Takdir Alina

Takdir Alina
Masa lalu...


__ADS_3

Semalaman Biru gelisah memikirkan Bagus dan Alina. Ia di buat gelisah dengan pertemuan tak sengaja mereka kemarin. Apalagi setelah mendengar kata kata Bagus kemarin ia merasa bahwa Bagus masih menyimpan rasa yang dalam untuk Alina.


Dan Alina sendiri,ia sama sekali tak membahas pertemuannya dengan sang mantan. Alina terkesan menyembunyikan hal itu dari Biru. Walaupun Biru sudah mengetahuinya.


Namun sejujurnya ia ingin Alina bercerita padanya. Tapi Biru juga tak bisa memaksa Alina untuk bercerita. Karna Biru ingat betul ucapan Bagus yang memperingatkannya untuk menjaga perasaan Alina. Bisa saja saat Alina bercerita ia justru merasa cemburu dan tak bisa menahan amarahnya itu. Jadi Biru putuskan untuk diam saja.


Hari ini Biru sengaja menemui Bagus,setelah ia menemukan informasi dari seorang anak buahnya yang ia tugaskan untuk mengikuti Bagus sejak kemari. Di sini Biru sekarang,tempat Bagus bermain futsal.


" Oh,,,hai om,,masih kurang nonjokinnya." ucap Bagus ketika tahu Biru menghampirinya yang sedang duduk untuk minum. Wajah Bagus masih memar. Bekas pukulan Biru kemarin.


" Masih lama?" bukannya menjawab justru balik bertanya dengan datar.


" Baru mau ganti." jawab Bagus singkat.


" Bisa bicara?" Biru mengutarakan tujuannya.


" Tentang Lilin?" tebakan yang benar Bagus.


" Alina,,dia Alina." jelas Biru menekan ucapannya.


" Terserah,tapi bagi ku dia adalah Lilin ku." balas Bagus tak mau kalah. Dengan bangga menyebutkan hal itu.


" Aku ganti dulu." Bagus berdiri membawa tasnya meninggalkan Biru.


(sial,,kalau bukan demi Alina, malas sekali menemui bocah seperti itu.) batin Biru kesal.


" Masih di sini." ucap Bagus yang baru selesai berganti.

__ADS_1


" Lama." ucap Biru yang tidak suka menunggu.


" Om,,om nggak pernah maen futsal ya. Sayang sekali padahal Lilin suka jika aku mengajaknya ke sini." ucap Bagus dengan nada meledek Biru.


" Jadi Alina sering ke sini." Biru merasa tak yakin karna begitu banyak pria di sini. Ia berfikir mungkin saja Alina akan merasa tidak nyaman di sini.


" ya sering,,selalu ketika aku mendapat libur ku. Karna setelah dari sini kami lanjut kencan." Bagus tersenyum mengingat masalalunya dengan Alina. Dan itu membuat Biru cemburu.


" Ketika aku libur dan dia juga libur kerja tentunya." Bagus menambahkan.


" Om,kenapa kesini, mau tau tentang apa soal Lilin." tanya Bagus santai.


" hubungan kalian." Biru menjawab dengan menahan geram.


" Oh,,hubungan kita terpaksa berakhir om. Padahal kita sudah berencana akan menikah. Satu bulan sebelum dia memutuskan hubungan ini. Kita sudah berencana akan bertunangan. Tapi sayang." Bagus Mendesah pilu mengingat hubungannya yang kandas.


" Apa om tahu betapa sakitnya hati saya saat itu. Bukan hanya saya,sudah pasti Lilin juga. Kerjanya selama ini untuk membantu ekonomi keluarga. Dan ketika ia ingin menjemput bahagia bersama saya, justru lagi lagi ia harus mengorbankan perasaannya demi keluarganya." Bagus menatap tajam Biru seolah olah ia kesal dengannya.


" justru aku lah yang mengeluarkan Alina dari kubangan derita itu." aku Biru merasa ia adalah penolong untuk Alina.


" aku menikahinya dan menanggung semua ekonomi keluarganya." lanjutnya Biru.


" Apa om peduli bagaimana perasaan Lilin dengan memaksanya menikah." ucap Bagus tegas.


