
Sedang memanas manasi Alina dengan semua persiapan pesta yang ia lalukan. Tiba tiba bik Darmi datang bersama kedua orang yang asing bagi Alina.
"Vio..." panggil seorang wanita berumur yang berada di belakang Violet.
" mami,,,,," Violet menoleh dan terkejut dengan kedatangan mama dan papanya.
Ia pun berjalan mendekati mereka dan saling berpelukan.
"serius,,ini tu kejutan,Vio baru akan menjemput kalian tapi lihatlah,,kalian sudah berada di sini sekarang." Violet berkata dengan sangat bahagia saat setelah melepas pelukannya.
"pesawatnya datang lebih cepat dari yang di perkirakan,jadi daripada menunggu dan kamu kan sedang sibuk juga." mamanya menjawab Violet,,,dan masih dengan tangan yang saling berpegangan dengan Violet.
"jadi kami memutuskan untuk memakai taxi sayang." lanjut papa Violet.
"oh,,,kalian membuat ku merasa sangat bahagia. Terimakasih sudah jauh jauh datang." Violet kembali memeluk kedua orang tuanya dengan bahagia. Mereka memang sudah sangat lama tidak bertemu.
Disisi lain,,Alina hanya diam membelalakan matanya melihat semua itu. Dalam pikirannya ia harus segera pergi sebelum di lihat oleh kedua orang tua Violet dan akan menimbulkan masalah baginya.
Namun saat ia mengendap endap untuk pergi tiba tiba saja papa Violet memanggilnya.
"hei kamu,,," menunjuk Alina.
(oh tidak! bagaimana ini apa yang harus aku lakukan.) gumam Alina dalam hatinya.
"kenapa diam saja,,bantu dia membawa barang barang kami." lanjut papa Violet yang melihat Alina hanya diam saja.
"Vio,,kenapa pembantumu itu diam saja. Apa kau tidak mengajarinya bekerja dengan benar." sambung mama Violet.
Violet yang melihat papanya menunjuk dan mamanya yang menyebut Alina sebagai pembantu sangat senang karna memang dia ingin mengerjai dan memperlakukan Alina sebagai pembantu.
(pembantu??bagaimana ini. Ah setidaknya aku sedikit lega dengan begitu dia tidak tahu bahwa aku adalah wanita yang menjadi madu dari putrinya.) gumam Alina.
"nonya,,biar saya saja yang membawakan semua ke kamar nonya besar." sahut bik Darmi berusaha melindungi nyonya mudanya agar tidak melakukan pekerjaan pelayan. Kalau sampai Biru tahu Alina di anggap pembantu,tentu itu tidak baik. Bik Darmi bisa terkena masalah karna itu.
"bik,,barang barang nya tu banyak,jadi biar cepat selesai biar PEMBANTU itu ikut mengangkatnya." Violet berkata sambil menunjuk Alina dan dengan sengaja menekan dengan lantang kata pembantu.
"jadi tunggu apa lagi,,ayo PEMBANTU,,bantu bik Darmi." menarik tangan Alina mendekatkannya pada bik Darmi.
"tapi nyonya..." protes bik Darmi pada Violet. Yang kemudian di pegang lembut tangannya oleh Alina dan Alina mengedipkan matanya serta menganggukan kepala tanda tak masalah.
"ayo mam,Dad, kita ke sana sambil beristirahat minum teh." ajak Violet menggandeng mamanya.
πππππ
Di kamar tamu yang akan di tempati orang tua Violet.
"non,,sudah ya satu ini saja. Setelah ini biar saya non. Saya yang akan menyelesaikannya nanti dengan pelayan yang lain. Non Alin beristirahat saja di kamar." ucap bik Darmi pada Alina.
"nggak apa apa bik." jawab Alina tulus dengan senyum tipisnya.
"non,bibik mohon,, nanti kalau tuan Biru tahu kami bisa dapat masalah non." ucap bik Darmi memelas.
" ya sudah,, kalau begitu jangan sampai tuan Biru tahu." Alina mengedipkan sebelah matanya. Pertanda bahwa tak perlu terlalu mengkhawatirkan dirinya.
Akhirnya bik Darmi terpaksa menuruti nyonya mudanya ini. Namun saat mereka keluar dari kamar tamu, barang barang itu sudah di angkut oleh beberapa pelayan dan membawanya masuk ke kamar tamu. Bik Darmi lega melihat itu. Karna nyonya mudanya itu tak akan lagi di buat capek karna memasukan semua barang kedua orang tua Violet yang sangat banyak itu. Entah siapa yang mengerahkan para pelayan itu bik Darmi masih bertanya tanya dalam hatinya.
