
Setelah kepergian Diana Dirga langsung keluar kamarnya dan langsung menuju ke kamar putrinya.
Tok tok tok...
" Nay, Flo " panggil Dirga
" Masuk Pah " sahut dari dalam.
Mendengar itu Dirga langsung masuk dengan perlahan.
" Kalian lagi ngapain ?" tanya Dirga sambil melihat kearah mereka berdua.
" Nih lagi bersiap mau berangkat sekolah Pah " sahut Naya yang juga di anggukan gadis kecil itu.
Mendengar panggilan baru dari Naya Dirga merasa sangat senang, dan merasa mereka sudah menjadi sebuah keluarga.
" Oh ya, kalau begitu Papah antar ya, kita berangkat bersama " kata Dirga yang duduk tepi tempat tidur sebelah Naya.
" Horeee... Hari ini Flo sekolah di antara papah sama Bunda horeee... " seru gadis kecil itu dengan sangat bahagianya.
" Ya sudah, sekarang sudah siap ayo kita berangkat " kata Naya yang juga merasakan hal yang sama.
__ADS_1
" Iya yuk " ajak Dirga dan langsung di anggukan Naya dan gadis kecil itu dengan antusiasnya.
Kemudian gadis kecil itu melangkah lebih dulu keluar kamar sedangkan Dirga dan Naya berjalan di belakangnya.
" Terimakasih lagi Nay, jika tidak ada dirimu aku tidak tahu bagaimana membuat putriku ceria lagi seperti ini. " kata Dirga sambil melangkahkan kakinya meninggalkan kamar putrinya bersama Naya.
" Sudah kewajiban saya pak sebagai seorang pengasuh " jawab Naya sambil mengikuti langkah gadis kecil itu.
" Bukan sebagai pengasuh tapi sebagai ibu sambung untuk Flo, karena sebentar lagi kita akan segera menikah. " kata Dirga sambil merangkul Naya berjalan di belakang putrinya itu menuju ke luar.
Mendengar itu Naya jadi malu sendiri karena di perhatikan oleh semua maid yang bekerja di situ.
Dengan sangat bersemangatnya gadis kecil itu sekolah karena merasa memiliki orang tua yang lengkap mengantarkannya sekolah.
Setelah pulang sekolah Naya langsung mengajak putrinya sambungnya itu berbelanja kebutuhan untuk pernikahan mereka di salah satu mall di kota itu.
" Ayo sayang, bantu bunda ya kita beli keperluan untuk pernikahan bunda dan papah nanti, Flo tidak keberatan kan " kata Naya setelah mereka berdua sampai di depan mall itu.
" Tentu bunda, dengan senang hati Flo bantu. " jawab gadis kecil itu dengan riangnya.
" Baiklah, mari kita berburu semua keperluannya , ayo " ajak Naya lagi dengan semangatnya agar gadis kecil itu tidak merasakan sedih lagi akibat bertemu dengan neneknya tadi pagi.
__ADS_1
" Ayo Bunda, go... " seru gadis kecil itu dengan sangat antusianya.
Kemudian mereka berdua melangkahkan kakinya masuk kedalam mall itu, tapi belum sempat masuk mereka berdua begitu sangat terkejut karena berpapasan dengan seseorang.
" Haduh... ketemu nek lampir nih, haah... sabar calon mertua Naya... " kata Naya dalam hati sambil melihat ke arah Diana.
Karena posisi mereka berpapasan tepat di depan pintu masuk mall.
" Mau ngapain kalian kesini, mau menghabiskan uang anak saya " kata Diana yang baru saja selesai shoping dan hendak keluar dari mall itu.
Gadis kecil itu langsung bersembunyi di belakang Naya, ia kembali ketakutan melihat neneknya itu.
" Kami mau belanja keperluan pernikahan Nek " jawab Naya dengan santainya.
" Tu kan, jangan panggil saya nenek, saya masih muda tahu, dan saya tidak menganggap dia sebagai cucu saya. Kamu juga, mentang - mentang mau di nikahi anak saya, belum jadi istri sudah mau boros saja. Kamu itu miskin seharusnya belanja di pasar bukan di sini, pergi sana kamu tidak pantas di tempat ini " kata Diana seenaknya bersuara tanpa menyadari saat ini mereka sudah jadi pusat perhatian karena masih berada di pintu masuk mall itu.
Mendengar perkataan calon mertuanya itu Naya sampai merasa tidak enak karena jadi pusat perhatian.
" Maaf Nek, kami pergi dulu. Ayo sayang. " kata Naya yang tidak memperdulikan sama sekali ucapan calon mertuanya itu.
Bagi Naya ucapan seperti itu sudah biasa dan tidak menyinggungnya sama sekali, karena ibunya juga kadang bicara kasar padanya, bedanya sang ibu memarahi karena menyayanginya. Jadi hati Naya sudah tahan banting dengan perkataan kasar seperti itu.
__ADS_1
Naya membawa gadis kecil itu berlalu begitu saja di hadapan Diana, dan itu sungguh membuat Diana sangat sangat kesal, sampai ide jahat muncul di benak Diana dan itu membuatnya langsung tersenyum sinis.