
Dua gadis itu benar-benar akrab, mereka sudah seperti orang yang kenal bertahun-tahun lamanya, mereka saling bercerita tentang banyak hal, Nuri bahkan bercerita kalau dia sudah menikah, Angel tentu kaget mendengar hal itu mengingat Nuri terlihat masih muda.
"Kamu beneran sudah menikah dek." tanyanya untuk memastikan.
Nuri mengangguk.
"Mbak tidak percaya, kamu masih sangat muda lho dek, kenapa kamu bisa menikah, kamu dijodohkan dan dipaksa oleh orang tuamu."
Nuri menggeleng untuk menandaskan praduga Angel, "Mmm, awalnya sieh aku menikah karna terpaksa mbak, tapi lama-lama aku cinta sama suami aku."
Nuri tentu saja tidak menceritakan kalau dia menikah karna digrebek warga, kalau dia menceritakan tentang hal itu, itu sama saja membuat dirinya malu.
"Itu terlihat sieh dari wajah adek, wajah adek terlihat sumringah gitu saat menceritakan tentang suami adek."
"Mbak sendiri gimana, mbak pasti sudah punya pacarkan."
Kebanyakan orang selalu beranggapan kalau gadis cantik sudah pasti memiliki pacar, begitu juga dengan Nuri yang beranggapan kalau Angel punya pacar.
"Gak ada dek."
"Ehh." Nuri terlihat tidak percaya saat mendengar jawaban dari Angel, fikir Nuri, mustahil kalau gadis secantik Angel tidak punya pacar, "Masak sieh mbak Angel gak punya pacar, mbak cantik begini, mbak terlalu pilih-pilih ya." ujarnya mengambil kesimpulan sendiri.
"Ya gak gitu juga dek." bantah Angel, orang selalu saja beranggapan kalau dia sangat pemilih dan memiliki standar tinggi dalam mencari cowok, padahalkan sebenarnya tidak, cintanya hanya dia serahkan untuk satu orang, orang yang bernama Sadewa Argantara, cinta yang belum kesampaian saat ini karna Angel rasanya sangat malu untuk mengungkapkan perasaannya sama Dewa secara langsung.
"Mmm, sebenarnya mbak itu menyukai seseorang."
Nuri mendengarkan tanpa memotong.
"Dia adalah sahabat mbak sejak SMP, mbak sudah lama menyukainya, mbak menyukainya sejak duduk dibangku SMA kelas XI, dan rasanya mbak tidak mungkin menyukai laki-laki lain." Nuri selalu senyum-senyum saat menyebut nama Dewa, begitu juga halnya yang dirasakan oleh Angel, gadis itu juga tersenyum saat membayangkan wajah Dewa, wajah suami orang, orang yang saat ini tepat ada dihadapannya.
"Apa laki-laki itu tahu kalau mbak menyukainya."
Angel menggeleng, "Sampai saat ini hubungan kami masih sebatas sahabat saja, rasanya aku malu untuk mengutarakan perasaanku kepadanya terlebih dahulu, aku masih menunggu dia yang menyatakan perasaaannya kepadaku, karna aku memiliki feling kalau dia juga menyukaiku, tapi mungkin dia malu untuk mengungkapkan perasaannya."
"Mbak sudah menyukainya sejak SMA dan hati mbak tidak pernah berpaling pada laki-laki lain, mbak benar-benar hebat, mbak bisa setia sama satu laki-laki meskipun status mbak dengan laki-laki itu hanya sebagai sahabat, aku benar-benar salut sama mbak."
Angel hanya tersenyum mendengar pujian Nuri.
"Tapi mbak saran aku, kenapa mbak tidak memberitahu tentang perasaan mbak lebih dulu saja sama dia."
"Mbak malu dek, biarlah mbak menunggu dia saja yang mengutarakan perasaannya lebih dulu, bukannya seorang wanita kodratnya adalah menunggu."
Nuri hanya mengangguk paham, pasalnya kalau dia juga berada diposisi Angel, dia tidak mungkin menyatakan perasaannya duluan, budaya di Indonesiakan gitu, cewek menunggu cowok yang menembak duluan.
Saat tengah asyik ngobrol, ponsel milik Nuri berdering, tanpa melihat, Nuri yakin kalau yang menelpon itu adalah Dewa, dan benar saja, saat dia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas mungilnya, nama 'suamiku sayang' terpampang dilayar, itu reflek membuat senyum dibibir Nuri merekah bak mawar merah yang segar.
"Suaminya ya dek." tebak Angel melihat senyuman dibibir Nuri.
"Iya mbak." angguknya, "Aku angkat telpon dulu sebentar ya mbak."
"Iya dek."
