
Dua wanita itu butuh jaminan untuk membuat mereka bebas, Diana hidup sendiri di Jakarta, kedua orang tuanya berada diluar negeri, jadi tidak mungkinkan meminta bantuan orang tua Diana, sedangkan Angell tidak mungkin juga menghubungi orang tuanya untuk menjamin mereka, karna jelas-jelas orang tua Angell akan marah besar saat melihat anak gadisnya yang terkenal baik, lemah lembut terkena masalah dengan polisi, Angell yakin mama dan papanya akan bertambah sangat marah kalau mengetahui Angell mabuk juga, oleh karna itu, pilihannya jatuh kepada Dewa, Angell akan meminta sahabatnya itu untuk menolong mereka dan menjadi penjamin, oleh karna itu Angell mendial nomernya Dewa.
"Angkat donk Wa, aku dan Diana butuh bantuan kamu." ujar Angell tidak sabaran.
"Halo Angell, ada apa nelpon malam-malam begini, apa semuanya baik-baik saja." terdengar suara Dewa dari seberang.
"*Wa, tolongin aku Wa, aku dan Diana saat ini tengah dalam masalah."
"Ada apa Angell."
"Aku saat ini dan Diana ditahan dikantor polisi Wa*."
"Hah, kamu dikantor polisi Ngell, kok bisa, apa yang sebenarnya terjadi." cecar Dewa.
"Wa, panjang ceritanya, bisakah kamu kesini saja sekarang, bebaskan kami Wa, aku dan Diana tidak mau kalau harus sampai nginep dipenjara, hanya kamu harapanku Wa, karna kalau aku meminta pertolongan dari mama dan papa, mereka pasti akan memarahiku habis-habisan kalau mereka tahu aku berada dikantor polisi."
"Baiklah, aku akan segera kesana Ngell, tungguin aku oke."
Setelah memastikan hal tersebut, mereka memutuskan sambungan.
"Dewa akan kesini Di, dia bersedia menjadi penjamin untuk kita." beritahu Angell pada Diana.
"Ohh syukurlah."
****
"Apa sieh yang dilakukan oleh Angell sampai ditangkap oleh polisi malam-malam begini." heran Dewa sambil mengenakan jaketnya.
Sebelum pergi ke kantor polisi, Dewa terlebih dahulu pamitan sama Nuri.
"Adekk Nur." Dewa mengetuk pintu kamar, namun tidak ada sahutan.
"Apa adek sudah tidur kali ya." fikir Dewa.
"Adekk, apa adek sudah tidur." Dewa kembali mengetuk pintu.
Setelah beberapa saat menunggu, pintu kamar tersebut terbuka yang memampangkan wajah Nuri, wajah itu masih terlihat segar, sepertinya dia belum tidur.
__ADS_1
"Ada apa."
"Dek, kakak pergi sebentar ya, adek dirumah saja."
Nuri mengarahkan tatapannya ke arah jam dinding yang tergantung didinding, jarum jamnya sudah menunjukkan angka 01. 10 menit, "Emang mau kemana tengah malam begini." tanya Nuri terdengar biasa, padahal ada rasa cemas juga dihatinya kalau Dewa pergi tengah malam begini, bukan mencemaskan Dewa yang pergi tengah malam begini, tapi dia takut sendirian dirumah.
"Angell."
"Mbak Angell kenapa."
"Aku tidak tahu bagaimana ceritanya tiba-tiba anak itu menelpon dan memintaku untuk ke kantor polisi sebagai penjamin untuknya."
"Hah, mbak Angell dikantor polisi." kaget Nuri.
Dewa mengangguk.
"Emangnya apa yang telah mbak Angell lakukan sampai dia ada dikantor polisi segala."
"Aku juga tidak tahu dek, makanya aku mau ke kantor polisi dulu dek, adek dirumah saja ya, kakak cuma sebentar saja kok gak lama." sebenarnya berat juga sieh hati Dewa untuk meninggalkan istrinya sendirian dirumah, tapi mau bagaimana, Angell memang membutuhkannya saat ini, karna mengaharapkan om Ikhsan tentu saja laki-laki itu akan memarahi Angell terlebih dahulu sebelum membebaskannya.
"Hmm, baiklah kalau begitu, kamu hati-hati ya."
"Jangan lama-lama ya, kalau urusannya sudah selesai langsung balik." Nuri berpesan, dia tidak mau ditinggal lama-lama karna dia takut sendirian dirumah.
"Iya adek, mana mungkin sieh kakak membiarkan adek sendirian dirumah."
"Hmmm."
"Ya sudah ya adek, kakak pergi dulu, baik-baik dirumah." Dewa mengelus puncak kepala Nuri sebelum pergi, dan kali ini Nuri tidak menepis tangan Dewa.
