
"Tolongggg, tolonggggg." Nuri berteriak minta tolong, dia berharap ada yang datang menolongnya setelah mendengar suara teriakannya.
Melihat apa yang dilakukan oleh Nuri membuat Angell tertawa puas, "Hahaha, percuma saja, mau kamu teriak sekenceng apapun, tidak akan ada yang mendengar teriakanmu Nuri, karna tempat ini jauh dari pemukiman penduduk."
"Angell, tolong, jangan lakukan ini, aku tahu kamu orang baik." Nuri masih berusaha untuk menyadarkan Angell, dia tahu Angell sebenarnya gadis yang baik, dan selain itu, Nuri juga tentunya tidak ingin mati dulu karna masih banyak dosa-dosanya, entah bagaimana dia mempertanggungjawabkannya nanti saat bertemu dengan malaikat nanti.
Nuri yang memohon membuat Angell semakin puas tertawa, "Seharusnya kamu berfikir sebelum merebut Dewa dariku Nuri, dan sekarang, pergilah ke neraka."
"Angelll, plisss jangan lakukan itu." didetik terakhir, Nuri masih menghiba.
Dan bertepatan dengan akan dituangkan minyak tanah tersebut disekeliling Nuri, pintu kayu yang rapuh didobrak dari luar, sekali dobrak saja pintu tersebut langsung terbuka, bukan terbuka, lebih tepatnya, pintu kayu itu hancur berserakan, itu membuat Angell kaget dan berbalik kebelakang untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Angkat tangan, tempat ini sudah kami kepung." dua orang laki-laki berseragam coklat yang merupakan polisi menodongkan pistol ke arah Angell.
Angell jelas sangat terkejut saat mengetahui kalau tempat yang digunakan menyekap Nuri digrebek oleh polisi.
Dibelakang polisi tersebut terlihat Dewa yang menatap Angell dengan tatapan yang sulit dijelaskan, tatapan yang jelas-jelas sarat akan kekecewaan, Dewa benar-benar tidak menyangka kalau sahabatnya sendiri tega menculik wanita yang dia cintai dan berniat membunuhnya.
Tidak hanya Dewa saja, disamping Dewa berdiri Diana yang merupakan sahabatnya Angell, usut punya usut, Dianalah yang memberitahu Dewa akan niat Angell, dan Diana juga yang memberitahu kemana Angell membawa Nuri, karna sebelum menjalankan rencananya, Angell terlebih lebih dulu memberitahukan semua rencananya tersebut sama sahabatnya, dan sebenarnya, Angell meminta Diana untuk membantunya menjalankan rencananya, sayangnya, Diana tidak mau terlibat dalam urusan kriminal yang bisa membuatnya dijebloskan dalam penjara.
"Kak Dewa huhu." melihat suami tercintanya, pecahlah tangis Nuri, "Tolong aku kak."
__ADS_1
Dewa bergegas mendekati sang istri untuk melepaskan ikatannya.
Sementara itu Angell, dia memandang Diana dengan tatapan murka dan penuh amarah, "Dasar pengkhianat kamu Diana, tega banget kamu sama aku." Angell yang sangat marah berlari mendekati Diana, dia ingin menyalurkan amarahnya dengan memukul, menjambak atau apalah kepada Diana.
Salah satu dari polisi yang ikut misi penyelamatan terhadap Nuri menahan tubuh Angell, Angell berontak sekuat tenaga, keinginan terbesarnya saat ini adalah ingin menghajar sahabatnya itu.
"Dasar pengkhianat kamu Di, tega-teganya kamu ngelakuin ini sama aku, dasar brengsek, apa salahku sama kamu hah sampai kamu setega ini sama aku." Angell berteriak histeris dan berusaha melepaskan diri, sayangnya, polisi yang menahannya ternyata jauh lebih kuat.
Diana tentunya sedih melihat sahabatnya yang seperti ini, Angell yang dia kenal adalah gadis yang baik, ramah, periang, tapi sayangnya, cinta telah membutakan mata sang sahabat, dan Diana melakukan hal ini semata-mata demi kebaikan Angell sendiri, dia tidak ingin sang sahabat melakukan perbuatan yang akan dia sesali seumur hidupnya.
