Takdir Alina

Takdir Alina
Maaf...


__ADS_3

Biru sudah lama menunggu Alina yang tak kunjung pulang. Sore tadi Biru datang ke rumah dan mendapati Alina belum pulang. Ia semakin meradang mengingat sore tadi seseorang mengiriminya foto Alina bersama seorang pria yang tak lain adalah Sandy. Hal itulah yang membuat Biru meradang dan bergegas menemui Alina. Namun Alina tak dirumah. Ia menunggu Alina dengan gusar di kamar.


" bik Imah,, apa tuan Biru sudah lama datang?" tanya Alina yang saat masuk tadi melihat mobil Biru di depan.


" sudah non,, sudah dari sore. Tuan bilang ponsel non Alina tidak bisa di hubungi." jawab bik Imah yang ketakutan melihat Biru yang tadi kesal dan membanting ponsel di depannya.


" baik lah aku ke atas dulu." Alina tak kalah takutnya. Ia tahu Biru pasti marah karna ia pergi tanpa ijin. Dan sudah membuat Biru menunggu nya lama.


" pulang juga kamu." kata Biru setelah Alina membuka pintu kamar. Biru masih berdiri di dekat jendela dengan kedua tangan di masukan kedalam saku celananya. Ketika Alina masuk ke kamar.


" hemm." Alina hanya tersenyum membuat Biru sedikit turun level emosinya. Hanya melihat senyuman Alina.


" dari mana saja?!" tanya Biru dingin,, ia kini berjalan mendekati Alina yang sedang menutup pintu kamar.


" pantai,," Alina menjawab sekenanya dan mundur ketika Biru mendekat.


" sebelumnya." Biru maju semakin mendekati Alina


" main ke temen." Alina memejamkan matanya takut ketika Biru sudah sangat dekat dengannya. Dan ia tak bisa mundur lagi karna mentok di pintu.


" siapa dia!" Biru menunjukan sebuah foto dari ponselnya. Dan membuat Alina melebarkan matanya. Foto dirinya bersama Sandy yang berjalan berdampingan saat menuju lift. Dan foto lainnya saat Alina keluar dari apartemen Sandy.


" katakan,, siapa dia!!" bentak Biru yang melihat Alina diam saja membuatnya semakin kesal.


" dia,,, dia Sandy. Teman Bagus." ucap Alina cepat, ia gemetar ketakutan melihat Biru marah. Dia bingung bagaimana bisa Biru mendapat foto itu, apa Biru mengikutinya? begitu pikir Alina.


" teman Bagus?? untuk apa kamu menemuinya dan berduaan dengannya di dalam apartemen. Katakan Alina." Biru meninggikan nada bicaranya dan mencengkram erat kedua pundak Alina dengan kuat. Membuat Alina meringis kesakitan.


" aku ada urusan dengannya." Alina memejamkan matanya menahan sakit di pundaknya ia benar benar takut kalau kalau Biru memukulnya.


Biru melihat Alina memejamkan matanya, Ia baru sadar Alina menahan sakit dan hanya diam. Ia pun sadar dan merasa bersalah pada Alina dan melepaskan cengkeramannya.


" sayang,, maafkan aku,, sakit ya." Biru tiba-tiba saja mengusap kedua pundak Alina dan kemudian merengkuh tubuh Alina ke pelukannya.


Alina hanya diam dan menangis tanpa suara. Sikap baper Alina muncul lagi atau memang Biru yang keterlaluan ya? entah lah. Yang pasti saat ini Alina merasa sedikit lega Biru tak lagi semarah tadi meskipun omelan omelan masih keluar dari mulutnya. Yang melarang Alina pergi sendiri jangan pergi lama lama jangan menemui lelaki lain tanpa sepengetahuannya. Dan masih banyak lagi.


" sayang,, maaf ya,,, aku emosi saat melihat foto kamu bersama laki laki itu. Aku takut,, kamu tahu seperti apa cinta ku pada mu." ucap Biru mengusap lembut kepala Alina. Saat ini mereka sudah duduk di atas kasur.

__ADS_1


" hemm,,,, aku juga,, maafkan aku,, aku tidak memberitahu mu. Tapi percayalah dia hanya teman biasa." dengan suara lembutnya Alina berkata meyakinkan Biru. Alina tidak mungkin menceritakan pada Biru tujuannya menemui Sandy.


" dimana ponsel mu, sudah sepuluh hari tidak memberiku kabar, bahkan semua pesan ku tidak di balas,dan juga tidak bisa di hubungi." lanjut Alina.


" maaf sayang,,, aku benar benar sibuk hari itu. Dan sekarang ponselnya hancur tu di bawah." ucap Biru memanyunkan bibirnya dan kepalanya di gerakan kearah pintu. Menunjukan arah pada Alina. Ya ponsel Biru yang khusus ia pake untuk berhubungan dengan Alina kini hancur tak berbentuk.


