SUAMIKU TERNYATA PRESDIR

SUAMIKU TERNYATA PRESDIR
UNDANGAN MAKAN MALAM


__ADS_3

"Oh ya Angell, kamu ada perlu apa ya datang ke kantorku." Dewa bertanya niat Angell datang mencarinya ke kantor karna Dewa sangat yakin kalau Angell mencarinya bukan karna kangen, selain itu juga, Dewa ingin segera Angell pergi dari ruangannya, bukan dia tidak suka Angell, hanya saja, Angell dan Nuri yang berada dalam satu ruangan begini menciptakan atmosfer yang begitu sangat panas padahalkan ac on terus.


"Mama ngundang kamu makan malam Wa, katanya, kamu sudah lama gak pernah main ke rumah." Angell memberitahu maksud kedatangannya yang sesungguhnya.


"Ahh iya benar juga." Dewa membenarkan, dia hanya pernah datang berkunjung ke rumah keluarganya Angell saat keluarga gadis itu baru kembali ke Indonesia, dan setelah itu dia tidak pernah lagi datang kesana, "Aku pasti akan datang bersama dengan istriku." saat mengatakan istriku, Dewa menatap Nuri dengan pandangan yang seperti biasanya penuh dengan cinta, dan begitu juga dengan Nuri yang balik menatap suaminya dengan tatapan yang sama, hal tersebut semakin membuat Angell semakin terbakar api cemburu saja.


"Brengsekk, apa sieh yang dilakukan oleh sik Dekil ini pada Dewa sampai Dewa segitunya, udah dekil, jelek, bodoh lagi, benar-benar tidak ada hal yang patut dibanggakan dari dirinya." pertanyaan yang terus dia tanyakan dalam hati, mungkin Angell bukan penganut kata-kata 'Cinta tidak memandang fisik' menurutnya mungkin seseorang bisa jatuh cinta karna kecantikan rupa saja.


"Itu sajakan niat kedatanganmu kemari Ngell." Dewa kembali berbalik menoleh ke arah Angell.


"Tentu saja bukan hanya itu saja, aku ingin mengajak kamu makan siang bareng Dewa, tapi aku malaslah karna sudah pasti istri dekilmu itu akan kamu ikut sertakan juga." keluhan yang hanya bisa Angell teriakkan dalam hati saja karna jawaban yang dia berikan dilisan adalah, "Iya, hanya itu saja Wa."


Dewa mengangguk kecil.


"Terus apa lagi yang lo tunggu, go out sana dari kantor suami gue, kehadiran elo bikin gue bad mood saja." usir Nuri, pengusiran dalam hati maksudnya, tidak mungkinkan dia terang-terangan mengusir Angell didepan suaminya sendiri, meskipun sangat tidak menyukai Angell, tapi Nuri masih menghargai suaminya yang merupakan sahabat dari Angell.


Menyadari tatapan pengusiran yang dilayangkan oleh Nuri membuat Angell akhirnya memilih untuk pamit, "Ya sudah kalau gitu Wa, aku pamit dulu."


"Iya." jawab Dewa singkat.


Dan saat Angell akan kembali mencium pipinya sebagai ciuman perpisahan, Dewa buru-buru berkata, "Sorry Ngell, bisakah mulai sekarang kamu menghilangkan kebiasaan kamu yang memeluk dan menciumku saat ketemu dan akan pergi." Dewa mengatakannya dengan pelan-pelan, biar bagaimanapun, dia tidak ingin menyakiti Angell karna Angell adalah sahabatnya, dan Dewa tambah tidak ingin lagi menyakiti Nuri yang notabennya adalah istrinya dengan pasrah menerima kecupan dipipinya dari Angell, tadi saja Nuri menatapnya dengan tatapan seperti yang sering ditampilkan oleh pembunuh berdarah dingin.


"Kenapa sieh Dewa jadi seperti ini sekarang, apa otaknya sudah dicuci sama sik dekil itu, heran deh, ini gak boleh, itu gak boleh." kekesalan yang hanya dia suarakan dalam hati, sekali lagi tidak mungkin baginya untuk mengatakan hal tersebut dengan terang-terangan.


Dan dengan sangat kecewa Angell mengatakan, "Hmmm, baiklah, aku tidak melakukannya lagi Wa."


"Kalau begitu aku pergi dulu, ingat lho nanti malam kamu harus datang." sejak tadi Angell selalu memperingatkan Dewa tanpa ada embel-embel yang meminta Dewa untuk membawa Nuri, tapi meskipun begitu, disini Dewa sudah pasti donk akan membawa Nuri, diakan rencananya ingin memperkenalkan Nuri pada orang yang telah dia anggap seperti orang tuanya sendiri.

__ADS_1


"Sipp, aku pasti datang." janji Dewa, "Sampaikan salam untuk om Ihsan dan tante Tiara ya Angell."


"Iya." Angell menjawab singkat.


"Ihhhh." dengus Nuri begitu Angell sudah menutup pintu ruangan Dewa, "Kenapa sieh kakak membiarkan gadis ganjen itu sering-sering berkunjung ke kantor kakak." Nuri mulai menyuarakan kekesalannya yang sejak tadi tahan.


"Diaka sahabat kakak adek, gak mungkin donk bagi kakak untuk tidak menerima dia apalagi mengusir Angell dari kantor kakak."


