
Alina tengah berjalan mengelilingi setiap sudut kamar barunya yang bernuansa biru tosca dan abu muda itu. Memperhatikan ornamen ornamen dan segala pernak pernik yang begitu indah tertata rapi di sana.Alina menyukai dekorasi kamar barunya ini,,yang entah siapa yang mendesain untuknya.Karna ia ingat perkataan bik Darmi tadi yang mengatakan bahwa kamarnya ini baru di desain yang sengaja di persiapkan untuknya.
"Sayang,,kau menyukainya??" Biru tiba tiba masuk dan memeluknya dari belakang mengagetkan Alina yang sedang memperhatikan pemandangan malam dari jendela kamarnya.
"tentu saja,,terimakasih suami ku." mengangguk dan tersenyum karna memang ia menyukai kamar barunya.
"hmm,,kau boleh mengganti semuanya kalau kau bosan nanti." meletakkan dagunya pada pundak Alina.
"aku menyukainya,,menyukai semua isi kamar ini,desainnya dekorasinya juga pernak pernik yang ada.sepertinya aku akan betah tinggal di kamar ini." ucap Alina masih dengan pandangan keluar jendela menahan rasa geli karna hembusan lembut nafas Biru di telinganya.
"tidak hanya di kamar ini tapi kau juga harus betah berada di rumah ini dan juga di sini." Biru memutar tubuh Alina menghadapnya dan membawa tangan Alina meletakkannya di dada bidangnya.
"***di hati ku,,tetaplah di dalam sana mengisi kekosongan yang selalu aku rasakan sebelum bertemu dengan mu**." memandang intens Alina.
Alina menanggapi dengan senyum dan merasa salah tingkah karna Biru semakin mendekat padanya dan kemudian memeluknya erat.
"suami ku,,kau pasti lelah,,bahkan kau belum mengganti baju.aku akan ke dapur membuatkan mu minum,,kau tunggulah di sini." berusaha menghindari Biru. Namun Biru justru memeluknya lebih erat lagi.
"jangan pergi,,semua lelah ku sudah hilang hanya dengan melihatmu." memejamkan matanya menikmati wangi rambut Alina.karna saat memeluk Alina kepala Alina tepat sekali berada di hidungnya.tinggi Alina hanya sampai dadanya saja.
"baiklah,,setidaknya mandi lah dulu untuk menyegarkan badan."
"aku akan mandi setelah ini." melepas pelukannya dan mengangkat tubuh Alina membawanya ke sofa yang berada di kamarnya.
"aw..tuan turunkan aku." Alina terkejut seketika karna Biru tiba tiba mengangkatnya.
"tunggu di sini aku akan mandi setelah itu kita turun dan makan malam." mengecup kening Alina lalu turun kebibirnya mencium sebentar di sana sebelum akhirnya keluar dari kamar Alina.
Beberapa saat kemudian Biru datang dan mengajaknya turun untuk makan malam.
Alina masih duduk di sofa menonton TV di kamarnya setelah makan malam yang mencekam tadi. Biru yang hanya diam saat makan,Violet yang menatapnya sinis,Damar dan Dinar yang memasang wajah kesalnya pada Alina.Situasi yang membuat Alina tak berselera makan walaupun ia sangat lapar.
"tuan Biru." Alina terkejut saat Biru tiba tiba datang dan mencubit gemas hidungnya.
__ADS_1
"ngelamunin apa sih." sadar Alina melamun saat ia masuk tadi. Biru menjatuhkan dirinya di sofa berdampingan dengan Alina.
"oh....tidak hanya terbawa acara di TV saja." berdalih tak mengakui bahwa ia sedang memikirkan sesuatu.
"aku mengetuk pintu tapi tak ada jawaban saat aku masuk istriku ini sedang tidak fokus pada acara yg ia tonton." mencerca Alina.
"ya ya ya,,,baiklah aku memang sedang melamun." Aku Alina.
"apa yang mengganggu pikiran istri ku ini." merengkuh tubuh Alina ke pelukannya.
"dimana pakaian ku dan semua barang barang ku,bukankah tadi siang orang suruhanmu telah mengangkutnya,memangnya di pindahkan kemana?aku sudah mencarinya di kamar ini tapi tak menemukannya." menyembunyikan yang sebenarnya ia pikirkan.dan hanya itu yang terlintas di pikirannya sebagai alasan.
"oh.....aku fikir istri ku ini sedang memikirkan tentang makan malam tadi." Ucap Biru.
Alina membulatkan matanya mendengar penuturan Biru yang seolah tahu pikirannya itu.
"aku menyimpannya di tempat yang aman." melepas pelukannya dan memiringkan wajah nya menghadap Alina.Membuat jantung Alina berdegup kencang mendapat tatapan darinya.
