
Dewa dan Nuri kini begitu sangat bahagia, Dewa bahkan sangat memanjakan sang istri, dia membelikan barang-barang mewah untuk Nuri meskipun Nuri sebenarnya menolaknya dan tidak ingin menghambur-hamburkan uang hanya untuk hal yang tidak perlu, karna fikir Nuri, tidak menginginkan barang-barang mewah, dia begitu sangat bahagia bisa bersama dengan Dewa sang suami yang begitu sangat mencintainya dan selalu memperlakukan dirinya dengan sangat baik dan pastinya romantis, dan bahkan, pasangan pasutri itu berencana untuk bulan malu ke eropa begitu Nuri libur semester nantinya, mereka merencanakan untuk segera memiliki momongan untuk semakin mempererat hubungan mereka.
Dan sekarang, tanpa hari selalu dilalui oleh Nuri dengan senyum bahagia yang selalu membingkai bibirnya, dia rasanya tidak tahan lama-lama berpisah dengan Dewa, oleh karna itu, kadang sehabis kuliah, gadis itu langsung pergi nyamperin sang suami pergi ke kantornya, dan menemani Dewa sampai jam kantor berakhir, meskipun mereka tidak melakukan apa-apa, hanya melihat Dewa bekerja saja membuat Nuri menjadi sangat bahagia.
Dan seperti yang sekarang ini Nuri lakukan, gadis terus saja tersenyum, dia sudah tidak sabar menunggu berakhirnya masa perkuliahan sehingga dia bisa langsung cabut menuju kantor suaminya.
Kelakuan Nuri itu membuatnya mendapat teguran dari dosen yang saat ini tengah menjelaskan materi didepan kelas.
"Itu yang senyum-senyum sendiri, saya itu mengajar dan menjelaskan materi, kamu fikir saya tengah ngelawak apa didepan kelas."
Teguran dari sang dosen tentu saja membuat semua mata mahasiswa yang ada diruangan tersebut menjadikan Nuri sebagai pusat perhatian, termasuk juga dengan dua sahabatnya yaitu Imel dan juga Juli, mereka tahu sangat tahu kalau akhir-akhir ini Nuri sering senyum-senyum sendiri karna tengah berbunga-bunga, dan sebagai orang yang pernah merasakan hal yang sama, baik Imel dan juga Juli tentu saja memaklumi akan hal tersebut, tapi fikir mereka tidak habis fikir kalau Nuri juga senyum-senyum sendiri saat kegiatan pembelajaran tengah berlangsung juga, hal itu tentu saja membuat mereka geleng-geleng kepala.
Nuri tentu saja malunya setengah mati, apalagi dia kini menjadi pusat perhatian seisi kelas, oleh karna itu, Nuri buru-buru meminta maaf, "Mmmm, maafkan saya pak, saya janji tidak akan senyum-senyum lagi." janji Nuri.
Dan pak dosen ternyata tidak memperpanjang masalah tersebut, buktinya dia berkata, "Baiklah Nuri, sekali lagi saya lihat kamu senyum-senyum tidak jelas begitu, lebih baik kamu keluar saja, karna senyum kamu itu membuat saya tidak konsentrasi mengajar didepan kelas."
"Iya pak, maafkan saya sekali lagi."
Setelah itu, kegiatan pembelajaran kembali dilanjutkan.
*****
Begitu dosen sudah keluar kelas, Nuri buru-buru membereskan perlengkapan kuliahnya dan memasukkannya kedalam tasnya, dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Dewa, dia sudah kangen berat, padahal baru beberapa jam yang lalu mereka berpisah, tapi harap dimaklumin saja ya pemirsa, namanya juga orang yang tengah dimabuk kepayang, bawaannya rindu melulu.
"Buru-buru amet Nur." komen Juli, padahal mah setiap hari juga sahabatnya itu selalu terlihat buru-buru dan Juli tahu kenapa Nuri selalu terlihat buru-buru begitu, tapi dia hobi banget deh menanyakan hal yang sama setiap hari, toh jawaban yang dia dapatkan selalu samakan seperti hari sebelumnya.
"Gue harus segera ke kantor kak Dewa, udah kangen gue."
"Padahal tiap hari ketemu dirumah, harus juga gitu pakai disamperin ke rumah segala." timpal Imel.
__ADS_1
"Ya gimana donl Mell, namanya juga kangen, lo kayak gak pernah ngalami saja."
Baik Juli dan Nuri hanya bisa menghela nafas mendengar jawaban dari sahabat mereka.
