
Biar bagaimanapun Angel adalah sahabatnya, walaupun gadis itu telah menyatakan perasaannya kepadanya, tapi menurut Dewa, tidak ada yang berubah diantara mereka, Dewa akan berusaha menjaga dan mempertahankan hubungan persahabatan yang sudah sejak lama terjalin dengan Angell, oleh karna itu, sepulang kantor, dia berencana untuk menemui Angell, dia tidak ingin karna telah menyatakan perasaan dan Dewa menolaknya semuanya akan terasa berbeda, Dewa tidak ingin hal itu terjadi.
Dewa : Adekk, kakak ada urusan, mungkin kakak akan agak terlambat ke rumah sakit, tapi adek jangan khawatir, kakak sudah minta tolong sama ibu untuk nemenin adek selama kakak belum pulang
Dan seperti biasa sejak Nuri hilang ingatan, setiap pesannya tidak ada yang dijawab, begitupun dengan setiap panggilannya, Dewa merasa benar-benar dia kembali ke zaman dimana dia baru pertama mengenal Nuri dan dia berusaha keras untuk meluluhkan gadis tersebut, tapi tentu sama seperti dulu, Dewa orangnya pantang menyerah, dia akan kembali membuat istrinya itu jatuh cinta kepadanya.
"Kita ke rumah sakit pak." Denis bertanya saat mereka sudah duduk dengan nyaman didalam mobil.
"Saya mau ke rumah Angel dulu Denis."
"Ke rumah sahabat tuan yang kemarin itu."
"Hmmm."
Setelah memberitahukan alamat rumah keluarga Angel kepada Denis, Denis kemudian menjalankan mobilnya.
Denis berhenti disebuah rumah besar, seorang satpam yang sudah mengenal Dewa langsung membukakan pintu gerbang supaya mobil yang dikendarai oleh Denis bisa masuk.
"Kamu tunggu disini Denis."
"Baik pak." lisan Denis kecewa, padahalkan dia ingin ikut masuk dan ketemu dengan gadis cantik yang kemarin, tapi karna sang boss menyuruhnya untuk menunggunya diluar, apa boleh buat, dia gak bisa membantahkan.
Begitu tiba didepan pintu utama, Dewa memencet bell, gak lama terdengar suara langkah mendekat ke arah pintu dan disusul dengan pintu yang dibuka dari dalam.
"Hai bik Irah." sapa Dewa ramah sama ART dirumahnya Angel yang bernama bik Irah.
"Ehh, tuan Dewa, cari nona Angel tuan."
"Iya bik, Angelnya adakan."
"Sayang sekali, nona lagi gak ada tuan, sejak kemarin nona tidak pulang, saya dengar dari nyonya besar sieh katanya nona Angel nginep gitu dirumah temannya."
"Ohh begitu ya." Dewa mangut-mangut, "Mmm, kalau begitu saya mau ketemu tante Murni saja bik, adakan."
"Ohh ada tuan, ayok masuk nanti saya panggilkan."
Dewa mengangguk, dia melangkahkan kakinya memasuki rumah besar keluarganya Angel.
"Duduk dulu tuan, saya panggilkan nyonyanya dulu, nyonya lagi ada dibelakang."
Dewa mengangguk dan mendudukkan bokongnya disofa empuk, dua menit berselang, terdengar gema langkah yang berjalan mendekatinya yang otomatis membuat Dewa mendongak, dia menemukan mama Murni yang merupakan mamanya Angel berjalan menghampirinya, wanita yang kini telah berusia mencapai kepala lima itu masih terlihat cantik diusianya yang sekarang.
Dewa bangkit saat tante Murni sudah dekat.
"Hai Dewa, sudah lama nak."
__ADS_1
"Baru saja tan."
"Ayok duduk nak."
Dewa kembali menjatuhkan bokongnya.
"Sayang sekali ya nak kamu datang diwaktu yang salah, Angel lagi gak ada dirumah, kemarin dia bilang sama tante katanya dia ingin nginep dirumahnya Diana."
"Saya ada perlu dengan Angell tante, kalau tante tidak keberatan, bisakah tante memberikan alamat temannya Angell yang bernama Diana itu ke saya, biar saya menemui Angell disana."
"Ohh tentu saja Dewa." kata mama Murni, "Tapi kenapa kamu gak telpon Angell saja."
"Sudah tante, tapi Angell tidak mengaktifkan ponselnya."
"Tidak biasanya anak itu tidak mengaktifkan ponselnya."
Karna memang niatnya untuk bertemu dengan Angel, dan begitu mendapatkan alamatnya Diana, Dewa langsung pamit pergi.
"Baiklah tante, kalau begitu saya pamit dulu."
