SUAMIKU TERNYATA PRESDIR

SUAMIKU TERNYATA PRESDIR
KHAWATIR


__ADS_3

Saat terbangun keesokan paginya, Nuri menemukan dirinya berpelukan dengan Dewa, saat dia membuka matanya, hal pertama yang menyambutnya adalah wajah Dewa yang tepat berada didepan wajahnya, mengetahui akan hal tersebut, Nuri langsung menggeser tubuhnya menjauh.


"Apa sieh yang telah aku lakukan, kenapa aku bisa memeluknya begitu." desisnya tidak habis fikir dengan apa yang dia lakukan.


"Dan semalamkan aku menaruh bantal sebagai pembatas, dimana bantal itu sekarang." mata Nuri terarah pada lantai dimana bantal guling yang dia jadikan sebagai pembatas teronggok pasrah dilantai.


"Pasti dia yang membuangnya semalam, supaya bisa memelukku, ishh dasar menyebalkan sekali dia itu." Nuri jadi bersuudzonkan sama Dewa, padahalkan semalam dia yang menendang benda malang itu dan mendekat ke arah Dewa dan memeluknya.


"Untung saja dia lagi sakit, kalau gak, sudahku tendang dia, dasar, laki-laki menyebalkan." Nuri merutuk sendiri.


Setelah mengumpat Dewa, Nuri keluar kamar menuju kamar mandi, ini juga sudah masuk shubuh dan waktunya untuk menunaikan sholatkan sebagai seorang muslim untuk menyembah robnya.


Setelah selesai sholat, Nuri membangunkan Dewa, meskipun dalam keadaan sakit, toh sholat tidak bisa ditinggalkan.


"Heii, bangun." Nuri mencolek lengan Dewa.


"Hmmm." Dewa ternyata adalah bukan tipe orang yang kebo yang sulit untuk dibangunkan.


"Bangun sholat dulu, setelah itu baru tidur lagi."


Kelopak mata Dewa bergerak-gerak, dan secara perlahan matanya terbuka, bibirnya langsung melengkung membentuk sebuah senyuman saat melihat wajah cantik istrinya yang menyambutnya.


"Pagi adekk."


"Bangun, sholat shubuh tuh."


"Hmm, berjamaah ya adek."


"Aku sudah sholat."


"Yahh adek ini gimana sieh, kenapa tidak ngebangunin sieh tadi."


"Apaan sieh pakai protes segala, ayok donk sana cepatan bangun, ntar keburu pagi."


"Sun dulu dek agar kakak semangat bangunnya." Dewa mengetuk-ngetuk pipinya.


"Ihh ogah."


Dewa sudah tahu dia akan mendapat penolakan, sehingga dia dengan cepat mendekat dan mencium pipi Nuri, setelah mencuri ciuman dari istrinya, Dewa langsung bangun dengan cepat dan berjalan keluar sebelum Nuri mendapatkan kesadarannya kembali.


"Dewaaaa." lengking Nuri setelah menyadari apa yang dilakukan oleh Dewa, "Dasar laki-laki menyebalkan, bisa-bisanya dia menciumku."


Sementara itu Dewa yang mendengar suara lengkingan suara Nuri terkekeh sendiri.


****


Nuri telah memasak nasi goreng untuk sarapan mereka, dan kini dua porsi nasi goreng dengan telur ceplok diatas nasi goreng sudah terhidang dimeja dan sudah siap untuk disantap.


Dewa adalah tipe laki-laki yang selalu bersyukur dan selalu berterimakasih kepada orang lain meskipun kebaikan orang sekecil apapun, begitu juga yang sering dia lakukan kepada Nuri, setiap kali Nuri membantunya ataupun memasak, Dewa selalu saja mengucapkan terimakasih, termasuk juga saat sebelum akan menyentuh nasi goreng yang sudah tersedia dihadapannya.


"Terimakasih adek karna telah membuatkan nasi goreng, nasi goreng ini pasti sangat enak."


"Iya sama-sama, mending sekarang ayok makan mumpung nasi gorengnya masih panas, setelah itu minum obatnya ya."


Dewa mengangguk patuh, meskipun dia sebenarnya benci minum obat, tapi toh harus dia lakukan mengingat dia ingin cepat sembuh dan tidak ingin merepotkan Nuri terus.


