
Hari terasa cepat sekali berganti,, hingga akhirnya hari ini datang juga. Hari dimana Alina akan sah menjadi istri Biru dalam beberapa jam lagi.
Tampak beberapa perias sibuk mendandani Alina di dalam kamar sedari pagi tadi.
Alina sudah mulai merasa jengah karna ia merasa tak selesai selesai riasan di wajahnya.
Maklum dalam kesehariannya Alina tak pernah menggunakan banyak alat make up.seperti teman teman kerjanya.
Dalam bekerja dia hanya memoles wajahnya tipis dengan bedak dan lipstik yang tak mencolok di bibir tipisnya.
Karna wajah Alina memang sudah cantik natural. Dan itulah kenapa walaupun tak menggunakan make up berlebih ia tetap tampak mempesona.
Berbeda dengan hari ini,, ia didandani dengan banyak make up yang menurutnya sangat tebal di wajahnya.
Alina merasa tidak nyaman dengan riasan di wajahnya itu.berbeda dengan Alina sang asisten perias justru kagum dengan kecantikan Alina. Dengan hasil make up dari sang perias. Mampu memancarkan aura Alina.
"wah mba Alina cantik sekali,pasti calon suami mba Alina bakal pangling dan terpesona nanti saat melihat mba Alina." puji sang asisten perias ketika menatap Alina,dan hanya di tanggapi Alina dengan senyuman.
Entah dia harus merasa senang atau justru malu dengan pujian itu.karena sejujurnya ini bukanlah pernikahan yang dia inginkan.
Andai saja hari ini yang menjadi pasangnya adalah Bagus kekasihnya mungkin dengan senang hati ia akan menyambut pujian sang asisten perias.
Sedang asyik dalam lamunannya tiba tiba sang perias menepuk pundak Alina menyadarkan nya dari lamunan bersama Bagus.
" mbak Alin butuh sesuatu?dari tadi diam saja,mbak Alin grogi ya." canda sang perias berusaha mencairkan suasana yang hening.
Sesaat kemudian Alina tersenyum simpul dan menatap sang perias dengan wajah cerianya.
"nona aku butuh sandaran, pinggang ini serasa ingin lepas saja sedari tadi duduk dengan posisi seperti ini," jawab Alina dengan nada yang membuat orang yang berada di ruangan itu tertawa.
" duh mbak Alin, saya pikir mbak Alin menginginkan sesuatu yang aneh. Mbak Alin ini memang humoris ya orangnya,, baiklah mbak Alin ayo kita pindah kesana setelah mengganti baju mbak Alin." perias itu menuntun Alina untuk duduk di sofa panjang dengan sandaran di sana. Agar Alina bisa duduk santai.
Setelah mengganti pakaiannya dengan baju pengantin berwarna putih dan mahkota di kepalanya Alina kini duduk bersandar di sofa yang berada di kamarnya itu. Lebih tepatnya sofa baru.
iya beberapa waktu lalu sofa itu di kirim Biru untuk Alina entah apa tujuannya. Dan Alina merasa kamarnya bertambah sempit dengan adanya sofa itu.
Sedang menikmati angin sepoi-sepoi dari kipas besar yang berada di ruangannya. Tiba tiba pintu terbuka saat Alina sedang sendiri karna perias dan yang lainnya sedang di luar kamar untuk makan.Tentu saja Alina terkejut karna yang kini masuk kedalam kamarnya adalah seseorang yang asing baginya. Alina sempat melihat sekilas ke arah pintu. Untuk melihat siapa yang datang.
Alina pun berdiri dari duduknya dan menatap dengan sedikit senyum namun juga bingung pada orang itu. Ia merasa tidak kenal dengan pria yang kini berdiri menatap dirinya.
" maaf mencari siapa?." tanya Alina dengan sopan.
Tanpa dia tahu bahwa yang berada di kamarnya saat ini ada Biru, calon suaminya.
Melihat ekspresi diam dari Biru Alina kembali menyapanya dengan menggerak gerakan tangannya di depan biru yang kini terpaku di depan Alina.
Ia melihat kecantikan calon istrinya itu. Sungguh Biru sangat terpesona pada Alina.
(cantik sempurna) Batin Biru bergumam.
Dengan senyum simpul di wajahnya. Ia berjalan mendekati Alina. Dan ia mengangkat kedua tangannya. Menangkup kedua pipi puajaan hatinya itu. Tak lupa ia mengusap pipi Alina.