Nuri mengantarkan Dewa sampai pintu depan, agak berat juga sieh rasa hatinya saat harus melepaskan Dewa seperti ini.
"Hati-hati."
"Iya adek, adek tidak perlu khawatir." balas Dewa sebelum menjalankan motornya.
*****
__ADS_1
Setelah meyakinkan polisi, akhirnya Dewa berhasil membebaskan Angell dan juga Diana.
Sejak tadi Dewa mencium bau alkohol dari mulut sahabatnya itu, jangankan orang tua Angell, Dewapun tidak percaya kalau sahabatnya itu bisa minum kayak gini sampai membuat mereka menabrak segala.
Dewa yang rencananya yang akan mengantarkan kedua gadis itu ke apartmennya Diana, meskipun Diana bilang kalau dia sudah cukup sadar dan bisa bawa mobil sendiri, tapi jelas Dewa tidak mengizinkan Diana menyetir setelah kejadian barusan, dan Angell juga akan menginap lagi diapartmennya Diana karna tidak mungkin juga bagi Angell untuk pulang kerumahnya dalam keadaan bau alkohol begitu, bisa-bisa digoreng dia oleh papanya, sementara Diana menunggu dimobil, Dewa dan Angell masih berada diluar, karna dua orang itu butuh ngobrol berdua.
"Angell, apa sieh yang sebenarnya terjadi, kenapa kamu sampai mabuk begini, kalau om dan tante tahu kalau putri kesayangan mereka minum-minum kayak gini, mereka pasti akan sangat kecewa." bahkan Dewapun kecewa dengan Angell, dia tidak pernah menyangka kalau sahabatnya itu bisa minum-minum, dia saja tidak pernah menyentuh minuman terlarang itu.
"Ini semua gara-gara kamu Dewa, kamulah yang menyebabkan aku kayak gini, kamulah yang menyebabkan aku harus berurusan dengan minuman keras, kamulah yang membuat hatiku terluka hingga menjadikan minuman keras sebagai pelarian." ingin Angell meneriakkan kata-kata tersebut didepan wajah Dewa agar laki-laki itu tahu kalau penyebab dia sampai menegak minuman haram itu adalah karna Dewa itu sendiri, namun yang Angell lisankan adalah, "Hmm, sekali-kali gak ada salahnyakan Wa kalau aku berurusan dengan minuman keras setelah seharian bekerja, akukan butuh hiburan dan pelepasan."
"Ada banyak hiburan yang bisa kamu cari Angell, tidak harus minum seperti itu, minuman itu tidak baik, bisa menjerumuskan kamu ke hal-hal negatif." Dewa menasehati karna dia tidak ingin sahabatnya itu harus berurusan lagi dengan minuman seperti itu.
"Tapi aku butuh itu Wa untuk menghilangkan rasa sakit hatiku akibat ulahmu." lagi-lagi itu hanya Angell suarakan dalam hati saja.
"Mmm, iya iya, aku tidak akan minum-minum lagi."
"Baguslah kalau begitu." desah Dewa, dia tidak pernah menyangka, sahabatnya yang lemah lembut begini doyan minum minuman begituan, "Ayok sebaiknya aku antar kalian balik."
Angell mengangguk.
Dewa meninggalkan motornya dikantor polisi, nanti dia akan kembali dan mengambilnya, yang terpenting saat ini adalah mengantarkan kedua gadis itu terlebih dahulu.
*****
Sementara itu, Nuri sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, dia sejak tadi grasak grusuk ditempat tidurnya, dia benar-benar tidak tenang, padahal dia tidak peduli dengan Dewa, tapi kok tiba-tiba dia jadi tidak bisa tidur begini hanya gara-gara Dewa yang belum balik juga.
"Duhh, kok jadi gak bisa tidur begini sieh." Nuri jadi kesal sama dirinya sendiri.
"Sik Dewa itu juga, kenapa belum balik juga sieh, padahal sudah dua jam berlalu, katanya perginya cuma sebentar doank." Nuri jadi bermonolog sendiri.
"Ya aku bukannya khawatir sieh, hanya saja aku tidak berani tidur sendiriankan dirumah jadinya." alibinya padahal mah dia aslinyakan khawatir sama Dewa, takut juga sieh, hehe.
Ditengah dirinya yang dilanda gundah gulana begitu, Nuri dikagetkan dengan suara pintu yang diketuk dari luar, saking kagetnya dia sampai meloncat dari tempat tidur.
"Adekk, buka pintunya adek." suara Dewa terdengar memanggil dari luar.
Antara lega dan kesal saat mendengar suara tersebut, lega karna Dewa sudah kembali, kesal karna Dewa mengagetkannya, "Ihh, bikin kaget saja dia itu." rutuknya.
__ADS_1
Nuri turun dari tempat tidur untuk membukakan Dewa pintu.
*****