
Biru memutuskan untuk kembali ke kota D malam itu. Ia tak mungkin tinggal di kota ini karna ia memiliki pekerjaan penting yang harus ia selesaikan esok hari.
Biru memang gila kerja sedari dulu. Itulah sebabnya meskipun ia begitu mencintai Alina dan saat ini ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Alina. Ia tetap harus pergi dan mengabaikan urusannya dengan Alina sementara ini.
Sepanjang jalan Biru memikirkan kejadian bertahun tahun lalu saat ia begitu egois menghakimi Alina tanpa mencari tahu kebenaran yang ada.
Mungkin benar yang dulu di katakan Alina bahwa ia adalah om om seperti ABG labil. Jelas saja, harusnya dulu ia tak termakan semua omongan buruk mengenai Alina.
Cemburunya yang berlebih, ketika mendengar sang pujaan hati berbuat buruk di belakangnya. Tanpa berfikir panjang dengan egoisnya ia berbuat semaunya.
Apakah Biru sebucin itu sehingga tak bisa menggunakan akal sehatnya untuk mencari tahu kebenarannya sebelum akhirnya berbuat.
Sekarang jelas saja Biru menyesal karna baru menyadari itu semua. Meskipun sejak awal Alina pergi, Biru berusaha mencarinya untuk memperbaiki hubungan mereka. Tanpa sepengetahuannya, orang orang yang ia bayar untuk mencari Alina, ternyata di bayar dua kali lipat oleh Sekar agar memberi informasi palsu pada Biru.
Sekar benar benar tak ingin adiknya itu bahagia bersama wanita yang di cintai. Itulah sebabnya selama ini Biru tak menemukan informasi apapun mengenai Alina. Karna kakaknya Sekar yang berusaha menutupi dan menghilangkannya.
Sekar begitu paham bahwa adiknya itu sangat gila kerja. Jadi ia melalui suaminya berusaha membuat Biru selalu sibuk dengan pekerjaannya agar tak selalu memikirkan Alina. Dan tidak punya waktunya untuk mencari Alina.
Hari ini adalah sidang kedua untuk Biru dan Alina. Dan jika hari ini Biru tidak datang lagi maka sidang jelas akan kembali di tunda.
Candra, lagi lagi tidak menemani Alina di sidang kali ini.
Setelah lama menunggu dan ternyata benar Biru tidak datang. Hanya saja kali ini seseorang yang menyebut dirinya sebagai pengacara Biru hadir disana.
Namun sayangnya sidang tetap di tunda karna Biru tak bisa hadir. Lagi lagi Alina harus menerima kenyataan jika harapannya segera menyelesaikan masalah ini tak bisa segera terjadi.
" Li,, tunggulah sebentar lagi,, bersabar lah. Aku yakin pengacara kita akan berbuat sesuatu untuk segera menyelesaikan ini." ucap Candra menghibur Alina yang tampak diam saja sejak pulang dari kota kelahirannya itu.
" ya,, terimakasih Candra. Aku hanya lelah saja. Jarak dari sini ke kota kelahiran ku cukup jauh, dalam satu hari harus bolak balik itu lelah juga." kilah Alina memberi alasan pada Candra.
" maaf ya, aku nggak bisa nemenin kamu saat sidang. Pekerjaaan ku di kantor sedang banyak." Candra selalu mengatakan itu untuk memberi alasan atas absennya ia menemani Alina.
" hmm,,, nggak papa Cand. Kan aku ada pak pengacara yang nemeni. Itu udah cukup,.". Alina tersenyum manis menanggapi Candra.
Alasan sesungguhnya Candra bukan karna pekerjaan. Ada alasan lain yang membuat ia tak bisa menemani Alina walaupun ia ingin.
Ya Candra tahu, jika ia menemani Alina, maka bukan tidak mungkin jika Alina akan tahu bahwa ia sebenarnya adalah adik dari Biru. Jelas di persidangan ia akan bertemu Biru kan jika saja Biru hadir disana. Dan itu semua akan menguak fakta siapa Candra. Candra belum siap jika Alina tahu tentang identitas nya yang sebenarnya.
Biru masih saja berkutat dengan pekerjaannya. Entah lah kenapa saat ia bekerja ia selalu fokus seperti itu. Ia sadar sebenarnya inilah salah satu kebodohannya yang membuat ia kehilangan Alina. Iya,, Biru yang gila pekerjaan itu tak bisa mengesampingkan pekerjaannya.
Jika dulu saat Alina masih menjadi istrinya, Alina selalu dengan pengertiannya mengerti posisi Biru yang seperti ini. Namun kali ini berbeda, Alina ingin Biru sejenak mengesampingkan pekerjaan itu agar bisa menghadiri sidang perceraian mereka.
