SUAMIKU TERNYATA PRESDIR

SUAMIKU TERNYATA PRESDIR
SAKIT HATI


__ADS_3

"Si...si apa, wanita itu Wa." suara Angel terdengar bergetar, dia sangat berusaha untuk membuat dirinya untuk bersikap normal, tapi sayangnya tidak bisa, itu terlihat dari raut wajahnya yang susah payah menahan tangis.


"Walaupun aku kasih tahu, kamu tidak akan tahu."


"Apa kamu sangat mencintainya." ini adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk ditanyakan sebenarnya, namun dengan menguatkan diri akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari bibirnya.


Dewa mengangguk untuk menjawab pertanyaan Angel tersebut, sebenarnya Dewa ingin mengatakan kalau dia begitu sangat mencintai Nuri, tapi Dewa sadar kalau kalimat itu pasti akan sangat melukai Angel.


"Apa yang dilakukan oleh wanita itu sampai membuat Dewa mencintainya, apa yang tidak aku miliki yang dimiliki oleh wanita itu." pertanyaan yang biasanya selalu ditanyakan oleh seorang wanita dalam benaknya.


"Ya Tuhan, begini ternyata rasanya sakit hati karna ditolak, benar-benar sakit Tuhan, tolong aku, aku gak kuat rasanya." Angel merintih dalam hati.


"Angel, sekali lagi aku benar-benar minta maaf karna aku tidak bisa menerima perasaan kamu."


Angel mengangguk, "Kamu tidak marahkan Wa, kamu tidak membencikukan Wa karna aku mencintaimu selama ini dan dengan lancangnya menyatakan perasaanku kepadamu, apa kita masih bisa bersahabatkan Wa." Angel dengan susah payah mengatakan kalimat tersebut, sesungguhnya dia tidak ingin bersahabat dengan Dewa, dia ingin memiliki Dewa, karna Angel berfikir, suatu saat pasti hubungan Dewa dengan kekasihnya itu akan berakhir, dan disaat itulah Angel akan masuk dan akan mengambil hati Dewa, laki-laki yang sejak dulu dia cintai.


"Tentu saja Angel, mana mungkin aku marah apalagi membenci sahabat aku ini, sahabat aku yang paling baik dan cantik ini, kamu itu sangat cantik kamu tahu, bukalah hatimu untuk laki-laki lain, karna sangat banyak laki-laki yang jauh lebih baik daripada aku yang mengharapkan cintamu."


Angel mengangguk, dia sangat berusaha untuk menahan air matanya supaya tidak tumpah ruah.


"Percuma saja aku cantik Wa kalau kamu tidak mencintaiku, yang aku inginkan itu adalah kamu, bukan laki-laki lain." jerit bathin Angel menangis histeris didalam.


"Wa, aku sebaiknya pulang, aku takut mama nyariin aku." saat ini yang Angel inginkan adalah jauh-jauh dari Dewa supaya dia bisa menangis sepuas-puasnya, dia berfikir dengan menangis bisa sedikit meredakan rasa sesak yang menghimpit dadanya yang membuatnya kesulitan bernafas untuk saat ini.


Angel berdiri, dia bersiap untuk pergi, namun Dewa langsung menahannya, "Aku antar."


Angel dengan cepat menolak, "Gak usah, aku naik taksi saja." setelah mengatakan hal tersebut tanpa menunggu jawaban Dewa, Angel langsung berbalik dan pergi menuju pintu keluar cafe dengan tergesa-gesa.


Dewa tahu Angel sakit hati, siapa sieh yang tidak sakit kalau ditolak, dulu saja saat Nuri sering menolaknya diawal-awal Dewa juga merasakan sakit, namun karna dia benar-benar mencintai Nuri, dia berjanji apapun yang terjadi harus bisa untuk mendapatkan Nuri, dan usaha tidak mengkhianati hasil, pada akhirnya dia berhasil juga menaklukkan Nuri, dan pada saat mereka lagi cinta-cintanya, ehh musibah menimpa kebahagian mereka, Nuri kecelakaan dan mengalami lupa ingatan yang membuat gadis itu tidak bisa mengingat Dewa sampai saat ini.


Dewa bangkit dan berusaha untuk mengejar Angel, dia yang harus mengantarkan Angel dan memastikannya sampai rumah dengan aman, "Angell, tunggu." teriaknya.


Entah didengar atau tidak, tapi Angel terus berjalan tanpa menoleh kebelakang, saat ini pelupuk matanya sudah digenangi oleh air mata, dan sebentar lagi sepertinya sudah siap untuk meluncur.


