SUAMIKU TERNYATA PRESDIR

SUAMIKU TERNYATA PRESDIR
PULANG DARI RUMAH SAKIT


__ADS_3

Sebelum benar-benar keluar menemui Dewa, Angel menguatkan dirinya terlebih dahulu, "Oke Angell, tunjukkan wajah yang ceria, senyum manis, tunjukkan sama Dewa kalau kamu baik-baik saja." Angell melengkungkan bibirnya untuk melatih senyum dibibirnya.


"Oke, aku sudah siap menemui Dewa." Angel mengehembuskan nafas panjang sebelum membuka pinta kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu dimana Dewa tengah menunggunya saat ini.


"Nahh, itu dia Angell." tunjuk Diana saat melihat sahabatnya itu berjalan ke arah mereka.


Dewa yang posisi duduknya membelakangi arah kedatangan Angel menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Diana, dan ada kelegaan dihati Dewa saat melihat kalau sahabatnya itu terlihat baik-baik saja.


"Syukurlah Angell baik-baik saja." batinnya.


Dewa tersenyum menyambut sahabatnya itu, begitu juga dengan Angel yang juga balik tersenyum, bedanya adalah, Dewa benar-benar tersenyum, sedangkan Angel, senyumnya begitu sangat dipaksakan, sebenarnya dalam hati dia begitu sangat sedih, sedih karna laki-laki yang mencarinya itu telah menolak cintanya, tambah sedih lagi saat mengingat kalau laki-laki itu kini memiliki kekasih.


"Ya Tuhan, sakit banget hatiku." terbayang dibenak Angell kebahagian Dewa dan kekasihnya, dan itu membuatnya sakit hati dan menangis pilu dalam hati, "Oke Angell, kamu yang kuat, jangan menangis oke, jangan sampai kamu menangis didepan Dewa."


"Hai Wa." Angel menyapa begitu sudah berada didekat Dewa dan mengambil tempat duduk agak berjauhan dengan Dewa.


"Hai Ngell." balas Dewa.


"Kalian ngobrol dululah ya, aku bikin minum dulu." intrufsi Diana, Diana sadar diri kalau dua orang ini butuh privasi untuk bicara berdua, dan dia tidak seharusnya dia berada diantara mereka.


"Sorry ya Diana kalau aku ngerepotin kamu." sungkan Dewa.


"Ohh tentu saja donk Wa, aku gak repot." sahut Diana yang kemudian berlalu ke dapur.


"Kamu ngapain nyari aku Wa." tanya Angell begitu Diana sudah pergi.


"Gak ada hal yang penting sieh sebenarnya, cuma mau mastiin apakah kamu baik-baik saja Ngell."


Angell menjawab dalam hati, "Tentu saja aku tidak baik-baik saja, mana ada cewek yang baik-baik saja setelah cintanya ditolak Dewa." namun yang diucapkan dilisan adalah, "Tentu saja aku baik-baik saja Wa." disertai dengan senyum lebar dan palsu.


"Syukurlah, senang aku dengarnya."


Setelah itu hening, gak ada yang buka suara, sampai kemudian Diana kembali ke ruang tamu dengan mambawa nampan berisi teh untuk Dewa dan Angell.


"Terimakasih Di." ujar Dewa.


"Santai aja Wa."


Sebelum berlalu dari sana, Diana berpesan, "Jangan lupa diminum ya Wa."


"Pasti." setelah itu, Diana kembali meninggalkan Dewa dan Angell.


"Angell, aku harap, hubungan kita tidak akan berubah dan tetap seperti dulu." imbuh Dewa setelah agak lama terdiam.


"Iya Wa, seharusnya aku yang mengatakan hal itu ke kamu, aku harap kamu tidak risih denganku setelah pernyataan cintaku itu."


Dewa tersenyum, "Tentu saja tidak Angell, kamu adalah sahabat terbaikku, aku yakin kamu pasti akan dapat laki-laki yang baik."


Angell hanya mengangguk, "Tapi aku hanya menginginkan kamu Dewa, dan aku yakin suatu saat kamu pasti akan membuka hatimu untukku, aku akan bersabar untuk itu."


"Wa, bolehkah aku bertemu dengan wanita yang kamu cintai itu." tentu saja Angell ingin bertemu dengan perempuan yang telah membuat Dewa jatuh cinta, dia ingin tahu apa kelebihan gadis itu sehingga membuat Dewa mencintainya, Angell juga ingin tahu, secantik apa seih wanita yang saat ini berstatus sebagai kekasihnya Dewa itu.