" salah sendiri di banting banting. Udah kayak ABG labil di selingkuhi pacarnya." ledek Alina membuat nya mendapat cubitan di hidung mancungnya. Dan mengaduh manja.


" masih berani meledek suami mu. Hemm??" Biru dengan gemas kembali mencubit pipi Alina.


" ampun tuan Biru Wiratmadja,,,maaf kan aku." Alina berontak dari pelukan Biru dan menuruni kasur berlari ke kamar mandi dan menguncinya. Niatnya sih mau mandi sekaligus mengerjai Biru tentunya. Saat bisa bercanda dengan Biru seperti ini jelas ia bahagia. Namun jika teringat akan ancaman itu. Membuat Alina tak bersemangat lagi.


" sayang,,, buka pintunya,, mau ngumpet kamu dari ku yaaa,,, hem." Biru menggedor pintu kamar mandi. Namun Alina tak bergeming. Hingga akhirnya Biru mengalah dan menunggu Alina di kamar.


Pagi ini mereka kesiangan bangun. Akibat ledekan Alina semalam Biru menuntut balas di ranjang setelah Alina keluar dari kamar mandi dan masih dengan kimono mandinya.


Sepuluh hari tak bertemu dan tanpa kabar tentu saja Biru sangat merindukan momen bersama Alina.


Semalaman mereka menghabiskan waktu berdua melepas rindu diantara mereka.


Alina bisa apa, Biru menerkamnya begitu saja menariknya sehingga ia jatuh ke ke tempat tidur saat ia baru keluar dari kamar mandi. Bahkan memberikan perlawanan saja tak bisa. Biru sudah seperti singa lapar menikmati tubuh mangsanya.


🍎🍎🍎🍎🍎


" mana sarapan ku sayang" ucap Biru menuruni tangga melihat Alina yang sedang menata makanan di meja makan. Dengan rambut yang masih setengah basah itu sengaja di urai.


" sedang ku siapkan. Kemari lah." Alina menjawab dengan tersenyum manis namun tangannya dengan cekatan menyiapkan sarapan untuk suaminya.


" huh,,,aku sangat lapar." Biru duduk di kursi. Saat di rumah Alina Biru selalu duduk di kursi mana saja berbeda dengan di rumah utamanya. Ia akan selalu duduk di kursi singgasananya.


" makanlah,,nanti bisa nambah lagi." Alina menyodorkan piring berisi makanan yang ia ambilkan untuk Biru. Biru pun menerimanya dengan senang hati.


" hemmm,, sedap sekali aromanya. Makasih sayang. Biru meletakan piring di depannya dan sebentar mencium kening Alina, kemudian kembali duduk dan mulai memakan sarapannya. Ini lah yang membuat Biru senang saat bersama Alina. Sebagai suami ia selalu di layani dengan baik oleh Alina. Alina menjalankan tugas sebagai istri dengan baik sesuai seperti yang Biru idamkan. Tanpa di minta Alina memenuhi keinginan Biru itu.


Di sini mereka sekarang,setelah sarapan, mereka berdua mengobrol di balkon atas. Membicarakan banyak sekali masalah selama beberapa hari ini. Biru merasa bersalah saat mendengar ayah Alina telah tiada. Sebab ia tidak bisa menemani istrinya di saat istrinya tengah berduka kala itu.


" sayang,,, aku mohon maaf kan aku ya, aku benar benar tidak mengetahui hal itu. Bodo sekali aku ini." Biru berjongkok di depan Alina yang duduk manis di kursi. Ia memegang jemari Alina dan menautkan di jemarinya.

__ADS_1


" sudahlah,,kamu minta maaf terus dari tadi,," Alina tersenyum dan menarik tangan Biru agar kembali duduk di kursinya. Biru sudah mengucapkan maaf berulang kali padanya. Hal yang tabu di ucapkan Biru saat bersama orang lain.


" maafin aku dulu,,baru aku akan bangun." Biru dengan wajah bersalahnya menaik turunkan Alisnya. Membuat Alina tersenyum dan mengangguk.


" lalu karna itu kamu menemui teman mu itu." Biru setelah duduk di samping Alina teringat kembali pertemuan Alina dan Sandy.


" tentu saja tidak," dengan cepat Alina menggelengkan kepalanya. Ia harus mencari alasan yang tepat agar tidak menimbulkan rasa curiga pada Biru.


" aku punya banyak teman wanita untuk berbagi curahan hati ku. Kalau aku mau aku bisa berbagi bersama mereka." Alina berharap bahwa Biru tidak berfikir bahwa ia menemui Sandy untuk sekedar curhat karna Biru tidak menemaninya di saat saat berduka.


