
Ternyata pesta ulang tahun Tania diadakan di sebuah bar, ketiga gadis remaja yang sebelumnya tidak pernah ke bar sama sekali hanya bisa melongo dan tidak terbiasa dengan suasana bar yang berisik, apalagi dengan minuman beralkohol yang ditawarkan oleh para pelayan.
"Hai ladies." sapa Tania yang berulang tahun merangkul bahu Nuri dan Juli dari belakang, "Jangan kaku kayak gini donk, nikmati pestanya, gue udah ngeboking nieh bar, jadi, lo minum apa saja bebas." beritahu Tania tanpa rasa berdosa sedikitpun.
"Kami tidak minum Tan." tolak Juli yang membuat Tania tertawa ngakak.
Baik Nuri, Juli dan juga Imel saling melempar pandangan satu sama lain, mereka sama-sama tidak mengerti kenapa tiba-tiba Tania tiba-tiba tertawa.
"Juli Juli." Tania menggeleng, "Lucu banget sieh lo, masak anak Jakarta tidak minum sieh, rugi banget, lagian minuman itu akan membuat fikiran lo plong, dan masalah lo juga bisa lo bisa terlupakan, jadi, lo bertiga bisa mencobanya, percaya sama gue, setelah sekali minum, lo pasti pada bakalan ketagihan."
Tapi jelas saja mereka bertiga tidak terpengaruh dengan kata-kata Tania, biar bagaimanapun, mereka takut Tuhan dan juga dosa.
"Kami pesan minuman bersoda sajalah Tan." ujar Imel.
"Hmm, baiklah terserah kalian saja." desah Tania pada akhirnya karna tidak berhasil membujuk ketiga teman kelasnya tersebut untuk minum minuman beralkohol meskipun hanya sekedar untuk mencicipi saja.
"Mas." Tania melambaikan tangannya pada pramusaji bar, "Bawakan ketiga teman saya ini minuman bersoda."
__ADS_1
"Baik nona." pramusaji itu mengangguk patuh.
"Oke, kalau kalian siap, kalian bisa turun ke lantai dansa, nikamti pestnya, have fun." ucap Tania yang suaranya bisa bersaing dengan musik yang mengalun keras yang mendominasi ruangan tersebut.
Ketiga sahabat itu hanya mengangguk untuk menjawab kata-kata Tania, padahal dalam hati, mereka tidak akan bergabung dengan orang-orang yang tengah menari dilantai dansa tersebut, selain tidak bisa, mereka juga tidak bisa membayangkan kalau tubuh mereka digrepe-***** oleh orang asing, membayangkannya saja mereka bergidik ngeri.
"Oke, gue duluan." pamit Tania dan berjalan ke lantai dansa, gadis itu melenggak-lenggokkan tubuhnya dengan lincah mengikuti irama musik yang mengalun.
"Sial, tahu gini pestanya gue ogah datang, bisa digantung gue sama kak Agus kalau gue mendatangi pesta untuk anak-anak nakal kayak gini." desah Juli, sebenarnya, begitu sampai, Juli sudah ingin langsung pulang saja, tapi gak enak dia sama Tania, jadilah akhirnya dia masih dibar tersebut bersama Imel dan juga Nuri.
"Gue juga, gue rasa, tempat seperti ini bukan tempat kita." Imel menimpali.
"Ntar dululah Nur, tunggu lima belas menit lagi, gak enakkan sama Tanianya."
"Iya lo benar Jul."
Seorang pramusaji mengantarkan tiga botol soda pada mereka, "Silahkan nona."
__ADS_1
Mereka bertiga masing-masing meraih botol yang isinya adalah minuman bersoda tersebut.
Seorang laki-laki yang berpakain serba hitam mendekat ke arah tiga remaja tersebut, setelah tiba didepan, barulah ketiga remaja itu mengenali laki-laki yang memakai pakain serba hitam tersebut, dia adalah Ari kekasihnya Juli, tadi dia tidak bisa mengantar Juli karna ada keperluan.
"Ari." gumam Juli kaget saat melihat kekasihnya kini ada didepan matanya.
"Pulang, tempat ini tidak baik untuk perempuan baik-baik seperti kalian." peringat Ari tanpa basa-basi.
Mereka mengangguk setuju.
"Ayok Jul kita balik duluan."
"Baiklah." Juli akhirnya menyerah, dia sudah tidak tahan lagi sehingga pada akhirnya dia memilih untuk pulang lebih dulu saat Ari mengajaknya untuk pulang.
"Gue balik duluan dah ya, sumpah kepala gue rasanya mau pecah mendengar suara musik yang memekakkan telinga." pamitnya kepada kedua sahabatnya.
"Iya, gue juga bakalan pulang, gue sudah mengirim pesan sama Qianu untuk menjemput gue." sahut Imel.
__ADS_1
"Iya, gue juga, gue benar-benar gak nyaman ditempat seperti ini." timpal Nuri, dia tidak menelpon Dewa untuk menjemputnya, dia akan naik taksi online saja.
****