Takdir Alina

Takdir Alina
Ancaman...


__ADS_3

Teror foto waktu itu membuat Alina berfikir keras untuk menyikapinya. Ini sudah dua hari Biru tidak datang kerumah. Sebelumnya Biru sudah memberitahu Alina bahwa ada kakaknya di rumah Biru.


Jadi Biru tidak bisa menemui Alina untuk beberapa hari ini. Kakak perempuan Biru yang waktu itu membuat Alina kabur dari cafe di hari ulang tahun pernikahannya.


Nasib istri yang di sembunyikan,, , begitu batin Alina. Meskipun hatinya rindu namun terpaksa ia pendam rasa itu.


Tok Tok Tok,,,,


suara pintu kamar Alina di ketuk membuatnya terhenyak dari lamunan tentang keluarganya dan juga nasibnya kedepan.


" oh,,bik Imah,,ada apa bik." tanya Alina setelah membuka pintu.


" non,,non Alin belum makan dari tadi pagi,ini sudah menjelang makan siang dan non Alin tidak turun kamar. Apa nona sakit?" bik Imah tampak khawatir karna nonanya ini tidak biasanya seperti ini.


" emmm,,, nggak bik Alin hanya sedikit pusing. Nanti Alin turun kalau laper." jawab Alina menutupi ke cemasannya yang tak ingin diketahui siapapun.


" tuan Biru menelfon non, menanyakan keadaan nona. Katanya ponsel nona Alin tidak aktif dari semalam." lagi bik Imah tampak khawatir dengan keadaan Alina. Yang biasanya selalu tersenyum riang. Seharian ini tampak diam mengurung diri di kamar.


" semalam aku cas dan aku lupa menyalakannya lagi. Nanti akan aku hubungi sendiri bik." Jawab Alina beralasan. Padahal memang dia sengaja mematikan ponselnya.


" baik non,,bibik permisi. Panggil bibik kalau butuh sesuatu ya non." pamit bik Imah sopan dengan membungkukkan sedikit badannya.


Alina benar benar merasa tak tenang ia ingin sekali mengetahui keadaan keluarganya. Ia membuka aplikasi medsosnya mencari akun milik adiknya dan kemudian meminta nomor ponsel yang bisa ia hubungi agar bisa tahu keadaan keluarganya.


Lama Alina menunggu tak kunjung mendapat balasan dari adiknya. Semakin Alina memikirkan perut Alina terasa sakit yang tak biasa. Terasa keram dan membuat Alina merasa tidak nyaman. Dan hari ini Alina sadar ia belum mendapatkan haidnya bahkan sudah beberapa bulan. Alina baru menyadarinya. Untuk memastikan keadaannya,, Alina bergegas pergi ke apotik untuk membeli alat test kehamilan.


" bik,,Alin pergi dulu sebentar." pamit Alina pada bik imah yang sedang membersihkan tanaman di depan rumah.


" kemana non,perlu bibik temani?" tanya bik Imah. Khawatir melihat nona nya yang berjalan tergesa-gesa.


" nggak usah bik bentar kok." Ucap Alina berlalu pergi.


Tak sulit bagi Alina untuk menemukan apotik di sekitar rumahnya. Kawasan tempat tinggal Alina tergolong kawasan elit sehingga banyak fasilitas publik yang dapat ia temui. Sampai rumah Alina di kejutkan dengan kedatangan Biru yang sudah menunggunya di teras.


Dan dengan terpaksa ia menyembunyikan alat itu. Ia belum mau Biru mengetahui apapun dulu saat ini. Karna teror kemarin membuat Alina merasa ada jarak antara dia dan Biru. Alina takut jika ia terus dekat dengan Biru. Maka keselamatan keluarga menjadi terancam.


" sayang,,kamu dari mana." ucap Biru ketika Alina dekat dengannya. Ia tampak khawatir dengan Alina.


Alina tampak tersenyum salah tingkah karena sedang menyembunyikan sesuatu dari Biru.


" ha,,,, aku,,,, aku hanya mencari angin sebentar." jawab Alina mencari alasan. Setelah mencium tangan Biru,, ia berjalan melewati Biru masuk kedalam rumah.


" kenapa nggak masuk,,ayo masuk." Ajak Alina pada Biru yang masih berdiri di depan.


" aku nunggu kamu di sini." jawab Biru berjalan dan mengandeng Alina masuk kedalam rumah.


