Takdir Alina

Takdir Alina
Membawa mu....


__ADS_3

Dua pekan sudah Alina menikmati kebebasannya. Kini ia tengah mengemasi barang barangnya untuk di bawanya pindah.Sore ini sepulang dari kantornya Biru akan menjemput Alina dan membawanya pulang kerumahnya tinggal bersamanya.


Begitulah yang ia katakan pagi tadi saat menelfon Alina.


Alina pulang dari gerai lebih awal karna hari ini ia datang hanya untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya.


Setelah melalui berbagai drama di tempat kerjanya pagi tadi,akhirnya dengan berat hati bu Siska melepas karyawan terbaiknya itu.Teman teman Alina merasa sangat bersedih dengan pengunduran dirinya mereka melepas Alina dengan uraian airmata.Pengunduran diri Alina yang tiba tiba ini membuat mereka sangat terpukul bahkan Tasya sempat berlutut memohon agar Alina tetap disana bersamanya.


Namun semua usaha mereka sia sia karna Alina harus menepati janji yang telah disepakatinya bersama Biru. Meskipun Biru belum memiliki tempat spesial di hatinya, namun Biru adalah suami sah Alina yang semua keputusannya harus Alina terima dan patuhi.Begitu pikir Alina yang kini berstatus istri. Teman teman Alina tak ada satupun yang mengetahui alasan pasti mengapa Alina berhenti secara tiba tiba.Terlebih Heni yang sejak awal dekat dengannya ia sangat kehilangan sosok yang selalu menghiburnya.


Alina selesai mengepak barang barangnya saat terdengar suara ketukan pintu dari luar. Ia bergegas membukanya dan melihat siapa yang datang.Dua lelaki bertubuh tegap berdiri di depan pintu dan membungkukkan badannya memberi hormat saat melihat Alina berdiri di balik pintu. Alina merasa heran dengan tamunya ini.Ia merasa tak mengenal mereka.


"selamat sore nona,,kami utusan tuan Biru." menyadari kebingungan Alina dan akhirnya salah satu dari mereka memperkenalkan diri mereka.


"oh......" jawab Alina lega,ia pikir ada orang jahat yang datang ke kostnya.


"maaf membuat nona bingung.kami datang untuk membantu nona mengemas barang." tutur marko salah satu orang kepercayaan Biru.


"***tidak perlu aku sudah selesai lagi pula barang ku ga banyak**." jelas Alina.


"***kalau begitu biar kami bawa ke mobil nona****." menerobos masuk dan mulai mengangkut barang barang Alina.


Alina hanya diam melihat para orang suruhan Biru mengangkut barangnya.Setidaknya ia tak perlu mengeluarkan tenaganya untuk mengangkat barang barangnya meskipun tak seberapa.Beruntung suasana kost sedang sepi,jadi Alina tak perlu takut ada yang bertanya hal aneh karna melihat dua lelaki yang mirip penagih hutang mengangkut barang barangnya. Pagi tadi ia sudah berpamitan pada pemilik kost yang tinggal di belakang kost an Alina.Selesai mengangkut barang barang Alina,kedua orang tadi berpamitan pada Alina.


"terimakasih sudah membantu saya." ucap Alina dengan tersenyum tipis


"sudah tugas kami nona." membungkukkan badannya memberi hormat.


Setelah kedua orang suruhan Biru pergi Alina bergegas masuk kembali untuk mandi dan bersiap menunggu Biru menjemputnya. Tak berselang lama setelah Alina selesai bersiap ponselnya berbunyi.Biru menghubunginya dan memintanya berjalan ke depan karna kini Biru sudah berada di ujung gang siap membawa Alina bersamanya.Setelah menyerahkan kunci kamar kostnya kepada pemilik kost,Alina bergegas menemui Biru.


"Sayang,,,," panggil Biru ketika melihat Alina sudah dekat dengan mobilnya.


Alina tersenyum dan masuk ke dalam mobil duduk di kursi penumpang bersebelahan dengan Biru. Ia mengulurkan tangannya dan meraih tangan Biru kemudian mencium punggung tangan Biru seperti biasa yang ia lakukan.Biru membalasnya dengan mencium pucuk kepala Alina dan memeluknya.kemudian menghujani wajah Alina dengan ciumannya.Membuat Alina geli dan malu karna ada supir di depan memegang kemudi.