" om,adik Lilin menceritakan semuanya, dari awal anda yang tiba tiba datang dan melamarnya. Bagaimana kakaknya itu mengurung diri selama dua hari di kamar. Jelas itu semua nggak mudah buat Lilin om. Terlebih ia tinggal dengan istri pertama om yang bisa saja ia mendapat perlakuan yang nggak baik karna pasti di anggap pelakor." lanjutnya berapi api. Bagus sangat memahami Alina. Lebih dari yang Biru tahu.


" Tahu apa kamu tentang kehidupan rumah tangga saya. Alina baik baik saja ia tidak mendapat perlakuan buruk." Biru menjawab tak kalah emosi.

__ADS_1


" Saya harap itu memang benar. Lilin adalah gadis yang berhati lembut, saat kita bersama tak pernah ia memiliki dendam pada setiap orang yang menyakitinya, tak pernah sedikitpun mengeluh akan beban yang ia bawa. Selalu membawa suasana ceria pada setiap orang di sisinya. Gadis yang ramah periang mandiri bijaksana. Siapa yang bisa menolak untuk jatuh cinta padanya." Bagus menggambarkan sosok Alina yang ia kenal selama ini.


" Om, apa dia masih selalu menjadi gadis periang? aku rindu bercanda dan tertawa bersamannya." Bagus bertanya tanpa merasa bersalah.


" Dia istri ku kamu di larang merindukannya." tegas Biru.


" Om, Lilin itu sangat menyukai pantai,dia suka bunga lily, dia nggak suka sesuatu yang glamour, o iya dia suka anak anak. Saat libur dia selalu mengunjungi panti asuhan tak jarang ia membawa anak anak panti bermain di pusat perbelanjaan. Walaupun itu menghabiskan seluruh gajinya dalam satu bulan dan harus kena omelan ayahnya karna tidak mengirim uang." dengan sendu ia menceritakan pada Biru.


" dia selalu menyembunyikan itu dari saya, tapi pernah saya diam diam mengikutinya dan mendengar ayahnya menelfon waktu itu. Lilin tidak pernah membagi kesedihan juga kesulitannya pada siapapun kalau kita tidak mencari tahunya sendiri." lanjut Bagus.


"Om,impian saya membuatnya bahagia, karna dua tahun berpacaran dengannya saya tahu betul bagaimana ia menjalani harinya yang sebenarnya itu sulit, tapi tak pernah sekalipun ia menganggap itu sulit. Entah dari apa hatinya yang lapang itu. Saya merasa beruntung pernah memiliki wanita hebat seperti dia. Yang membuat saya jatuh cinta selain wajahnya selalu menenangkan dengan senyum ramahnya itu. Adalah sikapnya yang begitu bijaksana." panjang lebar Bagus menceritakan tentang masa lalunya bersama Alina.


🍎🍎🍎🍎🍎


Biru walaupun dengan cemburu di hatinya ia tetap diam dan mendengarkan cerita Bagus. Ia ingin tahu sejauh apa hubungan mereka dulu, dan ia ingin tahu lebih banyak tentang Alina di masa lalu.


Biru pulang dengan banyaknya cerita dari Bagus. Semua tersimpan di memorinya. Ia membuat gambaran langkah apa yang akan ia buat nanti untuk benar benar mendapatkan hati Alina.


Tidak hanya raganya saja seperti saat ini. Masa lalu Alina dengan Bagus membuatnya benar benar cemburu.


Alina dan Bagus memiliki banyak kisah romantis, sedih senang pernah Bagus dan Alina lalui.


Bagus benar Alina selalu menyimpan dukanya sendiri. Selama beberapa bulan bersama Biru, Alina tak sedikitpun protes pada Biru tentang perlakuan Violet juga Dinar dan Damar.


Bahkan Alina selalu bisa tetap ramah dan baik pada mereka. Setelah hari ini Biru berharap dirinya bisa seperti Bagus yang membuat Alina nyaman berada di dekatnya. Dan sejak malam itu pula Biru selalu pulang dengan bunga lily untuk Alina. Hal itu membuat Violet semakin tidak menyukai Alina. Walaupun Biru juga selalu membawakan mawar hitam kesukaan Violet. Namun tetap saja Violet tidak suka dengan yang di dapat Alina.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa setelah membaca tinggalkan LIKE nya ya. Kritik saran di tunggu di kolom komen. Terimakasih banyak untuk dukungannya pada karya ini. TerimakasihπŸ™πŸ™


__ADS_2