
"Pegangan donk adek, ntar jatuh lagi." kata Dewa saat motor yang dia kendarai berbaur bersama dengan kendaraan lainnya dijalan raya.
"Ogah."
"Ntar kalau jatuh gimana, kalau tambah lupa ingatan gimana adek."
"Makanya, kamu bawa motornya yang benar, kalau bawa motornya benar gak mungkinkan aku jatuh."
Dewa mendengus, pasalnya ada saja kata-kata Nuri untuk membalasnya.
"Lagian ngapain sieh pakai jemput segala, kan aku bisa pulang sendiri."
"Kakak tahu adek kalau adek bisa pulang sendiri, tapi kakak ingin saja jemput adek, ingin berduaan diatas motor bersama dengan adek seperti dulu sebelum adek lupa ingatan, kakak kangen adek saat adek memeluk kakak dari belakang."
Nuri diam tidak menanggapi ucapan Dewa, karna memang pada dasarnya dia tidak berniat sedikitpun untuk berpegangan pada suaminya tersebut.
"Dek, kenapa adek malah diam."
"Lagi malas ngomong."
"Hmmm."
Untuk beberapa menit, tidak ada obrolan, sampai kemudian Dewa kembali buka suara.
"Dek, apa adek mau berhenti untuk makan dulu." tanya Dewa menawarkan.
"Hmmm." jawab Nuri sebagai jawaban iya.
"Adek mau makan apa."
"Mau makan sate ayam dan lontong."
"Baiklah, ayok kita cari pedagang yang menjual apa yang adek ingin makan."
Dewa menjalankan motornya dan berhenti saat menemukan penjual sate dan juga lontong yang ingin dimakan oleh istrinya disebuah kedai dipinggir jalan.
Dan kini mereka duduk berhadapan dengan masing-masing sepiring lontong dan sate ayam bumbu kacang dan segelas es teh dihadapan masing-masing.
Nuri menelan air liurnya saat melihat hidangan tersebut, "Selamat makan." gumamnya seperti anak kecil dengan mata berbinar.
Dewa tersenyum melihat kelakuan sang istri, saat Nuri seperti ini rasanya Dewa gemas dan ingin menciumnya, tapi saat Nuri mulai acuh tak acuh dan berbicara jutek kepadanya, Dewa rasanya ingin mengucek-ngucek istrinya tersebut, namun untungnya oleh Tuhan dia dikasih kesabaran berlebih.
"Kenapa lihatin aku terus, gak mau dimakan tuh satenya." Nuri agak risih juga sieh karna bukannya makan, Dewa malah memperhatikannya sejak tadi.
"Kakak kenyang saat melihat adek makannya lahap begini."
"Jangan bikin aku ingin muntah deh."
Dewa terkekeh dan geleng-geleng kepala, "Adek, adek, gak bisa ya adek ini dibaperin."
"Ishh, gak butuh aku dibaperin, bikin nafsu makanku hilang saja." desisnya.
"Makan donk, jangan sibuk lihatin aku terus elahh." protes Nuri.
"Kakak maunya disuapin sama adek." Dewa membuka bibirnya berharap Nuri akan menyuapinya.
"Apa-apaan seih kamu itu, manja banget deh, makan saja sendiri, kamu punya tangankan, jangan manja."
__ADS_1
"Hmmm, baiklah, ini kakak makan dek." desah Dewa mulai menyentuh makanan yang ada dipiringnya.
Mungkin karna makannya sangat lahap sehingga ada saus kacang yang menempel disudut bibirnya Nuri, hal tersebut membuat Dewa tergerak untuk membersihkan bekas saus kacang itu, oleh karna itu dia meraih tisu dan mengarahkannya pada sudut bibir Nuri.
"Ada saus kacang disudut bibir adek." Dewa memberitahu.
Saat Dewa melakukan hal tersebut, Nuri diam tidak menepis tangan Dewa, barulah saat selesai melakukan hal tersebut, Nuri baru protes, "Kamukan bisa bilang, gak usah bersihan bibir aku segala."
"Ya gak apa-apa adek, lagiankan itu bukan pekerjaan yang berat."
"Tapi aku bisa sendiri."
"Aduh adek, masak sieh perkara hal sepele begini kita jadi berantem kayak gini, sudahlah, lagiankan sudah kakak bersihin juga."
"Hmmm." Nuri manyun.
Setelah menyelsaikan makannya dan membayar makanan yang mereka makan, pasangan pasutri itu kembali melanjutkan perjalanan mereka kembali ke rumah.