"Tentu saja Angell, aku pasti akan memperkenalkannya dengan kamu."


"Dia pasti sangat cantik banget ya Wa sampai kamu begitu sangat mencintainya."


Dewa tidak menjawab pertanyaan Angell secara lisan, tapi dia menjawab dengan sebuah senyuman, senyuman itu jelas menggambarkan betapa cintanya Dewa dengan wanita itu, dan melihat hal tersebut membuat Angell kembali merasakan sakit.


"Sebenarnya kalau mau jujur, kamu jelas lebih cantik Angell, tapi bukan cantiknya yang membuat aku jatuh cinta padanya, dia itu berbeda dan spesial untukku." kata-kata yang hanya diucapkan oleh Dewa dalam hati.


"Sialan, sakit banget hatiku, kenapa sieh Tuhan begitu sangat tidak adil kepadaku begini, buat apa Tuhan menciptakan rasa cinta kalau tidak berbalas seperti ini." suara hati Angell.


Dan setelah mengobrol beberapa saat, Dewa akhirnya permisi pulang, Angell mengantarkan sampai depan pintu.


"Aku pergi dulu Ngell."


"Hati-hati dijalan Wa."


"Pasti, karna ada seseorang yang sedang menungguku." ucap Dewa santai, dia gak tahu apa kalau kata-katanya itu menyakiti Angell, saking sakitnya sampai Angell reflek memegang dadanya.


*****


Setelah lebih dari seminggu dirawat dirumah sakit, kini Nuri sudah diizinkan untuk pulang oleh dokter, Nuri sangat senang mendengar hal tersebut karna dia juga sudah sangat bosan berada dirumah sakit, dia bosan mencium bau obat setiap hari.


Secara fisik memang Nuri sudah sehat wal'afiat, hanya ingatannya saja yang belum kembali, tapi dokter bilang, ingatan Nuri bisa kembali seiring dengan berjalannya waku.

__ADS_1


Ibu Nurjanah membereskan beberapa barang yang akan dibawa pulang, sedangkan babe Rojali duduk disofa, sedangkan Nuri terlihat begitu antusias karna sudah diizinkan untuk pulang, dia sudah tidak sabar untuk pulang.


"Bu, aku pulang ke rumah ibu dan babe ya."


Ibu Nurjanah dan babe Rojali kompak menoleh ke arah putrinya itu.


"Kamu sudah menikah Nuri, ya kamu pulang ke rumah suami kamulah." balas ibu Nurjanah tidak setuju dengan keinginan putrinya itu.


"Tapi ibu, aku gak mau tinggal sama Dewa, aku mau tinggal sama ibu dan babe." ngototnya kayak anak kecil.


Babe Rojali nyahut, "Mana bisa begitu Nur, kamu bukan lagi menjadi tanggungan kami, kami itu adalah tanggung jawab suamimu sekarang, jadi kamu harus pulang ke rumahnya Dewa." tandas babe Rojali tidak bisa dibantah.


"Hmmm." dengusnya tidak rela karna dia tidak bisa membantah babe Rojali, karna babenya itu sangat menyeramkan kalau lagi marah.


Setelah melihat ibunya selesai berkemas, Nuri mengajak ibunya untuk segera pulang, "Bu, kita pulang sekarang."


"Tunggu dulu Nur, kita tungguin nak Dewa dulu."


"Ngapain sieh kita nunggu dia bu, aku sudah tidak tahan nieh disini."


"Nur, bisa tidak kamu jangan seperti anak kecil begitu, sejak tadi kerjaanmu merengek dan membantah saja." tegur babe Rojali, dia lama-lama ingin marah juga dengan kelakuan putrinya tersebut.


Nuri langsung bungkam dan tidak banyak tingkah lagi.


"Biar ibu telpon nak Dewa dulu Nur untuk menanyakan dimana dia sekarang." ibu Nurjanah mengeluarkan ponsel jadulnya dari dalam tas mungilnya dan menghubungi menantunya.


"Assalamualaikum nak Dewa." sapa bu Nurjanah saat panggilan terhubung.


"Walaikumusslam ibu."


"Kamu dimana sekarang nak, Nuri sudah tidak sabar ingin segera pulang." beritahunya.