"Angelll, tunggu." Dewa terus berteriak berharap Angel berhenti dan menoleh.


Angel terus berjalan tanpa menghiraukan siapapun, kini bendungan yang sejak tadi ditahan jebol sehingga membentuk anak sungai dipipinya, saat melewati parkiran untuk menuju jalan raya untuk menyetop taksi, Angel berpapasan dengan Denis.


"Nona, pak Dewanya...." Denis langsung menghentikan ucapannya saat melihat wajah Angel.


Angel sendiri terus berjalan dan tidak menghiraukan Denis sama sekali.


Denis hanya menggaruk kepalanya dan bertanya pada dirinya sendiri, "Kenapa nona Angel menangis ya, apa yang dilakukan oleh pak Dewa kepadanya."


Dan kebetulan saat itu Denis melihat bossnya berjalan dengan tergesa-gesa, sebelum Denis sempat bertanya, Dewa lebih dulu bertanya, "Den, kamu lihat Angel gak."


"Iya pak, nona Angel berjalan ke luar area cafe."


"Kenapa tidak kamu cegah Denis." Dewa menyalahkan Denis, dia kembali mempercepat langkahnya untuk mengejar Angel, dia berharap gadis itu belum pergi.


"Ini ada apa sieh sebenarnya." Denis makin bingung, "Tadi nona Angel keluar nangis-nangis, dan pak Dewa mengejarnya dan terlihat khawatir." seharusnya sieh Denis gak perlu bingung-bingung begitu juga kali, toh itukan bukan urusannya juga, tapi ya begitulah yang namanya manusia, selalu ikut ambil pusing dengan urusan orang lain.


Gak lama Dewa kembali, "Nona Angel mana pak Dewa."


"Sudah pergi."


"Terus, sekarang bagimana pak."


"Antarkan saya kerumah sakit, saya harus melihat keadaan istri saya."

__ADS_1


"Baik pak Dewa."


Denis sebenarnya ingin bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi antara bossnya itu dengan Angel, tapi melihat raut wajah sang boss yang terlihat gusar dia mengurungkan niatnya, lebih baik rasa ingin tahunya dia pendam saja daripada kena semprot, karna wajah bossnya saat ini sudah seperti ingin nelan orang saja.


*****


Angel memilih datang ke apartmen sahabatnya daripada pulang ke rumah orang tuanya, melihat kondisinya yang seperti ini pasti akan membuat mama dan papanya khawatir dan bertanya kenapa dia bisa seperti ini, dia tidak mungkinkan mengatakan pada kedua orang tuanya kalau wajahnya terlihat tidak layak begini hanya karna cintanya ditolak oleh Dewa, laki-laki yang sudah dianggap anak sendiri oleh kedua orang tuanya.


Karna rasa sakit yang dia rasakan sepertinya tidak akan hilang dalam hitungan jam, sehingga Angel memutuskan untuk menginap diapartmen Diana yang merupakan sahabatnya sejak SMA, dia juga mengechat mamanya untuk memberitahukan rencananya tersebut, karna mamanya kenal dengan Diana, mamanya tidak keberatan kalau Angel menginap diapartmennya Diana.


Ting tong


Angel memencet bell saat tiba didepan apartmen Diana, Angel menunggu beberapa saat sebelum pintu apartmen sahabatnya itu terbuka.


"Ngell." Diana kaget melihat kondisi Angel, Angel yang dikenalnya perfeksionis dalam hal penampilan itu kini terlihat acak-acakan dengan mata sembab, Angel benar-benar berhasil membuat Diana kaget.


Angel tadi sempat memberitahukan niatnya kepada Diana untuk menginap tanpa mengatakan alasannya.


"Ayok masuk Ngel." Diana mempersilahkan Angel memasuki apartmennya dengan menggeser tubuhnya supaya Angel bisa masuk.


"Duduk dulu Ngell, aku bikinin kamu minum dulu supaya kamu tenang."


Angel hanya mengangguk, sedangkan Diana bergegas kedapur, hati gadis itu masih diliputi tanda tanya besar, dia bertanya-tanya kenapa sampai sahabatnya itu terlihat begitu sedih dan berantakan begitu, "Apa jangan-jangan mama dan papanya bercerai kali ya." itu yang ada difikirannya Diana, sedikitpun gadis itu tidak pernah berfikir kalau sahabatnya itu telah ditolak, ya tidak mungkin dia berfikir begitu mengingat Angel begitu sangat cantik, banyak laki-laki yang menginginkannya, Diana berfikir, dengan kesempurnaan fisik yang dimiliki oleh sahabatnya membuat Angel bisa mendapatkan laki-laki yang dia inginkan, nyatanyakan tidak, kecantikan fisik tidak selamanya membuat laki-laki tertarik pada seorang wanita.