" sayang maaf ya aku baru menemui kamu." ucap Biru yang kini sudah duduk di kursi balkon atas bersama Alina.


" hem,,nggak papa, emang nyonya Sekar sudah pulang." tanya Alina penasaran.


" belum,,dia sedang berjalan jalan dengan Violet. Dan aku kesini menemui istriku ini." Biru mengusap lembut pipi Alina. Yang hanya di balas senyuman tipis oleh Alina.


" apa aku boleh pulang ke kampung ku?" tanya Alina setelah lama diam ia memberanikan diri untuk bertanya karna saat ini ia benar benar mencemaskan keadaan keluarganya. Meskipun ragu untuk meminta ijin Biru. Namun Alina memberanikan diri memintanya.


" pulang??" Biru terkejut karna selama ini istrinya tidak pernah meminta untuk pulang. Bahkan saat Violet dan kedua anaknya menyakitinya pun Alina tidak pernah meminta ijin pulang. Lalu hari ini,, tiba-tiba ia meminta untuk pulang.

__ADS_1


" aku hanya rindu keluarga ku, untuk sekedar menelfon mereka saja aku tidak pernah lagi selama beberapa bulan ini." Alina berkata dengan sedihnya. Jelas tampak dari raut wajahnya yang berubah. Biru bisa melihatnya.


" ya,,maafkan aku, aku tidak bermaksud memutus hubungan mu dengan keluarga kamu." Biru merasa bersalah melihat wajah sedih Alina. Selama ini memang Biru selalu diam diam mengganti nomor ponsel Alina dan memang selama menikah dengannya Alina tidak lagi pernah bertemu orang tuanya. Semua Biru lakukan agar Alina hanya fokus padanya. Biru terlalu mencintai Alina hingga melakukan hal itu.


" ya,,jadi apa boleh aku pulang, sebentar saja. Aku hanya ingin melihat mereka." ucap Alina memohon dengan kedua tangan yang di lipat di depan dada.


" iyaaa sayang,,,, kalau memang kamu sangat ingij sekali pulang. Aku tidak bisa menolak kalau kamu udah memohon begini,,, iya kan,,," dengan tersenyum Biru meraih tangan Alina dan menciumnya. Ia terpaksa memberikan ijin untuk Alina pulang ke kampung halamannya.


" benarkah??" jawab Alina senang. Akhirnya ia bisa melihat sendiri keadaan keluarganya.


" tentu. Biar supir yang akan mengantar kamu nanti yaa. Mau pulang kapan." Biru masih menggenggam tangan Alina dan melihat wajah ceria istrinya setelah ia memberikan ijin untuk pulang.


Alina langsung menolak saat Biru memintanya pulang dengan supir.


" tidak perlu,,aku akan naik kendaraan umum saja seperti biasanya." Alina menolak di antar supir karna ia takut jika ada orang mengetahui ia di antar supir dari keluarga Wiratmadja itu akan lebih mengancam keluarganya. Begitu pikir Alina.


" begitu kah? Tapi sekarang kau kan nyonya Biru, apa harus masih pake kendaraan umum?" Biru ragu,,takut terjadi sesuatu pada Alina karna ia tahu saat ini ada yang sedang mematai-matai mereka. Ia takut Alina di culik atau bahkan di sakiti.


" iya,,aku sudah terbiasa." jawab Alina meyakinkan. Sungguh Alina hanya ini sendiri kali ini.


🍎🍎🍎🍎🍎


Pagi tadi Alina berangkat pulang menemui keluarganya. Saat ini ia sudah duduk manis di kursi teras rumahnya. Menunggu ayah dan ibunya pulang. Ya saat Alina sampai di rumahnya hari sudah siang jadi tidak ada orang di rumah. Alina pikir mungkin mereka sedang di ladang dan adiknya pasti sekolah saat ini.


" Mbak Alin,,ini mbak kan??" adik Alina tiba tiba datang dan terkejut melihat Alina yang duduk di teras. Penampilan Alina memang sudah berbeda sekarang. Hingga membuat sang adik memastikan lagi bahwa itu adalah Alina,,, kakaknya.


" iya ini mbak dek,,." Alina berdiri dan hendak menghampiri adiknya. Namun sang adik lebih dulu berlari dan menghambur ke pelukannya.


" eh,, tunggu, kamu jam segini dengan pakaian seperti ini. Apa kamu nggak sekolah." Alina heran melihat adiknya dengan baju rumahan di jam yang biasanya ia masih sekolah. Bukannya menjawab adik Alina justru menangis di pelukan Alina.


