SUAMIKU TERNYATA PRESDIR

SUAMIKU TERNYATA PRESDIR
PERHATIAN DEWA


__ADS_3

"Adek, adek sudah pulang." tanya Dewa tidak penting, ya jelaslah sudah pulang, kalau belum pulang, ya tidak mungkinlah Nuri saat ini ada disini.


"Ehh iya, hehe." Nuri cengengesan, padahal mah suasana hatinya benar-benar tidak menentu saat ini.


Dewa ikut berjongkok dan membantu Nuri memungut apel-apel yang jelas tidak bisa dibawa oleh Nuri sendirian.


"Tadi aku fikir mbak Angell tidak ada dikamar, makanya aku langsung ke kamar, maaf ya karna aku menggangu kalian."


"Ohh Angelll." Dewa menoleh kebelakang dimana Angell masih duduk ditempat tidurnya.


"Kakak bisa menjelaskannya adek, kakak harap adek jangan salah paham, apa yang adek lihat tidak seperti yang adek fikirkan." ujar Dewa, dia berharap Nuri tidak salah paham dengan apa yang tadi dilihatnya.


"Mmm, gak apa-apa kok, santai saja, gak perlu menjelaskan apa-apa sama aku, hehe." Nuri masih saja cengengesan, dalam hati dia terus saja membantah kalau adegan pelukan antara Dewa dan Angell membuatnya cemburu, padahal apa susahnya sieh mengakui akan hal itu, toh itu sesuatu hal yang wajar mengingat Dewa adalah suaminya.


Dewa mendesah berat, antara kesal dan senang itulah yang dia rasakan, kesal karna istrinya sama sekali tidak cemburu melihatnya berpelukan dengan Angell, kalau Nuri tidak cemburu, itu berarti istrinya tidak mencintainya donk, dan itu membuat Dewa sedih, dan ada sedikit senang yang dia rasakan karna tidak ada adegan-adegan drama seperti disinetron-sinetron.


"Hai adek, adek baru pulang kuliah ya." dari belakang Angell menyapa.


Nuri memaksakan dirinya tersenyum, "Iya mbak Angell."


"Maafkan ya adek kakak datang berkunjung saat kamu sedang tidak ada dirumah."


"Oh, tidak apa-apa mbak, mbak bisa datang kok kapanpun mbak inginkan, anggap saja seperti rumah sendiri dek."


"Terimakasih adek, kamu benar-benar baik."


"Mmm Dewa, sebaiknya kamu nemenin mbak Angell saja lagi, aku mau naruh apel-apel ini didapur dulu."


"Kakak bantu ya dek membawanya ke dapur."


"Gak usah, aku bisa sendiri kok." bawa sendiri gimana, orang tangannya saja hanya mampu membawa empat apel doank, mana apel itu besar-besar lagi, "Sini apelnya." pinta Nuri, intinya saat ini, dia ingin jauh-jauh dari Dewa dan Angell, dia tidak mau melihat kedua orang tersebut.


"Mana bisa adek membawanya sendiri, itu saja tangan adek sudah penuh." Dewa mengedikkan dagunya ke arah tangan Nuri.


"Ehh iya juga sieh, benar."


"Sudah gak usah protes, ayok kakak bantuin untuk membawanya."


"Hmm, baiklah."


"Mbak Angell, Dewa mau ngebantuin aku membawa apel-apel ini ke dapur, gak apa-apakan kalau mbak Angell tunggu sebentar." beritahu Nuri, dan hal tersebut membuat Dewa kesal.


"Kenapa sieh cuma membawa apel ke dapur saja harus pakai laporan segala." dengusnya dalam hati.


"Tentu saja tidak apa-apa." jawab Angell.


Dewa dan Nuri melangkah ke dapur dengan membawa apel dikedua tangan mereka, setibanya didapur, Nuri meminta Dewa untuk meletakkan apel-apel tersebut disebuah wadah.


"Letakkan apelnya disini."


Dewa mengangguk.


Nuri kemudian membasuh apel-apel itu di air mengalir dari keran, Nuri tahu Dewa masih ada dibelakangnya dan dia tidak peduli akan hal itu.


"Adek." panggil Dewa pelan.


"Ngapain sieh masih disini, sana balik ke dalam, kasihan lho mbak Angell nanti kelamaan nungguin kamu." Nuri berusaha membuat suaranya terdengar senormal mungkin.


"Biarin saja dia disana, orang aku mau disini kok nemenin istriku."