"Astaga apa sieh yang aku fikirkan." Diana yang saat ini tengah mengaduk teh hangat memukul keningnya pelan karna dia merasa fikirannya ngelantur, "Kenapa aku bisa-bisanya berfikir kalau om dan tante bercerai."


Diana keluar dengan membawa teh yang dibuatkan untuk Angel, Diana bisa melihat wanita itu kini menangis, berulangkali Angel mengusap air matanya dengan tangan kosong, padahalkan ada tisu didepannya.


Diana meletakkan nampan yang dibawanya didepan Angel, "Minum dulu Ngell agar kamu tenang."


Angel mengangguk, tangannya meraih cangkir berisi air berwarna coklat tua itu lalu mengarahkannya ke bibirnya.


"Pelan-pelan Ngel, masih panas itu."


"Ehh busett sik Angel, dia gak kepanasan sama sekali main sruput saja."


Ya mungkin karna sakit hati kali ya sehingga Angel sama sekali tidak merasakan panas dari teh tersebut, padahal tuh teh masih mengepulkan uap panas.


Saat melihat Angel sudah lebih tenang, Diana mulai bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, apa yang membuat Angel yang biasanya cantik paripurna kini terlihat berantakan, "Angel, apa yang sebenarnya terjadi hem, apa kamu mau cerita." lisan Diana pelan.


Angel tidak langsung menjawab pertanyaan sahabatnya itu, dia kembali menyeruput tehnya yang masih tersisa, Diana dengan sabar menunggu sahabatnya itu untuk bercerita, dia tahu, Angel ke apartmennya bukan hanya untuk menginap saja, tapi juga untuk mencurhatkan apa yang saat ini tengah dia alami.


Setelah agak lama terdiam dan merasa tenang, barulah kemudian Angel buka suara, "Kamu percaya gak Di kalau aku ditolak oleh cowok."


Diana tentu saja menggeleng saat mendengar apa yang dikatakan oleh Angel, baginya, mustahil ada cowok yang menolak seorang Angel yang sempurna, udah cantiknya paripurna, baik hatinya, berpendidikan tinggi, berasal dari keluarga kaya dan terpandang, pokoknya secara lahiriah, Angel itu sempurna deh, fikir Diana, hanya cowok bodoh yang menolak Angel.


"Tidak ada yang mungkin bisa menolak kamu Ngel, kamu itu sempurna." Diana menyuarakan isi hatinya.


"Tapi nyatanya aku ditolak Di."


"Hah." ya kagetlah sik Diana, "Kamu bercanda ini pasti Ngell."


Angell menggeleng, "Faktanya aku beneran ditolak Di." suara Angel terdengar lemah.


"Siapa yang begitu bodoh menolak Angell, apa tuh cowok gangguan jiwa kali."


"Siapa yang menolak kamu Ngell." Diana jadi penasaran, sipakah gerangan laki-laki yang telah menolak Angell, Diana jadi berfikir, mungkin tuh orang standar pacarnya adalah Jiso blackpink.


"Dewa."

__ADS_1


"Dewa." ulang Diana, "Dewa yang sering kamu ceritakan saat masih SMA yang juga merupakan sahabatmu itu." Diana mengkonfirmasi apakah benar Dewa itu yang dimaksud oleh Angell.


Angel mengangguk


Diana ingat Dewa, teman seangkatan mereka saat SMA, yang Diana tahu kalau Angel dan Dewa bersahabat, dan karna dia bersahabat dengan Angell, itu bukan berarti dia juga bersahabat dengan Dewa, dia hanya sekedar tahu Dewa itu siapa tapi tidak pernah bertegur sapa satu sama lain, dan Diana juga tahu, kalau Angell mencintai Dewa karna Angell selalu mencurahkan isi hatinya pada Diana tentang Dewa, dan Diana tidak pernah menyangka kalau Angel masih mencintai laki-laki tersebut sampai sekarang, bahkan Angel sampai menembak duluan dan alhasil, sahabatnya itu ditolak.


"Aku fikir kamu sudah tidak mencintainya lagi Ngell."


