
Dua hari di rumah Alina Biru pulang ke rumah utamanya. Violet dan kedua anaknya tentu sudah menunggu kedatangan Biru. Yang mereka tahu, Biru menyelesaikan pekerjaannya di luar kota sepuluh hari lalu. Padahal ia hanya seminggu di luar kota mengurusi adiknya yang sakit. Sebagai penebus rasa bersalahnya pada adiknya. Biru kini memberikan perawatan untuk sang adik.
Biru Berusaha mengembalikan kondisi adiknya seperti dulu lagi. Saat kejadian itu Biru berada di luar negeri. Dan membuatnya tidak bisa membantu masalah adiknya kala itu. Padahal sebelumnya hubungan mereka sangat baik semenjak mereka masih kecil.
" Violet tidak di rumah bik?" tanya Biru memasuki rumah dan di ikuti bik Darmi di belakangnya.
" Nyonya pergi bersama non Dinar tuan." bik Darmi menjawab dengan sopan.
" oh,, baik lah." jawab Biru santai seakan tak peduli kemana anak dan istrinya pergi.
" tuan ingin di siapkan makan?" tanya bik Darmi sebelum Biru masuk ke kamarnya.
" tidak bik,, saya sudah makan." tanpa menoleh Biru masuk ke kamarnya
Bik Darmi merasa ada yang berbeda dari tuannya. Biasanya jika pulang dari luar kota pasti tuannya itu akan meminta di siapkan makanan. Namun kali ini tidak minta apapun. Bik Darmi nggak tahu ya,, Biru kan udah makan siang sama Alina tadi.
Violet dan Dinar belum juga pulang, padahal hari sudah hampir malam.
" pa,, sibuk nggak." tanya Damar yang melihat Biru sedang membaca laporan dari kantornya.
Dengan melepaskan kacamatanya, Biru menoleh ke arah Damar dan tersenyum.
" sedikit,, hanya memeriksa laporan saja,,, ada apa." Biru meletakan kacamatanya dan menutup map di depannya.
" Damar mau ngomong sih pa,, kalau nggak sibuk." duduk di sofa sebrang Biru.
" kenapa Damar,, mau apa?" tanya Biru datar.
" tentang istri papa," Damar menjeda kalimatnya.
" apa dia benar benar tidak ketemu setelah hari itu?" pertanyaan yang membuat Biru heran kenapa tiba tiba putranya itu menanyakan ibu tirinya.
" memang kenapa Damar??." bukannya menjawab malah balik nanya.
" nggak,, aneh aja papa bilangnya mencintai dia dari pada mama. Tapi sepertinya papa biasa aja nggak ada dia." Damar diam diam merindukan Alina ternyata. Rindu menjailinya atau mungkin rindu yang lain? entah lah.
__ADS_1
" dia sudah ketemu hari itu,, dan sekarang dia ada di sebuah tempat saat ini Damar. Biarkan dia di sana itu lebih baik. Di sini dia hanya mendapat umpatan dan cacian dari kalian bukan." Biru menjawab dengan menyunggingkan bibirnya. Tersenyum kecut mengingat perlakuan yang di terima Alina. Walau ia tak melihat sendiri namun banyak mata yang melihat mendengar dan akhirnya mengadu padanya.
" apa kau merindukan ibu tiri mu Damar?" Tembak Biru menanyainya putranya. Yang membuat sang putra salah tingkah.
" bukan begitu pa." jawab Damar cepat, menepis pertanyaan Biru. Walau sesungguhnya ia memang merindukan sosok lembut Alina.
" dimana mama dan adik mu, kenapa mereka tidak pulang pulang." Biru enggan membahas Alina dengan Damar. Biru tahu beberapa kali Damar diam diam masuk ke kamar Alin dulu. Ia yakin putranya itu punya tujuan lain pada Alina. Jadi sekarang ia tidak ingin Damar tahu dimana Alina tinggal. Bisa-bisa nanti Damar mengunjungi Alina.
" Damar nggak tahu." Damar sedikit kesal dengan Biru karna merasa tidak mendapatkan informasi apapun tentang Alina.
" papa,,," Dinar yang baru datang langsung berlari dan menghambur kepelukan Biru.
" papa,,, Dinar rindu papa." Dinar dengan manjanya bergelayut di lengan Biru seperti anak kecil.
" benarkah,," Biru sedikit heran dengan tingkah putrinya yang tidak biasanya seperti itu.
" tentu saja, papa perginya lama sih." Dinar meyakinkan Biru.
" Biru,, kamu di rumah." Violet yang baru masuk langsung duduk di sofa samping Damar.