Nuri agak menjauh untuk mencari tempat yang agak sepi untuk menjawab panggilan dari sang suami, dia butuh privasi untuk berbicara dengan laki-laki yang dia sayang.
"Halo kak Dewa."
"Halo juga adek." Dewa menjawab sapaan sang istri.
"Ihhh, kangen banget aku." bati Nuri saat mendengar suara suaminya itu.
"Apa adek sudah pulang." Dewa bertanya karna tahu Nuri keluar untuk bertemu dengan teman barunya yang bernama Angel, karna sebelum mengiyakan ajakan Angel untuk bertemu, Nuri terlebih dahulu minta izin sama Dewa.
"Belum kak, ini adek masih dicafe."
"Jangan terlalu sore pulangnya adek."
"Iya kak, bentar lagi aku pulang kok."
"Maafkan kakak ya dek."
"Kok kak Dewa minta maaf, emang kak Dewa salah apa, kakak selingkuh ya disana." Nuri suudzon.
"Astagfirullah adek, tega banget sieh nuduh kakak begitu, kakak itu setia lho dek."
"Habisnya kakak minta maaf, kan aku jadi curiga."
"Ya kakakkan minta maaf karna kakak tidak ada disana, jadinya tidak bisa mengantar dan menjemput adek, begitu maksud kakak."
__ADS_1
"Oh." Nuri ber oh ria, "Kak Dewa tenang saja, aku baik-baik saja, kan angkutan umum banyak bersileweran, ojek juga bertebaran dimana-mana, jadi gampang banget kalau mau kemana-mana, kakak gak perlu khawatirin aku."
"Pesan kakak, hati-hati ya dek, banyak orang jahat soalnya."
"Iya kakak, tenang saja, aku bisa jaga diri kok."
"Ya udah dek, kakak mau lanjut kerja dulu, kakak hubungin adek supaya bateri kakak yang sudah lowbet kembali full lagi, karna mendengar suara adek membuat semangat kakak kembali on."
"Ihh apaan sieh kak Dewa, bikin aku jadi besar kepala saja." jawab Nuri tersenyum malu-malu.
"Udah dulu ya dek, nanti kalau adek sudah sampai rumah kabarin ya."
"Iya kak."
"Bye adek, I LOVE YOU."
"Ya Tuhan, aku berbunga-bunga." jerit suara hati Nuri berteriak senang, dia selalu bahagia saat Dewa mengatakan kalimat I LOVE YOU kepadanya.
"Dek, adek masih disanakan."
"Ehh iya kak."
"Jawab donk dek, agar kakak semangat gitu kerjanya."
"Love you to kak Dewa." balas Nuri malu-malu.
"Nahh, jadi semangatkan kakak sekarang."
"Ya udah kalau gitu, kakak matiin ya dek, ntar malam kita sambung lagi."
"Iya kak."
"Bye adek."
"Bye kak Dewa."
Nuri kembali menemui Angel setelah memutus sambungan.
"Yang habis telponan sama suami tercinta, mukanya bersinar amet dek." goda Angel sambil senyum-senyum.
Digoda begitu membuat Nuri hanya senyum malu-malu, dia memang paling tidak bisa menyembunyikan ekpresi wajahnya sehingga sangat gampang untuk dibaca.
Tadinya Nuri ingin pulang naik angkot atau ojek, tapi Angel memaksa untuk mengantarkannya, dan Nuri pada akhirnya mengiyakan tawarannya Angel, dan kini, sopir Angel menghentikan mobilnya didepan rumah sederhana yang di diami oleh Nuri dan Dewa.
"Ayok mbak mampir dulu." ajak Nuri sebelum membuka pintu mobil.
"Gak deh, lain kali saja ya mbak mampirnya." tolak Angel.
"Baiklah kalau gitu." Nuri turun dari mobil.
Sebelum sik sopir menjalankan mobilnya, Angel menurunkan kaca mobil dan melambai sebagai tanda perpisahan.
"Byee adek, besok-besok kita ketemu lagi oke."
"Iya mbak." Nuri juga membalas lambaian tangan Angel, dia senang berteman dengan Angel, Angel selain cantik dan pintar juga adalah gadis yang baik dan ramah.
*****
Begitu tiba dikamarnya, Angel menghempaskan tubuhnya dikasur empuknya, matanya menerawang menatap langit-langit kamarnya.
"Aku kangen sama Dewa." desahnya.
"Apa aku telpon dia saja kali ya."
Angel menarik tubuhnya untuk bangkit, begitu dia sudah duduk dengan sempurna, Angel mengambil ponselnya dari dalam tas, saat akan mendial nomer Dewa, Angel seketika mengurungkan niatnya.
"Mungkin Dewa saat ini lagi sibuk kali ya, apa ntar malam saja kali ya aku telpon dia."
