SUAMIKU TERNYATA PRESDIR

SUAMIKU TERNYATA PRESDIR
TERIMAKASIH TELAH MENCINTAIKU


__ADS_3

Saat mendengar kalau istrinya kena timpuk bola basket, Dewa yang saat ini tengah berada dikantornya begitu sangat khawatir mendengar berita tersebut, sehingga Dewa sampai membatalkan rapat saking khawatirnya, dia meminta Denis untuk membawanya ke rumah sakit dimana Imel saat ini tengah mendapatkan perawatan, namun terlebih dahulu, dia mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa yang selalu tersimpan dibagasi mobilnya.


"Ibu kenapa lagi pak." Denis bertanya.


"Kena timpuk bola katanya."


"Kasihan sekali."


"Makanya cepetan Denis, aku sangat khawatir dengan adek." sangat kelihatan banget karna dibelakang Dewa tidak bisa duduk dengan tenang, seolah-olah ada paku yang menancap ditempat duduknya.


"Semoga tidak terjadi hal yang buruk sama adek." itu adalah doa yang dilafalkan berulangkali oleh Dewa dalam hati.


Dan saat Denis menghentikan mobilnya, Dewa langsung turun, dengan langkah cepat dia berjalan memasuki rumah sakit.


"Pak Dewa ini, kebiasaan banget deh suka main tinggal begitu." komen Denis, dia harus mengejar atasannya supaya tidak kehilangan jejak.


Dewa membuka ruangan dimana Nuri berada dengan kasar, Imel dan Juli yang ada diruangan tersebut reflek menoleh saat mendengar suara pintu terbuka.


"Bagaimana keadaan adek." tanya Dewa saat dia berjalan memasuki ruangan, dia melihat istrinya terbaring lemah dibankar diruangan tersebut.


"Nuri belum sadarkan diri kak." lapor Juli.


"Ya Tuhan adekk, kenapa bisa ketimpuk bola kayak gini sieh adekk."


Imel yang saat ini duduk dikursi disamping tempat tidur Nuri berdiri untuk membiarkan Dewa yang duduk disana.


"Duduk kak Dewa."


Dewa mengangguk dan mengambil alih tempat duduk tersebut, begitu sudah duduk, Dewa meraih tangan Nuri dan menggenggamnya, "Sadarlah adek, kakak khawatir banget dengan adek."


Juli dan Imel yang berdiri dibelakang Dewa saling melempar pandangan satu sama lain, mereka berdua bisa melihat betapa tulusnya Dewa kepada Nuri, Nuri saja yang tidak bisa melihatnya dan berniat untuk menyia-nyiakan laki-laki sebaik dan setulus Dewa dengan berniat menceraikannya, disini, baik Imel dan juga Juli sering menanyakan dimana letak akal sehat sang sahabat.


Saat Dewa tengah menggenggam tangan Nuri, tangan Nuri bergerak, Dewa bisa merasakan pergerakan tersebut, sehingga matanya dia tujukan melihat wajah Nuri, dan Dewa bisa melihat kelopak mata Nuri bergerak-gerak, dan gak lama kemudian, Nuri membuka matanya secara sempurna.


"Adek, adek tidak apa-apakan, bagaimana perasaan adek." cecar Dewa saat istrinya membuka mata.


Juli dan Imel tersenyum senang saat melihat sahabatnya sudah kembali sadar.


"Syukurlah Nur lo sudah sadar, lo tahu tidak, kami begitu sangat panik." cletuk Imel yang diangguki oleh Juli.


"Adek, kenapa diam saja, ngomong adek."


Dan kata pertama yang keluar dari bibir Nuri adalah, "Kak Dewa."


"Adek memanggil kakak apa." Dewa meminta Nuri untuk mengulangi panggilannya.


"Kak Dewa."


"Adek memanggil kakak dengan panggilan kak lagi." Dewa tentu senang akan hal itu.


"Kak Dewa ini kenapa sieh, emang sebelumnya aku manggilnya kak jugakan."


"Adek tidak ingat apa, semenjak hilang ingatan, adek memanggil kakak dengan panggilan Dewa saja tanpa ada embel-embel kaknya"


"Ohh ya, masak seih aku memanggil kak Dewa dengan panggilan nama doank, kasar banget."


Disini Dewa mengerutkan kening, "Ini maksud adek apa seih, jangan bilang ingatan adek sudah kembali."


Nuri tersenyum tipis sebelum mengangguk untuk menjawab pertanyaan suaminya itu.