Saat mereka akan mulai makan, pintu rumah mereka yang sederhana diketuk dari luar, Dewa dan Nuri saling melempar pandangan satu sama lain, saling bertanya-tanya siapakah gerangan yang datang bertamu pagi-pagi begini, namun tentunya mereka tidak akan tahu sebelum membuka pintu.


"Aku buka dulu." Nuri bangkit dan berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu untuk tamu yang pagi-pagi sudah datang berkunjung.


"Pagi." sapa sebuah suara merdu dari seorang wanita cantik dengan senyum lebar yang saat ini tengah berdiri diambang pintu, wanita cantik yang tidak lain adalah Angell.


"Mbak Angell." antara heran dan tidak suka melihat kehadirannya Angell dirumahnya, heran karna pagi-pagi gini sudah datang kerumahnya, selain itu juga, sejak kemarin, Nuri kok jadi tidak suka saat melihat Angell, belum jelas alasannya apa, kalau dibilang cemburu, Nuri tidak mau mengakui akan hal itu, "Mbak Angell ngapain datang pagi-pagi begini mbak." Nuri menanyakan apa yang ada dibenaknya.


Angell mengangkat paperbag yang ada ditangannya untuk memperlihatkannya sama Nuri, "Aku membawakan sarapan untuk Dewa."


Dan tanpa dipersilahkan, Angell main nyelonong masuk saja, dia tersenyum saat melihat laki-laki yang dia cintai tengah duduk disofa.


"Ya Tuhan, dia pernah diajarkan sopan santun gak sieh, belum juga diizinkan masuk main nyelonong saja." Nuri berusaha menahan kekesalannya saat melihat tingkah Angell barusan.

__ADS_1


"Pagi Wa." sapanya ceria.


"Ngell, kamu ngapain pagi-pagi datang kemari."


"Mau bawakan sarapan untuk kamu donk Wa." Angell meletakkan makanan yang dia bawa, dan Angell kini melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mencari piring, Angell sepertinya sudah menganggap rumah Dewa layaknya seperti rumahnya sendiri.


"Padahal aku dan Dewa tidak pernah mengatakan untuk memintanya menganggap rumah kami sebagai rumahnya sendiri, dan kenapa dia berlaku seolah rumah kami adalah rumahnya." komen Nuri saat melihat Angell yang kesana kemari dirumahnya.


Nuri kembali duduk didekat Dewa sesuai dengan posisinya diawal, sampai kemudian Angell kembali datang dengan piring ditangannya.


Angell memposisikan dirinya diantara Nuri dan Dewa sehingga Angell mendorong tubuh Nuri, "Sanaan adek."


Meskipun kesal dengan kelakuan Angell tersebut, sebagai tuan rumah yang baik, Nuri menggeser pantatnya dan membiarkan Angell duduk diantara dirinya dan Dewa, meskipun sebenarnya dia sangat kesal dengan posisi ini karna tubuh bagian samping Angell dan Dewa bersentuhan.


"Ini piring sudah kamu cuci atau belum sieh adek, kenapa berdebu begini." komennya pada piring yang saat ini tengah dia pegang, dia lantas merogoh tasnya untuk mencari tisu disana.


"Aku sudah mencucinya dengan bersih kok kak." balas Nuri sewot, kesewotannya berubah jadi dongkol saat melihat Angell mengelap piring tersebut dengan tisu sebelum menuangkan menu sarapan yang tadi dibelinya direstoran.


"Sok banget sieh dia jadi orang, kayak dia yang paling pembersih saja didunia ini." Nuri dibuat kesal dengan sikap Angell yang menurutnya berlebihan dan lebih tepatnya sieh terlihat sok dan sombong.


"Nahh Dewa, makan bubur ini ya, kamu itu lagi sakit, bagusnya makan bubur." kata Angell meletakkan piring berisi bubur itu depan Dewa dan mengambil nasi goreng yang dimasak oleh Nuri.


Sekali lagi, apa yang dilakukan oleh Angell itu membuat Nuri makin meradang, tapi toh dia hanya bisa menyimpan kekesalannya dalam hati doank tanpa bisa dia ungkapkan.


"Apaan sieh Ngell, aku mau makan nasi goreng buatan istriku, kenapa kamu main ambil saja sieh." protes Dewa dengan apa yang dilakukan oleh Angell.