"hist....tuan Biru,,sudah sudah malu di lihat pak supir." Alina berusaha melepaskan pelukan Biru dan menjauhkan wajahnya.


"aku merindukanmu sayang,dua minggu hanya melihatmu melalui ponsel membuat ku semakin merindukanmu." masih dengan pelukannya yang kini sedikit longgar.

__ADS_1


"baiklah sayang nanti kita lanjutkan di rumah." bisik Biru di telinga Alina.


"ayo pak jalan langsung pulang." perintah Biru yang kemudian mengubah posisi duduknya bersandar pada sandaran kursi yang ia duduk i. Alina masih dalam mode diam melihat ke jalanan yang ramai kendaraan di jam pulang kantor seperti saat ini.Biru terus menggenggam tangan Alina sambil sesekali menciuminya.Alina hanya tersenyum melihat kelakuan Biru.


Alina merasa sangat gugup tangannya yang kini di gandeng Biru mulai berkeringat dingin.Ia merasa takut akan bertemu istri pertama Biru.Biru yang menyadari ke kegugupan Alina sesekali tersenyum dan mengusap lembut bahu Alina memberi ketenangan.Berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. sampai di depan pintu mereka di sambut oleh pelayan di rumah Biru.


"selamat datang di rumah ini nona." sapa sang pelayan ramah dengan membungkukkan sedikit badannya.


"sayang,,ini bik Darmi yang mengurus keperluan di rumah ini.kamu kalau butuh apa apa bisa minta tolong sama bik Darmi." Biru mengenalkan bik Darmi pada Alina.


"Alina bik,,." berkata tak kalah ramahnya dan mengulurkan tangan pada bik Darmi.hal yang tak biasa di lakukan majikan di rumah ini.bersentuhan langsung dengan para pelayan.


"bik Darmi non." menyambut uluran tangan Alina setelah sebelumnya mendapat ijin dari Biru dengan kode matanya yang berkedip tanda setuju.


"dimana yang lain bik," mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah yang tampak sepi.


"nyonya ada di atas tuan,den Damar dan non Dinar di kamar masing masing." jawab bik Darmi masih dengan menundukkan kepalanya.


Biru masih merangkul pundak Alina dan membawanya masuk kedalam istananya.Dan kini mereka duduk di ruang keluarga menunggu Violet dan kedua anak Biru.Bik Darmi tak perlu menunggu perintah dari Biru untuk memanggil Violet dan kedua anaknya.karna dari tatapan Biru saja bik Darmi sudah tahu.


"sayang,,,jangan takut dan merasa canggung di sini.anggap saja rumah kamu sendiri.bikin kamu senyaman mungkin di sini,jangan pedulikan orang orang yang nantinya berbuat tidak baik padamu.ingat kamu di sini bersama ku dan karna aku sendiri yang membawamu kesini.jadi jangan takutkan apapun ya." berusaha menenangkan Alina yang sedari tadi diam dan terlihat bingung.wajah cerianya belum terlihat dari tadi.


"Violet duduklah." setelah Violet dan kedua buah hati mereka sudah berada di dekatnya.


"kenalin ini Alina,,istri ku dan ibu tiri kalian." mengenalkan Alina kepada Violet dan putra putrinya.


Alina mencoba memasang wajah cerianya dan mengulurkan tangan pada ketiga orang di depannya. Damar menyambut uluran tangan Alina dengan sedikit meremasnya menunjukan kekesalannya.sedangkan Dinar hanya melewatinya saja.Violet menyalaminya sekilas.


"**a,,,, aku,,, Alina**,," Alina berusaha menghilangkan kegugupannya.memperkenalkan dirinya berusaha ramah.mencoba membuang rasa gugupnya.


"sayang,,ini Damar putra pertama ku,Dinar adiknya,dan dia Violet mama dari mereka." Biru menunjuk satu persatu orang yang ia kenalkan.dan di balas dengan senyum oleh Alina mengusir rasa gugupnya.


"bik Darmi,," Biru berteriak memanggil sang pelayan.


"iya tuan." datang menghampiri sang majikan.