" tuan Biru, ada titipan dari nona Alina." Ferdi pengacara yang di percaya Biru mengurus sidangnya bersama Alina.
Biru membaca lembaran surat yang di bawa Ferdi. Dengan senyum tipis Biru membaca tulisan tangan Alina itu.
" Ferdi, aku membayar mu dengan mahal. Jadi kau juga harus melakukan pekerjaan ini dengan baik dan benar. Aku tidak ingin terjadi perpisahan, jadi kau harus melakukan apapun caranya." ucap Biru penuh penekanan.
" ya, baiklah,, minggu depan sidang ketiga jika anda tidak hadir lagi, maka sidang akan di putuskan. Kalian resmi berpisah karna tidak ada pembelaan dari anda sebagai tergugat." jelas Ferdi.
Biru hanya diam tak menanggapi. Ia memang sengaja tidak menghadiri sidang perpisahannya dengan Alina dan berharap bila Alina menyerah dan berubah pikiran.
Biru berencana menemui Alina lagi hari ini sepulang dari kantor. Meskipun dengan jarak yang lumayan jauh, ia mengendarai mobilnya sendiri membelah jalanan menuju restoran Alina. Dan benar saja perkiraan Biru bahwa Alina berada di sana. Walaupun jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
Alina masih duduk di kursi depan restorannya menunggu Aris mengunci semua pintu restoran.
" mbak Lili,, Aris pamit ya. Ati ati sendirian di sini malem malem." ucap Aris yang sudah bersiap menjalankan motornya.
__ADS_1
" hmm,, ati ati juga ya Ris,," jawab Alina tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
Setelah Aris pergi Alina hendak membuka pintu mobilnya dan berniat segera pulang. Namun baru saja Alina hendak masuk, Biru tiba tiba menariknya dan membawa Alina memasuki mobilnya. Ia segera mengunci semua pintu mobil untuk menghalangi Alina keluar.
Tak peduli dengan Alina yang semakin meronta dan berteriak sedari tadi. Biru tiba tiba saja memegang tengkuk Alina dan kemudian mencium bibir Alina di dalam mobil yang sudah ia kunci rapat.
Alina yang terkejut dengan ulah Biru ini berusaha melepaskan diri dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Biru.
" kamu keterlaluan,, lepaskan aku.". Alina tampak geram terhadap Biru yang masih saja merasa tidak bersalah.
" kenapa?? kita masih suami istri kan,,, jadi sah sah saja aku melakukan itu pada mu yang masih berstatus istriku. Bahkan aku bisa melakukan yang lebih lagi. Jadi terserah aku mau berbuat apa padamu." Biru dengan santainya menjawab dan tiba tiba menyalakan mobilnya kemudian membawa Alina pergi.
" tunjukan jalannya dimana kamu tinggal. Aku yang akan mengantar istriku ini pulang." ucap Biru melembutkan suaranya. Membuat Alina tercekat saja.
" aku,,, aku tinggal di restoran, sekarang berhenti di sini aku bisa kembali kesana sendiri." kilah Alina berbohong agar Biru tak bertemu dengan Kiran.
" jangan buat aku memaksa mu sayang." Ucap Biru menatap tajam Alina.
" baiklah,, jika kamu memberiku kesempatan untuk bertemu putri ku, maka aku akan hadir di persidangan besok." Biru mengusap lembut punggung tangan Alina. Mengecupnya pelan.
Membuat aliran darah Alina berdesir aneh. Jantung nya mulai tak beraturan sekarang.
" benarkah??" Alina meragukan Biru.
" janji,, aku akan membuat kalian bahagia. Hidup bebas tanpa ancaman ataupun teror dari siapapun." Biru dengan tersenyum menatap Alina yang kini melihat kearahnya.
" Kamu benar Alina,, mungkin memang kita tidak ditakdirkan bersama. Karena saat kita bersama kamu akan tersakiti." Ucap Biru menyadari keadaan yang memang mengharuskan mereka berpisah.
Dengan berat hati Alina membawa Biru ke rumahnya. Saat sampai di rumah Amar yang belum tidur itu terkejut kakaknya pulang. Dan iti bersama Biru yang langsung menuju kamar Kirana. Alina memenuhi keinginan Biru yang ingin melihat putrinya, sebab itulah saat sampai di rumahnya, Alina membawa Biru ke kamar putrinya.
" Jadi dia putri kita?." Tanya Biru menatap Kirana yang terbaring di tempat tidurnya.
Biru menarik nafas dalam-dalam. Perlahan ia duduk di sisi ranjang Kirana. Menatap sayang kepada gadis kecil itu. Hatinya perih melihat putrinya tumbuh tanpa sosoknya.
" sayang sekali dia sudah terlelap." ucap Biru duduk dan dengan pelan mengusap sayang kepala Kirana sama seperti yang selalu Candra lakukan.