"Ohh iya ibu, ini aku lagi dalam perjalanan, suruh adek Nuri tunggu sebentar ya ibu, aku sebentar lagi sampai kok bu."


"Baiklah nak Dewa, jangan terburu-buru hanya karna Nuri ingin segera pulang, pelan-pelan saja ya nak bawa motornya." ibu Nurjanah berfikir kalau menantunya saat ini tengah mengendarai motor.


"Iya ibu, ibu tidak perlu khawatir."


Setelah itu ibu Nurjanah mengakhiri sambungan.


"Hmm, ya terpaksalah harus ditunggu, pasalnya kalau gak ditunggu, babe bisa ngamuk dan ngasih ceramah panjang lebar." batinnya kesal.


****


"Maaf be, bu, adek kalau saya lama, kalian sudah lama ya nunggunya." ujar Dewa merasa tidak enak saat memasuki ruangan dimana selama ini Nuri dirawat.


"Gak apa-apa nak Dewa, jangan merasa bersalah begitu."


"Untuk pulangnya, kita naik taksi saja ya, biar ibu pesan taksi online." saran ibu Nurjanah.


"Gak usah bu, Dewa bawa mobil kok."


"Nak Dewa bawa mobil."


"Iya ibu, dikasih minjem sama teman karna adek hari ini mau pulang."


"Ohh."


"Ya udah, ayok sebaiknya kita pulang sekarang, adekkan sudah tidak sabar ingin pulang." ajak Dewa yang diangguki oleh ayah dan ibu mertuanya, sedangkan Nuri, gadis itu sejak tadi kerjaannya cembrut mulu deh.


Sebelum keluar, Dewa mengambil alih tas yang dibawa oleh ibu mertuanya.


"Sini ibu biar aku saja yang bawa tasnya."


"Terimakasih ya nak Dewa."


Dewa hanya mengangguk dan berjalan mengekor dibelakang ayah dan ibu mertuanya dengan Nuri tepat berada disampingnya, Dewa meraih tangan Nuri untuk menggandeng istrinya itu, sayangnya, Nuri menepis tangan Dewa.


"Jangan pegang-pegang, aku tidak suka." desisnya yang hanya bisa didengar oleh Dewa.


****


Malamnya, rasanya sangat asing sekarang, semuanya kembali pada kehidupan awal saat mereka baru pertamakali menikah, Nuri tidak ingin sekamar dan menyuruh Dewa untuk tidur disofa, karna tidak bisa berbuat apa-apa, terpaksa Dewa mengikuti keinginan Nuri.


Tok

__ADS_1


Tok


Dewa mengetuk pintu kamar, "Adek, ayok keluar adek, kita makan bersama, kakak sudah beli nasi goreng kesukaan adek ditempat kita biasa membelinya."


Pintu dibuka dari dalam yang memampangkan wajah bete Nuri, "Apan sieh ganggu saja."


"Makan malam adek."


"Aku gak lapar, kamu saja sana yang makan."


"Dekk, adek harus makan, ntar sakit lagi lho." bujuk Dewa dengan sabar.


"Hmmm, baiklah." dengusnya kasar.


Bukannya duduk untuk makan sama-sama, Nuri malah mengambil piring yang berisi nasi goreng dan membawanya kembali ke kamarnya.


"Adek, adek mau kemana."


"Aku mau makan dikamar saja." jawabnya dilisan, "Malas banget tahu gak makan bereng kamu, bikin moodku rusak saja." tambahnya dalam hati sambil berlalu meninggalkan Dewa yang hanya bisa menatap istrinya sembari meluaskan rasa sabarnya.


"Sabar Dewa, sabar, ini namanya cobaan hidup." sambil mengelus dadanya, "Kalau ingatan Nuri kembali, dia pasti akan kembali seperti semula."


****


Hari-hari berlalu, dan semuanya tidak berjalan normal, tidak berjalan normal untuk Dewa maksudnya, dia seringkali uring-uringan karna sikap Nuri yang sering mengabaikannya saat dirumah, itu membuatnya kesal, marah dan emosi, namun tentunya hal tersebut tidak Dewa tunjukkan didepan Nuri saking cintanya dia sama istrinya itu, Dewa sering melampiaskannya rasa marah dan kesalnya dengan bekerja dan bekerja, hal itu ternyata ampuh untuk membuat emosinya sedikit mereda.