"antar Alina ke kamarnya," titah Biru

__ADS_1


"baik,, ayo nona." mendekati Alina dan mengajaknya pergi.


"Alina,,istirahatlah dulu di kamarmu,aku akan menyusul nanti." titah Biru pada Alina dengan pandangan lembutnya kedua tangannya berada di pundak Alina.


Kata kata Biru yang manis kepada Alina membuat Violet meradang ditambah lagi ia melihat perlakuan Biru yang melepas Alina dengan kecupan mesra di kening gadis itu.Violet semakin merasa panas dibuatnya.Dan menatap tajam pada Alina yang kini berjalan mengikuti bik Darmi menaiki tangga rumahnya.


"Damar Dinar,,bersikaplah yang baik pada Alina,ia sekarang istri sah papa dan ibu tiri kalian.bertemanlah yang baik dengannya." ucap Biru setelah Alina jauh dari mereka.Biru melihat gelagat ketidak sukaan yang ada pada kedua buah hatinya itu.Biru tahu mereka belum sepenuhnya menerima kehadiran Alina.Begitu pun dengan Violet.


"Tapi pa,,,perempuan itu udah ngerusak kebahagian kita dengan menikah sama papa." bantah Dinar dengan nada kesalnya.


"Dinar benar pa,dia udah bikin mama sedih dan papa juga lihatlah saat kalian bersama seperti itu bukan terlihat seperti suami istri,papa lebih pantas jadi ayahnya daripada suaminya." Damar tersulut emosi menunjukan ketidak sukaan dengan hubungan papanya itu.


"terserah kalian,karna perlakuan kalian pada Alina menentukan bagaimana papa bersikap pada kalian.papa sudah membawa nya kesini tinggal bersama dengan kita,jadi baik baik lah padanya." dengan nada sedikit mengancam.


"masuk kamar kalian sekarang.papa mau bicara sama mama mu." titah Biru yang masih berdiri di depan mereka bertiga dengan tangan di masukan kedalam saku celananya.


"aku tetap tidak suka padanya pa!!" Dinar berdiri dan meninggikan suaranya


"Dinar jangan paksa papa marah padamu.papa hanya ingin kalian bersikap baik padanya,dengan begitu papa juga tidak akan berubah pada kalian.sekarang masuk kamar!!" ucapan Biru dengan suara lebih di tekankan.membuat Damar menarik adiknya dan membawanya pergi dari ruang keluarga.


Violet masih diam melihat Biru berdiri di depannya.rasa cemburu juga kesalnya pada Biru membuatnya ingin mencakar wajah suaminya itu.


"aku sudah membawanya ke sini Vi,,dia istriku,wanita yang mampu menggetarkan hati ku,aku harap kau tulus menerimanya dan bersikap baik padanya." ucap Biru datar melihat ke arah Violet.


"tentu saja aku akan baik padanya asal kau tak membedakan sikap mu pada ku." jawab Violet menahan amarahnya.


"bagaimana aku bersikap itu tergantung sikap mu padanya.dari awal aku sudah bilang aku tidak akan mengurangi apapun dari kamu." Biru berlalu pergi meninggalkan Violet yang masih duduk di sofa.


"Biru,,aku belum selesai bicara." berdiri dan berteriak dengan nada kesalnya.


"tidak ada yang perlu di bicarakan lagi semua sudah jelas,aku lelah,dan kau beristirahatlah." berhenti sejenak dan menoleh ke arah Violet sebelum akhirnya kembali berjalan menaiki tangga.


"huh....Biru kau benar benar keterlaluan." berdecak kesal setelah Biru tak lagi terlihat.


"lihat saja Biru dia akan membalas sakit hati ku ini.aku akan bermain main dengannya." gumam Violet dalam hatinya. dan tersenyum licik.


Violet masih tidak bisa menerima kehadiran Alina di rumahnya dan berencana membuat Alina tidak betah tinggal disana.Ia harus mulai menyusun rencana setelah ini.Begitu pikirnya.

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca semoga suka ya...mohon maaf bila masih banyak kesalahan dalam penulisan.Mohon tinggalkan like nya ya setelah membaca ceritanya,di tunggu saran dan juga komennya. Terimakasih...


__ADS_2