Reflek saja Nuri tersenyum tipis saat mengetahui kalau ternyata Dewa lebih ingin memakan nasi goreng buatannya ketimbang bubur ayam yang dibelikan oleh Angell, dan tiba-tiba saja hati Nuri jadi menghangat.


Sementara itu dipihaknya Angell, gadis itu tentunya kesal dan juga sakit hati secara bersamaan saat Dewa lebih memilih memakan nasi goreng buatan Nuri ketimbang bubur yang dia bawakan.


"Kamu itu lagi sakit Wa, untuk saat ini lebih bagus makan bubur dulu."


"Sama saja menurutku, orang sakit gak harus makan buburkan, dan saat ini yang aku inginkan adalah menyantap nasi goreng buatan istriku."


Duhh senangnya Nuri mendengar kata-kata sang suami.


"Tapi Wa kamu itu..."


Dengan berat hati dengan bibir merengut Angell menyerahkan nasi goreng tersebut sama Dewa.


"Terus buburnya gimana Wa."


"Ya kamu makan saja donk Ngell."


"Aku sudah sarapan Wa, aku sudah kenyang."


"Ya udah kalau gitu, nanti sama adek Nur dikasihin sama tetangga."


"Kok dikasih ke tetangga sieh Wa." sewot Angell karna dia merasa tidak dihargai oleh Dewa.


"Habisnya gimana donk Angell, daripada mubazirkan lebih baik dikasihin ke tetanggakan."


"Kok Dewa sekarang jadi menyebalkan begini sieh, padahalkan sudah aku bela-belain jauh-jauh datang kemari untuk membawakan bubur untuknya, eh malah pakai dikasihin ke tetangga lagi." tentu saja Angell tidak terima, namun dia bisa apa.


"Iya, nanti bubur yang dibawakan mbak Angell aku kasihin ke tetangga saja."


"Hmm, terserah kalian sajalah." nada suara Angell terdengar ketus.


"Kok aku puas banget sieh melihat mbak Angell sewot begini, dan kenapa sieh aku jadi seneng begini saat Dewa lebih memilih masakanku." Nuri bermonolog sendiri dalam hati.


****


Sebenarnya Nuri masih tidak ingin kuliah karna dia tidak ingin meninggalkan Dewa sendirian dirumah, tapi tentu saja Dewa menolak, dia memaksa Nuri untuk kuliah, dia bilang dirinya sudah cukup sehat, dan kalau dirinya membutuhkan sesuatu, dia bisa mengambilnya sendiri.


Namun selama perkuliahan berlangsung, Nuri jadi tidak tenang, dia terus saja teringat sama Dewa.


"Dewa lagi ngapain ya sekarang, kalau dia mau makan bagaimana, diakan lagi sakit tidak bisa memasak, tapi gampanglah itu, Dewakan bisa gofood, simplekan gak ribet." Nuri berusaha untuk mengalihkan perhatiannya ke hal-hal lain, tapi sayangnya ternyata tidak bisa, fikirannya terus saja terarah sama Dewa, intinya Nuri saat ini benar-benar mengkhawatirkan Dewa, dan hal itu membuatnya mendapatkan teguran dari dosen pengampu mata kuliahnya.


"Heii kamu yang lagi melamun." tegur dosen yang saat ini tengah menjelaskan materi didepan kelas.

__ADS_1


Karna sahabatnya itu tidak juga bereaksi saat ditegur membuat Juli yang duduk disamping Nuri menyenggol lengan Nuri, dan barulah Nuri kembali ke alam sadarnya.


"Apaan sieh Jul."


Juli mengedikkan dagunya ke arah dosen yang tadi menegur Nuri, Nuri jadi malu sendiri saat mengetahui kalau dirinya tengah ditatap begitu.


"Kamu, apa yang kamu lamunkan hah, kalau kamu tidak suka belajar dikelas saya, pintu terbuka lebar, silahkan untuk keluar."


"Maafkan saya pak." Nuri meminta maaf, dia berjanji tidak akan melamun lagi karna dia masih ingin mengikuti perkuliahan supaya dia bisa lulus nantinya.


Dan begitu perkuliahan berakhir, Nuri dengan tergesa-gesa memasukkan peralatan tulisnya ke dalam tasnya.


"Buru-buru amet lo Nur." komen Imell.


"Gue harus segera balik, Dewa sendirian dirumah soalnya."


"Kak Dewa masih sakit Nur." Nuri bertanya.


"Iya."