Mata Dewa langsung berbinar ceria saat mengetahui hal tersebut, "Adek sudah ingat." tanyanya untuk memastikan.


"Iya kak Dewa, aku sudah ingat kok semuanya."


Rasa bahagia menjalari perasaan Dewa saat mengetahui fakta tersebut, Juli dan Imel turut senang mendengar hal tersebut.


"Adek beneran sudah ingat semuanya, adek tidak lagi membohongi kakakkan."


"Iya kak Sadewa Argantara suamiku, aku istrimu ini sudah benar-benar ingat semuanya."


Dewa memeluk tubuh Nuri yang terbaring, dia sangat bersyukur kepada Tuhan akhirnya Tuhan mendengarkan doanya disetiap sholatnya, "Terimakasih ya Allah karna engkau mendengarkan doa-doa yang hamba panjatkan setiap sholat hamba." batinnya penuh syukur.


Karna ingin membiarkan pasangan pasutri itu untuk menghabiskan waktu mereka berdua sehingga Juli dan Imel memutuskan untuk pamit.


"Mmm, kak Dewa, Nuri, kami mau pamit duluan ya."


"Ohh iya, kami juga sebentar lagi akan pulang kok berhubung adek sudah siuman."


"Ya udah kalau begitu kamu duluan."


"Terimakasih ya adek Juli dan Imel karna telah membawa adek Nur ke rumah sakit." tidak lupa Dewa mengucapkan terimakasih kepada kedua sahabat istrinya itu.


"Santai saja kak, gak perlu berterimakasih begitu."

__ADS_1


"Ya sudah ya kalau begitu, kami pamit dulu."


Dewa dan Nuri mengangguk.


"Hati-hati lo berdua." pesan Nuri sebelum kedua sahabatnya itu benar-benar keluar dari ruangannya.


"Lo gak perlu khawatir Nur, kalau om Hugo yang bawa mobil, bisa dipastikan semuanya aman terkendali."


Kini tinggal pasangan pasutri itu yang ada diruangan.


Dewa tidak melepaskan genggaman tangannya, dia begitu sangat bahagia sehingga dia menggenggam tangan istrinya dengan erat, mata Dewa bahkan sampai berkaca-kaca, dia begitu sangat bersyukur akan hal tersebut, "Terimakasih adek karna telah ingat semuanya, kakak bersyukur sekali, tahu tidak, kakak sudah hampir menyerah saat adek tidak kunjung ingat juga dengan kakak."


"Emangnya kenapa kak, bukannya sama saja ya, baik aku hilang ingatan atau tidak."


"Sama apanya adek, adek itu ya sangat menyebalkan lho saat hilang ingatan."


"Masak sieh, perasaan aku biasa saja deh."


"Biasa saja dari mananya sieh dek, kerjaan adek tiap hari bikin kakak kesal saja."


"Tapi kak Dewa cintakan sama wanita yang selalu bikin kakak kesal ini."


"Pastinya, kakak itu cinta banget sama adek." Dewa mengarahkan tangan Nuri ke bibirnya.


"Kak Dewa."


"Apa adek."


"Kita sebaiknya pulang sekarang, aku sudah tidak betah dirumah sakit."


"Apa adek sudah sehat sepenuhnya."


"Iya, aku sudah baik-baik saja kok."


"Baiklah kalau begitu, ayok kita pulang."


*****


Dan karna ingatan Nuri sudah pulih kembali, kini mereka tidur ditempat tidur yang sama, jangan tanyakan bagaimana perasaan Dewa, laki-laki itu begitu sangat bahagia, dia tidak henti-hentinya tersenyum, dan hal itu membuat Nuri jadi bertanya.


"Kak Dewa kenapa sieh, perasaan sejak tadi kak Dewa senyum melulu deh."


"Kakak senang banget adek, akhirnya kita bisa tidur bersama lagi."


"Sini adek, peluk kakak.".Dewa merentangkan tangannya supaya Nuri memeluknya, Nuri dengan sangat senang hati masuk dalam pelukan sang suami, bagi Nuri, pelukan hangat dari Dewa adalah hal yang paling dia rindukan.


"Nyamannya." gumamnya.


"Maafkan aku ya kak."


"Untuk."


"Karna menjadi orang yang menjengkelkan saat aku hilang ingatan."


Dewa terkekeh mendengar kata-kata sang istri barusan, "Adek memang sangat menjengkelkan dan bikin kakak kesal, tapi tetap saja kakak mencintai adek dan tidak bisa berpaling dari adek, tapi sekarang yang terpenting adalah, adek sudah ingat semuanya, dan kakak bahagia sekali."