" aku pikir kamu akan mengadu padanya bahwa aku suami mu ini tidak ada di sisimu kala kamu berduka dan bahkan tidak mengabari mu selama beberapa hari. Laki laki itu pikir pasti aku suami yang tidak baik kan." tebakan Alina benar kan. Biru merasa bahwa Alina mencari pelampiasan.


" tidak sayang,, aku tidak mungkin seperti itu. Aku mohon maaf kan aku karna aku menemuinya kamu jadi berfikir bahwa aku mencari pelarian." Alina meyakinkan Biru dengan menggelengkan kepalanya.


" Alina,, maaf kan aku, setelah hari itu, saat pulang dari sini. Aku mendapat kabar bahwa adik ku mengalami masalah. Jadi aku harus kesana menemuinya." Biru berusaha menjelaskan kemana ia pergi.


" adik??" Tentu saja Alina heran dengan mengerutkan keningnya ia bertanya pada Biru. Karna selama ini yang ia tahu bahwa Biru adalah anak bungsu. Padahal ia sudah tahu dari Sandy.


" ya,, aku punya adik Alina. Dia sakit, selama ini keluarga ku sengaja menyembunyikan identitasnya. Bahkan banyak orang mengira bahwa adik ku sudah tiada." dengan menghela nafas panjang Biru berusaha menceritakan pada Alina. Alina melihat Biru seakan memikul sebuah beban. Membuat Alina mengusap lembut punggung Biru. Memberikan kekuatan untuk suaminya.


" kalau itu berat,, nggak apa apa,, gak usah di ceritain sayang." walau sebenarnya penasaran. Namun Alina juga tidak ingin menyulitkan Biru.


" sepuluh tahun lalu,, dia mengalami kejadian yang membuat jiwanya terguncang. Dan membuatnya depresi." Biru menatap ke arah Alina, antara melanjutkan ceritanya atau tidak.


" Alina,, aku tidak mau dan tidak ingin kejadian yang menimpa adik ku terjadi pada mu. Aku tidak tahu jika itu terjadi. Maka aku akan benar benar hancur. Itulah sebabnya aku tidak mau banyak orang mengetahui tentang dirimu. Biarkan cukup kita yang tahu mengukir indahnya cerita kita hingga saatnya nanti." Biru merengkuh Alina kedalam pelukannya dan berulang kali menciumi pucuk kepala Alina.


" adik ku mencintai gadis biasa. Sama seperti ku. Keluarga kami jelas tidak setuju. Namun adik ku tetap kekeh dengan pilihannya. Mereka menikah diam diam. Hingga akhirnya keluarga kami mengetahui hal itu. Dan gadis itu,, ia di temukan meninggal dengan keadaan mengenaskan saat adik ku bekerja di luar kota. Saat itu adik ku tahu ada campur tangan dari keluarga kami. Namun dia tidak bisa berbuat banyak. Ia sudah menyewa detektif untuk menyelidiki kasus kematian istrinya." Lagi Biru menghela nafas panjang menggambarkan kepiluan adiknya itu. Ya ternyata cerita yang Alina dengar dari Sandy memang benar adanya. Dan Alina baru tahu bahwa pria yang di maksud Sandy adalah adik Biru.


" sayang,,, adik ku di rawat di sebuah panti rehabilitasi di luar kota. Aku sengaja menempatkan dia jauh dari sini agar keluarga ku tidak mengetahuinya. Sudah hampir sepuluh tahun namun kondisinya belum stabil. Bahkan dia sempat membuat masalah dan aku mengurusnya kemarin. Sampai aku lupa bahwa istri ku ini juga membutuhkan ku." lagi Biru menciumi pucuk kepala Alina yang kepalanya bersandar di pundak Biru.


" maaf kan aku ya,, aku janji tidak akan lagi mengulangi itu. Mungkin suatu hari nanti aku akan mengajak mu menjenguk adik ku." lanjut Biru.


Hari itu Biru menceritakan banyak hal pada Alina tentang kehidupannya yang tidak di ketahui banyak orang. Bagi Biru menceritakan itu pada Alina seperti membuat beban yang ia pikul selama ini berkurang dan membuat perasaannya sedikit lega. Alina hanya menjadi pendengar setiap obrolan Biru. Dan lagi Alina teringat ucapan Sandy kemarin tentang keluarga Wiratmadja. Membuat Alina semakin bingung menyikapi teror dan segala ancaman yang ia terima belakangan ini.


🍒🍒🍒🍒🍒


Terimakasih sudah mampir dan membaca cerita ini. Jangan lupa tinggalkan LIKE nya ya setelah membaca. Gratis kok tinggal pencet tombol jempol aja di kiri bawah setelah membaca. Krisan silahkan di tunggu di kolom komentar. Terimakasih semua,, tunggu kelanjutan kisah Alina selanjutnya. Terimakasih 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2