"Tapi mbak Angell nungguin kamu itu, sudahlah sana pergi temuin mbak Angell." nada suara Nuri terdengar mulai ketus, Nuri berusaha untuk mengontrol emosinya, bayangan Dewa dan Nuri berpelukan masih terbayang-bayang dipelupuk matanya, dan itu membuat hatinya terasa panas membara, seperti ada yang menyalakan tungku api didalam hatinya.


"Aku bilang mau disini ya mau disini adek, biarin saja Angell disana."


"Nanti mbak Angell cemburu kalau kamu lam-lama disini."


"Cemburu." ulang Dewa, "Cemburu bagaimana maksud kamu."


"Ya cemburu, bukannya mbak Angell mencintai kamu." lisannya, tambahnya dalam hati, "Pura-pura bodoh lagi dia, dasar menyebalkan."


"Ohh itu." Dewa jadi terkekeh mendengar kata-kata Nuri barusan.


"Angell memang mencintaiku."


Entah kenapa, saat mendengar kata Dewa barusan, hati Nuri terasa sakit, "Ihh dasar menyebalkan, kenapa sieh hatiku sakit mendengar dia mengatakan hal itu."


Dewa melanjutkan, "Tapi itu dulu adek, sekarang Angell sudah tidak mencintaiku lagi, kami murni hanya bersahabat saja." Dewa menjelaskan.


"Terus tadi pelukan bukannya...."


"Ohh itu, Angell lagi ada masalah dengan keluarganya adek, makanya dia kemari, dia ingin cerita sama kakak, dia menangis, dan kakak memeluknya hanya untuk menenangkannya."


"Ohh." respon Nuri, tapi hatinya tidak kunjung membaik, itu membuatnya merutuk dirinya sendiri, "Hati sialan, kenapa sieh jadi kayak gini, padahalkan aku tidak cinta sama Dewa, kenapa sieh bisa nyesek begini perasaanku."

__ADS_1


"Adek tidak marahkan."


"Ya jelas tidaklah." jawab Nuri cepat.


"Ohh." Dewa terdengar agak kecewa mendengar jawaban Nuri barusan.


"Ngapain juga aku marah, akukan tidak suka dengan kamu."


"Hemm."


Padahal apel-apel dibaskom itu sudah pada bersih, tapi Nuri masih saja membilasnya, mungkin itu adalah cara untuk menghilangkan sesak yang dia rasakan saat melihat adegan pelukan antara Dewa dan Angell, sedangkan Dewa, laki-laki itu masih setia berdiri dibelakang Nuri, sampai kemudian Angell memasuki dapur.


"Wa." panggil Angell.


Baik Dewa dan juga Nuri menoleh ke arah Angell, padahal cuma Dewa yang dipanggil, tapi Nuri juga ikutan noleh.


"Kenapa Angell."


"Aku sebaiknya pulang ya."


"Kamu mau pulang Ngell."


"Iya, tadi mama telpon, dia nyariin aku, mereka khawatir sama aku."


"Apa om dan tante sudah baik-baik saja Ngell."


"Sepertinya begitu Wa, aku sebaiknya pulang untuk memastikan."


"Oh baiklah kalau begitu Angell."


"Mari aku antar sampai depan."


Angell mengangguk.


"Adek, mbak pulang dulu ya." Angell pamit sama Nuri.


"Iya mbak, mbak Angell hati-hati ya."


"Iya."


Dewa berjalan untuk mengantarkan Angell sampai depan.


Dan begitu Angell dan Dewa sudah pergi, barulah Nuri berbalik dan menghentikan aktifitasnya yang sejak tadi terus membasuh apel-apel tersebut, bahkan kulit apel-apel itu sampai kinclong karna berulangkali dibilas olehnya.


****


Kalau dibilang sembuh total sieh belum, tapi hanya untuk sekedar menonton tv tentunya Dewa gak apa-apa donk, dan malam ini Dewa rencananya mau begadang gitu untuk menyaksikan pertandingan bola dari club paforitnya, sehingga saat ini, Dewa sudah standby didepan TV diruang tamu.


Sedangkan Nuri saat ini tengah berada dikamar, wanita tiba-tiba saja merasakan keram diperutnya.


"Aduhh perutku." Nuri memegang perutnya, dia meringis menahan sakit yang teramat sangat, hal ini sudah sering dia rasakan saat datang bulan.


"Aduhh sakit banget lagi." keluhnya.


"Dewaa." panggil Nuri.


"Dewaaa."


Tapi tetap tidak ada sahutan karna suara panggilan Nuri teredam oleh suara TV yang saat ini tengah menayangkan siaran sepak bola.


