
“Pak Dewa kapan nikahnya.” Pak Gitok bertanya penuh keingintahuan.
“Pak.” Ulang Nuri mengulangi panggilan pak Gitok pada suaminya, “Bapak kenapa manggil suami saya dengan panggilan pak.” Nuri tahu sieh memang setiap laki-laki yang cukup berumur biasanya dipanggil pak, tapi dari cara laki-laki yang saat ini duduk bergabung dengannya memanggil suaminya, Nuri yakin itu bukan sembarangan panggilan, tapi panggilan untuk orang yang dihormati, apalagi Nuri melihat dengan jelas pak Gitok begitu segan sama suaminya.
Disini Dewa terlihat tegang, dia tidak ingin rahasianya terbuka dengan cara seperti ini, dia ingin dia sendiri yang menyampaikan kebenaran yang sebenarnya kepada Nuri.
“Iya karna pak Dewa ini adalah atasan saya dikantor,belia ini adalah....”
“Pak Gitok.” Wajah Dewa terlihat begitu serius,”Bisa bapak tinggalkan saya dan istri saya.”
Pak Gitok terlihat agak takut, dia tahu ada ada hal yang seharusnya tidak dia katakan melihat raut wajah atasannya itu, oleh karna itu pak Gito buru-buru pamit, “Saya permisi kalau begitu pak Dewa, maafkanlah saya yang telah mengganggu bapak dan istri.”
“Apa maksudnya semua itu.” Batin Nuri, dia yakin orang barusan mengatakan hal yang sebenarnya, “Dia bilang kak Dewa adalah atasannya, atasannya bagaimana, bukannya kak Dewa pekerjaannya tidak tetap, bagaimana bisa kak Dewa sebagai atasannya.”
Nuri sebenarnya ingin tahu banyak tentang suaminya dari pak Gitok, dan dia sempat ingin manahan laki-laki tersebut, tapi kemudian dia ingat kalau kenapa harus mengintrogasi orang lain kalau dia bisa mengintrogasi laki-laki yang saat ini tengah berada dihadapannya alias suaminya sendiri yaitu Sadewa Argantara, olehkarna itu, Nuri memberikan tatapan yang meminta suaminya untuk menjelaskan secara lebih detail tentang apa yang dimaksud oleh laki-laki barusan.
Sadar akan makna tatapan dari Nuri, Dewa berusaha untuk mengelak, “Adek, orang tadi....”
Sadar suami akan ngelesdan karna takut kalau dirinya akan memancing keributan sehingga Nuri mengajak suaminya untuk pulang, dia ingin suaminya menjelaskan semaunya dengan lengkap dirumah saja supaya nanti kalau seandainya mereka ribut, tidak akan mengundang perhatian orang.
“Kita pulang kak.” Potongnya.
“Tapi acaranya belum selesai adek,nanti mbak Maryam....”
“Kita pulang kak Dewa, ada ataupun kita tidak ada tidak akan berpengaruh apa-apa sama sekali dipesta pernikahan mbak Maryam dan mas Azam.” Kata-kata Nuri penuh dengan penekanan yang membuat Dewa tidak bisa menolak keinginan Nuri.
“Baiklah adek, ayok kita pulang sekarang.” pasrah Dewa.
******
Nuri yang sudah tidak tahan dengan rasa penasaran tentang apa yang selama ini disembunyikan oleh suaminya kembali mencecar sang suami tanpa menunggu sampai rumah terlebih dahulu.
"Jadi, itu maksud laki-laki yang kita temui dipesta pernikahan mbak Maryam itu apa kak."
Meskipun Dewa tahu ini bukanlah momen yang pas untuk mengatakan yang sebenarnya, akhirnya mau tidak mau Dewa memang harus mengatakannya, toh fikirnya, cepat atau lambat dia juga harus ngasih tahu kebenaran tentang siapa dirinya pada istrinyakan.
Sebelum membuka suaranya untuk menjelasakan semuanya, Dewa terlihat menarik nafas panjang, dia berdoa dalam hati semoga Nuri tidak marah dan memaklumi alasannya menyembunyikan tentang identitasnya tersebut.
"Dekk, kakak harap setelah kakak cerita, adek jangan marah ya."
__ADS_1
"Aku gak janji." balas Nuri dalam hati, sementara dia memilih untuk bungkam.
"Kakak sebenarnya seorang Ceo dari sebuah perusahan XX." Dewa menyebutkan nama sebuah perusahaan besar diibu kota.