" Dinar,, bilang sendiri pada papa mu. Jangan bisanya nyemberutin mama doang bisanya." Violet melihat kearah Dinar yang masih mengerucutkan bibirnya itu.
" jadi manjanya ini ada maunya ternyata." tebakan Biru memang Benar.
" papa,, di mall tadi Dinar liat ponsel keluaran terbaru, dan mama nggak mau beliin pa. Papa yang baik beliin ya. please." Dinar berkata dengan di buat semanis mungkin dan mengedip ngedipkan matanya pada Biru
" Pilih liburan atau ponsel baru." Biru memberi pilihan pada Dinar.
" pa,, dua duanya ya. Dari dulu juga papa selalu memberi apapun untuk ku kan." Dinar nyengir kuda masih berharap Biru menurutinya.
Biru hanya tersenyum tipis melihat tingkah putrinya. Sedangkan Violet terus memaksa agar Biru menuruti putrinya itu.
Setelah menyaksikan perdebatan kecil antara Damar dan Dinar yang membahasa kecanggihan ponsel mereka. Biru membawa berkas kantornya dan meninggalkan mereka tanpa mengatakan apapun.
Saat malam tiba dan Biru berada di kamar bersama Violet.
__ADS_1
" Biru,, kamu sembunyikan dimana Alina." tanya Violet, dengan penasaran.
" aku tidak menyembunyikannya Vi." Elak Biru.
" aku melihatnya beberapa hari lalu di sebuah halte." Violet masih memaksa Biru mengatakan keberadaan Alina.
" Vi, begini lebih baik, kamu tidak lagi terganggu dengan keberadaannya di sini." Biru menghampiri Violet dan duduk di sampingnya. Di atas ranjang mereka dan Violet kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Biru.
" Biru,, katakan saja dimana dia berada." paksa Violet yang masih menyandar di pundak Biru.
" Alina tinggal di rumah sederhana di pinggiran kota." Biru memberitahu Violet agar ia tak salah paham dan menganggap Biru tidak adil.
" karna kamu sudah tahu,, jadi aku juga akan memberitahu mu. Mulai minggu ini pembagian waktu untuk kalian seperti biasanya. Hanya saja dalam seminggu itu aku tidak pulang kerumah ini." kata kata Biru yang membuat Violet langsung mengangkat kepalanya dan membelalakkan matanya menatap tidak suka pada ucapan Biru.
" kenapa begitu Biru. Apa agar kau semakin jauh dengan anak anak." Violet terlihat emosi.
" Vi,, jaga emosi mu. Jangan selalu sedikit sedikit emosi. Yang berkurang hanya waktu ku Vi. Itu tidak akan berpengaruh pada apapun. Aku hanya lima hari kan bersamanya. Dengan mu dan anak anak aku menghabiskan tujuh hari." Biru masih dengan tenang menghadapi emosi Violet.
Violet sejenak berfikir, sebelum akhirnya ia memutuskan setuju untuk itu. Toh lima hari juga terpotong waktu kerja. Begitu pikir Violet. Ia tidak tahu jika Biru bisa saja berubah kapanpun ia mau.
" Biru,, kita akan berlibur kemana?" Tanya Violet yang teringat ucapan Biru pada Dinar di bawah tadi.
" beberapa hari lagi akan ada pertemuan antar pengusaha di luar negeri. Dan aku berencana mengajak kalian jadi kita bisa berlibur." ucapan Biru yang langsung di sambut antusias oleh Violet.
" wah,,, pasti akan sangat menyenangkan. Kapan Biru." Violet benar benar antusias. Ia memang suka berlibur keluar negeri.
" mungkin minggu depan." Jawab Biru datar.
Setelah mendengar rencana liburan dari Biru. Violet melupakan tentang Alina. Yang sebenarnya ingin sekali ia ketahui. Biru sedikit lega karna Violet tak lagi menanyakan tentang Alina.
Sebenarnya liburan ini adalah ide Biru untuk sekaligus bulan madu dengan Alina. Satu tahun menikah Biru sama sekali belum mengajak Alina untuk bulan madu. Namun keluar negeri tanpa mengajak Violet dan kedua anaknya. Biru rasa itu akan membuat mereka semakin membenci Alina. Dan Alina tentu tidak akan setuju bila mereka berlibur berdua ke luar negeri. Alina tidak mau Biru berbuat tidak adil pada Violet Dinar juga Damar. Gadis itu selalu memikirkan perasaan orang lain. Kapan Alina peduli dengan dirinya sendiri? entah lah.
🍒🍒🍒🍒🍒
Terimakasih sudah membaca ceritanya. Jangan lupa LIKE nya,,, Krisan silah kan di kolok komen. Terimakasih 🙏🙏🙏
__ADS_1