
Alina dan Biru menikmati hari hari mereka berdua di rumah barunya. Tentu saja Violet belum mengetahui jika Biru sudah menemukan Alina hari itu.
Sikap Biru pada Violet juga tetap baik. Biru masih selalu menjalankan keinginan Alina yang memintanya untuk memperlakukan Violet sama seperti ia memperlakukan Alina. Tentu saja hal itu tidak membuat Violet curiga jika sebenarnya Biru telah kembali bersama Alina.
Sudah satu minggu Alina menempati rumah barunya. Namun selama itu pula setiap malam ia hanya bersama bik Imah pelayan yang Biru tugaskan membantu dan menemani Alina.
Saat ini Biru tidak bisa menemaninya menghabiskan malam. Karna ia tahu seseorang telah di utus keluarganya untuk mengawasinya. Semenjak kejadian malam itupun di cafe.
Itu sebabnya Biru selalu menemui Alina di sela kerjanya. Untuk mengelabuhi mata mata itu. Pagi itu Alina dan bik imah sedang merapikan taman belakang rumah saat Biru tiba tiba datang.
" pagi sayang,," ucap Biru setelah Alina membukakan pintu.
" stop,,jangan peluk peluk dulu. baju ku kotor." ucap Alina menahan Biru yang sudah siap memeluknya.
" kamu sedang apa emangnya?" Biru baru sadar baju istrinya banyak di tempeli tanah. Alina terpaksa membukakan pintu tanpa mengganti bajunya. Karna setelah mendengar suara mobil Biru, Alina bergegas membukakan pintu. Karna ketika datang Biru hanya mau di sambut Alina itulah sebabnya Alina tidak mengganti bajunya. Ia hanya mencuci tangannya.
" ayo masuk,,aku ganti baju dulu." Alina berjalan kedalam dan Biru di belakangnya.
" aku yang akan menggantikannya." goda Biru yang langsung mencuri ciuman di pipi Alina.
" dasar om om nakal." balas Alina meledek Biru dengan memanyunkan bibirnya dan kemudian berlari menaiki tangga. Meninggalkan Biru.
" apa??! om om nakal?" Biru merasa aneh dengan dengan ucapan Alina barusan. " awas ya kamu." Biru kemudian mengejar Alina menaiki tangga.
" ayo kita lihat siapa yang nakal." ucap Biru ketika sampai di kamar dan melihat Alina akan menutup pintu segera ia menahannya dengan tangannya.
" kena kau ya." Biru berhasil menahan pintu agar tidak tertutup dan membuat Alina terdorong kebelakang.
" aw,,,," pekik Alina yang hampir terjatuh dan dengan sigap Biru menarik Alina ke pelukannya.
Sontak saja hal itu membuat mereka berdua saling menatap satu sama lain.
" mau aku tunjukan kenakalan om om ini, hem??" Goda Biru yang masih memeluk Alina.
__ADS_1
membuat Alina bergidik ngeri.
" iya iya sayang,,maaf aku meledek mu, sekarang lepaskan aku, atau bajumu ikut kotor nanti." Alina menggeliat mencoba melepaskan pelukan Biru.
" sudah terlanjur. Jadi sekalian kita bermain kotor kotoran." ucap Biru yang langsung menggendong Alina bak karung beras menuju tempat tidur.
" sayang,,ini masih pagi. Dan ini hari sabtu,,harusnya kamu bersama kak Vio,,ayo lepaskan aku." Alina memberontak dari gendongan Biru.
Biru tak bergeming dengan senyumnya yang mengembang. Ia menurunkan Alina pelan pelan di atas kasur. Tanpa menunggu ia menarik pelan Alina dan memegang tengkuknya. Memiringkan sedikit kepalanya kemudian mencium bibir manis Alina. Alina yang tak siap dengan gelagapan mencoba mengimbangi ciuman Biru.
Mereka larut dengan suasana pagi ini. Biru begitu merindukan Alina itulah sebabnya pagi pagi begini ia sudah menemui Alina.
Di saat yang lain sedang berolahraga di luar sana berlari menyusuri pantai. Dua insan ini justru berolahraga pagi di atas kasur mereka.
Menikmati rasa yang tak bisa di gambarkan dan di ucapkan dengan kata. Melupakan bik Darmi yang menunggu Alina di bawah sana untuk menyelesaikan urusan taman.
Dalam balutan selimut yanga sama tanpa sehelai benang pun. Hanya suara ******* dan erangan yang terdengar mengalun merdu. Dan bagi mereka berdua suara itu mengalahkan kicauan burung di luar sana.
Biru seakan tak pernah lelah walau Alina sudah tampak kewalahan. Entah sudah berapa lama mereka berbagi rasa hingga saat mereka keluar kamar matahari sudah terasa menyengat di kulit.
" hemmm,,,aku rindu masakan ini." Biru mencium aroma masakan Alina di meja makan.
" makan lah,,," Alina duduk di samping Biru.