"bik,,sepertinya akan lebih baik jika aku masuk kekamar." melihat Violet yang berbincang hangat di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya dan ada Damar di sana. Alina rasa ia akan aman jika diam di kamar.
"iya non,,." jawab bik Darmi lega. Dengan begitu,, maka bik Darmi tak merasa takut di salahkan oleh Biru.
Bik Darmi berjalan ke dapur dan mencari Sita agar menemani Alina di kamarnya. Berjaga jaga saat Alina membutuhkan sesuatu agar Sita saja yang mengambilkannya. Sayangnya Alina menolak saat Sita masuk kekamarnya dan memberitahunya. Bahwa Alina ingin sendiri saja.
Alina sendiri di kamar,,berdiri di dekat jendela kamarnya menatap lalu lalang orang orang di bawah sana yang jelas ia lihat dari tempatnya berdiri saat ini.
Berdiam meresapi nasibnya yang harus bersembunyi dari orang orang di sekitar suaminya. Diapun harus menerima kenyataan bahwa ia adalah istri kedua yang di sembunyikan.
πππππ
__ADS_1
Sore hari saat Biru pulang dari kantor. Ia tak melihat Alina menyambutnya di depan pintu seperti biasa. Dengan tergesa gesa Biru memasuki rumah dan mencari Alina. Namun saat ia membuka pintu,, bukan Alina yang ia temui justru ia di kejutkan dengan dua orang di depannya kini.
"mam, Dad,,," Biru kemudian menyapa kedua mertuanya dengan gugup karna terkejut. Dan akhirnya ia tahu bahwa itu adalah alasan Alina tidak menyambutnya.
"kamu kenapa panik Biru." tanya mama Violet yang duduk santai di ruang tamu menikmati teh nya.
"panik?? ti tidak,,hanya sedikit lelah saja." kilah Biru. Mencoba bersikap biasa saja.
"kapan kalian datang." tanya Biru kemudian berbasa-basi.
"siang tadi,,dan kami sedang menanti kedatangan besan kami. Jadi kami duduk dan menunggu di sini." jawab papa Violet yang tersenyum senang bertemu sang menantu.
"besan?? yang daddy maksud mami dan papi Biru??" tanya Biru bingung. Karna tak ada kabar apapun yang ia terima hari ini.
"iya,,Damar sedang menjemputnya dengan Dinar." jawab Violet yang tiba tiba datang dari dalam dan kini bergelayut mesra di lengan Biru.
"Vi,,kita perlu bicara." Biru berkata pelan agar tak terdengar mertuanya.
"mmm,Dad, mam, Biru permisi dulu mau membersihkan diri." pamit Biru yang di anggukan oleh Violet pada ke dua orangtunya.
Namun baru satu langkah mereka berjalan terdengar teriakan Dinar dari luar yang memanggil mamanya. Mereka pun mengurungkan niatnya dan menunggu kedua orang tua Biru masuk. Dan memaksa Biru menghadapi situasi yang tak ia inginkan.
Setelah cipika cipiki dan segala bincang bincang ringan ala penyambutan. Mereka masuk dan kini berbincang di ruang tengah, ruang keluarga. Biru kembali pamit dan mengajak Violet untuk ke kamar karna ada yang ingin Biru bicarakan.
"Vi,,kemana Alina. " tanya Biru dengan nada kesal pada istri pertamanya itu. Tentunya setelah mereka berada di kamar.
" jadi kau mengajakku kemari hanya untuk menanyakan dia." jawab Violet tak kalah kesal.
"kenapa tidak memberi tahu ku ke datangan mereka ." Biru berkata karena semakin kesalnya.
"aku tidak ingin mengganggu mu agar pekerjaan mu cepat selesai. Dan besok kau tidak akan meninggalkan pesta dengan alasan pekerjaan lagi." Violet menjawab Biru dengan tangan bersidekap. Tampak ke angkuhannya.
"mandi dan segera turun, kita berbincang di bawah." titah Violet pada Biru dan ia meninggalkan kamar.
" Kamu saja yang temui mereka. Dan temani mereka. Aku harus menemui Alina ku dulu." Biru menolak keinginan Violet dan membuat wanita iti murka.
Sontak Biru mengeram kesal karena ucapan Violet. Ia memang belum siap mengungkap pernikahannya dengan Alina.
" Ok Vi, aku akan menuruti mau kamu!!." Akhirnya Biru mengalah.
