Takdir Alina

Takdir Alina
Bagus dan Biru..


__ADS_3

Sepulang dari pantai Bagus mengendarai motornya kembali ke rumah. Dia senang bisa bertemu Alina hari ini.


Penantiannya selama ini akhirnya terbayar. Walaupun hatinya belum menerima sepenuhnya tentang status Alina yang sekarang. Sebelum memutuskan untuk pulang, Bagus sempat berjalan menyusuri pantai dengan Alina. Tentunya setelah berulangkali memohon pada Alina. Agar mau menemani sebentar saja.


Mungkin akan lebih baik begini saja. Menerima kenyataan bahwa cintanya telah usai. Bagus sadar, Alina dan dirinya juga harus melanjutkan hidup kedepannya.


" Lilin, berjanjilah untuk slalu bahagia." Kata Bagus berhenti sejenak.


" hemmm,,,tentu saja." Alina menjawab dengan tersenyum tipis.


" ingatlah,aku selalu ada untuk kamu,bila terjadi sesuatu,bilang aku ya." Bagus memegangi kedua pundak Alina dan tersenyum meyakinkan.


"memangnya apa yang akan terjadi." Alina menepis tangan Bagus dan memalingkan mukanya. Berjalan di depan Bagus. Untuk membuang rasa pilunya.


" Aku tahu kau tidak sepenuhnya bahagia Li,jelas terlihat dari sorot matamu." Bagus bergumam kecil menatap Alina yang semakin menjauh darinya. Dan dengan berlarian kecil mengejar Alina.


" Aku akan pulang,pergilah." ucap Alina saat Bagus sudah berada di belakangnya.


" Ayo aku antar." Bagus meraih tangan Alina dan menggenggamnya,berjalan di samping Alina sama seperti saat mereka berpacaran dulu.


Alina berhenti melihat ke arah tangan mereka.


" Aku bisa pulang sendiri." Alina masih dengan tatapan tidak nyaman dengan genggaman Bagus.


Bagus merasakan tatapan ketidak nyamanan pada Alina. Ia kemudian melepaskan tangannya. Dan Alina berjalan kembali menyusuri pantai semakin menjauh dari laut.


" Lin,, terimakasih." Ucap Bagus setelah berhasil mengejar Alina dan kini berjalan di samping Alina.


" untuk apa?" Alina bingung karna merasa tidak memberikan apapun. Pada Bagus

__ADS_1


" Untuk semua hal, dan untuk hari ini juga." Bagus berkata dengan senyum manisnya. Ia senang bisa berjalan di pantai bersama Alina.


" lupakan saja." Alina membalas dengan datar.


Mereka berjalan menyusuri jalan dan berpisah di pintu keluar.


Tanpa mereka sadari bahwa seseorang mengawasi mereka dari kejauhan. Alina pulang dengan taxi sedangkan Bagus yang tadi datang dengan motonya kini mengendarai motornya membelah jalanan.


Pulang ke tempat tinggalnya. Sayang sekali perjalanannya tidak mulus. Di tengah jalan yang sepi,sebuah mobil memepet motornya hingga ia jatuh tersungkur. Seseorang dengan setelan jas rapi keluar dari kursi penumpang. Dan seorang satu lagi mengangkat tubuh Bagus yang jatuh ke aspal. Menariknya untuk berdiri. Beruntung saat jatuh Bagus tidak terluka parah,hanya lecet lecet kecil.


" Mau apa kalian!" teriak Bagus panik.


bugh,,, satu pukulan mendarat di perutnya.


" hey,,kenapa kau memukul ku hah!! protes Bagus dan hendak membalas namun di tangkis oleh seorang yang tadi mengangkat dirinya.


(apa,jadi dia,,dia suami Alina?yang benar saja,kenapa setua ini.) batin bagus dengan raut wajah tidak percaya.


" Jadi, om ini suami Lilin??" ucap Bagus,ia tahu seharian ini hanya Alina lah istri orang yang ia peluk peluk bahkan ia sempat mencium pipi wanita itu.


" Apa katamu?? Lilin? jangan sembarangan memanggilnya!!" ya Biru tidak suka mendengar nama istrinya di sebut dengan sebutan aneh.


" Kenapa om,aku memang sudah terbiasa memanggilnya seperti itu. Dia memang Lilin, Lilin yang telah menerangi hidup ku." aku Bagus yang langsung mendapat balasan pukulan di pelipisnya.


" Jaga mulut mu!!" teriak Biru tidak terima.


" hah,,,,Lilin kasian sekali dia, dia pasti sedih jika tahu suaminya ini memukuli orang. Terlebih orang yang di pukuli adalah mantan kekasihnya. Laki-laki yang pernah ia sayangi. Mungkin masih saat ini. Lilin sangat tidak suka lelaki kasar." Bagus dengan nada mengejek mencibir Biru.