"tuan aku perlu,,,,mmmbb" belum selesai bicara untuk mengalihkan rasa gugupnya Biru sudah membungkamnya dengan ciuman lembut. Alina memejamkan matanya mengikuti Biru menikmati ciuman yang semakin lama semakin menuntut.Tangan Biru memegang tengkuk Alina membuat ciuman mereka semakin dalam.Ciuman mereka terhenti saat Biru mengendong Alina dan membawanya ke atas ranjang.
(*hei,,,apa ini tuan Biru membawaku. ke tempat tidur,oh tidak kenapa aku merasa takut dan gugup,sepertinya akan terjadi sesuatu.Tuhan bagaimana ini,aku takut*)
Biru menurunkan Alina perlahan dengan senyum mengembang di wajahnya.
"aku menginginkan mu menghabiskan malam bersama saat ini." bisik Biru lembut di tengkuk Alina.membuat Alina bergidik.
Tanpa menunggu jawaban dari Alina. Biru yang kini berada di atas Alina dengan satu tangan menopang nya, kembali mencium Alina dari kening Alina turun ke pipi dan berhenti di bibir Alina.Bermain lama disana memberi sensasi berbeda di setiap ciumannya.
Alina hanyut dalam permainan Biru dan lupa akan rasa takutnya.
Biru turun menyusuri leher jenjang Alina dengan satu tangannya menari nari di dada Alina membuat Alina semakin merasa tak kuasa menahan hasratnya saat Biru mulai bermain disana.
ENtah sejak kapan baju keduanya teronggok begitu saja di lantai. Mereka kini tanpa sehelai benangpun di bawah satu selimut bersama dengan posisi masih Biru yang memegang kendali.
__ADS_1
Sejenak kemudian Alina tersadar saat Biru sudah bersiap melakukannya. Ia memasang wajah memelas agar Biru berhenti. Ia merasa takut untuk melakukannya.
" Kenapa sayang?." Tanya Biru yang melihat Alina tiba-tiba ragu.
" Aku,,,, aku takut." Aku Alina meskipun malu namun ia harus mengakui itu.
" Tenang saha sayang,, aku akan melakukannya dengan pelan. Dan tidak akan menyakitimu. Percayalah." Ucap Biru mencium lembut kening Alina dan berpindah pada bibirnya.
Setelah memastikan Alina kembali rileks dan tidak tegang. Biru kembali melanjutkan aksinya.
Biru melakukannya dengan sangat lembut,,ini yang pertama bagi Alina,,tentu saja Biru paham.Dengan sangat hati hati ia melakukannya agar Alina tidak merasakan sakit dan tidak menimbulkan trauma pada Alina.
" Awwww,,,." Rintih Alina pelan ketika ia merasa ada sesuatu yang mengganggu di bagian tubuhnya di bawah sana.
" Tahan ya sayang,, sebentar lagi ga akan sakit." Ucap Biru menenangkan Alina dengan kembali ******* lembut bibir istrinya.
Dua pasangan pengantin baru yang telah menikah berminggu minggu itu, kali ini menghabiskan malam pertama mereka yang telah tertunda.
Keduanya hanyut menikmati rasa yang tak bisa di gambarkan oleh mereka masing masing. Hanya ******* lembut yang terdengar dari keduanya.
Kini mereka telah benar benar bersatu dalam hubungan suami istri yang sebernarnya.
Malam semakin larut dua insan yang sedang memadu kasih ini tak kunjung selesai dengan aktifitas malam mereka di bawah selimut yang menutupi tubuh mereka.
Pengalaman pertama bagi Alina setelah resmi menyandang status sebagai istri. Tentu saja gelenyar dan rasa aneh itu ia rasakan saat Biru begitu lihai bermain adegan panas itu.
Biru baru menyudahi aktifitasnya ketika melihat Alina semakin kelelahan di buatnya. Biru menjatuhkan tubuhnya di samping Alina setelah ia mengecup kening Alina yang masih memejamkan matanya. Biru memeluk Alina dari samping dan mendekatkan kepala Alina ke dada bidangnya yang sedikit berkeringat.
"sayang...terimakasih kasih." Uca Biru bahagia, Ia mencium pucuk kepala Alina dan ikut memejamkan matanya.
"Tetaplah selalu bersamaku,,,,selalu Alina." gumam Biru sambil mengeratkan pelukannya dan di balas anggukan oleh Alina. Sepertinya Biru sangat takut kehilangan istrinya itu.
Lalu bagaimana dengan Alina??
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca..semoga suka ya..mohon maaf bila masih ada tulisa ataupun ejaan yang kurang tepat.dtungggu komen kritik dan sarannya...semoga suka dengan ceritanya.Jangan lupa tinggalkan LIKE nya setelah membaca cerita ini. Terimakasih