elo
Nuri : Ishh, lo pada gak pernah ngerasiin bagaimana sakitnya diselingkuhin sieh
Juli : Ya emang gue tidak pernah diselingkuhin sieh, dan gak tahu gimana sakitnya, tapi Nur, gak ada salahnyakan lo selseiin semuanya baik-baik sama kak Dewa, gue hanya gak ingin lo menyesal nantinya Nur
Imel : Saran gue nieh untuk lo Nur, lo mending tidur saja gieh, pas bangun pasti dah tuh perasaan lo menjadi tenang dan bisa diajak kompromi
"Kalau bisa gua juga tidur sejak tadi Cahyo, sayangnya rasa sakit yang gue alami menolak untuk gue ajak pergi ke dunia mimpi." rutuk Nuri dalam hati, ini untuk pertamakalinya dia merasakan yang namanya sakit hati.
****
__ADS_1