
" Berhenti... " kata seseorang yang langsung mengagetkan mereka berdua.
" Dirga... Kapan kamu datang ?" tanya Diana yang sangat terkejut melihat kedatangan putranya dan langsung menyimpan tangannya yang tidak jadi menampar Naya tadi.
" Apa yang akan Mamah lakukan pada calon istriku, kenapa mamah mau menamparnya ?" kata Dirga yang menahan rasa kesalnya terhadap ibunya itu.
Mendengar itu Naya begitu sangat terkejut, Naya tidak melihat saat Diana hendak menamparnya, untung ada Dirga kalau tidak maka nasib Naya akan sama dengan almarhum istri Dirga yang tanpa sepengetahuan Dirga selalu di siksa oleh mertuanya sendiri, karena dianggap sebagai beban bagi keluarga mereka.
" Ini tidak seperti yang kamu duga Nak, mamah tidak melakukan apa-apa. " sahut Diana yang tidak ingin putranya marah padanya.
" Kamu tidak apa-apa Nay, bagaimana dengan Flo apa dia terluka ?" tanya Dirga yang kelihatan begitu sangat gemas terhadap keduanya.
" Kami baik - baik saja Pak, dan Flo masih istirahat di kamar sekarang. Tapi kenapa bapak bisa mmm... " Perkataan Naya langsung terhenti saat Dirga mencium bibirnya.
" Sudah saya katakan, jangan panggil saya Pak, karena saya ini bukan bapak kamu tapi calon suami kamu hmm... jadi panggil saya sebagaimana mestinya hmm.. " kata Dirga setelah mencium bibir calon istrinya itu.
__ADS_1
Sedangkan Diana hanya diam saja melihat kemesraan putranya dengan calon istrinya itu.
" Ini tidak bisa di biarkan, akan sangat susah untuk ku memisahkan mereka berdua kalau begini keadaannya. Aku harus mencari cara agar mereka berdua berpisah dan tidak jadi menikah, yah... aku harus melakukan sesuatu. " kata Diana dalam hati yang sangat kesal melihat kedekatan putranya dengan perempuan yang dianggap miskin itu.
" Baiklah terserah bap, eh Mas saja. Mau mandi dulu atau mau langsung istirahat " kata Naya sambil membawakan tas kerja calon suaminya.
Merasa di perhatikan seperti itu membuat Dirga sangat bahagia.
" Saya mau mandi dulu saja sayang " sahut Dirga yang langsung mengikuti langkah Naya masuk ke dalam kamarnya.
Lalu mereka berdua langsung berjalan menuju kamar Dirga, dan tidak memperdulikan keberadaan Diana sama sekali.
" Awas kau perempuan miskin, kau sudah berani merebut perhatian putraku, lihat saja nanti tidak akan ku biarkan kau menikah dengan Dirga, enak saja aku tidak Sudi punya menantu seperti itu hmm... " kata Diana dalam hati dan langsung keluar dari rumah itu tanpa pamit terlebih dahulu.
Sedangkan Naya dan Dirga sesampainya di kamar.
__ADS_1
" Terimakasih Nay, kamu sudah memperhatikan saya, dan maaf atas kelakuan mamah Diana yang tidak menghargai mu sama sekali " kata Dirga yang duduk di atas tempat tidur sambil melihat Naya mempersiapkan keperluannya.
" Sama - sama Pak eh Mas, sudah kewajiban saya sambil belajar menjadi istri yang baik nanti. Dan masalah Mamah, saya tidak masalah di perlakukan seperti itu asal Mas tetap menghargai saya, itu sudah cukup untuk ku. " sahut Naya.
" Terimakasih Nay, kamu memang calon istri yang sangat baik. Haah... rasanya saya sudah tidak sabar untuk menikahi mu " kata Dirga yang sangat bahagia sekali bersama Naya.
" Sama - sama mas, ya sudah saya keluar dulu ya,mau bersih - bersih juga. " kata Naya yang langsung di anggukan Dirga.
Setelah itu Naya langsung keluar dari kamar Dirga, dan langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri karena harinya memang sudah sore.
Di tempat lain tepatnya di rumah Nadiya, saat ini dia sedang melihat laporan dari asisten pribadinya mengenai perusahaannya.
Tidak lama notifikasi masuk lewat wa Nadiya, Nadiya langsung membuka ponselnya dan membaca laporan itu.
__ADS_1
" Berani juga dia mau mencelakakan putriku, awas sampai putriku kenapa-kenapa, lihat saja aku yang akan turun tangan langsung melawannya. " gumam Nadiya yang terlihat sangat kesal setelah dapat laporan langsung dari anak buah bayangannya yang ia tugaskan untuk memantau keadaan anak sekaligus calon menantunya itu.