Alina yang terkejut dengan perlakuan Biru mundur dua langkah menjauhi Biru.
__ADS_1
membuat Biru tersadar dari lamunannya. Dan berjalan maju,, kembali mendekati Alina.
" Tenanglah,aku tidak akan menyakitimu Alina. Aku kesini hanya untuk melihat calon istri ku sebelum orang lain melihatnya." jawab Biru sembari mengusap lembut pipi kanan Alina. Sungguh hak yang sejak lama ia ingin lakukan.
Alina yang mendengar itupun tak menyangka bahwa yang berada di hadapannya adalah Biru. Laki-laki yang akan menjadi suaminya dalam hitungan menit setelah ini.
Dengan menahan rasa malu juga rasa gugup,, Alina hanya menundukan kepalanya ke bawah.
" Hei kamu kenapa? apa kau malu padaku." tanya Biru sembari mengangkat dagu Alina. Dengan satu jarinya.
"maafkan saya tuan saya tidak tahu karna memang tidak ada yang memberi tahu ku kalau anda sudah datang dan..." Alina menggantung jawabannya karna takut Biru akan marah jika ia mengetahui bahwa Alina tak mengenal sosok Biru.
Biru tersenyum gemas melihat Alina. Betapa polosnya gadis di depannya itu.
" Aku sudah datang sejak dua hari yang lalu dan pagi ini aku baru kemari aku. Hmmm rasanya aku sudah tak sabar ingin bertemu calon istriku maka aku diam diam menemui mu." Ucap Biru menjelaskan. Padahal Alina tidak bertanya. Namun Biru merasa harus menjelaskan pada Alina.
"Kamu cantik sekali Alina" Ucap Biru dengan menatap dalam Alina di depannya.
Alina yang mendengar namanya di sebut kini mengangkat kepalanya melihat Biru. Ia benar-benar merasa bodoh. Karena tak tahu apapun tentang calon suaminya. Sedangkan Biru mengetahui banyak tentangnya. Begitu pikir Alina saat itu.
Biru menangkap sorot mata Alina yang bening. Yang kini menatapnya dengan tatapan kebingungan.Hari ini memang bukan kali pertama mereka bertemu.
Namun hari ini adalah kali pertama mereka saling menatap. Dan dengan jarak sedekat ini. Dengan perasaan dan pikiran yang mereka rasakan masing-masing.
Saat masih saking menatap satu sama lain. Tiba-tiba saja pintu kamar Alina di ketuk seseorang. Dan tak lain adalah salah satu pengawal Biru. Ya pengawal yang hendak memberitahu Biru, bahwa penghulu sudah datang. Hal itulah cukup mengagetkan keduanya.
Biru dengan tatapan masih melihat Alina. Berjalan mundur mendekati pintu. Satu tangannya membuka pintu dan terpaksa menoleh siapa yang datang.
" Maaf tuan mengganggu." Ucap orang dari sebrang pintu yang tak lain adalah pengawal Biru.
Pengawal itu berbisik memberi tahu Biru bahwa penghulu sudah datang.
Biru mengangguk dan meminta pengawal itu pergi. Setelahnya Biru kembali menutup pintu dan menghampiri Alina.
Alina masih dian berdiri di tempatnya. Tidak berani menatap Biru.
Biru Mendekati Alina dengan sebuah senyuman yang tak bisa di artikan oleh Alina.
" Setelah ini,, kamu akan menjadi milik ku seutuhnya." Ucapnya Biru sembari mengusap pipi Alina dengan lembut.
Membuat Alina merinding,, membayangkan hal yang terjadi setelahnya. Mungkin jika yang melakukan hal itu adalah Bagus kekasihnya. Mungkin Alina akan merasa bahagia. Namun sayangnya tak seperti yang Alina harapkan.
Berbeda dengan Biru yang nampak sangat bahagia saat mengucapkan kata itu tadi.Alina justru merasa cemas khawatir dan takut. Bagaimanapun dia tidak mengenal calon suaminya seperti apa.
Dan ini pertama kalinya dia mendapat perlakuan seperti itu dari Biru.
Melihat Biru sedari dekat, bahkan Alina lupa bahwa sebelumnya mereka pernah bertemu.
Alina masih duduk di depan cermin melihat riasannya berkali kali ia usap pipinya tepat di bekas usapan lembut Biru.
Alina tak menyangka mendapat perlakuan itu dari pria yang umurnya jauh darinya.