Dengan cepat Nuri menoleh ke arah sang suami, saat Dewa menyebutkan nama perusahaan tersebut, Nuri tentu saja tahu perusahaan itu, karna Juli sering menyebut-nyebut karna dia begitu lulus kuliah ingin bekerja diperusahaan itu seperti kakaknya.
"Ha ha ha." Nuri tertawa garing karna menganggap itu cuma lelucon, "Masih siang lho ini kak Dewa, dan sekarang kak Dewa malah bermimpi, mimpinya ketinggian lagi dengan mengatakan kalau kakak adalah Ceo dari perusahaan besar itu."
"Kakak serius adek, itu adalah perusahaan milik keluarga kakak yang jatuh ditangan kakak."
Nuri tentu masih belum percaya sehingga dia memilih untuk mencaritahu tentang perusahaan tersebut, dan diterlihat gambar suaminya dan juga profil lengkap sang suami sebagai pemilik perusahaan, dan begitu tahu tentang kebenaran tersebut, apakah Nuri lantas bahagia dan memeluk Dewa karna suaminya itu adalah pemilik sebuah perusahaan besar yang berarti suaminya ternyata adalag orang kaya dan dengan begitu, sebagai istrinya Sadewa Argantara kekayaan suaminya juga adalah termasuk miliknya, dibilang bahagia, tentu saja tidak, tiba-tiba saja benak Nuri dipenuhi oleh rasa kecewa dan juga sakit karna mengetahui kalau selama ini suaminya itu telah membohonginya tentang identitasnya yang sebenarnya.
"Kamu jahat, jadi selama ini kamu membohongiku."
"Maafkan kakak adek, kakak tidak bermaksud begitu, kakak melakukannya karna..."
"Selain hal ini, apalagi yang kakak sembunyikan dariku." potong Nuri dengan nada melengking.
"Sumpah demi Tuhan adek, tidak ada yang kakak sembunyikan dari adek selain fakta kalau kakak adalah seorang ceo dari sebuah perusahaan."
"Bohong."
Namun Nuri tidak percaya sehingga dia meminta Dewa untuk menurunkannya, "Turunkan aku disini." untuk saat ini, dia rasanya tidak ingin berada ditempat yang sama dengan pembohong seperti Dewa, dia tidak ingin berada didekat suaminya itu, karna fikir Nuri, kalau hal ini saja disembunyikan oleh suaminya dari dirinya, mungkin ada banyak kebohongan-kebohongan lainnya yang juga disembunyikan oleh Dewa.
"Adek, ini bukan tentang masalah perselingkuhan adek, jadi kakak harap adek memaklumi, kakak menyembunyikan identitas kakak hanya karna kakak ingin menemukan cinta sejati, kakak ingin seseorang mencintai kakak itu karna tulus, bukan karna harta."
"Apapun alasan kakak, intinya kak Dewa telah membohongiku, dan aku tidak suka dibohongi." Nuri makin terlihat makin kesal, bahkan air matanya kini sudah mulai berjatuhan, dia mencintai suaminya, dan tidak ada hal yang dia tutupi dari suaminya itu, tapi ternyata selama ini Dewa malah membohonginya dengan menutupi identitasnya yang sebenarnya, istri mana coba yang tidak sakit dibohongi.
"Oke, oke, kakak minta maaf adek, tidak bisakah adek memaafkan kakak."
Tanpa mengindahkan permintaan maaf dari sang suami, Nuri kembali meminta Dewa untuk menurunkannya, "Turunkan aku sekarang Dewa." Nuri bahkan sekarang sudah menanggalkan sopan santunnya dengan memanggil suaminya dengan hanya nama saja.
"Adekk, tolong jangan seperti ini."
"Kalau kamu tidak mau berhenti, aku akan lompat." dan itu bukanlah sebuah ancaman belaka, karna Nuri akan bersiap mendorong pintu mobil, dan melihat hal tersebut, Dewa yang tidak ingin terjadi apa-apa sama Nuri terpaksa menuruti keinginan sang istri.
"Baiklah adek, kakak akan menghentikan mobilnya." Dewa memilih menghentikan mobilnya dipinggir jalan.
Dan tanpa basa-basi, Nuri langsung keluar dan membanting pintu mobil, dia benar-benar marah karna dibohongi, Nuri berjalan menjauh, dia tidak tahu kemana tujuannya, namun intinya adalah, dia harus jauh dari Dewa.
__ADS_1
Dewa tidak tinggal diam, dia keluar dan berusaha mengejar istrinya, "Adekk, tunggu dek."