Nuri yang saat ini tengah berada dalam pelukan sang suami tersenyum bahagia, dia sangat bahagia memiliki suami yang begitu sangat mencintainya.


"Terimakasih karna telah mencintaiku kak."


Dewa mencium puncak kepala istrinya, "Kakak mencintai adek, dulu, sekarang dan sampai kita tua nanti."


Nuri mengangguk, dia percaya dengan setiap kata yang diucapkan oleh Dewa.


"Semoga kita bisa bersama selamanya kak, dan hanya maut yang bisa memisahkan kita."


"Amin." Dewa mengaminkan


****


"Di, aku mau ngerebut Dewa dari istrinya." hal itu diungkapkan oleh Angell saat dia makan siang bersama dengan sahabatnya itu.


Diana tentu saja kaget mendengar pernyataan tersebut, "Ahh jangan gila kamu Angell."


"Gila gimana maksud kamu Di."


"Ya maksud aku, kenapa sieh Angell kamu pakai ngerebut segala, kamu bisa bahagia tanpa merebut." Diana tidak setuju kalau Angell harus merebut Dewa dari istrinya.


"Lagian ya Angell, kamu itu sangat cantik lho, aku rasa kamu masih sadar akan hal itukan."


Angell reflek mengangguk, dia sangat sadar kalau dirinya itu cantik.


"Nahh, kamu tahu itu, pasti banyak laki-laki yang jauh lebih daripada Dewa yang menginginkan kamu Angell, jadi Angell sayang, buka mata kamu lebar-lebar, lihat sekelingmu, dan yang paling penting adalah, buka matamu dan pintu hatimu Angell untuk orang baru." Diana berusaha memperingatkan sahabatnya itu, dia tidak ingin sahabatnya menjadi perusak rumah tangga orang alias menjadi pelakor, dia tidak ingin sahabatnya tersebut salah langkah.

__ADS_1


"Tapi aku cintanya sama Dewa doank Di, hatiku benar-benar tidak bisa kebuka untuk orang lain, tolong Di, kamu mengerti posisi aku, kamukan sahabatku, seharusnya kamu mendukung aku donk Di." sewot Angell.


"Tentu saja aku akan mendukungmu kalau hal yang kamu lakukan adalah hal yang positif, tapi ini, kamu berniat merebut suami orang Angell, bagaimana coba aku bisa mendukung kamu." balas Diana, "Dan cinta kamu bilang, kamu bilang kamu hanya mencintai Dewa, kamu itu ya Angell terlalu memanjakan perasaanmu itu, seharusnya kamu paksa donk hati kamu supaya bisa menerima hati yang baru karna Dewa tidak mungkin kamu miliki."


"Ahh sudahlah Di, jangan menceramahiku seperti itu, kamu tidak tahukan bagaimana susahnya jadi aku."


"Aku bukannya menceramahi kamu Angell, aku hanya mengingatkan kamu supaya kamu tidak menyesal nantinya, cukuplah bersahabat saja dengan Dewa, jangan merebutnya dari istrinya, kamu lihat sendirikan kemarin saat kita makan bersama, Dewa terlihat begitu sangat mencintai istrinya, dia memperlakukan istrinya dengan sangat lembut."


Angell tahu karna dia juga ada disana, dan menurutnya, Diana tidak perlu mengingatkannya akan hal itu, karna hal itu membuat hatinya sakit, "Stop Diana, jangan kamu bicarakan kemesraan mereka didepanku, kamu tahu, itu sangat menyakitiku."


"Aku mengatakan hal itu untuk mengingatkan kamu supaya kamu berfikir ulang untuk merebut Dewa dari istrinya Angell, aku melakukan ini karna aku sayang sama kamu, aku tidak ingin kamu menyesal dikemudian harinya." Diana masih berusaha menyadarkan Angell, dan Diana berharap kalau Angell membatalkan niatnya untuk merebut Dewa dari istrinya.


Angell tahu Diana menasehatinya karna Diana sayang dan peduli kepadanya, tapi Angell rasanya capek, capek karna harus melihat laki-laki yang dia cintai bersama dengan wanita lain, Angell ingin Dewa bahagia bersama dengan dirinya, bukan dengan wanita lain.


"Jadi Angell, batalkan niat kamu itu oke."