Di perlakukan lembut seperti tadi hanya pernah dia dapatkan dari Bagus kekasihnya. Yang kini menjadi mantan pacar baginya.
__ADS_1
Dulu saat mereka bertemu,, mereka akan menghabiskan banyak waktu berdua. Karena memang mereka jarang sekali bertemu.
Pekerjaan Bagus sebagai Pilot membuatnya tak bisa menetap di satu tempat.
Tanpa Alina sadari sang asisten perias sudah berdiri di sampingnya dan memperhatikan Alina yang sedang memegangi pipi dan tersenyum sendiri menatap wajahnya di Kaca.
"duh mbak Alina kelihatan bahagia sekali,tadi tatapannya kosong sekarang berbinar." tertawa kecil meledek Alina yang sedang asyik mengingat kenangan manisnya bersama Bagus.
"mbak Alin tuan Biru sangat tampan ya,memang sih terlihat lebih dewasa dari mbak Alin,tapi dia keren." lanjut sang asisten perias yang mengagumi sosok Biru.
Alina hanya diam karna bukan Biru yang sedang ia pikirkan melainkan orang lain.
"(hei Alina apa apaan kau ini, masih saja memikirkan pria lain sedangkan sebentar lagi kau akan menjadi istri orang.)" gumam Alina dalam hati dan menggelengkan kepalanya berkali-kali.
perias pengantin bersama kakak ipar Alina masuk kedalam kamar dan membawa Alina ke tempat ijab kabul di laksanakan.
Disana sudah duduk Biru yang mengenakan jas berwarna hitam berbeda saat dia masuk ke kamar Alina tadi yang hanya menggunakan kemeja.
Kini biru sudah tampak menggunakan jas dan pecinya duduk di depan penghulu dan juga ayah Alina.
Saat Alina mendekat, Biru pun menarik kursi di sampingnya. Dan mempersilahkan Alina duduk di sampingnya.
Biru sangat tampan dan Alina yang cantik dalam balutan baju pengantin berwarna putih dengan mahkota khas jawa barat di kepalanya.
Biru tak bisa mengalihkan pandangannya ketika Alina sudah duduk di sampingnya. Berbeda dengan Alina yang tampak gusar dan gelisah.
Penghulu berulang kali memanggil Biru tanpa di hiraukannya dan tetap menatap Alina.
Kini Alina menoleh ke arah Biru dan memberikan isyarat pada Biru dengan mengarahkan kepalanya ke penghulu. Baru lah Biru menyadari panggilan penghulu tadi. Hal itu membuat dirinya menjadi bahan tertawaan dan bahan pembicaraan para tamu undangan.
Setelahnya Alina hanya menundukkan kepalanya dan sesekali memejamkan matanya menahan gejolak di dadanya.
Ingin rasanya ia kabur dari pernikahan ini bahkan dia berharap Bagus akan datang dan membawanya kabur dari situasi ini.
Namun itu semua hanya menjadi angan angan Alina. Khayalannya itu sirna setelah kemudian ia mendengar suara lantang Biru mengucapkan ijab kabul itu.
"saya terima nikah nya Alina oktavia binti bapak Cipto dengan mas kawin tersebut tunai." ucap Biru hanya dengan satu kali tarikan nafas.
Jelas ini tak sulit bagi Biru karna ini bukan yang pertama baginya. Terlebih ia ini adalah pernikahan yang ia inginkan.
Berbeda dengan Alina yang kini mulai kacau hatinya dan matanya mulai berkaca kaca.
setelah para saksi mengatakan sah dan di tutup dengan do'a, ibu Alina mendekati Alina dan berbisik pada sang putri untuk lekas mencium tangan Biru yang kini resmi menjadi suaminya.
Alina terhenyak dari lamunannya dan dengan ragu menuruti perintah ibunya ia berusaha menampilkan senyumannya di depan Biru juga yang lain.
Setelah pemasangan cincin di jari manis keduanya mereka bergantian meminta restu kepada orang tua Alina.
Kali ini tidak seperti pernikahan Biru sebelumnya yang di hadiri kedua orangtua Biru dan keluarganya.
kali ini Biru hanya datang sendiri tanpa keluarganya. Hanya para pengawalnya yang berjaga mengamankan acara agar tidak terjadi ke gaduhan.
Hari ini Biru sangat bahagia karna akhirnya bisa memiliki gadis pujaannya itu.
__ADS_1
Alina bagaimana kehidupannya setelah menikah nanti apa ia akan bahagia bersama Biru atau mungkin sebaliknya??