"Lho, kok buru-buru sieh, duduk saja dulu Wa, tunggu om, sebentar lagi dia juga pulang lho, lagian juga bik Irah lagi bikin minum lho dibelakang."
"Maafkan saya tante, saya benar-benar tidak bisa berlama-lama, sampaikan saja salam saya sama om."
Dewa meraih tangan mama Murni dan menciumnya sebelum dia pergi.
****
"Kesal banget deh gue, tahu gak sieh sik Dewa Dewa itu terus saja ngechat gue, gini nieh bunyi chatnya, adek jangan lupa makan ya, minum obatnya juga, adek lagi apa, adek, kakak kangen sama adek, miss you adek, i love you adek, ihhh, geli deh gue membaca chat yang dikirim oleh sik Dewa itu, laki-laki itu benar-benar alay tahu gak." curhat Nuri kepada kedua sahabatnya.
Imel dan Juli terkekeh mendengar curhatan Nuri, pasalnya sebelum mengalami kecelakaan dan hilang ingatan, Nuri sangat bucin dengan suaminya tersebut.
Sama ibu, babenya dan juga kedua sahabatnya hubungan Nuri baik-baik saja, meskipun dia tidak ingat sama sekali, tapi sikap Nuri kepada empat orang itu tidak ada perubahan sama sekali seperti sebelum dia mengalami kecelakaan, hanya kepada Dewalah sikapnya berubah.
"Heh, kenapa lo berdua tertawa." bahkan mereka ngobrol santai.
"Habisnya lo lucu aja Nur." timpal Juli.
"Lucu, apaan yang lucu."
"Ya sikap lolah Nurdin, sebelum kecelakaan dan lo divonis hilang ingatan sama dokter, lo itu bucin banget tahu sama kak Dewa, tiap detik chat, tiap detik bilang kangen, kak Dewa itu begini, kak Dewa itu begitu, bosan lho gue dan Imel ngedengernya, iya gak Mell."
"Iya betul."
"Masak sieh gue kayak gitu, tapi kok sekarang gue benar-benar tidak suka ya sama dia." Nuri jadi bingung dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Makanya lo cepetan sembuh Nurdin, kasihan banget gue lihat kak Dewa tuh, udah elo gak ingat sama sekali sama dia, sikap lo jutek lagi sama dia, padahal kelihatan banget kalau kak Dewa itu cinta banget sama lo, dia terlihat sedih gitu saat lo bersikap jutek sama dia."
"Beneran gak sieh gue bucin sama dia, tapi kok gue gak suka gitu sama dia sekarang, bawaannya gue itu kesal dan ingin marah terus kalau lihat wajah dia."
"Awal-awal dulu juga lo nikah sama kak Dewa emang lo suka sebel sama dia, eh lama-lama bucin."
"Masak sieh."
"Masak sieh, masak sieh mulu dah dari tadi, udah ahh, gak usah bahas tentang hubungan elo dengan kak Dewa, bosan gue."
"Kalian duluan yang nanya-nanya."
"Ehh Nur, lo kayaknya secara fisik udah sehat wal'afiat neih, ya kecuali ingatan lo yang belum pulih, lo udah diizinan gak pulang sama dokter." Imel mengubah topik.
"Gue belum tahu, gue juga ingin banget pulang, sumpah gue udah gak betah disini."
"Lo kalau pulang, pulangnya ke rumahnya kak Dewa." Juli bertanya.
"Gak, gue mau balik kerumah ortu gue kayaknya."
"Lha, kok gitu, seharusnya lo balik ke rumahnya kak Dewalah Nur, diakan suami elo."
"Ihh, ogahlah gue, kalau lihat wajahnya itu gue pasti bawaannya pengen marah tiap hari."
"Ahh lo itu ya Nur, benar-benar deh istri lucnut."
"Habisnya gimana donk, gue gak suka, perasaankan gak bisa dipaksa, bahkan gue ada rencana untuk cerai sama dia."
Juli dan Imel tentu saja kaget saat mendengar apa yang dikatakan oleh sahabat mereka itu.
"Heh, jangan main-main lo Nur, pernikahan itu sesuatu yang sakral, gak bisa lo main-mainin kayak gini."
"Daripada gue berdosa gak mau layanin suami gue, ya mending gue cerai aja." ucap Nuri dengan enteng.
"Wahh, lo bukan hanya ilang ingatan Nur, tapi otak lo juga mulai gak bener nieh kayaknya."
"Lo berdua katanya sahabat gue, seharusnya lo berdua ngedukung gue donk."
"Kalau rencana lo gak bener gini gimana kami bisa ngedukung."
"Justru kalau gue bertahan dengan pernikahan ini, gue akan semakin tersiksa."
"Terserah lolah Nur, malas dah gue ngeladenin lo."
****
__ADS_1