"Tapi Angell itu ganjen kak, sejak dia datang dia selalu saja curi-curi pandang ke arah kak Dewa, akukan jadi bete." Nuri menyilangkan kedua tangannya didepan dada, tuh bibir kembali dah manyun, dan tentu saja para pemirsa maklum akan hal ini karna memang wanita orangnya ribet.


Dewa tersenyum maklum, dia tahu istrinya tengah cemburu, dia berusaha untuk membujuk istrinya itu, "Angell tidak ganjen sayang, dia menatap kakak hanya karna kagum sama kakak sebagai seorang sahabat, tidak lebih, jadi adek, jangan berprasangka buruk lagi sama Angell oke, biar bagaimanapun, Angell itu adalah sahabat kakak sejak dulu."


"Hmmm." respon Nuri, biar bagaimanapun dia berusaha menerima Angell sebagai sahabat suaminya, tetap saja dia tidak bisa, apalagi Angell menyukai Dewa, tapi rasanya dia tidak mungkin juga meminta Dewa untuk menjauhi Angell mengingat Angell karna sama Dewa terlebih dahulu, Nuri hanya berharap, seiring dengan berjalannya waktu, perasaan Angell akan hilang dengan sendirinya dan benar-benar menganggap Dewa hanya sebagai seorang sahabat, bukan laki-laki yang dia sukai.


****


“Kak haruskan kita pergi.” Sungut Nuri sembari memandangi punggung Dewa yang saat ini tengah mengancingi kemejanya.


Dewa yang sudah beres dengan pakaiannya berbalik dan berjalan ke arah Nuri yang saat ini duduk dipinggir tempat tidur, Dewa hanya menyunggingkan senyum saat melihat bibir manyun Nuri, baginya itu sangat menggemaskan, dan hal tersebut selalu saja membuat dirinya tidak tahan untuk mengecup bibir Nuri seperti yang dia lakukan begitu sudah berada didekat sang istri.


Cup


Satu kecupan mendarat yang membuat Nuri protes, tidak benar-benar protes sieh mengigat dalam hati Nuri selalu suka saat Dewa melakukan hal tersebut, namun dia hanya pura-pura saja protes dengan melisankan, “Ihhh kak Dewa nieh, selalu saja main cium sembarangan, dasar mesum.”


Dewa terkekeh mendengar protes dari bibir sang istri, “Makanya jangan manyun sayang, kakakkan jadi tidak tahankan.” Balasnya.


“Itu sieh memang kakaknya saja yang mesum.” Manyun lagi.

__ADS_1


“Bisa gak dek, jangan goda kakak lagi, nanti kalau kakak khilaf gimana, bisa-bisa kita tidak jadi pergi makan malam ke rumahnya om Ihsan.”


“Khilaf saja agar kita tidak perlu ke rumahnya sik Angell itu.” Nuri justru malah ingin Dewa khilaf, dia lebih memilih melakukannya daripada harus pergi kerumahnya keluarga Angell.


“Jangan begitu adek, biar bagaimanapun, om Ihsan dan tante Tiara sudah kakak anggap seperti orang tua kakak sendiri, mereka sangat baik sama kakak, merekalah yang selalu memperhatikan kakak setelah kedua orang tua kakak meninggal.” Dewa berusaha menjelaskan pada Nuri, dia ingin Nuri juga menganggap om Ihsan dan tante Tiara seperti mertuanya sendiri.


Nuri mengerti, namun masalahnya, dia tidak menyukai Angell, saat melihat wajah Angell Nuri bawaannya kesel melulu, apalagi saat wanita itu menatap suaminya dengan penuh harap, Angel benar-benar tidak menghargainya sebagai istri dari Sadewa Argantara.


“Tapi aku tidak suka sama sik Angell itu kak, dia benar-benar menyebalkan, dia selalu saja menatap kakak seakan-akan dia ingin menerkam kakak, akukan tidak suka kalau suami aku ditatap begitu, aku takut lama-lama kak Dewa bakalan tergoda sama dia, apalagi dia itu cantik.” Nuri mengutarakan suara hatinya.


Dewa meraih tangan Nuri dan menariknya supaya berdiri, Dewa menatap bola mata sang istri, tatapan yang seperti biasanya sarat akan cinta dan selalu berhasil membuat Nuri grogi dan salting, "Adekk percayalah, meskipun bidadari sekalipun yang datang menggoda kakak, kakak tidak akan pernah tergoda, karna apa." Dewa menggantung kata-katanya.


"Karna apa." kejar Nuri ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh suaminya selanjutnya.


"Karna istri aku yang saat ini tengah berada dihapanku jauhhhh lebih cantik."


Meskipun Nuri tahu itu gombal, tapi tetap saja gombalan Dewa membuatnya mampu tersenyum tipis, "Ihh kak Dewa ini ada-ada saja, mana mungkin coba kalau aku jauh lebih cantik dari bidadari."


"Bagi kakak, adeklah yang tercantik, sejak dulu, sekarang dan selamanya."


"Dasar gombal."


"Tapi adek sukakan digombalin."


Nuri hanya meringis menanggapi kata-kata suaminya tersebut.


"Sebaiknya kita berangkat sekarang dek, mungkin om dan tante sudah menunggu kita."

__ADS_1


Nuri mengangguk.


*****


__ADS_2