Dilain pihak, Nuri terlihat biasa saja dan menjalani kehidupannya dengan normal, dia bahkan sudah mulai masuk kuliah, kadang dia sering jalan dan menghabiskan waktu bersama dengan kedua sahabatnya, intinya, Nuri tidak tampak seperti orang hilang ingatan karna sikapnya masih seperti dulu saat bersama dengan orang tuanya dan juga teman-temannya, hanya pada Dewa saja dia bersikap ketus dan jutek.


Dan hari ini, setelah menghabiskan waktu bersama dengan kedua sahabatnya dengan jalan-jalan dimall, Nuri memutuskan untuk pulang dengan menaiki ojek online, saat tiba dirumah Dewa, dan bertepatan dengan itu sebuah mobil mewah juga berhenti didepan rumahnya.


Nuri bertanya-tanya dalam hati sembari matanya tidak lepas memperhatikan mobil tersebut, "Siapa itu, kenapa tuh orang menghentikan mobilnya didepan rumahku."


Seorang gadis cantik keluar dari mobil dan tersenyum ke arahnya, wanita cantik itu adalah Angell, wanita itu sengaja nyamperin Nuri ke rumahnya karna nomer Nuri tidak pernah aktif lagi, gimana mau aktif, waktu kecelakaan, ponsel Nuri rusak, sehingga Dewa memutuskan untuk membelikan Nuri ponsel baru dan sekalian juga mengganti kartunya sehingga wajar saja kalau Angell tidak bisa menghubungi Nuri.


Nuri yang hilang ingatan tentu saja tidak ingat dengan Angell, "Siapa sieh gadis cantik itu, kenapa dia tiba-tiba datang kerumah dan senyum kepadaku, apa dia kenal dengan aku kali ya, atau mungkin dia temanku, tapi gak mungkin, kalau dia adalah temanku, kenapa dia gak menjenguk aku saat dirumah sakit." saat beberapa pertanyaan berseliweran dikepala Nuri, Angell berjalan mendekatinya.


"Adekk." sapa Angell, gadis itu langsung memeluk Nuri.


Nuri hanya bisa terpaku, dia masih belum tahu siapa gadis yang memeluknya itu sehingga tentu saja dia tidak membalas pelukan dari Angell.


"Kenapa nomer kamu gak pernah aktif huh, mbak sering banget lho hubungin kamu." cecar Angell begitu dia mengurai pelukannya.


"Maaf, mbak siapa ya."


Angell memicingkan matanya saat mendengar pertanyaan Angel, "Ini aku adek, mbak Angell, masak kamu gak inget mbak sieh dek." 


"Mmmm, aku minta maaf sebelumnya kalau aku tidak ingat sama mbak Angell, tapi aku baru mengalami kecelakaan dan itu membuatku hilang ingatan." Nuri menjelaskan.


"Hahh." kaget donk Angell mendengar berita tersebut, "Yang benar dek, adek habis kecelakaan dan adek hilang ingatan."


Nuri mengangguk.


"Oh ya ampun, kasihan sekali kamu."


"Maaf sekali lagi mbak, mbak sebenarnya siapa ya."


Angell terkekeh, "Hmm, berarti aku harus memperkenalkan diriku untuk yang kedua kalinya ya."


Nuri tersenyum mendengar ucapan Angell.


"Oke baiklah, perkenalkan adek, aku adalah Angell, sebelum kamu hilang ingatan, kita adalah teman, sering curhat dan berbagi cerita."


"Maafkan aku mbak kalau aku tidak bisa mengingat mbak Angell."


"Tidak masalah Nur, yang pentingkan sekarang kita sudah kembali bertemankan."


Nuri mengangguk.


"Masuk dulu yuk mbak." ajak Nuri ramah, "Tapi maaf ya kak, rumahnya memang sederhana." Nuri merendah.


"Tidak masalah adek."


Memang sejak sebelum Nuri kecelakaan mereka itu memang sudah akrab, dan sekarangpun mereka akrab, dua wanita itu membicarakan tentang banyak hal, bahkan Angel menceritakan


tentang dirinya yang baru saja mendapatkan penolakan dari laki-laki yang disukainya, reaksi Nuri sama seperti Diana, dia tidak percaya wanita secantik Angel mendapat penolakan.

__ADS_1


****


__ADS_2