****
Meskipun sekarang Angell berubah membenci Nuri, tapi didepan gadis itu, Angell masih bersikap baik dan ramah, dia itu tidak ubahnya seperti duri dalam daging, atau pribahasa lainnya adalah, serigala berbulu domba, dan
biar bagaimanapun, Angell sangat mencintai Dewa, dia ingin Dewa menjadi miliknya entah bagaimanapun caranya, mungkin dengan cara menyingkirkan Nuri dari kehidupan Dewa, apapun itu akan Angell lakukan asal bisa menjadikan Dewa sebagai miliknya.
Dan saat ini, Angell dan Nuri tengah berchat ria, bunyi chatnya adalah.
Angell : Adek lagi ngapain
Yahh, seperti dijelaskan diatas, Angell sekarang tidak benar-benar ingin berteman dengan Nuri, dia hanya melakukannya untuk membuat hubungan Dewa dan Nuri pada akhirnya berakhir, rasanya Angell benar-benar tidak rela melihat gadis yang tidak ada apa-apanya seperti Nuri bisa mendapatkan Dewa, Angell juga kadang suka heran, apa sieh yang dilihat oleh Dewa sama Nuri sehingga laki-laki sesempurna Dewa bisa jatuh cinta sama Nuri yang menurut Angell dekil, itu bukan dekil, tapi hitam manis Angell, garis bawahi tuh Angell.
Nuri : Ini lagi dikampus mbak
Nuri : Sekitar sampai jam 4 kurang lebih
Angell : Setelah itu adek ada kegiatan gak
Nuri : Gak ada mbak, emangnya ada apa ya
Angell : Mau gak adek main-main ke rumah mbak, mbak kesepian nieh soalnya, orang tua mbak lagi nengokin kakek dan neneknya mbak diluar kota, jadi mbak sendirian dirumah hanya ditemani oleh Art doank
Nuri : Boleh deh mbak
Angell : Ya udah, nanti mbak jemput ya dek
Nuri : Iya kak
Dengan kesepakatan itu mereka mengakhiri chat.
"Chat sama kak Dewa ya Nur." tebak Imel yang saat ini tengah bersama dengan Nuri dikantin kampus.
"Bukan, tapi mbak Angell." jawabnya, "Kalau sik Dewa mah ogah gue ngebalasnya." tambah Nuri dalam hati.
Juli menimpali, "Perasaan lo rajin amet dah Nur berkirim pesan sama gadis yang baru lo kenal itu, hati-hati lho Nur, apalagi tuh perempuan suka sama laki lo."
"Ya gue mana peduli, kalau dia mau ngambil Dewa ya ambil saja, orang gue gak cinta." jawab Nuri dengan entengnya.
Rasanya Juli selalu deh darah tinggi saat membahas tentang Dewa dengan Nuri, pasalnya gadis itu benar-benar tidak mencintai suaminya sehingga dia dengan entengnya selalu bilang kalau dia tidak peduli kalau Angell merebut suaminya, bahkan Nuri mau menyerahkan suaminya secara cuma-cuma sama Angell, emang benar-benar istri lucnut sik Nuri itu.
__ADS_1
"Sudahlah Jul, gak usah bahas tentang kak Dewa sama sik Nurdin ini, bikin sakit hati lo saja dia itu." timpal Imel.
Juli mengangguk membenarkan apa yang dikatakan oleh Imel, mau dinasehati bagaimanapun, Nuri tidak peduli dan tidak mendengarkan.
"Keputusan elo untuk tidak membahas tentang Dewa merupakan keputusan yang tepat, tahu gak, gue juga bosan mendengar nama tuh orang disebut-sebut."
Kata-kata Nuri semakin membuat Juli semakin kesal saja, memang sieh Dewa bukan siapa-siapanya Juli, tapikan Juli kasihan juga dengan Dewa, karna Dewa mencintai Nuri dengan begitu tulus, dan sebagai sahabatnya Nuri, Juli sangat mendukung hubungan Dewa dan Nuri.
"Tuhkan Jul, lo dengar sendiri kata-kata istri durhaka ini, lebih baik diam daripada bikin lo emosi." Imel juga sama dengan Juli, tentu saja tidak memiliki hubungan keluarga sama sekali dengan Dewa, tapikan Imel juga tidak tega sama Dewa saat Nuri memperlakukannya dengan acuh tak acuh begini.