Karna tidak kunjung mendapat respon, Nuri pada akhirnya berusaha untuk bangun, dengan memegang perutnya dan dengan langkah tertatih-tatih karna menahan sakit Nuri berjalan ke arah pintu, dari pintu dia bisa melihat kalau suaminya itu tengah fokus menatap layar televisi, Nuri berjalan mendekat.


"Dewa." panggilnya begitu sudah didekat Dewa.


"Adek." kaget Dewa saat melihat istrinya tiba-tiba berada didekatnya, melihat wajah Nuri yang meringis seperti orang kesakitan dan dengan tangan memegang perut tentu saja membuat Dewa jadi khawatir dengan kondisi sang istri.


Dia bangkit dari posisi duduk, "Ada apa adek, adek butuh sesuatu." tanyanya penuh perhatian.


"Perutku sakit banget." keluh Nuri.


"Adek sakit perut, kita ke dokter ya."


Nuri menggeleng, "Tiap bulan sudah biasa seperti ini."


"Maksud adek."


"Aku lagi datang bulan, dan kalau datang bulan biasanya disertai dengan sakit dibagian perut." jelas Nuri ditengah rasa sakit yang mendera.


"Terus apa yang biasanya adek lakukan untuk meredakan rasa sakitnya."


"Dulu saat masih tinggal bersama orang tuaku, Ibu sering mengompres perutku dengan air hangat."


"Ya udah kalau gitu, ayok kita ke kamar dulu adek, kakak akan mengompres perut adek dengan air hangat."

__ADS_1


Nuri mengangguk patuh.


Saat Dewa melihat istrinya kepayahan berjalan, tanpa tedeng aling-aling, Dewa langsung mengangkat tubuh istrinya, Nuri tidak menolak saat Dewa menggendongnya dan membawanya ke kamar, setibanya dikamar, Dewa membaringkan Nuri dengan hati-hati, dia memperlakukan Nuri dengan sangat lembut seolah-olah Nuri adalah porselen yang terbuat dari kaca yang gampang pecah.


"Adek tunggu dulu ya, kakak akan memasak air dulu untuk mengompres perut adek."


Nuri mengangguk.


10 menit kemudian, Dewa kembali dengan membawa baskom berisi air hangat dan juga handuk yang akan dia gunakan untuk mengompres perut Nuri.


"Aduhhh sakit." Nuri terus merintih kesakitan sambil memegang perutnya.


Dewa merasa kasihan melihat istrinya yang tampak kesakitan begitu, kalau bisa, dia ingin menggantikan Nuri memikul rasa sakit itu, tapi sayangnya, hal itu tentunya tidak bisa dia lakukan.


"Adek, kakak singkap bajunya ya." sebelum mengompres perut Nuri, Dewa meminta izin terlebih dahulu.


"Hmmm."


Setelah mendapatkan izin, Dewa menaikkan kaos yang menutup perut Nuri, dia kemudian menempelkan handuk yang tadi sudah dia rendam terlebih dengan air hangat ke perutnya Nuri, setelah air hangat itu mengenai permukaan kulitnya, Nuri terlihat sedikit tenang.


Dewa melakukan hal itu sampai berulangkali, "Sudah mendingan adek."


Nuri mengangguk, "Hmm, sudah tidak sesakit tadi kok."


Dewa lega mendengar jawaban Nuri.


Dan pada akhirnya Nuri tertidur juga, dan begitu melihat istrinya tertidur, barulah Dewa berhenti mengompres perut istrinya.


"Semoga saja besok perutnya sudah tidak sakit lagi." harap Dewa, dia membawa baskom itu kembali ke dapur, meskipun tidak bisa menyaksikan pertandingan bola, Dewa tidak merasa kecewa karna istrinya jauh lebih penting.


Dewa kembali kekamar, dia bisa melihat kalau istrinya kini tertidur dengan damai, Dewa mendekat dan membaringkan tubuhnya disamping Nuri, Dewa kemudian melingkarkan tangannya untuk memeluk Nuri.


"Tidur yang nyenyak dan mimpi yang indah adek kesayanganku." Dewa kemudian mencium kening Nuri sebelum dia juga ikut terlelap bersama dengan Nuri.


****


Pagi menjelang, saat Nuri membuka matanya, dia menemukan tangan suaminya yang memeluknya dengan posesif, dan kalau kemarin-kemarin Nuri selalu protes dan tidak suka saat Dewa menyentuhnya, tapi saat ini Nuri tidak protes dan tidak juga menyingkirkan tangan Dewa dari perutnya.