"Lo khawatir nieh ceritanya sama kak Dewa."


"Biasa ajalah."


"Biasa saja gimana, itu lho buru-buru."


"Ya gue buru-buru karna ingin cepat pulanglah." ini bisa aja dia ngelesnya.


"Tadi lo bilang lo buru-buru karna Dewa sendirian dirumah."


"Sudah deh gak usah banyak bertanya-tanya."


"Hmm."


Dan setelah semuanya beres, Nuri mencangklong tasnya, "Gue duluan."


"Hati-hati lo Nur, jangan sampai ketabrak lagi, kalau menyebrang, lihat-lihat jalan lo." teriak Imel berpesan.


"Iya." jawabnya tanpa menoleh.


****


Tadi dalam perjalanan pulang, Nuri menyempatkan diri membeli buah, dan saat ini dia sudah tiba didepan rumahnya, dia ingin segera melihat keadaan Dewa, namun, begitu tiba didepan rumah, Nuri terkejut saat melihat pintu rumahnya agak terbuka.


"Kenapa pintunya terbuka, apa Dewa lupa menguncinya, atau jangan-jangan ada maling lagi yang masuk." Nuri buru-buru menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan fikiran negatifnya tersebut.


"Gak mungkinlah ada maling yang masuk ke rumah kami, memangnya apa yang mau diambil, kamikan tidak punya apa-apa."


Meskipun begitu, Nuri dengan pelan memasuki rumah, semuanya aman, tidak ada sesuatu hal yang mencurigakan, semuanya berada pada tempatnya.


"Semuanya aman." batinnya, meskipun begitu tidak mengurangi kadar kewaspadaannya.


Dia melangkah menuju kamar untuk melihat apakah Dewa ada disana atau tidak, sama seperti pintu depan, pintu kamar juga agak terbuka sedikit, dari pintu yang terbuka itu Nuri mengintip ke dalam, dan matanya melebar saat melihat adegan pelukan antara Dewa dan Angell.


Kemarin-kemarin, Nuri yang ngebet ingin bercerai dengan Dewa, bahkan dia dengan senang hati berniat untuk membantu Dewa dan Angell untuk bersatu, dan saat Angell mulai menunjukkan aksinya, entah kenapa, ada perasaan tidak suka dibenaknya Nuri, Nuri selalu membantah kalau itu bukanlah perasaan cemburu, dan saat melihat Angell dan Dewa berpelukan, Angell merasakan dadanya tiba-tiba terasa sesak, dia merasa kesulitan untuk bernafas.


"Dadaku." Nuri memegang area dimana dadanya berada, "Kenapa aku tiba-tiba kesulitan bernafas kayak gini, tidak mungkin kalau aku cemburukan."


"Seharusnyakan aku senang melihat mereka berdua berpelukan, mungkin mbak Angell sudah berhasil menaklukkan Dewa." lisannya, "Iya, aku harus senang." disaat dirinya berkata begitu, sebulir kristal bening merembas dari sudut matanya tanpa bisa dia cegah, Nuri buru-buru menghapusnya.


"Sialan, kenapa aku jadi menangis begini sieh." Nuri mencoba untuk tersenyum, "Ahh, ini mungkin yang namanya air mata bahagia, iya, ini air mata bahagia kok." air mata bahagia apaan, yang ada Nuri malah nyesek dan dia gengsi mengakui kalau dia cemburu.


Tiba-tiba saja kantong plastik yang berisi apel yang dibelinya tiba-tiba saja sobek yang membuat apel-apel itu jatuh berhamburan dilantai, dan itu menimbulkan bunyi berisik yang membuat dua orang yang saat ini tengah berpelukan saling melepaskan diri.


Dewa kaget saat melihat Nuri tahu-tahu sudah berada diambang pintu, dia takut kalau Nuri salah paham padanya karna kpergok memeluk Angell.


"Adekk."


Namun Nuri sama sekali tidak menoleh, dia fokus mengambil apel yang berserakan dilantai.

__ADS_1


Ditengah fokusnya Nuri memunguti apel-apel itu satu persatu, Nuri mendengar suara langkah mendekatinya, sebuah kaki besar tepat berada didepan matanya, meskipun tahu siapa pemilik kaki tersebut, Nuri tetap mendongak dan matanya bersitatap dengan mata hitam legam miliknya Dewa.


****


__ADS_2