SUAMIKU TERNYATA PRESDIR

SUAMIKU TERNYATA PRESDIR
NURI DICULIK


__ADS_3

Orang tua Angell ternyata benar-benar menerima Nuri dengan sangat baik, mereka ramah, dan jenis keramahan merekapun tidak dibuat-buat, alias mereka tulus, Angellpun sebenarnya sejak pertama mengenal Nuri memang tulus ingin berteman dengan Nuri, namun setelah tahu kalau Nuri adalah istri dari laki-laki yang dia cintai, sejak itulah dia berubah membenci Nuri, sehingga sepanjang makan malam itu tidak heran kalau Angell terus saja berwajah masam, dia tidak suka melihat kemesraan yang ditampilkan oleh Dewa yang memperlakukan Nuri bak ratu, itu membuat Angell muak dan terbakar api cemburu.


Dan kini, Dewa, Nuri, Angell serta mama dan papanya tengah mengobrol diruang keluarga setelah acara makan malam berlangsung.


"Angell, kamu kenapa sieh nak, sejak tadi mama perhatikan wajah kamu masam terus." mama Tiara bertanya karna sejak tadi memperhatikan sang putri.


Angell menjawab, "Gak apa-apa kok ma, Angell hanya gak enak badan." bohongnya.


"Kamu sakit Ngell." timpal Dewa.


"Ya begitulah." jawabnya acuh tak acuh, "Tidak sadarkah kamu Dewa, kamulah yang membuatku seperti ini, kamu jahat Dewa, kalau aku tidak bisa memiliki kamu, maka sik dekil ini juga tidak boleh." jerit Angell dalam hati, gadis yang saat ini tengah dilanda cemburu buta itu sepertinya sudah merencanakan sesuatu.


Dengan perhatiannnya Dewa berkata, "Kamu sebaiknya istirahat Angell."


"Gak enaklah Wa, masak aku ninggalin tamu begitu saja."


"Gak apa-apa Ngell, kamu sebaiknya sana gieh istirahat."


"Sana pergi, gue dan kak Dewa bahkan jauh lebih senang tanpa kehadiran elo." teriak Nuri, tapi dalam hati sieh, masak iya dia bilang begitu didepan mama dan papanya Angell yang telah menerimanya dengan sangat baik.


"Dewa benar Angell." sahut mama Tiara, "Istirahat saja sana kalau kamu gak enak badan."


"Baiklah kalau begitu, Angell ke kamar dulu." kata Angell akhirnya dan berlalu menuju kamarnya, sedangkan obrolan diruang tengah tersebut kembali belanjut.


*****


Begitu tiba dikamarnya, Angell langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Di, aku akan menjalankan rencanaku." ujarnya begitu sambungan terhubung, ternyata Angel menelpon Diana sahabatnya.


"Hah." Diana terdengar kaget saat mendengar ucapan sahabatnya itu, "Jangan gila kamu Angell, itu resikonya sangat besar lho." Diana berusaha memperingatkan Angell.


"Aku gak peduli Diana, aku sudah tidak sanggup menahan rasa sakit hati karna terus-terusan melihat Dewa dan sik Dekil itu."


"Angell, sadar donk, jangan hanya gara-gara cinta kamu kayak gini." Diana masih berusaha untuk menyadarkan Angell, dan Diana sepertinya khawatir dengan rencana yang akan dijalankan oleh Angell, entah apa rencananya, Allahu'alam.


"Angell, dengarkan aku ya." Diana kembali bersuara, "Kamu itu cantik, banyak banget lho yang mau sama kamu, kamu hanya perlu membuka hati kamu untuk menerima mereka, jadi Angell sayang, lupakan Dewa ya, dan belajarlah menerima hati yang baru, sangat banyak diluar sana yang jauh lebih baik dari Dewa." entah sudah kesejutakalinya Diana mengatakan hal tersebut, namun Angell sepertinya sudah cinta mati sama Dewa sehingga laki-laki yang terlihat sempurna dimatanya adalah Dewa, Dewa dan Dewa.

__ADS_1


"Tapi aku maunya sama Dewa Di, aku gak mau yang lain, kalau aku tidak bisa mendapatkan Dewa, gadis dekil itu juga gak boleh bersamanya."


"Angell, sadar Angell, pakai otakmu, apa yang kamu lakukan itu berbahaya."