"Hmmm." gumam Angell tidak mengiyakan atau mengatakan tidak, tapi yang jelas, Angell bertekad untuk merebut Dewa dari Nuri, sebenarnya bukan merebut seih, mengingat Nuri bilang dia ingin bercerai dengan Dewa dan Nuri bahkan bilang dia akan membantu Angell supaya bisa bersama dengan Dewa.


****


Saat keluar dari kampus, Nuri melihat Angell melambai ke arahnya, Nuri tersenyum dan balik melambai pada Angell.


"Itu Angellkan Nur." Juli bertanya.


"Iya."


"Tuh perempuan makin hari makin cantik saja dah, kecantikannya bikin iri wanita sejagat." komen Imel.


Kata-kata Imel barusan membuat Nuri kembali merasa insecure dengan dirinya sendiri, fakta bahwa wanita yang mencintai suaminya begitu sangat cantik, sedangkan dia, dia adalah wanita biasa dengan wajah biasa-biasa juga, tidak ada yang istimewa dari dirinya, sampai sekarang bahkan Nuri bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa sieh yang membuat Dewa mencintainya, pertanyaan yang tidak bisa dijawab olehnya, karna pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh Dewa, dan Nuri berjanji akan menanyakan akan hal ini nantinya sama Dewa begitu Dewa pulang kerja.


"Aku jadi ingin bertanya, apa sieh sebenarnya rahasia kecantikannya."


Juli menyenggol pinggang Imel yang membuat Imel menoleh ke arahnya, lewat matanya Juli memberikan kode supaya Imel tidak memuji-muji wanita itu didepan Nuri, karna Juli tahu rasanya bagaimana kalau orang yang kita cintai itu dicintai oleh orang yang jauh lebih cantik dari kita, itu pasti akan membuat sik wanitanya minder dan tidak percaya diri, Juli juga dulu pernah mengalami apa yang dialami oleh Nuri, dimana kekasihnya yaitu Ari dicintai oleh wanita tercantik di SMA PERTIWI, tapi toh Ari memilihnya ketimbang wanita itu.


Imel yang mengerti arti kode yang diberikan oleh sahabatnya itu otomatis terdiam.


"Lo masih bersahabat Nur dengan wanita yang mencintai suami elo itu, emang lo gak kesel gitu sama tuh perempuan."


"Ya gue gak munafik seih, gue kesallah melihat mbak angell, apalagi dengan tampilannya yang bak model kayak gitu, bikin orang insecure saja, tapi masak gue memutus hubungan pertemanan gue hanya gara-gara dia cinta sama suami gue sieh, setiap orangkan berhak untuk jatuh cinta kepada siapapun yang dia inginkan."


"Lo gak takut gitu tuh cewek merebut kak Dewa dari elo."


"Kalau yang direbut gak mau gimana, mbak Angell bisa apa coba."


"Emang keren sieh kak Dewa karna dia cintanya sama elo doank, tidak tergoda dengan kecantikan Angell, sama kayak kak Ari yang cintanya hanya sama Juli doank." lisan Imel yang menyamakan kisah cinta Nuri dan Juli.


"Tapi menurut gue sieh Nur, lo sebaiknya jangan berteman gitu deh sama mbak Angell, menurut gue kok janggal ya berteman dengan wanita yang mencintai suami kita."


"Hmm, elo benar juga sieh Jul."


"Ehh Nur, tuh perempuan manggilin elo tuhh."


"Kayaknya ada yang ingin mbak Angell bicarakan, gue sebaiknya menemui dia ya."


"Baiklah, mending sana gieh samperin dia."


"Byee." Nuri melambaikan tangan saat dirinya berjalan menghampiri Angell.


"Nurr, lihat-lihat jalan elo, jangan sampai ketabrak lagi." Imel selalu saja memperingatkan sahabatnya itu saat akan menyebarang jalan.


"Iya."


"Hai kak." sapa Nuri begitu sudah berada didekat Angell.


"Hai juga adek, baru pulang kuliah nieh ceritanya."


"Iya begitulah mbak."


"Mau makan siang bersama dek, kakak yang bakalan traktir adek."


"Boleh deh." angguk Nuri.


"Nahh terus kenapa masih berdiri diluar, masuk donk."


"Iya."


Angell ternyata menghentikan mobilnya disebuah restoran eropa dengan bangunan yang mewah.


Nuri yang mengetahui kalau Angell membawanya ke restoran itu hanya bisa tercengang.


"Kenapa malah diam, ayok keluar."


"Mbak Angell, ini beneran kita akan makan disini, ini restoran mahal banget deh, mending kita cari tempat yang lain saja ya."

__ADS_1


****


__ADS_2