"Maafkan aku Angell, ini semua aku lakukan demi kebaikan kamu, aku tidak ingin kamu menyesal seumur hidupmu karna telah melakukan sesuatu diluar akal sehatmu." ucap Diana tulus.
"Brengsek kamu Diana, kamu fikir aku sudah gila hah, gadis itu memang harus mati karna dia telah merebut Dewa dariku, dia tidak pantas dibiarkan hidup dimuka bumi ini, dia harus mati ditanganku." lengkingan suara Angell membahana diseantero ruangan.
Melihat Dewa yang saat ini tengah memeluk Nuri, kembali api cemburu itu membakar hati Angell, "Diam kamu bangsat, ini semua gara-gara kamu, kamu yang membuat aku seperti ini Dewa, kenapa kamu lebih memilih wanita yang tidak ada apa-apanya dibandingkan diriku, apa kurangnya aku Dewa, aku selalu setia menunggu kamu sejak dulu, dan kamu malah memilih dia." luncuran kalimat yang disertai dengan hujan deras dari kedua mata Angell.
"Aku fikir kamu sudah mengerti Angell kalau cinta itu tidak bisa dipaksakan, dan seharusnya kamu sadar juga Angell, kalau kamu berhasil melenyapkan Nuri, belum tentu juga aku mau bersama denganmu."
"Bajingannnnn, laki-laki sialan kamu Dewa, aku membencimu, aku membenci kalian berdua, kalian harus mati ditanganku." teriak Angell histeris, dia sudah persis seperti orang yang kesurupan saja.
"Pak, tolong, sebaiknya bapak bawa Angell sekarang ke kantor polisi." pinta Dewa mulai terbawa emosi dengan tingkah sahabatnya itu.
__ADS_1
Dua polisi tersebut mengangguk, dan polisi yang membawa Angell mendorong tubuh Angell untuk keluar.
Angell semakin berontak, "Lepasin aku brengsek, aku tidak sudi dipegang oleh tangan kotor kalian."
Namun sik polisi tidak memperdulikan hinaan Angell, dia terus saja membawa Angell keluar dan membawanya ke mobil.
Saat Angell keluar, 3 polisi lainnya juga telah menangkap 3 orang suruhannya.
"Dasar laki-laki lemah." hina Angell kepada para penculik yang telah dia bayar, "Menghadapi para pecundang ini saja kalian tidak becus, tuihhh." Angell berludah, "Pakai rok sana kalian."
"Hentikan ocehan anda itu nona, ayok cepat jalan." polisi yang kini memegang kedua tangannya dari belakang itu semakin mendorong Angell, telinga para polisi tersebut terasa sakit saat mendengar kata-kata umpatan dari bibir gadis cantik yang saat ini tengah dia tangani.
Sik polisi yang membawa Angell berjalan didepan, sementara 3 polisi lainnya yang membawa orang-orang suruhan Angell berjalan dibelakang mengikuti.
Sementara itu didalam, Dewa sangat berterimakasih dengan Diana, "Terimakasih Diana, kalau kamu tidak memberitahuku dimana Angell membawa Nuri, mungkin istriku ini sekarang tinggallah nama." ujar Dewa sembari menatap sang istri yang berada dipelukannya, dia memeluk Nuri dengan erat seolah-olah takut Nuri akan diculik lagi.
"Tidak perlu berterimkasih Wa, aku fikir itu memang tugasku untuk mencegah sahabatku supaya tidak melakukan tindak kejahatan, aku tidak ingin dia melakukan suatu hal yang akan dia sesali dikemudian hari."
Dewa mengangguk, Dewa juga sama seperti Diana, dia benar-benar sedih melihat Angell yang sudah jauh berubah yang rela melakukan apapun hanya untuk mewujudkan keinginannya, termasuk menghilangkan nyawa Nuri, apa yang dilakukan oleh Angell sudah masuk dalam tindak pidana kejahatan yang hukumannya berupa penjara, selain itu juga, Dewa tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan kedua orang tua Angell saat mengetahui kalau putri kesayangan mereka melakukan kejahatan, Dewa yakin mereka pasti akan sangat sedih.
"Kak Dewa, kita pulang yukk." suara Nuri yang terdengar lemah menyadarkan Dewa dari bayangan akan kedua orang tua Angell
__ADS_1
"Iya dek, ayok kita pulang."
*****