Akhirnya karna tidak mau memancing perdebatan, akhirnya mereka bertiga pada fokus menyantap makanan yang ada dihadapan mereka masing-masing sebelum mereka akan kembali mengikuti mata kuliah berikutnya.
****
Sesuai dengan janjinya, Angell menjemput Nuri dikampusnya, ini memang bukan jam pulang kantor sieh, tapi ya begitulah kalau jadi anak boss, bisa dapat kompensasi waktu, bisa pulang kapanpun, begitu juga dengan Angell, demi hanya untuk mengajak Nuri kerumahnya dia memilih untuk lebih dulu pulang, tapi terlebih dahulu dia mampir ke kampus Nuri.
Dan kini mereka sudah duduk didalam mobil, karna sopirnya lagi sakit, sehingga sudah dua hari ini Angell membawa mobil sendiri.
"Ukhhh." dengus Angell dalam hati saat melihat Nuri memasuki mobilnya, "Malas banget deh aku deket-deket sama bocah ingusan ini, tapi ya demi untuk mendapatkan Dewa, aku harus pura-pura mendekatinya dan pura-pura baik kepadanya."
Untuk beberapa detik saat Nuri duduk dimobilnya, Angell memperhatikan Nuri, dan dari apa yang dilihat oleh Angell, tidak ada satupun dari gadis yang duduk disampingnya ini yang menarik sama sekali, sehingga apa yang menyebabkan Dewa menyukai Nuri masih menjadi misteri, "Apa gadis ini pakai susuk kali ya hingga Dewa begitu mencintainya." nah lho, sik Angell jadi berfikir negatifkan jadinya.
"Mbak, kenapa mbak memperhatikan aku begitu, apa ada yang salah." Nuri bertanya karna Angell bukannya menjalankan mobilnya, wanita itu malah sibuk memperhatikannya.
"Ehh." Angell kembali dari dunia nyata mendengar pertanyaan Nuri barusan, "Gak ada yang salah Nur, hanya saja, kamu kok cantik sekali ya hari ini." bohongnya, bahkan Angell ingin muntah karna kebohongannya yang dia buat sendiri.
"Duhh mbak Angell, jangan bohong untuk membuat orang senang donk, aku mah sadar diri mbak kalau aku itu gak cantik, kalau mbak Angell, baru tuh cantiknya kebangetan."
"Tuhkan, bahkan dia sendiri sadar kalau dia memang tidak cantik."
"Mbak, apa masih mau memperhatikan aku nieh."
Angell terkekeh, "Duh, saking terpananya dengan kecantikan adek, jadi lupa aku." lagi-lagi berdusta, "Pantas saja ya Dewa suka sama kamu Nur."
"Mbak Angell mah berlebihan, sudah aku bilang kalau aku itu gak cantik, dan aku juga tidak tahu kenapa Dewa suka sama aku." Nuri masih merendah.
"Mungkin ada sesuatu yang spesial dari diri adek yang membuat Dewa suka sama adek." lisannya, dalam hati, "Masak iya kulitnya yang dekil itu sieh yang membuat Dewa suka, yang benar saja, tidak berniatkah dia perawatan supaya tidak dekil begitu, Dewakan kaya raya."
"Gak ada yang spesial kok mbak, wajah aku tuh standar, otak juga biasa-biasa saja kok."
"Sudah aku duga, selain gak cantik, nieh anak juga bodoh, beneran nieh kayaknya dia pakai susuk." ini sik Angell makin berburuk sangka saja dia, makin banyak dah dosanya.
"Ehh mbak, lebih baik jalan sekarang yuk, daripada mencari apa yang spesial dari diriku tapi yang dicari-cari gak ada."
Angell mengangguk, "Kamu benar juga dek."
Angell menstater mobilnya dan menjalankannya meninggalkan area kampus.
***
Angell membawa Nuri ke kamarnya, saat memasuki kamar milik Angell, Nuri tidak henti-hentinya menganga saking takjubnya, kamar Angell luas dengan tempat tidur berukuran quen ditengah-tengah ruangan, dan benda-benda yang digunakan sebagai pemanis dikamar itupun sepertinya barang mahal dan mewah, sangat berbeda dengan kamarnya yang sederhana banget.
Kamar Angell benar-benar girly banget dengan cat berwarna merah muda yang mendominasi dinding kamar tersebut.
"Kamar mbak Angel luas dan mewah banget." Nuri menyuarakan isi hatinya.
"Dasar gadis norak." hina Angell dalam hati.
__ADS_1
****