Menyadari Dewa menyusulnya, Nuri mempercepat langkahnya, dia bahkan berlari, dan disaat seperti ini, Nuri bisa berlari dengan sangat cepat sehingga bahkan Dewapun tidak bisa mengejarnya.
Dewa yang merasa frustasi dengan tingkah Nuri meremas rambutnya, dia kembali berbalik ke arah mobil dan berniat mengejar Nuri dengan mobil, tapi sayangnya, ternyata jejak istrinya tidak bisa ditemukan oleh Dewa, bahkan Nuripun mematikan ponselnya.
"Brengsekkkk." umpat Dewa memukul stirr karna tidak bisa menemukan sang istri.
Tidak menyerah, Dewa berusaha menghubungi sahabat-sahabat Nuri karna dia berfikir mungkin Nuri akan datang ke rumah salah satu sahabatnya, namun, baik Juli dan Imel mengatakan kalau Nuri tidak datang ke rumah mereka.
"Kemana sieh kamu adekkk." desahnya frustasi, Dewa tidak kefikiran untuk menghubungi mertuanya untuk menanyakan keberadaan Nuri karna mertuanya sudah pasti masih berada dipesta pernikahan Maryam.
Dan setelah dua jam lebih melakukan pencarian disekitar jalan namun dia tidak kunjung menemukan Nuri, akhirnya Dewa memutuskan untuk pulang hanya sekedar untuk ganti baju dan kemudian dia akan melanjutkan untuk melakukan pencariannya.
****
Saat ini Juli tengah makan malam sendirian dimeja makan karna kakaknya dan kakak iparnya dan pastinya keponakannya juga saat ini tengah tidak ada dirumah, kakaknya beserta istri dan juga anak mereka saat ini tengah pergi mengunjungi orang tua mbak Dila yang merupakan mertuanya Agus kakaknya Juli, sedangkan April, sik bungu itu katanya malam ini menginap dirumah sahabatnya, sehingga Juli hanya tinggal berdua dirumah bersama dengan mbak Atun yang merupakan ART dirumah milik Agus.
Dan saat tengah menikmati makan malamnya dengan khsyuk begitu, Juli mendengar suara bell berbunyi, karna tidak ingin merepotkan mbak Atun sehingga Juli memilih untuk menghentikan makannya untuk sementara untuk mencaritahu siapakah tamu yang datang itu.
Saat pintu terbuka, alangkah kagetnya Juli saat menemukan sahabatnya Nuri dengan mata bengkak, sangat jelas kalau Nuri habis menangis hebat, penampilan Nuri membuat Juli ingat akan Dewa, 3 jam yang lalu, suami sahabatnya itu menghubunginya untuk mencari tahu keberadaan Nuri, namun karna saat itu Juli memang tidak tahu menahu tentang keberadaan Nuri, makanya dia bilang saja tidak tahu.
"Apa kak Dewa dan Nuri lagi berantem ya." batin Juli.
"Jul, lo gak mau mempersilahkan gue masuk." lisan Nuri karna Juli tidak kunjung menyuruhnya masuk juga.
"Ohh jadi lupa gue, ayok masuk Nur." Juli menuntun Nuri dan membawanya ke ruang tamu.
"Lo duduk dulu oke, gue buatan lo teh hangat dulu."
Nuri mengangguk.
Saat membuatkan Nuri teh hangat, Juli mempertimbangkan untuk memberitahu Dewa kalau Nuri ada dirumahnya, "Apa gue telpon kak Dewa ya untuk ngasih tahu kalau Nuri ada dirumah gue." Juli mengambil ponselnya dari kantong celananya, dia sudah mendial nomernya Dewa, namun dia mengurungkan niatnya itu, "Ehh jangan dulu deh, mending gue tanya Nuri dulu apa yang sebenarnya terjadi." karna ingin tahu apa yang terjadi sehingga membuat Juli mengurungkan niatnya untuk menghubungi Dewa.
"Neng Jul." tahu-tahunya mbak Atun sudah ada dibelakangnya, "Itu neng Nuri kenapa, dia kelihatan habis menangis gitu." mbak Atun yang habis dari warung membeli kecap dan beberapa kebutuhan lainnya meletakkan belanjaannya diatas meja, karna tadi saat melewati ruang tamu, dia melihat sahabat nona majikannya itu dan menyapanya.
"Aku juga tidak tahu mbak, mungkin dia ada lagi ada masalah kali sama suamiya." jawab Juli sekenanya dan setelah itu dia membawa nampan berisi teh untuk Nuri kedepan.
****
__ADS_1