Violet tersenyum puas melihat itu. Dan ia berlalu keluar dari kamarnya.
πππππ
Saat makan malam, Biru merasa tidak tenang,, makan pun tak enak. Ia memikirkan Alina. Sejak pulang dari kantor tadi ia tak melihat Alina ataupun mendengar suaranya. Ia tak bisa memegang ponsel hanya sekedar untuk mengirim chat pada gadis muda itu.
Bahkan selesai makanpun ia mau tak mau harus ikut berkumpul di ruang keluarga bersama keluarga besarnya. Mereka membahas acara pesta yang besok akan di adakan.
Semua tampak bersemangat, namun berbeda dengan Biru yang hanya diam saja. Pikirannya melayang pada sosok wanita yang ia rindukan.
Biru sudah tak tahan ingin menemui Alina. Ia berpamitan pada semua yang ada di ruang tengah. Dengan dalih ingin ke kamar sebentar ia menaiki tangga dan masuk ke kamar Alina. Dengan diam-diam memastikan tidak ada yang melihatnya masuk kesana.
" bik Sita,,Alina sudah tidur??" Biru bertanya pada bik Sita yang baru saja keluar dari kamar Alina.
"belum tuan,, nona sedang di kamar mandi." jawab bik Sita sopan.
"baiklah,,terimakasih." ucap Biru dan langsung masuk ke dalam kamar Alina.
Biru mendengar gemercik air dari dalam kamar mandi dan terdengar suara Alina yang seperti suara orang memuntahkan isi perutnya. Dengan segera Biru masuk ke kamar mandi menghampiri Alina. Ia khawatir dengan keadaan istrinya.
"sayang,,,kamu kenapa." Biru melihat wajah pucat Alina dari samping. Ia memijat mijat tengkuk Alina. Berharap bahwa itu bisa membuat Alina lebih baik.
"entah lah,,tiba tiba mual." ucap Alina setelah membersihkan wajahnya.
Dengan sigap Biru menggendong Alina ke kamar. Mendudukan Alina pelan di atas ranjang mereka. Dan kemudian ia ikut duduk di samping Alina.
"kamu sakit??" tanya Biru khawatir. Ia memegangi kening Alina memastikan suhu tubuh sang istri.
__ADS_1
"hanya mual tadi." Alina menjawab ringan dengan senyum manisnya.
"sayang,,ini sudah malam,,harusnya kamu beristirahat kan. Besok kamu pasti bakal sibuk. Jaga kondisi kamu." ucap Alina kemudian, setelah menyadari bahwa Biru yang di jam segini mengunjunginya. Walaupun sebenarnya ia memang tadi sempat menanti Biru. Namun Alina tak ingin Biru kecapekan karena harus di repotkan oleh dirinya.
"aku memang mau tidur dan aku ingin tidur di sini." Biru menyandarkan kepalanya di pundak Alina.
"sayang,,lebih baik kamu tidak tidur di sini agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan." Ucap Alina takut jika ada orang lain tahu. Namun justru membuat Biru tidak mengerti maksud perkataan Alina.
"maksud kamu apa sayang?." Tanya Biru menelisik pada sang istri.
"hari ini orang tua kak Violet datang,,jangan buat mereka merasa curiga sama kamu." Alina mengutarakan maksudnya.
"aku sudah menduga kalau kamu pasti sudah tahu mereka datang jadi kamu sama sekali tidak keluar dari kamar." ungkap Biru mencium tangan Alina yang sedari tadi ia genggam. Ia merasa bersalah memposisikan Alina sepeti ini.
"jadi, tidurlah di kamar kak Vio malam ini." titah Alina dengan lembut mengatakannya.
"aku ingin di sini aku tidak ingin jauh dari mu." jawab Biru dengan merengkuh Alina. Ia takut dan juga merasa bersalah. Namun ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
"jadi kamu ingin mereka tahu hubungan kita?? o iya aku dengar ayah dan ibu suami ku ini juga sudah datang ya." Alina berkata dengan senyum yang menyandarkan perih hatinya. Wanita mana yang tak ingin tau yang mana mertuanya. Namun Alina tidak mungkin bisa melakukan hal itu.
"kamu juga sudah melihatnya??" tanya Biru cemas. Takut jika orang tuanya bertemu Alina dan menyelidiki tentang Alina.
"belum,,aku hanya tau kedua orang tua kak Vio siang tadi." Alina menjawab dengan jujur.