" APA?!! MANTAN KEKASIH?!" seketika Biru membelalakan matanya terkejut. Tak percaya bahwa istrinya hari ini berjalan bersama mantan kekasihnya.

__ADS_1


" Iya,,kenapa om?" Bagus masih dengan nada mengejek.


" Ingat om, Lilin menikah dengan anda karna perjodohan,bisa saja anda yang memaksa Alina. Dan Jika saat ini anda pulang dan memarahinya. Saya yakin,selamanya om tidak akan mendapatkan cintanya. Mungkin Alina menjadi milik om, tapi hatinya?? siapa tahu. Lilin gadis yang lembut om, dia tidak menyukai lelaki pemarah dan kasar." nadanya mulai berapi api.


Sejenak Biru yang tadinya hendak masuk mobil dan pulang menemui Alina berbalik melihat Bagus. Dan mencerna kata kata Bagus.


" Dua tahun om,dua tahun saya bersama Lilin. Meskipun kami berjauhan. Tapi saya sangat paham seperti apa Lilin. Saya mungkin memang melepasnya. Karna itu kemauan dia. Dan apa anda yakin bahwa saya tidak akan merebutnya??.jika dia tidak bahagia maka saya yakin dia akan mencari saya dan kembali pada saya. Lilin bukan gadis yang mudah menjatuhkan cintanya. Namun sekali dia mencintai seseorang cinta itu tulus ia tidak akan mudah berpaling dari cintanya. Sesakit apapun itu." lanjut Bagus yang membuat Biru menelaah ucapan demi ucapan Bagus.


" Jangan harap kamu bisa merebutnya dari ku. Dia istriku selamanya akan begitu." Biru mengepalkan tangannya geram mendengar ucapan Bagus.


" Lagi pula pertemuan kita di pantai itu bukan salah Alina. Aku yang sudah gila menunggunnya tanpa kejelasan. Dua minggu,dua minggu saya setiap hari mendatangi pantai itu. Hanya untuk menunggu ke ajaiban, dan hari ini ke ajaiban itu nyata. Tuhan berbaik hati mengabulkan harapan ku. Mempertemukan ku dengan Lilin." Bagus tertawa sarkas,seolah dia ini sudah seperti gelandangan cinta saja mengharapkan Alina.


" Jika anda pulang dan membawa amarah anda pada Alina saya yakin selamanya hanya raganya yang akan anda miliki." Bagus paham bahwa Biru sedang marah,ia melihat kilatan amarah pada Biru,dan ia yakin itu akan di lampiaskan pada Alina. Bagus tidak ingin terjadi sesuatu pada Alina. Bagus takut jika Alina tersakiti.


" kau mantan yang baik rupanya, kau begitu peduli padanya. Tapi sayang anak muda,, Alina telah menjadi milikku, kau sudah kalah jadi lupakan saja Alina dan pergilah menjauh darinya." dengan bangganya Biru berkata.


" Aku tidak akan mengusiknya jika dia benar hidup bahagia." jelas Bagus dengan tersenyum pilu.


" Anda harus mendapatkan hatinya maka anda akan memiliki cintanya,itu saran ku. Walaupun berat aku melepasnya,namun kebahagian Alina jauh lebih penting." Bagus berlalu pergi meninggalkan Biru yang mematung di samping mobilnya.


Biru hanya menatap Bagus melaju bersama motornya yang semakin menjauh dari pandangannya. Di dalam mobil Biru teringat semua kata Bagus tentang Alina. Ketika melewati kios bunga yang berjejer. Biru meminta supirnya berhenti dan ia turun membeli sebuah buket bunga lyli kesukaan Alina. Biru baru tahu itu setelah Bagus membertahunya tadi sebelum Bagus melajukan motornya. Bahkan sampai sekarang memang Biru belum pernah memberikan bunga pada Alina.


🍎🍎🍎🍎🍎


Sesampainya di rumah Biru memutuskan melupakan kejadian di jalan tadi. Sebisa mungkin ia menyembunyikan pertemuannya dengan Bagus. Dan ia tidak akan membahas masalah foto itu dengan Alina. Ia memutuskan akan menemui Alina seperti biasa seolah olah tidak terjadi sesuatu hari ini. Dan Biru berencana akan menemui Bagus di lain waktu untuk mengetahui banyak hal tentang masa lalu Bagus dan Alina.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa setelah membaca tinggalkan LIKE nya ya. Kritik saran di tunggu di kolom komen. Terimakasih banyak untuk dukungannya pada karya ini. TerimakasihπŸ™πŸ™πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2