" bapak mbak,,bapak mbak." adik Alina menjawab dengan tangisnya dan terbata bata.


" bapak kenapa dek?" Alina semakin khawatir di buatnya.


" bapak kritis di rumah sakit." jawab adiknya dengan tangis semakin menjadi.


" astaghfirullah,,, kamu ga bercanda kan dek?? beneran bapak kritis?! kalau begitu ayo dek kita kerumah sakit sekarang." dengan segera Alina menarik adiknya agar mengantarnya kerumah sakit.


Sesampainya Alina di rumah sakit. Alina berlarian mencari ruang perawatan ayahandanya. Dan saat sudah menemukan nya. Ia masuk kedalam,, di sana ia mendapati ibunya yang sudah menangis di samping ayahnya.


" ibu..." sapa Alina gemetar. Pikirannya kacau dan matanya bergantian memandangi ibu dan ayahnya. Alina berjalan mendekati kedua orang tuanya.


" Lin,, kamu datang nak,,sini lihat bapak mu Lin." dengan air mata yang berurai,, ibu Alina mengatakannya.


" bapak,,Alina datang pak,,ini Alin pak." ucap Alina gemetar setelah menyalami tangan ibunya tadi kini Alina menyalami tangan ayahnya dan berulang kali mengusap lembut tangan ayahnya itu.


Tanpa di duga ayah Alina membuka matanya dan melihat Alina di sampingnya.


Ayah Alina sempat tersenyum tipis sekali. Terlihat menahan sakitnya. Dan mencoba mengangkat tangannya ingin mengusap rambut anak perempuan satu satunya itu. Alina mendekatkan kepalanya pada tangan sang ayah.


" Alin,, Bi...ru... Ja,,,, ngan..." ucap ayah Alina terbata dan menggelengkan kepalanya. Membuat Alina berfikir keras ada apa sebernarnya.


" bapak,,sudah ya,,, bapak istirhat ya jangan dipaksakan dulu. Bapak harus sembuh agar bapak bisa memberi tahu Alin semuanya." ucap Alina mengusap lembut air mata yang jatuh membasahi pipi ayahnya. Meski penasaran apa yang akan di katakan sang ayah. Namun Alina tak tega melihat kondisi ayahnya.


Ayah Alina hanya menggelengkan kepalanya dan meneteskan air mata. Sebelum pada akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Membuat seluruh keluarga yang berada di situ histeris dan Alina sendiri hanya bisa menangis diam terpaku menyaksikan ayahnya benar benar pergi untuk selamanya. Dan itu terjadi di depan matanya.

__ADS_1


Sakit rasanya sudah pasti. Satu tahun lamanya tak bersua dan tak tau kondisi juga kabar nya. Dan sekarang saat Alina mengunjunginya. Seketika itu pula ia kehilangan ayahnya untuk selama lamanya.


Hari itu Alina hatinya benar benar kalut. Ia kembali terngiang pesan terakhir ayahnya yang belum selesai di ucapkan. Dan saat ini sesaat setelah jasad ayahnya di kebumikan.


Seseorang melempar batu ke arahnya mengenai pundaknya. Alina yang masih terduduk di sebelah makam ayahnya itu dengan penasaran mengambil dan membuka kertas pembungkus batu itu.


Dan Alina yakin isi pesan itu berkaitan dengan kiriman foto yang ia terima beberapa hari lalu. Alina bergegas pulang dan ia ingin segera tahu apa penyebab ayahnya sakit dan kritis. Karna sebelumnya Alina sibuk mengurus pemakaman ayahnya sehingga ia tak sempat menanyakan sebab ayahnya di rawat di rumah sakit.


Sampai dirumah,,, Alina meminta adiknya untuk menceritakan semuanya.


" jadi begitulah kak cerita dari ibu." jawab adik Alina duduk di teras dengan Alina.


" nanti kakak akan bertanya pada ibu,kenapa ayah bisa kena tembak. Apa sebelumnya ayah punya musuh?? atau mungkin ayah berselisih paham dengan orang di ladang." Alina tak bisa langsung bertanya pada ibunya saat ini karna ibunya masih menangis di dalam sana.


Sesaat kemudian sang kakak ipar keluar dari dalam rumah menghampiri Alina.