"Hmm, iya deh, ntar malam saja aku telpon dia." putusnya pada akhirnya dan kembali membaringkan tubuhnya.
****
Saat ini Nuri tengah menunggu telpon dari Dewa karna Dewa sudah berjanji untuk menghubunginya, tapi setelah setengah jam menunggu, Dewa belum juga menghubunginya membuat Nuri berinisiatif duluan untuk menelpon.
Dan saat Nuri menelpon, panggilannya menunggu, dan itu membuatnya kesal seketika dan langsung mematikan sambungan, tidak hanya mematikan sambungan, dia juga mematikan ponselnya, air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja karna beranggapan kalau Dewa selingkuh dengan wanita lain.
"Kenapa panggilannya menunggu, apa kak Dewa tengah menelpon dengan selingkuhannya." batinnya, tiba-tiba saja dia merasa dadanya begitu sesak yang membuat air matanya semakin deras mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
"Kenapa rasanya sesakit ini sieh." Nuri memukul-mukul dadanya berharap dengan begitu rasa sesak itu akan hilang, tapi sayangnya, rasa itu tetap bersarang didadanya.
"Dia bilang janji bakalan menelpon, tahu-tahunya dia menelpon selingkuhannya, dasar brengsek, tidak bisa dipercaya, padahal dia bilang dia laki-laki setia, tahunya dia buaya juga." padahal panggilannya cuma menunggu doank lho, kok bisa-bisanya Nuri mengambil kesimpulan kalau Dewa selingkuh.
Nuri mencoba untuk membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya, dia berharap dengan tertidur rasa sakit yang untuk pertamakalinya dia rasakan itu akan hilang.
****
Dewa baru saja selesai menelpon dengan Angel saat dia melihat ada satu panggilan tidak terjawab dari istrinya.
"Nuri, astaga, pasti dia yang nelpon tadi." tanpa menunggu lama, Dewa langsung mendial nomer istrinya, sayangnya nomer Nuri tidak bisa dihubungi sama sekali.
Dewa bahkan mencoba beberapa kali, tapi tetap nomer istrinya tidak aktif, hal itu membuatnya khawatir, "Apa terjadi sesuatu sama Nuri." itu membuat Dewa gelisah dan merasa tidak tenang.
"Apa aku telpon ibu saja ya, siapa tahu Nuri nginep dirumah orang tuanya." karna beranggapan seperti itu, Dewa menghubungi nomer ibu mertuanya.
Setelah menunggu beberapa saat, ibu mertuanya menjawab juga, "Iya nak, ada apa."
"Ibu, apa adek nginep dirumah ibu, soalnya aku sudah menghubunginya, namun nomer adek tidak aktif." Dewa bertanya, dia berusaha membuat suaranya setenang mungkin supaya ibu mertuanya tidak khawatir.
"Tidak nak, anak itu tidak pernah kemari." mendengar pertanyaan dari menantunya membuat ibunya Nuri menjadi khawatir, "Memangnya Nuri kemana nak Dewa, apa Nuri tidak ada dirumah kalian."
"Nuri dimana, dirumah ibu gak ada, kalau dia dirumah, kenapa nomernya dimatiin segala." batin Dewa yang semakin khawatir.
Namun Dewa tidak ingin ibu mertuanya juga ikutan khawatir sehingg Dewa berbohong untuk menghilangkan kekhawtiran ibu mertuanya, "Ohh ini bu, adek baru saja ngirim pesan sama aku, katanya dia kerja kelompok bareng Juli, karna kemalaman, makanya adek nginep dirumahnya Juli, dan hapenya mati karna baterinya habis."
"Ohh, syukurlah kalau begitu, tenang hati ibu jadinya."
"Udah dulu ya ibu, maaf karna saya ganggu ibu malam-malam begini."
"Gak apa-apa nak Dewa, ingat ya nak, saat jauh dari keluarga kamu harus tetap jaga kesehatan, soalnya kalau sakit dikota orang tidak ada yang perhatiin lho." pesan ibu mertuanya.
Saat akan pergi keluar kota, Dewa selalu ngasih tahu mertuanya, Dewa sudah menganggap mereka sebagai orang tua kandungnya yang tidak pernah dia miliki.
"Iya ibu, Dewa akan selalu menjaga kesehatan, jadi ibu tidak perlu khawatir."
Setelah mengakhiri percakapannya dengan ibu mertuanya, Dewa terlihat gelisah, dia terus kefikiran Nuri, dia mencoba untuk menghubungi Juli, namun sayangnya sahabat istrinya itu juga tidak menjawab panggilannya.
"Adekk, kenapa nomer kamu gak aktif sieh, kamu tahu tidak, kamu membuat kakak khawatir saja.