Eits,, tunggu kenapa Alina jadi teringat Candra melihat Biru yang mengusap lembut kepala putri mereka.
" dia begitu cantik,," lanjut Biru kemudian mencium kening putrinya. Tanpa terasa air matanya sudah mengambang di pelupuk matanya menyesali kebodohannya yang telah membuat dirinya sendiri kehilangan dua orang yang ia sayangi.
" dia memang tidak pernah tidur larut malam kecuali sedang sakit. " ucap Alina membenarkan selimut Kirana.
Dengan nanar Biru menatap Alina dan Kirana bergantian. Baru saja ia ingin membawa mereka dalam kehidupannya dan berharap bahagia bersama kedua orang yang ia sayangi ini.
Kakaknya Sekar justru sudah mempunyai rencana lain yang kini ia ketahui. Ya setelah Biru dan pengacaranya Ferdi berbincang siang itu. Sekar tiba tiba masuk kedalam ruangannya.
FLASH BACK
Sekar masuk kedalam ruangan Biru tanpa permisi dan berkata dengan sombongnya.
" bagus sekali,, akhirnya wanita itu tahu apa yang harus ia lakukan. Walaupun mengecewakan bagi ku. Kenapa baru sekarang mengajukan cerai. Kenapa tidak sejak awal saat kalian berpisah." ucap Sekar sinis.
" apa maksud kakak." Biru dengan marah menanggapi ucapan Sekar.
" sudahlah Biru,, terima saja bila akhirnya kalian memang harus berpisah. Bukankah itu lebih baik dari pada kau harus melihat wanita mu tersiksa. Oh,, apa kau lupa dengan yang terjadi pada Candra. Bisa saja hal itu juga akan terjadi lagi. Dan itu terjadi pada dia. Alina. Aku rasa aku ingin bermain-main dengan wanita yang tak tahu malu itu." Sekar berkata dengan penuh peringatan membuat Biru sejenak berfikir.
" mau mu apa kak,," Sebenarnya Biru sudah malas menanggapi kakaknya itu.
__ADS_1
" bukan mau ku,, tapi sudah seharusnya kau lakukan. Wanita itu juga sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan kalian bukan. Itu artinya dia tidak mau lagi sama kamu. Jangan bodoh. Pikirkan reputasi keluarga kita dan juga reputasi kamu. Memangnya kamu mau kerja keras kamu selama bertahun tahun menjaga nama besar mu agar selalu terlihat baik itu hancur karna scandal istri simpanan mu itu." Sekar terus mengeluarkan kata kata yang mengoyak hati Biru.
" sudah!! cukup kak,, aku sudah bukan anak kecil lagi yang selalu di setir oleh papi mami dak keluarga besar. Aku juga ingin bahagia dengan kebahagiaanku sendiri. Bukan pura pura bahagia dengan kebahagian kalian!!" Biru berdiri dari kursinya dan memukul meja di depannya. Ia terlihat emosi mendengar semua ucapan Sekar.
" orang orang ku saat ini tengah berada di dekat Alina dan putrinya. Mereka tinggal menunggu perintah saja. Dan...". Sekar membuat jarinya seperti pistol dan menembak ke arah Biru dengan tawa jahatnya.
Flash Back off
Karena hal itulah,, akhirnya Biru memutuskan untuk memupus harapannya bersama Alina. Ia harus rela berpisah dari Alina demi melihat Alina dan putri mereka hidup aman. Ia menyadari mungkin mencintai Alina tidak harus bersamanya. Dengan selalu melihat dan bisa bertemu dengannya saja sudah cukup asal mereka dalam keadaan baik baik saja. Biru sudah memutuskan itu. Sehingga ia malam ini bertekad menemui Alina dan putrinya. Sebelum akhirnya status mereka yang akan membuat jarak yang sesungguhnya nanti.
" Alina,, biarkan malam ini aku tidur bersama putri ku. Karna setelah ini aku tidak akan bisa menemuinya kan." ucap Biru pilu ketika mereka sudah berada di taman belakang kali ini.
" tapi Biru,,, aku,, aku,, aku belum memberitahunya tentang ayah kandungnya. Ia akan terkejut bila melihatmu nanti." jawab Alina.
" aku akan pergi sebelum ia bangun." Biru masih memohon pada Alina dengan memegang kedua tangan Alina.
" maaf,, maafkan aku Alina,, aku bodoh tidak bisa menjaga kalian,, aku terlalu bodoh sehingga egois membiarkan mu pergi." Biru dengan nanar melihat Alina
" sudahlah lupakan saja. Kita jalani hari hari baru di kehidupan kita. Kamu berbahagialah dengan kak Vio Damar dan juga Dinar. Untuk Kirana,, kamu bisa menemuinya selagi ada waktu, suatu hari nanti aku akan memberitahunya. Betapa hebatnya ayahnya ini." Alina tersenyum manis sekali membuat Biru meneteskan air mata dan Alina dengan lembut mengusap air mata itu.