" dengan senang hati." Biru langsung memasukan makanan kedalam mulutnya dan sesekali menyuapi Alina yang tampak lelah itu.
Setelah makan Biru bermanja dengan Alina di taman belakang rumah. Di iringi gemercik air dari kolam ikan yang berada di taman. Suasana siang itu semakin menenangkan. Tumbuhan hijau memang selalu menenangkan dan sejuk di pandang mata. Itulah sebabnya Alina selalu menyukai rumah yang ada tamannya walaupun kecil.
" sayang,,aku jadi malas untuk pergi lagi. Aku ingin selalu di sini bersama mu." ucap Biru berbaring di pangkuan Alina yang duduk di ayunan panjang.
Rumah itu memang di desain Biru sesuai selera Alina. Biru tahu Alina menyukai tanaman jadi ia menyediakan ruangan sebagai taman untuk Alina.
" kamu bisa kesini kapan pun kamu mau." ucap Alina mengusap lembut kepala Biru. Membelai rambut hitam milik suaminya.
__ADS_1
Saat bersama Alina memang Biru selalu bermanja. Menunjukan sisi kekanak kanakannya. Justru Alina yang lebih sering bersikap dewasa terkadang. Entah mengapa Biru tak pernah memperlihatkan sikap nya itu pada orang lain. Di depan banyak orang ia adalah Biru yang dingin dan angkuh. Di depan Alina ia adalah Biru yang hangat dan penyayang. Juga manja.
" kak Vio pasti sudah menunggu. Ini sudah siang. Biasanya kalian akan menghabiskan hari sabtu bersama-sama kan." Alina mengingatkan Biru sebelum benar benar terpejam. Karna saat bersama dengan posisi seperti ini Biru sering sekali tertidur di pangkuan Alina.
" huft,,,baik lah baik lah." Biru bangun dari pangkuan Alina dengan malas.
" semangat dong sayang, harus sama semangatnya saat akan mengunjungi ku." kembali Alina mengingatkan Biru agar bersikap adil pada Violet. Alina tidak ingin Biru berlaku tidak adil pada istri pertamanya itu.
" baiklah,,aku pergi dulu. Besok aku akan datang lagi. Jaga diri baik baik ya, makan yang benar lihat tubuhmu yang semakin kurus ini." ucap Biru memutar tubuh Alina. Di depan pintu sebelum ia pergi.
" hem." Alina mengangguk dan tersenyum.
Siang itu setelah Biru pergi. Alina mengajak bik Imah ke pasar. Entah kenapa Alina ingin sekali makan buah segar. Mungkin karna lelah setelah bergelut dengan Biru pagi tadi. Berhubung di kulkas tidak ada buah yang Alina inginkan makan Alina mengajak bik imah membelinya.
" permisi,,nona Alina ya?." seorang wanita tiba tiba menyapa Alina yang sedang memilih buah. Mengejutkan Alina karena tiba-tiba wanita itu menyodorkan sesuatu.
"oh,,iya benar saya. Ada apa ya?" tanya Alina heran karna merasa tidak mengenal wanita itu.
" ini ada titipan. Dari seseorang di sana." wanita itu memberikan map coklat kepada Alina dan menunjuk ke arah orang yang tadi meminta tolong padanya. Namun saat mereka sama-sama melihat ke arah orang tadi. Orang itu sudah tidak berada di sana.
" loh,,tadi ada di sana oranya, mana ya." lanjut wanita itu heran melihat orang yang ia maksud tak ada di tempatnya.
" ya udah nggak apa apa bu,,makasih ya." Alina menerima amplop itu agar ibu tadi tak lagi kebingungan. Padahal Alina sendiri juga bingung apa isinya dan siapa pengirimnya.
" non,,biar bibik yang bawa." bik Imah menawarkan bantuan namun di tolak Alina dengan senyuman dan gelengan kepala. Alina melanjutkan memilih buah dan juga berbelanja.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Sesampainya di rumah Alina membuka isi amplop tadi dan sungguh ia sangat terkejut dengan isi amplop itu. Sebuah foto masing masing anggota keluarganya dengan berbagai aktifitas. Namun bukan itu yang membuat Alina terkejut namun pada masing masing foto ada darah yang bercecer di sana. Meskipun Alina tahu foto itu telah di edit. Namun hal itu membuat Alina cemas dengan keadaan keluarganya di kampung halaman. Di map coklat itu ada sebuah kertas bertuliskan.
JAUHI KELUARGA WIRATMADJA!!!
Entah siapa yang menuliskan dan mengirim itu. Namun jelas hal itu membuat Alina merasa takut dan gusar. Alina sengaja menyembunyikan hal itu dari Biru. Dan menyimpannya rapat rapat ancaman itu. Mulai saat itu ia selalu mengkhawatirkan keadaan anggota keluarganya di kampung.
__ADS_1
πππππ
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa setelah membaca tinggalkan LIKE nya ya. Kritik saran di komen. Terimakasih banyak untuk dukungannya pada tulisan ini. Terimakasihππππ