"Dia adalah cinta pertamaku Di, aku tidak pernah bisa melupakannya sampai saat ini, ini benar-benar sangat konyolkan." Angell merasa malu sendiri saat menceritakan tentang hal itu kepada sahabatnya, tapi Angel yakin kalau Diana tidak akan mentertawakannya.


"Terus, alasannya menolak kamu apa Ngell."


"Dia mencintai gadis lain Di, aku...hiks hiks." Angel yang sudah tidak tahan kembali menangis, "Aku sakit hati banget."


Diana merangkul sahabatnya dan mengelus punggung Angel, dia berfikir dengan begitu bisa membuat Angel sedikit tenang.


"Sakit banget saat mengetahui kalau laki-laki yang kita cintai tidak membalas perasaan kita, tambah sakit lagi saat mengetahui kalau dia ternyata sudah punya kekasih."


"Sssttt, jangan menangis lagi oke, kamu itu cantik Angel, sangat banyak laki-laki tampan, kaya yang mau sama kamu, intinya kamu bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari sik Dewa itu."


"Dewa juga bilang begitu, tapi rasanya aku tidak bisa mencintai laki-laki lain Di, aku hanya mencintai dia dan ingin bersamanya."


"Astaga, kok ada sieh wanita bodoh kayak Angel begini, terpaku sama satu laki-laki yang tidak mencintainya, kalau aku jadi Angel, ya gak maulah aku kayak gini, mending aku cari laki-laki tampan dan kaya."


"Daripada kamu bersedih kayak gini, lebih baik kita happy-happy aja."


"Saat ini aku lagi berduka cita Diana, bagaimana aku bisa happy-happy."


"Bisa-bisa, kayak dulu yang sering kita lakukan saat masih SMA." Diana mendekatkan wajahnya ketelinga Angel dan berbisik, "Kita clubing, aku jamin itu bisa menghilangkan fikiranmu tentang Dewa."


Sudah lama Angel tidak pernah clubing, dulu saat masih SMA memang dia kadang datang ke tempat clubing bersama para sahabatnya hanya sekedar untuk menghilangkan stress karna beban pelajaran disekolah.


"Bagaimana, mau gak."


Angel mengangguk setuju, karna memang untuk saat ini, suasana berisik club malam dan juga minuman yang membuatnya melayang itulah yang saat ini dia butuhkan.


"Nahh, kalau gitu mending siap-siap gieh kita langsung otw."


******


Masih seperti kemarin-kemarin, Nuri sama sekali tidak mengingatnya, bahkan gadis itu terlihat tidak suka sama dia sekarang setelah hilang ingatan, dia akan marah-marah kalau Dewa mendekatinya, ini persis saat pertama kali Dewa mendekati Nuri, ini kayak terulang ke awal lagi.


Begitu juga saat Dewa memasuki kamar ruang inapnya Nuri, gadis itu terlihat tidak suka saat melihat Dewa, bahkan dia dengan terang-terangan berkata, "Ibu, kenapa sieh laki-laki itu sering banget kemari, aku gak suka melihat dia ibu." ujar gadis itu, dia tidak sadar apa kalau kata-katanya itu menyakiti perasaannya Dewa.


Dewa hanya menarik nafas panjang, dia berusaha untuk bersikap sabar menghadapi istrinya, "Sabar Dewa, saat ini istrimu tengah hilang ingatan, jadi wajar saja kalau dia seperti itu."


"Nur, kenapa bicara seperti itu, nak Dewa itu suami kamu lho." ibu Nurjanah yang saat ini duduk disamping Nuri dan tengah mengupas kulit jeruk untuk Nuri menegur putrinya.


"Tapi Nuri gak suka sama laki-laki itu ibu, kenapa aku bisa menikah dengannya sieh, apa aku dipaksa menikah dengannya."


"Nuri jaga ucapanmu nak, kamu tahu tidak, kata-katamu itu bisa menyakiti nak Dewa."


Dewa menimpali, "Tidak apa-apa bu, adekkan lagi hilang ingatan, jadi wajar saja dia seperti itu."


"Nak Dewa, maafkan Nuri ya nak, kalau ingatannya kembali, dia pasti akan seperti sedia kala."


"Iya ibu gak apa-apa, ibu tidak perlu meminta maaf, tidak ada yang salah kok bu."


"Kamu benar-benar anak yang baik Dewa, meskipun awalnya ibu dan babenya Nuri tidak menerima pernikahan kalian diawal-awal, tapi sekarang ibu sangat bersyukur memiliki menantu seperti kamu."

__ADS_1


"Terimakasih ibu atas pujiannya."


****


__ADS_2