" Alina,, masuklah. Ibu bilang ia ingin bicara padamu." kakak ipar Alina tiba tiba keluar dan memberi tahu Alina.


" ya,,terimakasih kak." Alina berdiri dan hendak masuk kedalam rumah.


" sama sama. Aku akan menyiapkan keperluan untuk tahlilan malam nanti." ucap kakak ipar Alina kembali.


Alina mengetuk pelan pintu kamar ibunya dan berjalan masuk mendekati ibunya yang duduk di ranjang. Dengan tatapan kosong.


" bu,,," sapa Alina pelan. Ia mendekati ibunya.


" bagaimana hubunganmu dengan Biru Lin." ibu Alina tiba tiba bertanya yang membuat Alina mengerutkan keningnya.


" baik bu,," jawab Alina jujur.


" kemari, duduk lah." titah ibu Alina menepuk kasur meminta Alina duduk di sampingnya.


" kenapa kamu pulang sendiri." setelah Alina duduk ibu Alina melanjutkan pertanyaannya.


" suami ku sedang sibuk bu, jadi dia tidak bisa ikut." jawab Alina dengan sedikit berbohong.


" Lin,,bapak kamu tertembak saat malam hari ia hendak ke ladang, karna mendengar ladangnya terbakar malam itu. Jadi bapak mu ke sana untuk melihat. Namun di sana tiba tiba saja seseorang menembaknya. Menurut polisi mungkin orang salah sasaran. Tapi bapak mu bilang sebelum ia kritis, seseorang yang menembaknya sempat menyebut nama Biru. Entah apa hubungannya. Bapak mu tidak mendengar dengan jelas. Bapak meminta ibu untuk memberitahu kamu Lin. Agar kamu pulang,namun semua nomor ponsel mu tidak bisa di hubungi." jelas ibu Alina dengan tangisnya yang kembali pecah. Alina hanya diam dan merasa semakin khawatir akan ancaman yang ia terima saat di makam tadi.


(siapa sebenarnya yang tega melakukan ini. Dan aku harus bagaimana.) batin Alina bimbang.


" apa kamu masih terikat dengan tuan Biru Lin?" pertanyaan ibu Alina yang membuat Alina mengangguk. Bagaimana tidak terikat bahkan saat ini hatinya Alina pun sudah mulai terikat.


" bu,,mungkin bapak salah dengar. Alina baik baik saja dengan tuan Biru. Jadi jangan khawatir." Alina mencoba menenangkan ibunya. Karena sesungguhnya memang benar hubungannya dengan Biru memang sedang hangat-hangatnya. Namun di saat seperti itu justru ada yang tidak menyukai hal itu.


Malam itu Alina benar benar tidak bisa memejamkan matanya. Ia berkali kali teringat semua ancaman juga teror yang ia terima.


Sudah hari ke tujuh setelah meninggalnya ayah Alina. Namun Biru sama sekali tidak datang dan bahkan tidak mengangkat telfon Alina. Hari ini Alina memutuskan kembali ke kota D. Ia ingin menemui Biru dan ingin memutuskan bagaimana hubungan mereka ke depannya nanti.


Ia tidak mau kehilangan orang orang yang ia sayangi demi bersama Biru. Meskipun saat ini hatinya sudah mulai terpaut dengan Biru. Isi pesan hari itu membuat Alina harus segera menentukan sikapnya. Kalau tidak ia takut jika akan benar terjadi yang di katakan lewat pesan itu. Pesan yang tertulis,,


"BAGAIMANA RASANYA KEHILANGAN ORANG YANG KAMU SAYANGI. TINGGALKAN DIA DAN KAMU AKAN TENANG. JIKA TIDAK MAKA SETELAH INI NASIB MEREKA AKAN SAMA SEPERTI YANG DI DEPANMU SAAT INI BAHKAN LEBIH MENGENASKAN."


Saat sampai di rumahnya, Alina menyimpan kertas itu bersama amplop yang ia dapat waktu itu. Ia sengaja mengumpulkan semua itu untuk mencari tahu siapa sebenarnya pelaku yang mengancamnya. Ia akan menemui temannya yang bekerja menjadi asisten detektif di kota ini nanti. Untuk meminta bantuan padanya.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa setelah membaca tinggalkan LIKE nya ya. Kritik saran di komen. Terimakasih banyak untuk dukungannya pada tulisan ini. TerimakasihπŸ™πŸ™πŸ˜‰πŸ˜‰


__ADS_2