Entah kenapa, Nuri merasa nyaman merasakan tangan Dewa yang memeluknya, dan perutnyapun sudah tidak sesakit semalam.


Nuri mengarahkan matanya pada wajah suaminya yang begitu dekat dengannya, dari jarak sedekat ini bahkan dia bisa melihat pori-pori diwajah suaminya itu, dan setelah dirinya hilang ingatan, ini untuk pertamakalinya Nuri mengakui ketampanan suaminya.


"Benar ternyata yang dikatakan oleh Imel dan juga Juli kalau Dewa memang tampan." Nuri terus memperhatikan wajah suaminya, suaminya memiliki hidung yang mancung, rahang yang kokoh, alis mata yang tebal, dengan bibir tidak bisa dibilang tipis dan tidak bisa dibilang tebal juga, intinya, proporsi wajah Dewa benar-benar pas deh.


"Kenapa aku baru menyadarinya sekarang ya, dia tidak hanya sekedar tampan saja, tapi dia juga begitu sangat baik, perhatian dan lembut kepadaku meskipun aku selalu bersikap ketus kepadanya." kini sikap jutek dan ketusnya terbayang dipelupuk mata Nuri, dan hal itu membuat Nuri agak menyesal juga sieh mengingat Dewa selalu bersikap lembut kepadanya, apalagi semalam, Dewa benar-benar sangat telaten mengurusnya yang kesakitan karna sakit yang sering datang saat dirinya datang bulan.


Saat tengah sibuk memperhatikan wajah Dewa, laki-laki itu menggerakkan kelopak matanya, sadar kalau Dewa akan terbangun, Nuri buru-buru mengalihkan wajahnya dari wajah Dewa, Nuri pura-pura tertidur, dia tidak ingin Dewa memergokinya saat tengah memperhatikannya.


Dan dua detik kemudian, Dewa membuka matanya, laki-laki itu tersenyum saat melihat istrinya masih tertidur, Dewa kamudian mendekatkan bibirnya ke wajah Nuri, dia mencium pipi istrinya, "Selamat pagi adek."


Sumpah, saat Dewa menciumnya, jantung Nuri rasanya berdebar sangat hebat, Nuri bahkan sampai takut kalau Dewa mendengar suara detakan jantungnya.


"Jantungku, dia kenapa ini, kenapa tiba-tiba berdebar kencang begini, tidak mungkin karna kesenangan gara-gara dicium oleh Dewakan." lagi-lagi Nuri berusaha membantah perasaannya kepada Dewa, dia menolak untuk mengakui kalau rasa-rasa itu mulai tumbuh dihatinya.


Nuri bisa merasakan tempat tidur agak berguncang yang menandakan Dewa bangkit dari posisi berbaringnya, Nuri kemudian membuka matanya pelan-pelan, dan dia sudah tidak menemukan Dewa lagi dikamar, setelah menemukan Dewa tidak berada dikamar, barulah Nuri bisa bernafas lega, tadi dia rasanya tidak bisa bernafas saat Dewa berada disampingnya.


"Ukhhh, kenapa aku tiba-tiba jadi seperti ini sieh." keluhnya, "Seharusnyakan aku marah karna Dewa menciumku, ini malah aku hanya diam saja." Nuri jadi kesal sama dirinya.


******


Saat Dewa kembali memasuki kamar setelah dia mandi, Dewa menemukan gadis itu tengah duduk bersandar ditempat tidur.


"Pagi adek, sudah bangun." Dewa pintar dan memiliki otak yang cerdas, tapi seringkali menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu, sudah tahu Nuri sudah bangun, pakai ditanya lagi.


"Kalau aku masih tidur, gak mungkinkan mataku jadi melek begini."


Dewa terkekeh menanggapi jawaban Nuri.


Setelah berganti pakaian, Dewa mendekati Nuri yang masih duduk malas-malasan ditempat tidur.


"Apa perutnya masih sakit adek."


"Hmmm, tapi tidak sesakit seperti semalam."


"Baiklah, adek tunggu ya, kakak siapin air hangat dulu untuk mengompres perutnya adek."


"Ehh gak perlu, lagian ini gak sakit-sakit amet kok." tahan Nuri.


"Tapi masih sakitkan dek, sudahlah adek mending berbaring saja, kakak tidak ingin melihat adek kesakitan seperti semalam." setelah mengatakan hal tersebut, Dewa langsung bergegas keluar kamar lagi dan menuju dapur.


Nuri memperhatikan punggung Dewa sampai suaminya itu menghilang dari pandangannya.


"Dewa benar-benar sangat perhatian kepadaku." gumamnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2