"Aku tidak peduli Di, yang aku inginkan adalah supaya sik Dekil tidak bisa bersama dengan Dewa titik." setelah mengatakan hal tersebut, Angell langsung memutus sambungan tanpa membiarkan Diana membalas.


Angell kemudian berjalan ke arah meja riasnya, melihat pantulan wajah cantiknya yang kini terlihat menyeramkan dikaca, dengan senyum jahat dia berbicara pada pantulan dirinya, "Kamu akan mati gadis dekil, dan Dewa akan menjadi milikku, haha." ruangan tersebut dipenuhi oleh suara tawa jahat Angell.


****


"Lo mau ke kantor suami elo Nur." Imel bertanya saat perkuliahan berakhir.


"Iya." jawab Nuri sembari memasukkan peralatan tulisnya ditas.


"Yahh padahal gue dan Juli mau ngajak lo nongkrong dicafe depan kampus yang baru dibuka itu."


"Lain kali saja ya, akhir-akhir ini gue itu ya bawaannya kangen terus sama suami gue, gak tahan gitu berpisah terlalu lama."


"Dihh lebay emang lo ya."


Nuri hanya terkekeh menanggapi ucapan Juli.


"Oke." balas Juli dan Imel bersamaan.


Bertepatan dengan Nuri yang baru keluar dari gerbang kampus sebuah mobil hitam berhenti tepat didepannya, dan dari dalam mobil tersebut keluar 3 orang berpakain serba hitam dan berbadan kekar dan berjalan ke arah Nuri, Nuri hanya bisa bengong untuk sesaat, dia tidak berfikir macam-macam sampai ketiga laki-laki itu menariknya.


"Ehh, apa-apaan nieh, siapa kalian, lepasin gue." Nuri berontak yang membuat para mahasiswa yang berlalu lalang untuk sesaat berhenti.


"Ayok ikut kami." bentak salah satu laki-laki yang mentato lehernya.


"Tidak mau, lepasin gue."


"Hehhh, apa yang kalian lakukan, lepasin gadis itu."


Beberapa mahasiswa yang sadar kalau ini adalah penculikan berjalan mendekat untuk menolong Nuri, tapi salah satu dari laki-laki itu membekap hidup Nuri dengan sapu tangan yang sudah dioleh dengan bius sehingga hal tersebut otomatis membuat Nuri pingsan, dan dengan cepat sik laki-laki yang membekap Nuri menggendong Nuri dan membawanya ke mobil.


"Hehh, jangan kabur lo." para mahasiswa itu berusaha mengejar mobil orang yang membawa tubuh Nuri pergi, sayangnya orang-orang yang berada didalam mobil hitam tersebut terlatih, sik sopir dengan sigap tancap gas.

__ADS_1


"Heh brengsekk." beberapa mahasiswa bahkan mengejar mobil itu dengan motornya.


Beberapa mahasiswa mulai pada berkerumun ditempat kejadian perkara membicarakan apa yang tengah terjadi barusan.


Imel dan Juli yang baru keluar tentu saja heran saat melihat banyak mahasiswa yang pada berkerumun didepan kampus.


"Ada apaan tuh Mel." tanya Juli.


"Mana gue tahu Jul, lihat yuk."


Mereka berdua kemudian melangkahkan kakinya menuju kerumunan dan Juli bertanya pada salah satu mahasiswa yang mereka kenal dan kebetulan berada disana.


"Ada apa ya."


"Nuri sahabat lo berdua."


"Nuri, kenapa dengan Nuri." kejar Imel penasaran.


"Dia diculik."


"Hah." kompak Juli dan Imel berbarengan.


"Ya Tuhan, gimana kronologi ceritanya." tanya Juli dipenuhi oleh rasa khawatir.


Sik gadis yang ditanya itupun menceritakan kronologis kejadian yang baru saja berlangsung didepan kampus.


"Ya Tuhan Nurii."


"Jull, telpon kak Dewa Jul." pinta Imel.


"Iya." Juli mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Dewa, namun sayangnya Dewa tidak menjawab panggilannya.


"Gak diangkat lagi Mel sama kak Dewa."


"Coba lagi Jul."


Juli mengangguk, dia kembali menghubungi Dewa, namun tetap hasilnya nihil, Dewa tidak menjawab panggilannya sama sekali.

__ADS_1


****


__ADS_2