Jujur saja di hatinya masih tersimpan rasa untuk orang yang pernah mengisi hidupnya itu. Mana mungkin Alina bisa lupa begitu saja.
" terimakasih Alina,, kau memang selalu bisa membuat ku tenang. Terimakasih,," Biru kemudian merengkuh tubuh Alina. Mendekapnya penuh sayang. Bahkan Alina membalas pelukan Biru.
" maaf kan aku yang telah dengan paksa merebut masa muda mu. Aku sadar telah merebut impian impianmu kala itu. Bahkan aku tak bisa memberimu masa depan yang baik setelah aku merebut semua itu." Biru berkata masih dengan memeluk Alina.
Alina mengangguk pelan dalam dekapan Biru.
** Bisakah waktu berhenti di sini saja. Aku ingin semuanya kembali seperti dulu sebelum teror dan ancaman itu terjadi.***
Batin Alina yang egois dan masih ingin bersama Biru.
Dan tanpa Alina duga kini Biru kembali mencium lembut bibirnya berbeda saat mereka di mobil tadi. Alina melebarkan matanya dan berusaha menolak memberontak dari pelukan Biru. Namun lengan kekar Biru begitu erat mengunci tubuhnya.
Biru semakin intens menciumi Alina membuat Alina terbawa suasana dan tanpa di minta ia membalas ciuman Biru. Ciuman yang semakin dalam dalam dan menuntut. Sungguh Alina lupa jika saat ini ia sedang berusaha melupakan Biru. apalah daya hatinya masih milih pria itu. Mereka masih menikmati aktivitas itu. Seolah menumpahkan rasa rindu yang selama ini tertahan bertahun-tahun lamanya.
Sebelum akhirnya sebuah suara menyadarkan mereka dan menghentikan ciuman mereka malam ini. Suara sebuah vas bunga yang terjatuh dan pecah membuat Alina berdiri dan melihatnya. Dari kejauhan ia melihat Candra yang mengenakan piyama tidur itu sudah membuka pintu rumah Alina dan kembali keluar rumah. Alina bisa mendengar suara mobil di luar sana.
" siapa yang datang?" tanya Biru yang kini sudah berdiri di belakang Alina.
" bukan siapa siapa." Alina menutupi kebenarannya.
" emm,,, maafkan aku,, aku tadi hanya,," Ucap Alina terlihat salah tingkah mengingat ciuman mereka tadi.
" Iyaaa,,, aku tahu,, lagi pula aku menikmati itu,, anggap saja itu adalah ciuman perpisahan kita, aku memang menginginkan itu. Terimakasih Alina. Aku sangat mencintai mu" ucap Biru dengan menatap Alina dan tersenyum. Kemudian ia mencium kening Alina.
Alina hanya membalas dengan senyuman tipisnya. Dan malam itu Biru benar benar tidur di kamar putrinya. Menatap wajah mungil nan menggemaskan di depannya itu. Ia berkali kali menciumi gadis kecil itu dengan sesekali tersenyum bahagia.
πππππ
Candra mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saat ini perasaannya sedang kacau akibat melihat Biru yang mencium Alina tadi.
Dadanya terasa sesak panas dan jantungnya, entah kenapa berdetak tak beraturan seperti itu. Ya tadi Amar menelponnya setelah Biru datang. Amar takut terjadi hal buruk pada Alina sebab itulah ia menghubungi Candra. Dan Candra yang saat itu sudah merebahkan tubuhnya di kasur dan bersiap untuk tidur segera mengambil kunci mobilnya dan bergegas kerumah Alina.
Bahkan ia tidak sadar bahwa ia tidak mengganti piyamanya dan juga sandal tidurnya. Saking terburu burunya ia hingga tak sempat mengganti bajunya. Ia begitu takut Biru memaksa membawa Alina dan Kirana pergi.
Candra mengkhawatirkan Alina dan juga Kirana. Namun tak di sangka,, saat sampai di rumah Alina. Ia mendapati pemandangan yang mengejutkan. Candra sempat memeriksa kamar Kirana melihat gadis kecil itu masih terlelap tidur. Candra memutuskan mencari Alina ke kamarnya. Namun tak ia temui. Candra berlari ke taman belakang. Tempat dimana Alina biasa menyendiri. Candra tak sengaja menyenggol vas bunga yang berada di dekat nya. Ketika ia melihat sang kakak sedang melakukan hal di luar dugaannya.
__ADS_1
πππππ
Terimakasih sudah membaca,,, jangan lupa tinggalkan LIKE nya ya setelah membaca. Krisan silahkan di koment. Tunggu kelanjutan cerita Alina selanjutnyaππ. Terimakasih πππ€