Dan setelah semuanya beres dan masuk ketasnya, Nuri mencangklongkan tuh tas dibahunya dan berdiri, "Gue duluan ya Jull, Mell, byeee." melambaikan tangan sembari berjalan ke pintu keluar.
"Suruh pak Komar hati-hati Nur." pesan Imel.
Pak Komar adalah sopir pribadi Imel yang ditugaskan oleh Dewa untuk mengantar jemput sang istri.
"Tenang saja, pak Komar bisa diandalkan kok, diakan sopir bersertifikat." jawab Nuri sambil lalu.
"Ada-ada saja sik Nuri itu." gumam Juli menggeleng.
****
"Selamat datang nona." sekertaris Dewa yang bernama Marta itu berdiri demi melihat kedatangan Nuri, "Nona mencari pak Sedewa."
Dalam hati Nuri menjawab ketus, "Ya iyalah, masak iya gue mencari bapak lo." Nuri memang tidak suka dengan sekertaris suaminya itu, bukan karna Marta ganjen atau genit, Marta bisa dibilang benar-benar bekerja dengan niatan bekerja atau dengan kata lain, tidak ada embel-embel untuk menggoda sang boss, dan selain itu juga, Marta juga sudah menikah, jadi tidak mungkin juga sieh untuk menggoda laki-laki lain, tapi yang membuat Nuri tidak suka dengan Marta adalah karna sekertaris suaminya itu cantik, sebagai wanitakan Nuri takut kalau nanti suaminya terlibat hubungan gelap dengan sik sekertaris dibelakangnya, namun pemikirannya tersebut dengan segera ditepis oleh Nuri dengan menggeleng pelan, "Duhh, apa sieh yang gue fikirkan, tidak mungkinlah kak Dewa melakukan hal tersebut, sik ganjen Angell yang lebih cantik dari Marta saja dia abaikan."
Meskipun dalam hati tidak suka dengan Marta, namun diluar, Nuri bersikap manis pada sekertaris suaminya itu, "Iya, kak Dewanya adakan."
"Ada nona, pak Sadewa ada diruanganya, masuk saja nona, pak Sadewa pasti sudah menunggu nona."
Nuri mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju sebuah pintu yang didepannya tertempel sebuah tulisan yang berbunyi 'Ruang presdir'
Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Nuri langsung mendorong pintu, dan Dewa yang tahu siapa yang datang langsung mendongak, senyum laki-laki itu langsung mengembang demi melihat sang pujaan hati berdiri didepan pintu ruangannya, seketika rasa lelahnya menguar tidak bersisa, memang ya, obat lelah yang paling manjur adalah bertemu dengan orang yang kita sayang.
"Hai sayang." sapa Dewa berdiri dan melupakan berkas-berkas penting yang sejak tadi dia periksa, fikirnya, untuk sejenak dia harus melupakan pekerjaan dan menghabiskan waktu dengan sang istri tercinta.
__ADS_1
Nuri tersenyum, melihat wajah suaminya selalu saja membuat dirinya menjadi berbunga-bunga dengan debaran jantung yang berdebar sangat kencang.
Nuri mendekat, begitu juga dengan Dewa yang menyongsong kedatangan sang istri, dan pasangan pasutri itu berpelukan satu sama lain begitu mereka sudah saling berhadapan, berpelukan merupakan salah satu hal yang bisa melepaskan kerinduan.
"Aku kangen." bisik Dewa tepat ditelinga Nuri, hembusan nafas Dewa ditelinganya membuat Nuri seketika merinding.
"Aku juga kangen kak Dewa." balasnya.
"Lama banget ya kamu liburnya, aku sudah tidak tahan untuk menghabiskan waktu 24 jam berdua dengan kamu."
"Sabar kak, satu bulan lagi kok."
"Satu bulan itu lama sayang." manjanya, meskipun laki-laki, tapi Dewa juga ingin bermanja-manja pada sang istri.
"Ihh kak Dewa nieh manja banget."
"Ya gak apa-apa donk sayang kalau manja-manja sama istri sendiri, gak dosakan, kan sudah muhrim." Dewa semakin mempererat pelukannya.
"Hmmm." gumam Nuri, dia rasanya tidak bisa bernafas karna Dewa memeluknya dengan erat.
"Kak Dewa mau membunuhku, aku gak bisa nafas nieh kak."
Mendengar keluhan dari istrinya, Dewa mengendurkan pelukannya, "Maafkan aku sayang, aku hanya begitu sangat kangen sama adek."
"Aku juga sama kak Dewa."
Dan untuk waktu yang cukup lama, pasangan pasutri itu hanya berpelukan.
*****
__ADS_1