Karna khawatir, malam itu Dewa benar-benar tidak bisa tidur, dia terjaga sepanjang malam, dan paginya, meskipun pekerjaannya belum selesai, tapi dia memutuskan terbang ke Jakarta dengan penerbangan pagi, bagaimana dia bisa tenang bekerja kalau dia tidak tahu keadaan istrinya, Dewa bisa sieh minta Deni untuk mengecek Nuri ke rumah, tapi fikir Dewa dalam hal ini, dia sendiri yang harus memastikan sendiri apakah istrinya ada dirumah apa tidak, dan apakaah kondisinya baik-baik saja atau tidak.
****
Pagi itu saat bangun tidur, Nuri kembali menangis, rasa sakit yang dia rasakan ternyata hilang saat dia terbang ke alam mimpi saja, saat dia kembali kedunia nyata, rasa sakit itu kembali dia rasakan.
"Hikss hikss, kak Dewa kok tega sieh selingkuh, emang salahku apa." namanya juga Nuri masih labil dan baru pertamakalinya jatuh cinta sehingga wajar gadis ini mengambil kesimpulan tanpa berfikir terlebih dahulu.
Nuri meraih ponselnya hanya sekedar untuk memeriksa apakah ada chat masuk atau tidak, dia tidak ingat kalau dia tidak mengaktifkan ponselnya semalaman, "Ahh iya, ponselkukan aku matikan semalem." ingatnya dan dia membiarkannya, tidak berniat untuk mengaktifkannya kembali.
Nuri hanya membuat susu untuk sarapan, karna sakit hati, dia tidak punya nafsu makan, dengan membawa segelas susu yang tadi dibuatnya dia berjalan kedepan dan duduk disofa, gadis itu hanya duduk dan melamun, ini adalah sakit hati pertama yang dia rasakan setelah jatuh cinta.
Nuri terhempas dari lamunannya saat mendengar suara pintu depan diketuk dari luar, bukan diketuk sieh, tapi lebih tepatnya digedor seoalah-olah sik tamu ingin mendobrak pintu rumahnya yang sederhana dan rapuh.
"Siapa sieh." omel Nuri, "Pagi-pagi gini ganggu orang saja, malah gak sabaran lagi, kalau pintu rumahku rusak bagaimana, emang dia mau ganti apa." omelnya.
"Iya iya tunggu sebentar, elahh gak sabaran banget sieh jadi tamu." teriak Nuri dongkol, "Bikin gue tambah badmood saja."
"Bisa gak sieh kalau ngetuk pintu gak usah gedor-gedor." omel Nuri saat membuka pintu, namun dia terdiam saat melihat siapa sosok yang berada dibalik pintu, bahkan saking tidak percayanya dengan penglihatannya sendiri, Nuri sampai mengucek matanya, Nuri berfikir dia sedang bermimpi, belum sempat Nuri buka suara, orang yang ternyata tidak lain adalah Dewa itu menarik tubuh Nuri dan membawanya dalam pelukannya, Dewa terlihat begitu lega saat mengetahui kalau istrinya baik-baik saja.
"Syukurlah ya Tuhan, kamu baik-baik saja, kamu tahu tidak betapa khawatirnya aku memikirkan kamu semalaman." Dewa memeluk istrinya dengan sangat erat.
"Kak Dewa, ini beneran kak Dewa, dia nyata, ini bukan mimpi ternyata." desahnya dalam hati, Nuri begitu sangat kangen sama suaminya ini, saat dia akan membalas pelukan Dewa, namun kemudian dia ingat kalau Dewa selingkuh, dan itu membuat emosinya kembali naik ke ubun-ubun sehingga membuatnya mendorong tubuh Dewa menjauh.
"Lepasin, jangan sentuh aku."
Dewa mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti kenapa istrinya tiba-tiba seperti ini, "Adek, apa yang terjadi, ini kakak adek, suami kamu, kamu gak kangen sama kakak."
"Fikir aja sendiri." tandas Nuri ketus.
Wanita memang seperti itu, difikirnya laki-laki cenayang apa yang bisa membaca fikiran dan isi hati mereka yang setiap mereka marah selalu saja meminta pria untuk mencari tahu kesalahan mereka.
"Dek, adek kenapa sieh, kakak jauh-jauh terbang dari luar kota karna khawatir dengan keadaan adek, sejak semalam adek tidak mengaktifkan nomer adek, kakak benar-benar takut terjadi sesuatu hal yang buruk sama adek."
Nuri tidak membalas, dia hanya menampilkan wajah kesal.
"Salah kakak apa adek, coba katakan, jangan meminta kakak untuk menebak sendiri." Dewa berusaha untuk membujuk Nuri.
__ADS_1
****