"sayang,,maaf kan aku,,aku tidak bermaksud seperti ini. Hati ku begitu mencintai mu. Tapi keadaan ku yang memaksa aku harus seperti ini." Biru menatap Alina lembut. Ia merasa benar-benar bersalah. Namun ia terlanjur mencintai Alin. Yang membuatnya nekat berbuat seperti ini.
"hmmm,,aku tahu. Jadi suami ku, sebelum semua tahu tentang kita,kembalilah ke kamar kak Vio. Jalani hari mu seperti saat aku belum ada di antara kalian. Jalani seolah olah aku tidak ada di sini. Jangan memikirkan aku. Aku baik baik saja." Alina mengangguk pelan dan tersenyum pada Biru. Walaupun hatinya sakit namun dia harus bijak menyikapi keadaan saat ini.
" terimakasih Alina kamu mau mengerti posisi ku." Biru mencium lama kening Alina. Sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Alina di kamarnya.
πππππ
Saat tengah malam,, tiba tiba Alina terbangun karna merasa sangat lapar. Ia pun mengintip dari balik pintu kamarnya. Barangkali ada Sita di sana. Namun nihil Sita tak lagi ada disana.
"huft...bagaimana ini, aku sangat lapar. Tidak biasanya aku lapar tengah malam begini." ucap Alina sambil mondar mandir di kamarnya dengan tangan bersidekap memikirkan cara untuk keluar kamar. Agar ia bisa mengambil makanan di dapur.
Akhirnya Alina memberanikan diri keluar kamar. Setelah memastikan di bawah sudah sepi. Ia dengan mengendap endap berjalan keluar kamar karna sudah tak dapat menahan laparnya. Ia berjalan menuruni tangga perlahan agar langkahnya tidak di dengar siapapun. Rumah sangat sepi semuanya gelap hanya sorot lampu temaram dari dapur yang menyala. Alina sampai di dapur dan mencari makanan yang bisa ia makan. Saat ia sedang asyik di depan kulkas mencari makanan. Tiba tiba di kejutkan dnegan suara seseorang.
"hei kamu,,bikinkan aku kopi." orang itu berbicara pada Alina di depannya.
"sa...saya??" jawab Alina gugup setelah menoleh ke belakang dan melihat seorang lelaki tua berkaca mata dengan piyama tidurnya.
"siapa lagi,,hanya kamu pembantu yang terlihat di sini. Cepat bikinkan aku kopi. Aku tunggu di taman." kemudian lelaki itu berlalu meninggalkan Alina dengan kebingungannya.
Dengan segera Alina membuat kopi. karena memang tidak ada lagi orang disana. Para asisten rumah tangganya mungkin sudah beristirahat. Begitu pikir Alina. Meskipun ragu untuk mengantarkan ke taman. Karena takut ketahuan yang lainnya. Tapi akhirnya Alina sendiri yang membawa kopi itu ke taman. Beruntung hanya ada laki laki tadi saja di sana. Sehingga Alina tidak di ketahui oleh keluarga Biru yang lainnya.
"mmm silahkan kopinya." Alina meletakan kopi di meja sebelah orang tadi. Dan hendak segera pergi.
"terimakasih,," ucap laki-laki tua itu sambil menatap Alina.
"kamu masih muda dan cantik,kenapa jadi pelayan. Wajahmu itu tidak cocok menjadi pelayan." ucapnya kembali dengan tatapan aneh pada Alina. Sembari menyeruput kopinya.
"mmmm,,, maaf tuan saya permisi." Alina merasa takut dengan tatapan laki-laki itu. ia juga takut wajahnya di kenali. Akhirnya Alina pamit dan bergegas pergi dari sana. Ia tidak tahu siapa lelaki tua yang menatapnya aneh itu.
Alina kembali ke dapur dan mulai memakan makanannya.
"****huft,,,,kenyangnya****." Alina duduk di dapur menghabiskan makanannya dan segera kembali ke kamarnya. Mumpung belum ada yang melihatnya.
Alina mencoba memejamkan matanya mencoba untuk tidur menutupi kemelut di hatinya. Ia benar benar merasa bagai wanita simpanan sekarang ini. Hubungan yang harusnya ia banggakan justru terpaksa harus ia sembunyikan serapat rapatnya. Jika bukan karna Biru yang telah banyak menolong keluarganya. Sungguh saat ini ia akan pergi jauh.
Bahkan untuk meminta restu pada kedua mertuanya saja ia tak berani membayangkannya. Jangankan sampai bisa di kenal dengan baik dan di akui.
πππππ
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa LIKE nya ya setelah membaca. Kritik dan saranbya di tunggu di kolom komen.
Terimakasihπππ
__ADS_1